Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
369: Carnaval pt. 2


__ADS_3

Valen hanya mengelus kupingnya saat Luna yang duduk di belakang justru membalas perkataannya. Sungguh memalukan bukan? Untung para pemegang saham masih diam mingkem dengan anteng. Jika tidak? Habis deh Luna diomeli panjang kali lebar.


"Luna, jangan teriak kamu! Ngerti etika dan sopan santun kan? Lakuin itu! " tegas pak Rio akhirnya menghampiri Luna dan menegurnya. Luna hanya mengangguk paham saja mendengarnya.


"Oke kalau gitu sambil kita nunggu hasil voting, dipersilahkan para pemegang saham sekolah ini maju dan memperkenalkan diri! " ucap Valen lagi setelah diingatkan oleh Frans mengenai pengenalan para pemegang saham.


Mendengar nama mereka dipanggil, tentu saja para pemegang saham berjalan dengan wibawa mereka masing-masing ke atas panggung. Dan di sinilah. Pandangan mata Arya—ayah Lisa dengan Galang dan Gilang saling beradu pandang.


"Oke, buat yang tatap-tatapan jangan saling natapan lagi takutnya jatuh cinta kan gak lucu! " canda Valen lalu tertawa garing. Namun bukannya lanjut tertawa justru Valen sendiri yang ditatap tajam oleh Arya, Galang dan Gilang.


Oke, dia salah!


"Emm, maksudnya langsung kita mulai aja perkenalannya ya! Eh salah, maksudnya dilanjut oleh pemilik sekolah maju ke depan, dengan calon penerus sekolah! " ucap Valen menetralkan tawanya.


Elvan dan Angga yang merasa dipanggil pun segera naik ke atas panggung. Ayah dan anak itu menampilkan wajah datarnya dengan wibawa khas mereka masing-masing. Sadari tadi kebanyakan sorakan pada Elvan dari para fans nya. Namun Elvan sama sekali tak membalas. Melirik saja tidak apalagi tersenyum.


Di saat mereka hendak memperkenalkan diri, mereka terhenti mendengar keributan di belakang mereka. Saling pandang, sepertinya para pemegang saham tahu siapa pemilik suara.


"ALEESYAAAA... "


"MAAP BUU, GAK SENGAJA! "


"KAMU PASTI BARUSAN MANJAT GERBANG SEKOLAH KAN?!! NGAKU KAMU?!! NIH LIAT LIPSTIK SAYA MENCONG-MENCONG! "


"ADUHHH, BU LINA JANGAN MARAH-MARAH NANTI CEPET TUA KASIAN PAK KEVIN BU... "


"LESYAAA.... "


"BU LINAA... "


Alis Elvan menyatu mendengarnya. Sudah dia duga Lesya akan ikut menyusul. Entah memang sengaja atau tidak, Elvan lupa tak mengunci pintu jendela. Namun suara itu menimbulkan kericuhan. Baik para guru, siswa-siswi, dan pemegang saham di atas menoleh ke arah sumber suara.


"BERANI KAMU BANTAH SAYA?! "


"ADUHHH, BU BU.. SAKIT JANGAN JEWER-JEWER TELINGA SAYA BU... "


"SAYA PEDULI? TIDAK! "


"AELAH BU JANGAN TERIAK JUGA, KALAU SAYA BUDEK IBU MEMANG MAU TANGGUNG JAWAB? "


"YA ENGGAK LAH! TAPI SAYA BAKAL MAJU NGETAWAIN KAMU PALING DEPAN! "


"ADUHHH, PAK KEPIN KENAPA SUKA MODELAN KAYAK IBU SIH?! CAKEPAN SAYA, TINGGIAN SAYA, PINTARAN SAYA, BOHAYAN SAYA! "


"HEH?!! '


"ADUHHH, SAKIT BUUU TELINGA SAYA NANTI KAYAK GAJAH DI TARIK MULU... "


"ANJ*NGG SAKIT?!! "


"HEH NGOMONGNYA! "

__ADS_1


Elvan menatap ke arah Valen dan mengkode agar melihat kerusuhan tersebut. Valen mengangguk saja dan menyuruh Arman untuk mengecek karena dia di sini memiliki tugas sebagai pembicara. Arman yang disuruh hanya mengangguk saja. Cukup canggung melihat wajah para pemegang saham yang terganggu dengan suara itu.


"Emm, maaf atas keributan nya, boleh di lanjut lagi? " canggung Valen lalu mempersilahkan para pemegang saham lanjut bicara. Namun sayangnya itu kembali terhenti karena keributan yang justru semakin mendekat ke arah mereka. Ah, lebih tepatnya suara rintihan Lesya lebih dekat karena diseret oleh bu Lina ke arah bawah panggung.


"Aduuuhh, ibuuuu... Lepasin dih! Salah saya apa sama ibu nyampe gini bener sih bu... " ringis Lesya dan berusaha melepaskan jeweran bu Lina dari telinganya yang sudah memerah.


"Salah kamu? Liat bibir saya kenapa? " kesal bu Lina justru menambah energi jewerannya di telinga Lesya.


"ANJ*NGG?!! Bu sakit elah! Ssttt, mami papi help me.. " ucap Lesya berusaha melepaskan jeweran bu Lina. Karena tak tega melihat telinga Lesya yang tambah memerah, akhirnya bu Lina melepaskan jewerannya dari telinga Lesya.


...〰〰〰〰〰〰〰✍...


Pada awalnya Lesya yang sudah tiba di sekolah dengan menggunakan angkot yang lewat berjalan perlahan ke arah gerbang belakang sekolah. Karena sepi, Lesya perlahan naik dan turun dengan susah payah dari gerbang sekolah itu. Kenapa susah payah? Karena entah angin ataupun hujan, hari ini Lesya menggunakan rok sekolah. Seragamnya juga menampilkan cahaya feminimnya.


"Anj*r, berasa nyepet gw make rok! " gerutu Lesya. "Untung di rumah gw kabur dari belakang, naik pohon mangga lagi! Tau gini gw make celana aja! " lanjut Lesya lagi seraya menggerutu sebal.


Fyi, kalian tahu? Tadi Lesya berusaha menghindari kontak sapa atau mata dari para ART, bodyguard, tukang kebun dan lainnya. Seteleh turun dari jendela kamar, Lesya aman tanpa jatuh namun sedikit kesleo. Tentu saja karena itu kakinya berjalan sedikit pincang namun tak sakit.


Di tambah dia berusaha memanjat pohon mangga agar menerobos gerbang belakang Lesya akhirnya berhasil lepas dari rumah mewah sejuta penjagaan. Mengapa manjat pohon? Remamber? Gerbang milik keluarga Grey di desain lurus agar dahulu Elvan yang bandel keluar malam-malam tak dapat kabur.


Tuukk..


Tanpa sengaja Lesya yang sedikit berjalan dengan cepat agar tak terlambat menyenggol bu Lina. Dan si-alnya bu Lina sedang memoleskan lipstiknya di bibirnya. Seperti dugaan, akhirnya lipstik bu Lina justru memoles hingga pipi.


Bu Lina menggeram marah. Ditambah justru lipstiknya terlempar ke bawah. Dan mereka berdua tanpa sengaja menyenggol dekorasi yang dipasang oleh kelas 12 A. Entah kebetulan atau tidak, karena gerbang berada di sekitar taman belakang, Lesya juga merusak sedikit dekorasi kelas A itu. Mata Lesya membulat lebar.


"ALEESYAAAA... " geram bu Lina setelah melihat siapa pelakunya. Lesya yang melihat hanya tersenyum canggung tanpa dosa.


"MAAP BUU, GAK SENGAJA! " balasnya sedikit teriak lalu berlari kecil dibandingkan menghadapi amarah bu Lina. Tentu saja bu Lina mengejar biang kerok tempatnya bekerja.


"ADUHHH, BU LINA JANGAN MARAH-MARAH NANTI CEPET TUA KASIAN PAK KEVIN BU... " balas Lesya meledek dan berhenti berlari. Dia berbalik dan sudah mendapati bu Lina yang mengatur nafas karena kelelahan mengejarnya.


"Bu Lina baru lari aja udah ngos-ngosan apalagi nanti lari maraton ya?! " ledek Lesya lagi.


"LESYAAA.... "


"BU LINAA... "


"Sini kamu, jangan lari! " kesal bu Lina lalu beralih menjewer satu telinga Lesya. "BERANI KAMU BANTAH SAYA?! " emosi bu Lina.


"ADUHHH, BU BU.. SAKIT JANGAN JEWER-JEWER TELINGA SAYA BU... " ringis Lesya berteriak kesakitan.


"SAYA PEDULI? TIDAK! " kesal bu Lina sedikit berteriak ngegas tepat di telinga Lesya.


"AELAH BU JANGAN TERIAK JUGA, KALAU SAYA BUDEK IBU MEMANG MAU TANGGUNG JAWAB? " ringis Lesya berusaha melepaskan jeweran bu Lina yang super galak itu.


"YA ENGGAK LAH! TAPI SAYA BAKAL MAJU NGETAWAIN KAMU PALING DEPAN! " balas bu Lina bertambah ngegas. Lesya hanya mendengus sebal mendengarnya.


"ADUHHH, PAK KEPIN KENAPA SUKA MODELAN KAYAK IBU SIH?! CAKEPAN SAYA, TINGGIAN SAYA, PINTARAN SAYA, BOHAYAN SAYA! " kesal Lesya asal ceplos.


"HEH?!! " peringat bu Lina tajam.

__ADS_1


"Dih? Kenapa bu? Benerkan saya tuh body shaming bu? Cuman ketutup sama baju celana saya yang panjang aja bu badan saya ini." bangga Lesya.


"Enak aja kamu ya! " sebal bu Lina melotot dan menambah energi jewerannya. Tentu saja Lesya melotot dan merasakan sakit di telinganya justru bertambah. Alhasil dia berteriak kesakitan saja agar bu Lina mengurangi energinya.


"ADUHHH, SAKIT BUUU TELINGA SAYA NANTI KAYAK GAJAH DI TARIK MULU... " sebal Lesya.


Bu Lina tak menanggapi. Dia memegang tangan Lesya dan menarik Lesya ke arah lapangan tanpa melepaskan jewerannya. Lesya yang pasrah hanya mengumpat meringis saja merasakan bu Lina bukan menjewer namun mencapit dengan kuku-kuku panjangnya.


"ANJ*NGG SAKIT?!! "


"HEH NGOMONGNYA! "


"Omongan saya tadi benar banget kan ya bu? " polos Lesya. Bu Lina yang berhenti melangkah pun melotot mendengarnya dan menambah energi jewerannya lagi hingga Lesya meringis kesakitan.


"Aduuuhh, ibuuuu... Lepasin dih! Salah saya apa sama ibu nyampe gini bener sih bu... " ringis Lesya dan berusaha melepaskan jeweran bu Lina dari telinganya yang sudah memerah.


"Salah kamu? Liat bibir saya kenapa? " kesal bu Lina justru menambah energi jewerannya di telinga Lesya.


"ANJ*NGG?!! Bu sakit elah! Ssttt, mami papi help me.. " ucap Lesya berusaha melepaskan jeweran bu Lina. Karena tak tega melihat telinga Lesya yang tambah memerah, akhirnya bu Lina melepaskan jewerannya dari telinga Lesya.


"Ehemmm.. Bu Lina sama bu boss bisa mingkem bentar dulu? Takutnya nih acara gak kelar-kelar nanti gara-gara kalian! " canggung Valen menegur dengan microphone yang dia pegang.


"Lanjut aja Valen, biar dia saya yang urus! " ucap bu Lina menjawab. Lesya melotot mendengarnya dan menggeleng cepat dengan satu tangannya yang masih memegang telinganya yang memerah.


"Enggakkk! Ogah gw diurusin sama ibu, dih! Ibu tuh sudah melanggar hukum Undang-Undang Pasal 54 Nomor 35 Tahun 2014 ayat (1) yang berisi tentang anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, atau pihak lain." ketus Lesya berbicara panjang kali lebar.


"Enak aja, siapa suruh kamu senggol saya?! " kesal bu Lina. Lesya hanya menyenye pelan saja seolah meledek salah satu guru killernya. "Ibu mending ngaca deh lipstiknya menor nyampe pipi, kan kasian ibu diliatin mulu sama yang lain! " ledek Lesya lalu hendak berjalan meninggalkan bu Lina di sana.


"Eeh.. mau kemana kamu?! " tajam bu Lina menahan tangan Lesya yang hendak pergi. Sang pemilik tangan hanya memicingkan matanya curiga pada guru perempuannya itu.


"Mau duduk lah, masa mau ngopi! Udah deh bu benerin dulu mulutnya takutnya nanti badut insecure liat muka ibu yang kayak badut! " ceplos Lesya yang mendapatkan jitakan pelan di keningnya.


"Heh?! Badut-badut, saya gak mau tau kamu duduk di sana dan gak boleh duduk bareng temen-temen kamu paham! " ucap bu Lina tegas lalu berjalan meninggalkan Lesya yang melotot tak terima. Bagaimana tak terima? Bu Lina menunjuk ke arah tempat dimana para pasangan pemegang saham duduk. Kan dia ogah!


"Loh buk?! "


Bu Lina yang mengambil tisu dari Arman yang ada di sana menatap tajam Lesya. Dan mau tak mau Lesya menurut saja dan berjalan ke arah depan panggung. Saat dia hendak duduk di sebelah Mayang dan Elena, gadis itu tersadar dan berbalik. Melihat adanya Mily dan Sella yang melambaikan tangan padanya membuatnya menghampiri dan duduk diantara keduanya.


"Aunty sama tante udah lama di sini? " tanya Lesya basa-basi.


Mereka mengangguk kompak saja. Berbeda pada Mily yang justru menjitak kening Lesya pelan. "Lo berisik dari tadi tau gak?! " kesalnya protes karena memang benar adanya jika ke-keponakannya. Ah, ya by the way saat ini Mily sedang belajar mengakui Lesya dan Letha sebagai keponakannya.


"Bo*do amat! " acuh Lesya.


Sementara Mayang yang melihat Lesya justru berbalik hanya tersenyum tipis saja. Begitu juga dengan Elena yang sedikit tak tega apalagi melihat wajah Lesya yang berubah datar. Kan dia yang notabenya sudah nyaman dengan Lesya merasa kasihan. Namun apa daya dia yang hanya dapat diam saja kali ini.


"Ehemm.. A-anu boleh dilanjut? " ucap Valen canggung. Lalu para pemegang saham menoleh dan mengangguk saja. Mereka satu per satu akhirnya memperkenalkan diri dengan beberapa sorakan dari para siswa-siswi. Dan Lesya juga dapat mendengar bisikan-bisikan para siswa-siswi yang menyangkut nama dirinya yang terseret.


"Lo ngomong lagi gw cabut gigi lo nyampe mamp*s, mau lo hah?! " ketus Lesya berbalik ke belakang. Siswa-siswi itu menggeleng cepat dan diam saja menutup mulutnya. Sella yang melihat hanya geleng kepala saja.


"Kamu tuh ya..." geleng Sella.

__ADS_1


"Cantik kan tan? " tanya Lesya mengibaskan rambutnya percaya diri. Sella terkekeh mendengarnya. Dalam lubuk hatinya dia sangat menunggu kata-kata gelar 'mommy' dapat Lesya ucapkan untuknya. "Iya deh, percaya kamu paling cantik di sini! " balas Sella.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2