
Berbeda di sisi lainnya. Lesya yang mulai kehilangan kendali stir mobilnya. Sirene polisi yang mengejarnya sudah tak terlihat lagi. Kecepatannya yang diatas rata-rata membuat Lesya tetap terus menjaga keseimbangan mobilnya.
Saat menghubungi Luna tadi, dia sengaja langsung menutup sambungan telepon secara sepihak. Menghela nafasnya sabar, Lesya kembali menoleh pada layar ponselnya yang berdering karena sebuah kontak yang dia tunggu.
'Singa kutubπΎ' yang merupakan kontak Elvan membuatnya sedikit kesal. Mengapa kesal? Karena sedari tadi Lesya terus menunggu telepon dari lelaki itu. Padahal yang menyuruhnya dahulu untuk menghubungi jika butuh adalah Elvan. Namun Elvan sendiri yang tak kunjung mengangkat teleponnya karena rapat OSIS yang dahulu dapat dia tebak.
'Singa kutubπΎ' calling you...
π Halo,
π Jangan telpon! *datar
π ECHAAA... LO DIMANA COK?! Luna, ayangkuu... Jangan berisik di mobil orang!
Lesya dapat tebak jika di seberang sana Luna dan Valen sedang semobil dengan Elvan. Dapat dia ketahui dari suara saja. Ya, memang tepat sasaran tebakan Lesya. Di sisi Elvan, lelaki itu mengemudi sementara ponselnya dipegang oleh Lisa yang duduk di samping kemudinya. Luna dan Valen di belakang dengan Letha yang berada di tengah-tengah sebagai pemisah.
Lalu dimana Frans? Farel? Amel? Nayla? Ken? Jawabannya mereka berada di mobil lainnya dengan mobil yang dikemudikan oleh Farel. Mereka mengikuti mobil Elvan dari belakang. Kecepatan Elvan sudah diatas rata-rata tanpa mempedulikan kendaraan lainnya yang berteriak protes.
Oh ya satu lagi, sebelumnya Letha dkk meminta ikut. Dan semua berawal dari Amel yang murni sedikit khawatir dengan kakak kembar temannya itu. Berbeda dengan Letha juga yang meminta ikut hanya karena ingin melihat perjuangan orang-orang yang berusaha menyelamatkan Lesya. Dan dibalik semuanya itu juga, Letha ingin melihat bagaimana hilangnya Lesya dari dunia.
Tiba-tiba mereka menoleh dengan ponsel Elvan yang tiba-tiba mengeluarkan suara tawa. Dan tawa yang membuat mereka merinding itu berasal dari Lesya yang di seberang telepon. Ponsel Elvan memang sengaja meloud speaker sambungan telepon agar terdengar oleh mereka.
π Haha.. Sum*pah capek gw nyetirnya! Pengen mati tapi sayang!
π Lisa: Enak aja lo ngomong mata-mati! Gobl*k banget mau mati konyol!
Luna: Tau lo mah Sya! Mana sanggup kalau gw yang urus LC sendirian!
π Lo gak sendirian kali, kan ada bang Cak, bang Alam, ada Leon juga.
π Luna: Hustt! Ucapan adalah doa, kalau lo ngomong mau mati nanti dikabulin nangis lo!
π Gw mana ada nangis! Orang lo yang nangisin gw palingan.
π Luna: Sya, sumpah gak lucu candaan lo! Gw gak mau nanggung petugas nanti buat jaga kembaran *** lo ini!
Lesya di seberang mobil hanya terkekeh pelan saja. Dia tersenyum kecut dan satu tangannya beralih turun guna mengelus perutnya. Tak jauh dengan Elvan, dia juga meloud speaker sambungan teleponnya.
"Sorry udah bawa kamu ke dalam dunia mama sayang! " lirih Lesya hampir tak terdengar. Bahkan tak sempat terdengar di Gadis itu menyandarkan dirinya di kursi kemudi yang dia kendalikan saat ini. Namun di seberang sana, samar-samar ucapannya terdengar oleh yang lainnya.
π Elvan: Maksud lo apa?
Lesya tersentak mendengar suara bariton yang sangat familiar di telinganya. Bahkan tanpa sadar dia menabrak sebuah mobil hingga oleng hingga menyebabkan gesekan bunyi yang cukup keras hingga terdengar di sambungan telepon. Dan beruntung saja kedua mobil yang bertabrakan itu tak terjatuh ataupun mengenai kendaraan lainnya. Hanya saja, gesekan yang cukup keras membuat bagian depan mobil mereka sedikit rusak.
"****! " umpat Lesya.
"WOY, HATI-HATI DONG?! MOBIL SAYA RUSAK NIH! " teriak orang itu.
Lesya dibuat meringis dengan teriakan pengendara yang dia tabrak itu. "I'M SORRY PAK! " balas Lesya teriak dan fokus berkendara menuju jalan yang sepi. Nafasnya sedikit berderu karena sedikit ngeri dengan kecepatan mobilnya.
π Elvan: Halo, lo gak papa kan?
π Tolongin gw ke arah jalan Mawar!
π Elvan: Otw!
Tutttt!
Dengan cepat Lesya mematikan sambungan telepon agar tak menguras daya energi ponselnya. Dengan kecepatan yang tak bertambah lagi, dia berputar ke arah jalan Mawar seperti yang diucapkannya. Tak jauh dari Elvan, pria itu menambah kecepatan lajunya hingga membuat yang lainnya terkejut.
"Vanooo, nyawa orang bisa melayang kalau lo gini! " peringat Lisa memegang seatbeltnya erat. Elvan tak menjawab. Dia mengambil ponselnya dan menelepon Revan agar ikut turut serta memberikan bantuan. Bahkan tangannya seolah sudah bekerja sama membagi tugas untuk mengemudi dan mencari kontak.
You calling Revan...
__ADS_1
π Halo pak boss?
π Siapin mantras bagian besar di bawah jurang ****** sekarang!
π Hah?! Buat apaan pak boss?
π Istri gw remnya blong! Suruh anggota TW nunggu, jangan lupa hubungin bang Cakra atau bang Alam!
π Oke, laksanakan pak komandan!
Tuttt!
Elvan kembali menyetir dan bahkan sudah tiba di lokasi yang dimaksud. Terus mengemudi, akhirnya dia dapat menemukan nomor plat mobil Lesya. Dia tak peduli dengan yang lainnya atau tidak, tujuannya adalah satu yaitu menyetarakan mobilnya dengan sang istri.
Bruuummmmm!
Ya, dia menambah kecepatan lajunya lagi!
"PAK KETOOSSSS, PLEEASEEE GW MASIH MAUU HIDUPP COY! MASA-MASA REMAJA GW AJA BELOM TUNTAS! GW JUGA PENGEN KALI SETIDAKNYA NIKAH DULU! " kata Luna dengan nada yang berteriak hingga isi mobil telinga mereka dibuat pengang dengan suaranya.
"YAUDAH SINI AYOK KITA NIKAH DULU ALUN-ALUN! " ajak Valen sedikit keras dan justru ikut masuk dengan pembicaraan melantur Luna. Seketika gadis yang bersuara cempreng itu terdiam dan menunduk. Rambutnya kini menutupi wajahnya yang sudah memerah malu. Ya kali dia gak baper dengan kata-kata Valen!
"Elvan, tolong jangan ngebut bawa mobilnya! Nyawa orang bahaya nanti! " peringat Letha akhirnya buka suara. Elvan tak bergeming menjawab atau sekedar menurunkan laju mobilnya. Bahkan mobil yang ditempati Frans dan yang lain sudah menghilang entah kemana. Tentu saja mereka ketinggalan dengan Elvan!
Lisa berdecak dan mengambil alih ponsel sepupunya. Kembali menelepon Lesya, dia meloud speaker panggilan. Padahal yah, mobil mereka kan sudah berada di samping Lesya yang masih tak mengetahui keberadaan mereka.
Calling 'Lele kesayanganπ€'...
π Lisa: Halo?
π Jangan telpon-telpon! *kesal
π Lisa: Lah, ngapa? *bingung
π Luna: Syaaa... Kita disamping lo nih coba liat deh dari kaca! Gimana lo di sono oke kan?
Lesya yang mendengar suara Luna sontak menoleh ke samping dan berdehem pelan. Dia tak menyangka jika keadaannya masih dianggap penting. Kembali menyender pada kursi mobil dan menggebrak kesal stir kemudi, Lesya meringis kesakitan di saat perutnya kembali merasakan kram.
"Shttss?! " ringis Lesya kesakitan.
"Duhh, jangan sekarang dong, pleasee help me lah nak! " gumam Lesya memukul-mukul kepalanya bersender ke kursi kemudi dengan pelan.
Sementara di sisi lainnya, mereka yang mendengar ringisan Lesya terkejut. Mereka semua mengira terjadi sesuatu pada gadis itu. Dan di saat mereka mendengar kata 'nak' juga membuat mereka tak kalah bingung. Maksudnya Lesya saat ini tak sendiri kah?
"Eh, maksudnya si Lesya apaan nak-nik-nuk? " tanya Luna berbisik pelan. Lisa menggeleng tak tahu. Sementara Valen menjentikkan jarinya tiba-tiba. Posisi mereka sudah tak segamblag dahulu tadi. Elvan juga sudah menurunkan kecepatan laju mobilnya.
"Nak? Nak itu bukannya anak ya? Emang Lesya hamil ya pak boss? " tanya Valen beralih pada Elvan. Ketiga gadis di sana melotot terkejut dengan tebakan Valen. Terutama pada gadis yang bernama Letha yang sangat-sangat tak percaya jika Elvan sudah menyentuh Lesya. Ya kali!
Lelaki tampan yang sedang mengemudi itu menerawang dan menggeleng tak tahu. "Gw gak tau." kata Elvan menjawab. Luna dan Lisa berdecak kesal mendengar jawaban Elvan. Kurang puas mereka loh!
"Mana handphone gw? " tanya Elvan beralih meminta ponselnya. Lisa hanya menyerahkan ponsel yang dia pegang pada sang pemilik yang sedang mencari nya. Setelah menerima, Elvan kembali terdiam sejenak dan angkat suara menghubungi gadisnya. Ya, gadisnya!
π Elvan: Halo, Le? Lele? Lesya?
Mereka sedikit terkejut karena tiba-tiba tak ada sahutan dari balik sambungan telepon. Bahkan Lisa membuka kaca mobilnya agar dapat melihat keberadaan Lesya yang terbungkus kaca mobilnya.
"LESYAAACANGG?! " panggil Lisa lagi.
Nihil!
Tak ada jawaban!
Mereka di sana sedikit resah dan kembali berusaha memanggil nama Lesya dari mobil. Bahkan sang 'Queen of The Toa' yang sudah teriak memanggil sang sahabat namun tetap tak mendapatkan sahutan. Padahal telinga Valen dan Letha ingin pecah bahkan terlempar dari posisinya mendengar teriakan panggilan kedua gadis yang super berisik itu.
__ADS_1
Berbeda dengan Elvan justru tak masalah. Dia resah dengan keadaan Lesya yang tak kunjung menjawab sapaannya. Hingga dia terpikir sebuah ide yang mungkin dapat membuat Lesya menyahut. Catatt, hanya sebuah kemungkinan saja bagi Elvan.
π Elvan: Ma femme? (Istriku?) *lembut
π Ha? Kenapa?
Hening!
Bolehkah mereka menjitak Lesya?
Eh jangan deh, dia pawang KetBok!
π Luna: Sya lo kok dipanggil-panggil gak denger sih?
π Emang lo manggil gw?
π Luna: Enggak, YA IYALAH! Dari tadi gw, Lisa sama pak Ketos manggil lo tapi lo gak nyaut!
π Oh.
"Anj*ng! " gumam Luna ingin menusuk. Valen yang mendengar perkataan Luna dengan cepat menyentil bibir gadis itu. Bahkan dia tak peduli dengan keberadaan Letha duduk di tengah-tengah mereka.
π Elvan: Lo berdua? Sama siapa? Dan kata-kata nak, maksudnya apa?
Hening!
Tak ada jawaban!
___
Di sebelah mereka, Lesya. Sedari tadi sibuk menahan rasa sakitnya. Dia bahkan tak mendengar semua percakapan di ponselnya. Ehm, lebih tepatnya memang tak fokus mendengar. Bahkan panggilan cempreng Luna dan Lisa saja dia tak mendengar.
π Ma femme?
Panggilan lembut yang sangat familiar itu membuatnya menoleh dan berusaha bersikap biasa saja. Menghela nafasnya pelan, percaya lah jika saat ini Lesya menahan sakitnya dalam diam.
π Ha? Kenapa?
Dikarenakan dia tak tahu arah pembicaraan, maka dia tanpa sadar bertanya demikian bagaikan orang bod*h yang tak mengerti pelajaran. Namun dia sedikit meringis di saat Luna menanyakan keadaannya.
π Luna: Sya lo kok dipanggil-panggil gak denger sih?
π Emang lo manggil gw?
π Luna: Enggak, YA IYALAH! Dari tadi gw, Lisa sama pak Ketos manggil lo tapi lo gak nyaut!
π Oh.
Dia tak merasa kesal atau bagaimana pada Luna yang sedang mengumpati dirinya. Rasa sakitnya jauh lebih membuatnya meringis. Bahkan pandangannya sedikit berburam. Dia takut jika tiba-tiba saja dia oleng dan tak sengaja menabrak sesuatu yang berakibat fatal olehnya dan janin yang dia kandung secara diam-diam.
π Elvan: Lo berdua? Sama siapa? Dan kata-kata nak, maksudnya apa?
DAMN IT?!!
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gifπ€
>>><<<
Huaahhh, hampir dikit lagi!
Jangan marah ya kawan~
π€£.
__ADS_1