Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
365: Vay & Leon


__ADS_3

"Lo bangun sepagi ini? " tanya Luna.


Lesya terkekeh pelan. "Lo juga bangun sepagi ini? Biasa juga jam enam-an lewat." canda Lesya karena tak ingin suasana terasa canggung. Luna mendengus malas mendengarnya. Sangat receh dan dia yakini kekehan Lesya adalah sebuah paksaan tersendiri oleh sang empu.


"Dih kalau gw masih wajar karena gw emang harus ngecek kondisi mama ya Sya! Harusnya gw yang nanya sama lo kenapa bangun sepagi ini? " tanya Luna jengah.


"Gw mimpi! " ucap Lesya tiba-tiba.


"Mimpi? " ulang Luna bingung.


Lesya mengangguk.


"Jadi tuh gw mimpi buruk dan lo tau? Mimpi gw itu sebenarnya udah dari 2 hari yang lalu. Tapi gw masih ngelak karena gw kira itu sekedar mimpi. Cumen ini udah ketiga kalinya dateng lagi tuh mimpi dan gw takut itu bakal nyata! " curhat Lesya menatap ke arah pepohonan.


Kalian ingat? Lesya tak mau dianggap lemah apalagi oleh orang terdekat nya. Alasannya? Karena dia selama ini terlihat bahagia tanpa kesedihan. Dan dia merasa rendah jika ditatap dengan perasaan kasihan. Rasanya jika ditatap demikian, dia adalah seseorang yang mengemis kasih sayang orang lain. No please, dia tuh perempuan terhormat paham?!


Berbeda dengan Luna yang diam menyimak dan mendengarkan dengan baik setiap ucapan Lesya. Luna tahu sahabatnya memang dapat bersikap dewasa namun pemikirannya sedikit dangkal. Bukan meledek namun maksud Luna adalah karena dia tahu sejak dini Lesya dipaksa oleh keadaan untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.


Jadi wajar saja jika mood, emosional, dan sikapnya masih labil dibanding remaja lainnya. Dan wajar juga jika Lesya lebih tertutup. Luna dapat memahami hal tersebut. Itu sebabnya jika Lesya bagaikan sesorang yang memiliki masalah harus lebih bersikap layaknya orang dewasa yang menasehati ana kecil agar sahabatnya itu memiliki solusi tersendiri.


"Gw liat di mimpi gw kalau papi sama mami tumpah darah di jalanan dan gw juga liat satu laki-laki seumuran kita nunjuk Letha pake pistolnya. Laki-laki itu juga nunjuk dua orang yang mukanya gak jelas. Dia natap gw kayak punya dendam gitu Lun dan gw juga gak bisa liat dengan jelas muka tuh orang! " lanjut Lesya bercerita panjang kali lebar.


Beginilah pribadi gadis itu. Dia akan jujur dengan segalanya pada orang yang dekat dengannya. Namun dengan orang yang tak dekat juga dapat jujur. Hanya saja dia lebih ke introvert karena kadang kali lebih tertutup dibandingkan terbuka.


"Cuman mimpi kan? Yaudah, gak usah pikirin kan gampang elah! Lo juga Queen El masalah mimpi gini doang dipikirin! " ujar Luna geleng kepala dengan enteng.


Lesya berdecak kesal. "Maksud gw tuh Lun, ini udah ketiga kalinya gw mimpi anj*ng?! Dan gw sedikit curiga sama tuh mimpi, kalau beneran gimana? " lirih Lesya sedikit kesal. Luna terdiam.


"Lo benar Sya! Terkadang mimpi tuh bisa jadi nyata karena buktinya gw yang mimpiin papa kelindes truk beneran terjadi." lirih Luna membalas. Lesya menoleh. Dia mengelus punggung Luna agar tak terlalu mengingat hal menyakitkan itu bagi Luna sendiri.


Nah kan?!


Ini jadi kebalik!


Lesya berubah dewasa dalam sekejap.


"Kok jadi mellow sih?! Gak etis banget buat kita melow-melow! " lirih Luna dengan tampang muka cemberut nya. Lesya hanya tertawa receh dan mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.

__ADS_1


"Eh btw gimana Valen sama lo? " tanya Lesya mengalihkan pembicaraan.


Luna berpikir sejenak. Beralih menatap Lesya yang penasaran, Luna hanya mencebik kesal saja dengan pertanyaan Lesya. "Yaelah gak mama, gak lo nanyanya si Alien mulu, gw nya ditanyain gitu kapan coy?! Kalau di rumah sih kayak sekarang gw berasa anak pungut sama mama, dikit-dikit Alien! " kesal Luna.


"Sabar elah Lun, namanya juga orangtua pasti mau yang terbaik buat anaknya. Ibaratnya tuh gini, kalau orang itu baik sama anaknya, pasti orang tua juga baik sama dia. Tapi kalau dianya sekali buat anaknya nangis, orang tua pasti galaknya super jumbo sama dia! " ujar Lesya.


"Dih, kalau lo orang tua nya gimana? " ledek Luna. Lesya menatap kesal Luna. "Kalau gw gini-gini doang elah! Tapi ya gw masih penasaran di balik perubahan sikap aunty gw(Mily) sama bokap gw(Galang) apa ya? Kok dadakan gitu sih dadakan terus sikapnya berubah ke gw? " bingung Lesya yang justru curhat pada Luna.


"Kalau masalah pewaris it's oke kan ya? Walau bokap gw tuh pasti tau kalau gw bakal nolak karena tujuan gitu? Tapi keknya ada yang aneh gak sih? Bahkan bokap gw juga sempat bocorin rahasia ke gw tentang Ice Blue! " lanjut Lesya.


"Rahasia Ice Blue? " beo Luna mengulang.


Lesya mengangguk cepat. "Lo ingat waktu kita tawuran? Di situ gak ada Ericko, padahal dia juga anggota Sakh. Nah di situ juga gak ada Amanda yang notabene nya anggota IB(Ice Blue). Gw berpikir mereka sengaja atau memang kebetulan gak ada. Tapi akhir ini mereka tuh menghilang kek ketelen bumi, kan gak mungkin tiba-tiba banget ya? Apalagi bokap gw bilang kalau Vion bukanlah ketua asli IB! " ucap Lesya.


"Lah terus kalau bukan Vion siapa dong? "


"Mana gw tau beg*! Kan gw bingung, lo malah nanya hal yang lagi gw pertanyain." kesal Lesya sedikit gregetan dengan sikap lola sahabatnya itu yang kembali muncul. Luna hanya mengangguk polos saja dan mengaruk tenguk lehernya yang tak gatal.


"Iya juga sih, tapi emang bocoran bokap lo udah bener Sya? " tanya Luna. Sang empu yang ditanya hanya menoleh dan menggelengkan kepalanya. "Gak tau! Anaknya kak Feli(Vay) juga bocorin masalah ini cumen gw ragu aja, takut gw yang kena perangkap." kata Lesya.


Kedua gadis remaja itu menoleh. Mereka terkejut di saat melihat seorang lelaki yang berjalan cepat dengan anak kecil lelaki di sampingnya. Wajah mereka berdua dipenuhi luka lebam. Bahkan cara jalan lelaki remaja itu sedikit pincang hingga harus dibantu papah oleh anak kecil yang di sampingnya. Lelaki remaja itu adalah Leon, sahabat mereka yang tiba-tiba menjauh dari mereka. Dan anak kecil itu adalah Vayleen, bocah kecil yang baru saja dibicarakan oleh Lesya.


"Leon?! "


"Vay?! "


Spontan berdiri, Luna beralih membantu Leon agar berdiri. Sementara Vayleen beralih dipapah Lesya agar duduk di bangku yang mereka tempati tadi. Leon tersenyum canggung dan perlahan melepaskan pegangan tangan Luna setelah duduk di bangku panjang yang ada. Luna hanya mengerutkan alisnya bingung dengan tingkah Leon.


Hah?!


"Kalian muka bonyok gitu abis berantem ya sepagi ini? Apalagi kamu Vay, masih kecil jangan banyakan laptop atau tawuran, gak baik! " heran Lesya mengacak pelan rambut Vay.


Luna menautkan alisnya bingung. Jujur saja dia masih belum kenal dengan sosok anak kecil yang berwajah datar itu. Hanya saja, dia merasakan aura wajah Vion saat kecil. Eh, ralat maksudnya saat dahulu melihat foto Vion kecil karena mereka mengenal saat beranjak kelas 5 SD.


Oh ya jangan bingung ya, sebenarnya pertemuan Luna dan Lesya sejak kelas 3 SD. Namun mereka bersahabat sejak SMP karena Lesya sangat sulit didekati. Dan saat kelas 5 hingga lulus jenjang Sekolah Dasar, barulah Lesya menyadari jika Vion adalah seseorang yang membuat sang papi tiada. Setelah Vion menghilang, dua bulan setelah itu barulah Felicia ikut menghilang juga. Dan di saat dua bulan sebelum Felicia menghilang, Luna dan Lesya bertemu dengan Leon, Cakra dan Alam. Mereka sempat berkenalan.


Bocoran, Felicia adalah cinta pertama sang preman besar kita—Cakra. Namun rasa itu pudar dan digantikan setelah bertemu gadis lain yang membuatnya tertarik. Dan sebelum dua bulan Felicia pergi, gangster Lion Claws yang didirikan oleh Lesya sudah masuk list 20 gangster terkuat dan besar. Lion Claws saat itu masih terdiri dari Cakra, Alam, Leon, dan Lesya saja. Remamber? Luna masuk saat berusia 14 tahun, lebih tepatnya setelah tiga tahun menjadi sahabat dekat Lesya.

__ADS_1


Vay ini persis atau mirip?!


"Papa udah tau kak, bahkan mama jadi imbasnya! " jujur Vay lirih. Lesya mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Vay. "Tau apa? " tanya Lesya.


"Gw yang jelasin! Awalnya tadi pagi gw mau ke apartemen Vay yang ditempati khusus dia sendiri. Tapi di dalam gw liat Vay di seret anak buah Vion, gw gak bisa diem gitu aja. Niat gw mau ngusir anak buahnya Vion tapi justru gw kena gebuk sendiri." datar Leon.


Luna dan Lesya sempat terkejut mendengar nada bicara Leon yang datar. Namun tidak dengan Vay yang tahu mengapa Leon, orang yang dia sebut uncle dapat sedatar itu. Jujur saja selama ini dia tak merasakan kesepian karena setelah tawuran yang menegangkan itu, dia lebih banyak ditemani oleh Leon. Dan baru akhir ini dia paham mengapa dia dan Leon seperti saling terikat.


"Akhirnya gw ikut keseret dan dibawa ke markas IB dan kita berdua sama-sama kaget liat kak Feli yang dipukulin, ditendang, dilecehin paksa sama Vion. Dan kata Vion ini semua karena Vion gak sengaja liat CCTV di mana Vay nelpon lo waktu kita diskusi itu. Dia ngamuk dengernya karena Vay justru bocorin rahasianya. Akhirnya dia ngancam lagi katanya 'kalau sempat kasih tau lagi sama Lesya, gw pastiin leher Felicia gw buat putus di depan mata kalian', gitu katanya" lanjut Leon tanpa mengubah nada bicaranya yang datar dan menirukan gaya bicara Vion.


Lesya terdiam.


Masalahnya menumpuk.


Dan semuanya akan terungkap.


Dia belum siap.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<


QnA:


Q: Thor perasaan dari awal masalah mulu dah ceritanya! Kapan bahagianya cobak?!


A: Karena dari awal dirancang begini.


Q: Thor ku masih bingung sama Lesya yang tiba-tiba hamil. Kan gak logis kalau tiba-tiba hamil padahal belum nanam benih.


A: Karena ini sesuai alurnya kak. Awalnya juga author mikirnya gitu tapi biar nyambung dan makin terkesan greget, author buat begitu. Lagian udah direview jadi gak mungkin author ulang lagi kan?


Q: Perasaan mereka gak lulus-lulus ya Thor kayak upin-ipin, masalah juga gak kunjung kelar!


A: Sengaja kak biar seru. Lagian ini tahap menuju ending.


Bocoran: Mungkin episode berikutnya dan seterusnya bakalan tentang konflik-konflik yang bakal bermunculan. Jadi diharapkan untuk para pembaca untuk menyediakan stok kesabaran sebelum membaca, makasih🌻

__ADS_1


__ADS_2