Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
399: Promise


__ADS_3

Episode 399: Promise


Berjalan dengan perlahan dengan tangan yang terinfus, sesuai janjinya Elvan benar-benar membawa Lesya ke tempat dimana Galang dipindahkan. Tiang infus yang didorong oleh Elvan mempermudah langkah-langkah Lesya yang perlahan.


Setibanya di tempat, entah mengapa Lesya merasakan jika detak jantungnya berpacu semakin cepat seolah ragu menemui seseorang yang rela menjadi pendonornya. Menghela nafasnya sebelum masuk, rupanya Elvan dapat melihat kegugupan yang terpancar.


"Ready girl? " tanya Elvan memastikan.


Lesya menoleh dan mengangguk mantap. Mengetuk pintu ruangan sejenak, dengan langkah perlahan mereka masuk secara bersamaan ke ruangan inap Galang. Mendengar pintu yang terbuka, kedua orang yang memunggungi mereka kini menoleh bersamaan ke arah sumber suara.


Jdeerrr!


Lesya yang melihat seseorang yang sangat tak asing baginya terduduk dengan pandangan kosong tiba-tiba terdiam. Mulutnya terasa kaku untuk sekedar mengeluarkan satu kata. Menatap Elvan dengan pandangan bingung, justru Lesya mendapat isyarat agar berbicara dengan Galang.


Plaakk!!


Lesya memegang pipi kirinya yang terasa panas. Sungguh dia sendiri tak tahu harus menyikapi dengan bagaimana. Sudah biasa dia ditampar begini oleh Gilang. Ya, Gilang! Pria itu yang tak terima dengan kenyataan yang menyatakan jika Galang berpindah posisi menggantikan Lesya dalam kegelapan.


"LO LIAT YA ANAK SIAL*N?! GALANG BEGINI KARENA LO BRENGS*K?!! " maki Gilang hendak kembali menampar Lesya namun dengan segera dihentikan oleh Mily. Bahkan Gilang sendiri berdecak dan mengumpat dalam hati mendengar kembarannya yang sudah angkat suara.


"Udah Gil," lerai Mily.


"Mil, bawa Gilang keluar! " suruh Galang sedikit menekankan suaranya dan dibalas anggukan cepat oleh Mily.


Dengan segera wanita itu menarik Gilang secara paksa agar keluar dari ruangan itu. Berdecak, setelah menatap Lesya dengan penuh kemusuhan, Gilang akhirnya pasrah saja ditarik oleh Mily.


Suasana tampak hening, Sella yang tanggap dengan keadaan sekitar perlahan membisikkan sesuatu pada Galang. Wanita itu berniat keluar agar yang bersangkutan saling membicarakan dengan baik. Galang yang mendengar pamitan sang istri hanya mengangguk mengiyakan saja tanpa protes.


Tak jauh beda dengan Elvan. Lelaki itu mengusap anak rambut Lesya dari samping. Niatnya adalah memberi ruang berdua antara ayah dan anak itu. Dia juga paham jika mereka berdua perlu berbicara tanpa seseorang pun yang mengawasi pembicaraan mereka.


"Bicara baik-baik sama daddy, jangan salah kira dulu! Gak ada seorang ayah yang baik mau anaknya jatuh terus. Jangan libatin emosi! Ingat mata kamu dari dia, paham? " bisik Elvan memberi pengertian sebelum pergi dari sana.


Lesya mengangguk mengiyakan saja. Benar kata Elvan jika dia harus berbicara tanpa adanya emosi. Setelah kepergian yang lainnya, Lesya dengan perlahan berjalan mendekat dan duduk di sebelah kasur tidur yang ditempati Galang. Ya, Galang tak duduk di brankar namun di kasur tempatnya tidur dengan Sella.


"How are you? (Bagaimana kabarmu?) Di sana, gelap banget kan? " tanya Lesya dengan nada yang sangat pelan.


Galang yang mendengar suara Lesya hanya mengangguk pelan saja. Tangannya meraba-raba sekeliling agar dapat merasakan hadirnya sang putri. Untung saja Lesya yang tanggap dengan segera mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan sang ayah kandung yang sempat meninggalkan dia.

__ADS_1


"Apa alasan yang kuat sampai-sampai daddy mau gantiin posisi gw? " tanya Lesya dengan nada lirih. Tentu saja dia masih syok dengan siapa orang yang bersedia menjadi pendonornya.


"Pertama, saya gak mau kamu kesusahan ini-itu apalagi yang saya dengar sekolah bakal ngadaiin ujian sebentar lagi." jawab Galang menjeda ucapannya sejenak. Lesya hanya diam dan menatap lekat lawan bicara yang sempat membuatnya traumatis karena menolak menerima kenyataan.


"Kedua, masa depan kamu masih panjang sementara saya sudah berkepala empat. Saya cuman gak mau ketika saya tiada, perusahaan down tanpa adanya pengganti. Gak mungkin Gilang yang handle semuanya. Masalah urusan kantor dari Fyo aja dia belum beres." sambung Galang dengan helaan nafasnya yang terdengar.


"Kan lo-- maksudnya daddy punya Justine, punya Sella juga." potong Lesya yang masih tak paham. Galang tampak tersenyum kecil. Benar kata Elvan sebelumnya jika Lesya pasti akan bertanya ini dan itu mengenai alasan yang kuat dan masuk di akal.


"Ya memang~ Tapi, Sella tak pandai dalam mengerjakan tugas kantor karena dia lulusan SMA. Dan sementara Justine masih kecil. Saya harap, setelah lulus sekolah nanti, kamu yang handle Lyra." balas Galang membuat Lesya terdiam.


Benar~


Lesya memang lebih paham dengan tugas yang dimaksud Galang. Kantoran? Walaupun dahulu dia ingin menjadi arsistek terkenal, namun mimpinya itu terkubur dalam karena tahu dialah penerus keluarganya. Dia juga berpikir akan menghandle balik semua usaha keluarga Fyo saat tamat SMA nanti.


Itu planning nya!


"Ta---


"Usaha Fyo, biar diterusin Gilang aja! Di usaha Erthan, kamu bisa gapai mimpi kamu jadi arsistek. Eum, ketua arsistek mungkin," ucap Galang. "Kalau usaha Marvoell tetap diurus Will juga anak laki-lakinya. Mereka gak masalah kok, saya udah ngomong kemarin sebelum kita balik ke rumah." lanjut Galang.


Lesya masih diam. Dia hanya diam mencerna setiap ucapan demi ucapan Galang yang memang sangat masuk di akalnya. Beberapa kali dia membenarkan namun logikanya ingin menolak karena memikirkan betapa kejamnya dahulu Galang yang pergi tanpa tanggungjawab terhadapnya juga mendiang maminya.


"Saya sadar kalau semua yang saya lakuin dulu sama sekali tak memberi cap baik pada pribadi saya sendiri. Dan setelah kejadian di mana saya sering kali bermimpi tentang Gatara juga kamu, mata saya mulai terbuka. Dan setelah saya bertemu mommy tiri kamu, secara perlahan saya mau berubah jadi pribadi yang baik." lirih Galang yang akhirnya mengeluarkan sebagian unek-unek yang sempat dia simpan secara pribadi.


Deg!


Entah Lesya harus bahagia atau sedih, dia terkejut dengan perkataan Galang. Berubah? Sungguh kata-kata yang ingin dia dengar kini secara nyata dia dengar. Awalnya dia kurang percaya. Namun mengingat Galang yang sudah rela berkorban deminya membuat dia sedikit tersentuh walau tertutup oleh rasa kepercayaannya yang sudah lama hilang.


"Jadi mumpung saya masih hidup, saya mau membuka lembaran baru dengan yang lainnya. Karena menurut saya, cukup kamu yang korban, Justine dan Sella jangan! Jadi, boleh asih saya kesempatan kedua buat ubah semuanya? " sambung Galang dengan nada yang sedikit memohon.


Lesya hanya diam. Jujur dia ragu namun cukup tak tega dengan raut wajah Galang. Hatinya ingin mengiyakan namun otaknya menolak keras setelah alur kehidupan yang dia lalui tanpa hadirnya keluarga di masa lalu.


"Nanti gw pikirin, tapi daddy tau kan resiko nya?! " kesal Lesya yang memilih mengalihkan pembicaraan. Galang yang paham maksud Lesya mengalihkan pembicaraan membuat dia mengurungkan niatnya untuk kembali berbicara lebih banyak.


"I know but I don’t care (Saya tahu tapi saya tak peduli)," jawab Galang enteng. "Terpenting saya sudah punya orang yang mendampingi saya sekarang." sambung Galang tersenyum samar.


"Gw juga punya kali ya! " ngegas Lesya.

__ADS_1


"Kamu memang yakin kalau Elvan gak akan berpaling dari kamu? Dia masih muda loh, dia juga banyak diincer temen-temenmu termasuk Letha sendiri. Yakin dia gak berpaling? " tanya Galang dengan nada sedikit menggoda.


"Ya emang lo yakin istri lo gak mandang yang lain? Kan lo udah tua sementara dia masih muda. Lo yakin orang semuda dia gak bakal berpaling dari lo dad? " balas Lesya tak kalah menggoda Galang.


"Enggak tuh! Karena saya yakin selama ini kamu yang awasin setiap pergerakan Sella kan? " ujar Galang menebak. Lesya yang mendengar hanya membulatkan matanya terkejut. Memang benar jika dahulu dia sering kali mengawasi setiap pergerakan Sella sebelum peperangan yang sedikit merenggang nyawa.


"K-kok lo tau sih dad?! " kesal Lesya.


"Ya karena saya pernah liat anggota kamu nguntit istri saya waktu pergi ke taman! " santai Galang. Lesya yang mendengar mengeruncutkan bibirnya manyun. Namun seketika dia teringat dengan kondisi Galang saat ini.


"Tapi, lo gak takut gelap apa dad? Gak takut bayang-bayang orang lain suka gentayangin? " lirih Lesya.


Galang tersenyum tipis. Tangannya terangkat hendak membelai wajah sang anak. Paham dengan maksud Galang, dengan segera Lesya meletakkan tangan besar itu ke arah pipinya.


"Gak sama sekali! Waktu tidur tadi, saya sendiri mimpi ketemu kedua orangtua saya dan mereka bangga dengan keputusan yang saya ambil. Saya juga sempat ketemu Gatara, saya sudah minta maaf ke dia dan dia titip kamu ke saya. Setidaknya, saya udah ngerasain kelegaan setelah ketemu mereka." curhat Galang tersenyum dengan tulus.


Lesya terdiam. Dia merasakan elusan tangan Galang yang mengusap pipi yang ditampar Gilang sebelumnya membuat rasa sekitnya menghilang. Benar, lebih nyata di saat kasih sayang keluarga kandung yang terasa. Dan ketulusan Galang itu terlihat di pandangannya.


"Mewakili Gilang, saya minta maaf karena sikapnya tadi." lanjut Galang membuat Lesya mengangguk pelan.


Tak dipungkiri Lesya juga merasa bersalah dan dia juga sejenak membenarkan ucapan uncle gilaanya yang begitu menohok hatinya. Memang benar Galang begini karenanya dan dia justru seolah menolak halus permintaan Galang yang memintanya memberi kesempatan kedua. Dan sepertinya untuk saat ini dia membutuhkan penasihat bijak agar membuatnya tak salah memilih jalan untuk kedepannya.


Dia tak sedewasa itu!


"Gimana cara balas dua mata ini dad? "


"Belajar yang benar, ambil lagi semua peringkat-peringkat yang sempat terkubur karena ulah saya! Dan saya mau dengar untuk pertama kalinya, saat menghadiri kelulusan, kamu berada di nomor atas, Lyra." kata Galang.


Lesya terdiam sedetik mengangguk. Senyumnya terbit karena cukup bahagia mendengar ucapan Galang yang layaknya pada orangtua umumnya. Dan dia berharap semoga, ini tetap berlanjut hingga akhir cerita hidupnya.


"I'm promise! (Aku berjanji!) Tapi, siapin hadiah mobil lambo kalau dapet tiga besar ya! " antusias Lesya mengangkat jari kelingkingnya dan menyatukan dengan jari kelingking milik Galang.


"Deal! " kompak mereka berdua.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<

__ADS_1


Ada yang masih dendam sama bapack Galang atau Gilang?


__ADS_2