Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
382: Chat à l'hôpital


__ADS_3

Diluar ruangan semua terkejut karena Henny yang tak sengaja membuka ruangan sang anak—Luna, ternyata tak ada. Setelah Cakra beritahu jika salah satu suster membawa ke ruang perawatan, Henny bernafas lega. Dan untuk tali yang dibawa Cakra tadi juga tertinggal di dalam ruangan Lesya.


Sarah mengintip sejenak ke arah jendela pintu yang menampilkan Lesya yang tak membantah saat lukanya diobati oleh Elvan. Berbalik dan menatap yang lainnya, Sarah menghela nafas sebelum memulai memberi penjelasan.


"Sepertinya keadaan pasien tak ingin diganggu em, lebih tepatnya dia tak mau merasakan atau mendengar suara yang menyinggung masa lalunya. Maksudnya, dapat dibilang juga setelah Tante Mily menyentuh dan mengeluarkan suaranya, pasien terlihat lebih pendiam. Dan dari kesimpulan saya, untuk semua yang menyinggung masa lalu diharapkan menjaga komunikasi hingga pasien siap mental menerima interaksi dengan kalian." jelas Sarah pelan.


Mily terdiam mendengarnya. Tadi dia hanya kaget karena tiba-tiba melihat Lesya mencakar dirinya sendiri. Sedetik dia mengangguk pelan pertanda dia mengerti dengan apa yang diucapkan Sarah padanya. Mayang yang melihat seulas kesedihan di sorot mata Mily tampak turut merasakan kesedihan.


"Sebenarnya skirofrenia itu apa? "


Lisa yang tak paham akhirnya angkat suara dengan bertanya pada Sarah. Dokter cantik yang ditanya menautkan alisnya bingung. Bukan apa-apa tapi cara pengucapan Lisa yang salah.


"Skizofrenia bukan skirofrenia." koreksi Candra diangguki oleh Lisa.


"Nah maksudnya itu! Emang itu apaan sih? " tanya Lisa bingung.


"Skizofrenia itu artinya gangguan mental kronis ketika pengidapnya mengalami halusinasi, delusi, kekacauan dalam berpikir, dan perubahan sikap. Biasanya, pengidap skizofrenia mengalami gejala psikosis yang artinya kesulitan membedakan antara kenyataan dengan pikiran pada diri sendiri. Makanya sebelumnya pasien bilang, 'jawab kalau semua ini cuman delusi gw!' karena memang pengidapnya susah ngebedain halusinasi dengan delusi. Apalagi kali ini pasien mengalami kebutaan. Mungkin ini jadi fase terberatnya." jelas Sarah.


Semua terdiam mencerna setiap ucapan yang Sarah jelaskan. Tak ada ucapan lagi yang keluar hingga suara Galang memecah keheningan setelah beberapa detik terdiam. Jujur untuk Galang dia sedikit tersentil hatinya saat melihat putrinya dalam keadaan tak normal.


"Apa skirofrenia nya dapat disembuhkan dok? " tanya Galang ragu. Sarah terdiam lalu menggeleng pelan. "Gangguan mental bukan sembuh atau tidaknya. Asal jangan mengingatkan tentang apa yang dia takutkan, mungkin perlahan-lahan pasien dapat bersikap layaknya orang normal." jawab Sarah.


"Lalu yang Lesya takutkan apa? " tanya Sella. Sarah melirik ke arah Galang, Gilang, dan Mily sekilas. Menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal, rasanya aneh jika berbicara langsung di depan orangnya sendiri.


"Nih mereka bertiga! Secara pembuat rusuh masa lalu jadinya gini. Makanya sebelum bertindak pikir dulu pake otak konsekuensinya apa! " ketus Cakra langsung menjawab karena tanggap yang melihat ketidak enakkan Sarah.


"Psst! Ngomong lo asal nyembur, mending urus markas daripada di sini ngomel mulu! " ucap Alam menoyor pelan kepala Cakra. Sang empu yang ditoyor hanya meringis pelan dan menepuk pelan jidatnya sendiri.

__ADS_1


"Gw lupa! Terus adeknya Lesya diapain dah? " tanya Cakra polos. Alam mengerutkan keningnya bingung. Pasalnya dia sama sekali tak melihat Letha selain saat memukul kepala Lesya dengan batang kayu tadi. Bahkan Alam mengira jika Letha terpental akibat bom yang dipasang sebelumnya oleh Lesya.


"Emang dia masih hidup? Bukannya ikut kena bom ya? " tanya Alam balik. Cakra mengangguk. "Iyalah! Yang bawa aja dua temennya Elvan." kata Cakra.


Alam menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Masa sih? " gumamnya. "Bawa ke markas tapi jangan diapain dulu deh! Takutnya nanti malah diminta lepas sana Queen." lanjut Alam diangguki Cakra.


"Sip lah, semuanya permisi ya! Takutnya markas gak keurus, lo Fel jangan lupa kabarin kalau Leon sadar." ujar Cakra beralih menatap Felicia. Alam berdehem pelan seolah menyadarkan Cakra.


"Lita mau dibawa kemana bro? "


"Eh, jangan kasih tau Lita lo! "


"Aduhh, honeyy, telpon Lita bilang pacarnya lagi lirik first love nya! " ucap Alam beralih pada Elena. Cakra menggeplak kepala Alam pelan lalu menggelengkan kepalanya pada Elena.


"Siap empat lima! " kekeh Elena.


Elena yang sudah mengambil ponselnya dan mencari kontak yang dimaksud hanya memeletkan lidahnya pada Cakra saja seolah tak peduli. Sementara yang lainnya di sana hanya diam terbingung tak paham dengan pembahasan yang dibahas ketiga manusia di depan mereka.


"Bentar, maksudnya Lita yang mana? Kak Lita? " tanya Lisa polos. Elena tertawa pelan dan mengangguk saja. Anggaplah ini pembalasan karena Cakra terkadang menjahili dia dan Alam.


"Iya, Elita Mariana Grizi, pacar dari Cakrawala Andrean! " jawab Elena. Mata Lisa membulat tak percaya. Jadi pacar kakaknya yang misterius itu adalah tangan kanan Queen Allion? Lalu apa kakaknya tahu jika di depannya ini tangan kanan gangster besar? Wah, tak dapat dibiarkan ini mah!


"Pah, noh katanya dia pacarnya kakak! Bukannya kata kakak dia cowok gentle ya? Ini mah sama aja kayak gw sama Leon! " kata Lisa mengadu. Arya menatap dari ujung kaki hingga atas rambut Cakra. Tak ada yang salah. Cakra yang ditatap hanya merinding dibuatnya.


"Lam, ini bukan lagi acara lamaran ngapa jantung gw disko ditatep ginian!" bisik Cakra pelan. Tak sadar saja Cakra jika bidikannya itu terdengar hingga membuat yang lainnya menahan tawa.


Alam tertawa meledek. "Sekarang lo rasain kan? Betapa gugupnya gw diacara lamaran gw sama Elena, masih belom seberapa sih tapi yang lebih gugupnya waktu malper sama nikahan! " balas Alam berbisik namun tak sekeras Cakra.

__ADS_1


"Hihh! Ngeri gw bayanginnya! " gumam Cakra bergidik ngeri mendengar pernyataan Alam. Apalagi mengingat sang pacar yang ingin dinikahi sama seperti Elena membuatnya terkadang bingung harus bagaimana.


"Ekhem, " dehem Lisa menyadarkan Cakra dan Alam agar tak berbisik.


"A-anuu, saya pamit ya semuanya, byebye.. " pamit Cakra lalu hendak melangkah pergi dari sana. Namun belum sempat melangkah, Cakra berhenti karena suara Arya yang terdengar bagaikan merendahkannya.


"Begini modelan pacar Elita? Katanya pemberani tapi modelan preman jalanan! Cuman saya liat penampilannya udah gemeter, apalagi sekedar hadapan langsung nanti? " sindir Arya.


"Lo nyindir? Wah, omongan lo dari dulu gak pernah manis ya, selalu pedes nyampe nurun ke anak lo! " datar Gilang tak terima.


"Om, kalau mau nyindir, saya gak masalah. Tapi saya di sini ada tanggung jawab yang harus saya kerjakan! Jangan nilai penampilan saya om, saya memang preman jalanan dan beruntung saya diangkat jadi tangan kanan Queen Allion langsung! Dan saya rasa sebuah penampilan kurang penting dibandingkan sikap santun. Kalau gak ada yang mau diomongin, saya pamit ya om, " ucap Cakra lalu diakhiri oleh senyum simpul sebelum pergi dari sana.


"Woy, ikut gw Ndre! Yang lain kan butuh gw juga."


Candra dan Sarah berlalu setelah pamit dengan yang lainnya. Masih ada pasien yang membutuhkan mereka. Begitu juga dengan Andre, dokter dari pihak Tiger Wong juga pamit dan meninggalkan kawasan itu.


"Kesindir kan lo? Mulut lo kabas denger sindiran balik dia! " cibir Gilang. Menarik tangan Mily sedikit kasar, Gilang memutuskan untuk pulang saja setelah pamit. Begitu juga dengan Galang dan Sella. Mereka masih harus merawat Justine—anak mereka.


Untuk kelima teman Elvan? Mereka tidak ikut ke rumah sakit karena harus mengevakuasi lainnya. Masalah luka lebam mereka, akan diobati di markas setelah urusan mereka kelar. Bahkan mereka juga harus mengatur para musuh yang kemungkinan mengalami luka-luka ataupun sudah tiada. Bahkan mereka harus menemukan para petinggi musuh agar terlihat tak kabur walau mereka ditemukan dengan keadaan sekarat.


Henny juga kembali ke ruangan sang anak. Felicia beralih ke ruangan sang adik dengan Vay. Sementara Arya dan Maurine memilih pulang berdua karena Lisa yang mau bermalaman di sana. Angga juga memilih pulang karena besok dia harus mengurus kericuhan yang sempat tak terlaksana di sekolah.


Alam dan Elena juga sudah kembali. Perlahan demi perlahan semua mulai bubar hingga menyisakan Lisa dan Mayang. Lisa juga pamit pergi ke arah toilet sementara Mayang mengambil pesanan paket baju yang disiapkan sebelumnya di dalam mobil.


Oh iya, Mayang, juga memilih bermalaman agar dapat menjaga Lisa sekaligus Lesya. Dan kini baik Leon dan Luna sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Sementara Lesya dibiarkan di ruangan yang dia tempati karena sulit untuk mengajak berpindah.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2