
Elena tak kuasa menahan emosinya saat ini. Dengan cepat dia melemparkan jaket kebanggaan Lion Claws ke permukaan lantai yang dimana membuat darah Alam mendidih. "Gw sekarang tanya, pilih mereka yang berperan aktif di dunia gelap atau gw yang berstatus istri lo! "
Elena dengan mata yang berkaca-kaca takut Alam memilih gengsternya dibandingkan dirinya. Dia tak ingin memiliki seorang suami yang berperan di dunia gelap seperti ayahnya, Angga.
Alam dengan cepat mengambil jaket kebanggaannya dan menatap tajam Elena. Jika kalian ingin tahu, Alam ingin menampar Elena namun tertahan karena rasa hatinya yang tak ingin menyakiti wanita yang dia cintai. Darahnya mendidih seketika mengingat Elena melempar ke bawah jaket kebanggaannya.
"Dulu, orang yang bantu gw saat gw hampir terlunta-lunta, orang yang bantu papa gw yang butuh dana operasi, orang yang bantu ambil alih perusahaan papa dari nyokap kandung gw, orang yang ajar gw menjadi orang yang kuat dan tinggi itu QUEEN ELLION!! Dia, gw, queen Allion, bahkan anggota khusus LC mulai bentuk gengster kita! Dan jaket yang barusan KAMU LEMPAR, itu sama dengan KAMU MERENDAHKAN HARGA DIRI KAMI!! " tekan Alam pada beberapa kata-katanya.
Tanpa berpikir, Elena membalas tajam ucapan Alam karena terbawa emosi. "Ya kamu tinggal keluar doang Lam! Habis itu, kamu bisa balik lagi sama aku tanpa gangguan dunia gengster!! Gampang kan?! " ucap Elena dengan nada meninggi.
Alam tersentak mendengarnya. "Gak bisa!! Gw besar, gw tumbuh, gw kuat, gw begini karena Lion Claws Len! Gw gak bisa ninggalin mereka cuman karena permintaan lo! " tolak Alam.
Elena yang menahan tangisnya mengangguk-angguk pasrah. "Oke gampang, gw bakal pergi ke rumah bunda dan gak akan nemuin lo sampai lo mau ninggalin dunia itu!! " tekan Elena.
Elena dengan cepat mengeluarkan koper yang sudah dia siapkan sebelumnya lalu beralih mengambil kunci mobil, dompet dan ponselnya. Dia berjalan menuju luar kamar dan berlalu begitu saja meninggalkan Alam sendirian.
"Len? Elena! Tunggu Len! " panggil Alam mengejar Elena yang terlanjur pergi dengan langkah cepatnya.
Hal itu dilihat oleh Hansen dan juga Hera yang berada di ruang tamu. Mereka berpandangan dan bingung saat melihat Elena berlalu membawa koper ke arah halaman rumah dan pergi dengan mobilnya. "Lam? Ada apa? " tanya Hera.
Alam terhenti dan tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari mama tirinya. "Elen udah tau kalau Alam tangan kanan Lesya! Dan dia minta keluar dari sana! " Hansen dan Hera terkejut mendengarnya. "Sekarang aku harus pilih apa mah, pah? Elen atau LC? " tanya Alam lesu.
"Tak ada! " tegas Hera. "Kamu pilih Elen sama saja kamu mengkhianati Lesya! Dan kalau kamu pilih tetap bertahan di LC, kamu sama saja mengkhianati Elen! Jangan pilih apapun! Kejar Elen dan bertahan hingga jalan keluar terbuka buat menuntaskan masalah ini! " tutur Hera.
Memang Hera dan Hansen sudah tahu perkara jika Alam masuk ke dalam gengster Lesya yang bernama Lion Claws. Awalnya mereka sama seperti Elena, menyuruh keluar Alam dari sana.
__ADS_1
Namun janji Lesya yang akan berusaha melindungi semua anak buahnya membuat mereka akhirnya membiarkan Alam bergabung. Dan Lesya rupanya menepati janjinya untuk bertanggung jawab penuh atas segala luka yang pernah didapati Alam mula-mula membuat mereka menghela nafas mereka lega.
Asalkan Alam masih hidup mereka sangat bersyukur! Alhasil mereka mulai melepaskan Alam agar melatih dirinya menjadi seorang lelaki yang dapat melindungi dirinya dengan bergabung kembali di markas Lion Claws milik Lesya.
Alam mengangguk paham maksud dari ucapan Hera. "Aku mau nyusul Elen! Kalau aku gak pulang berarti aku ke markas ya mah! " ujar Alam kemudian pamit menyusul Elena yang sudah pergi.
Kedua orang tua Alam mengangguk dan menatap kepergian Alam dari pandangan mereka. "Gak usah dipikirin! Alam udah dewasa! Biarkan dia menyelesaikan masalahnya! Kita cukup beri saran dan support dia! " ucap Hansen merangkul istrinya yang terlihat gelisah.
Hera mengangguk saja. "Gak terasa dia udah beranjak dewasa! Waktu dia SMP, dia jarang mau ngomong sama aku! " kata Hera. Hansen mengangguk pelan mengingat hal itu. Mereka mulai membicarakan masa dimana mereka berjuang gigih berusaha mendapatkan restu Alam agar dapat segera menikah.
Sementara Elena mengemudikan mobilnya dengan hati yang hancur mengingat pengakuan Alam yang merupakan tangan kanan di markas Lion Claws. Tangannya teralih mengambil ponsel di samping kursinya dan menekan kontak Mayang di sana.
You calling 'Bundanya Elen🌹'...
Mendengar suara Mayang yang lembut di telinganya membuat dirinya semakin rindu dengan sosok wanita yang melahirkan dirinya dan membesarkannya hingga saat ini. Akhirnya tangis Elena pecah begitu saja dan terdengar oleh Mayang di seberang sana.
📞 Bundaa!! Hiks, B-bun..
📞 Elen?! Kamu dimana sekarang? Kamu gak papa kan? Kenapa? Cerita sama bunda!
📞 E-elen mau pulang bun!
📞 Bunda baru sampai di rumah! Kamu mau ke sini atau bunda sama ayah yang susul kamu?
📞 Elen udah deket! Bentar lagi Elen nyampe!
__ADS_1
📞 Oke, bunda tunggu dirumah! Hati-hati ya Len,
📞 Iya bun!
Tuttt!
Elena menahan isakkannya yang membuat Mayang dan Angga gelisah di rumah. Mereka baru saja tiba dan dibuat bingung dengan isakkan tangis Elena.
"Kenapa Elen bun? " tanya Angga yang duduk di ruang tamu bersama sang istri tercintanya. "Elen katanya mau ke sini! Dia nangis gitu, bunda gak tau dia kenapa! "
Raut wajah Alam berubah drastis mendengar kabar putri kesayangannya menangis. Rahangnya mengetat dan terkejut mendengar suara Elena yang tiba di rumah tersebut. "Bunda!! "
Mayang dan Angga beranjak berdiri dan menahan tubuh Elena yang hampir jatuh. Cepat sekali datangnya! Pikir Mayang bingung. Elena menumpahkan dan memeluk kedua orang tuanya. Dirinya bercerita mengenai permasalahan Alam dan dirinya baru saja. Terkejut? Tentu!
Baik Angga dan Mayang tak menyangka jika Alam adalah seorang tangan kanan di markas Lion Claws. Bahkan Alam tak jujur dari awal mengenai kedudukan dirinya di gengster tersebut. "A-aku harus gimana bun? " isak Elena.
Di saat seperti ini, Elena membutuhkan bimbingan saran dari ibunya. Mayang yang tak tega melihat anak sulungnya terus menangis, menyuruh salah satu ART mengambilkan minuman untuk Elena.
"Bi, tolong ambil air putih ya! " Tak lama salah satu ART membawakan air minum untuk nona mudanya. Elena menerima dan dituntun duduk di sofa yang ada di antara Angga dan Mayang.
"Ayah paham kenapa kamu bisa se-emosional ini! Bukan karena nurun dari ayah doang! Tapi bunda mu juga gitu saat tau kalau ayah ketua TW dulu! "
Mayang mengangguk dan ikut menimpali perkataan sang suami untuk menasehati putri sulung nya. "Kamu harusnya berpikir dulu Len sebelum kasih pilihan sama Alam! Kalau kamu diposisi dia, apa kamu pilih Alam dibandingkan markasnya? "
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1