
Kini suasana pemakaman tampak hening. Bagi Elvan, ini adalah sebuah kisah pahit seumur hidupnya. Hari ini, dia berulang tahun dan tepat di mana kedua orang tuanya dimakamkan. Kisah pahit yang pertama kali cukup memberikannya luka mendalam di lubuk hatinya.
Rumah mewah yang menampung Elvan sedari kecil hingga besar kini sudah sepi karena hari yang sudah gelap. Alam, Elena dan anaknya juga akan menginap hari ini di rumah peninggalan kedua orang tua mereka yang sudah berpulang.
Duduk di balkon kamarnya, Elvan menatap lurus ke arah depan dengan tatapan kosong nya. Sejenak pandangan Elvan teralih di saat mendengar suara lirih yang teramat pelan mendekat.
Membalikkan badannya, Elvan memberikan senyum tipis melihat Lesya yang berjalan dengan membawa kue kecil disertai lilin yang sudah menyala. Saat ini lampu kamar juga padam secara sengaja dan hal tersebut membuat kesan manis terhadap keduanya.
Kue kecil seukuran lingkaran gelang, nyala lilin yang hanya berdiri tiga batang, juga topi ulang tahun di atas kepala Lesya. Entahlah, Elvan tak tahu harus bereaksi bagaimana lagi saat ini.
"Happy birthday to you ... happy birthday to you ..." ucap Lesya dengan nada pelan lalu meletakkan kue di atas meja balkon.
Lesya kini beralih memasangkan topi ulang tahun di kepala Elvan dengan perlahan. Ingin tak merayakan karena sedih, tapi Lesya juga tak tega hari special sang suami dilupakan begitu saja. Alhasil, Lesya memilih merayakan dengan acara kecil-kecilan.
"Tiup lilin dulu baru make a wish!"
"Kenapa?"
"Lo baru kehilangan dan gw gak mau liat kehilangan lagi. Api sama kayak cahaya, kalau cahaya itu pudar..." Lesya mengusap sudut bibir dan dada Elvan secara bergantian. "Mereka juga bisa pudar. Senyum lo, sikap lo, hati lo, bisa pudar. Makanya gw minta, make a wish nya belakangan," lanjut Lesya pelan.
Elvan yang mendengar tampak terenyuh. Dadanya nyeri merenungkan nada bicara istrinya. Segera dia beralih memeluk Lesya dan menghela nafasnya pelan. Jadi begini rasanya ditinggal oleh kedua orang tuanya langsung sekaligus.
"Lo tau kenapa setiap ada lilin gak ada cahaya?" Elvan hanya menggeleng mendengarnya. "Karena di setiap kegelapan, pasti ada satu cahaya sekecilllll apapun itu! Jadi, jangan terlalu lama sedihnya, ya? Ingat kalau setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Di sini juga ada gw yang butuh lo perhatiin,"
Elvan hanya mengangguk dan perlahan mulai melepaskan pelukannya. Sesuai perintah, Elvan segera meniup lilin lalu memejamkan mata untuk make a wish nya. Matanya kembali terbuka setelah membuat harapan dan menatap kue yang hanya dihias oleh tiga lilin saja.
"Happy birthday my husband! Moga makin cair, makin panjang umur, makin sayang, makin cinta, makin sukses, makin jadi kepala keluarga yang lebih baik lagi, ok?" ucap Lesya menyerocos dengan senyuman tulus di akhir ucapan.
Cup! Cup! Cup!
Satu kecupan berhasil mendarat di pucuk kepala dan diakhiri kecupan untuk seluruh wajah Lesya. Elvan menangkup pipi istrinya yang kelihatan cukup chubby akhir ini. Elvan memang sengaja tak mengatakannya karena takut sang empu akan tersinggung dan marah padanya.
__ADS_1
"Thanks you my wife,"
"No problem, tapi maaf ya kalau kue nya kecil, mini, gak ada hiasannya kayak tahun lalu. Tadi gw kepepet buatnya, soalnya takut telat ucapin. Jadinya gini deh bentukannya," ujar Lesya melengkungkan bibirnya ke bawah.
"Gak papa, yang penting udah ucapin 'kan? Buatnya sama siapa? Bibi atau Luna?" tanya Elvan mengelus pucuk kepala istrinya. Lesya justru kembali memoyongkan bibirnya dengan kesal.
"Itu bibir mau dicipok hm?"
"Ish, ini asli alias original buatan gw tauk! Bi Lilis cuman bantu keluarin kue dari oven karena tangan gw gak sengaja kena besi panggangan tadi!" kesal Lesya mencebik. Lesya tak seperti dahulu yang suka memakan dibandingkan membuat. Dia sudah bisa memasak kue walau agak sulit merias dengan baik.
Lawan bicara Lesya tampak melotot dan segera memegang kedua tangan istrinya. Merah, kata pertama yang menggambarkan kondisi kulit putih Lesya. Elvan berdecak dan menciumi berkali-kali telapak tangan yang memerah akibat kecerobohan sendiri.
"Jangan cium-cium, nanti basah!"
"Iya maaf, udah gak sakit kan?" Lesya menggeleng menjawabnya. "Udah, sekarang aku minta kado!" lanjut Elvan membuat Lesya tersenyum penuh arti.
"Bentar, jangan kemana-mana!"
"Tadaaaa ... suprise, tapi jangan kecewa dulu! Baca sampai habis, ok?" ucap Lesya tiba-tiba mengejutkan dari belakang. Elvan hanya mengangguk dan mengambil gelas kaca yang didalamnya sudah diisi oleh kertas yang tergulung.
Elvan menatap wajah Lesya setelah usai membuka dan membaca isi kertas di dalamnya. Sang lawan bicara yang sibuk menghabiskan sisa kue yang hanya setengah tampak ikut menatap Elvan bingung. Lesya tahu waktunya tak tepat, tapi kejutannya ada di waktu yang tepat.
"Serius? Kapan lo chek?" tanya Elvan.
"Waktu Bunda sama Ayah masih di rumah sakit. Hari itu gw gak mau pergi chek, tapi karena gw yang gak boleh pergi sembarang tempat sama lo jadinya chek aja deh," jawab Lesya pelan.
"Sorry, gw tau harusnya ini bukan waktunya. Bunda sama Ayah baru dimakamkan, tapi gw udah punya kabar lain. Gw kira di ulang tahun lo yang ke-duapuluh ini, lo bakal senang jadi ayah," lanjut Lesya menunduk.
Elvan tampak menghela nafas dan mengusap pucuk rambut sang istri lagi. "Gw gak tau harus bahagia atau sedih. Di saat lo punya kabar yang Bunda tunggu-tunggu, Bunda sama Ayah harus pergi ninggalin kita di sini," lirih Elvan.
"Ta--
__ADS_1
"Lo keren! Di waktu lo masih kecil, tapi lo bisa hidup tanpa Papi. Sementara gw baru ditinggal umur duapuluh tahun aja udah punya niat juga rasa bundir,"
"Pertama, dulu gw juga gitu. Mau bundir karena mikir gak punya siapa-siapa lagi. Cuman karena gw di sana masih polos, gw mikir bertahan hidup sesuai permintaan Papi dulu," ujar Lesya.
"Kedua, gw gak bakal biarin lo bundir! Gw gak mau jadi janda anak satu nantinya," lanjut Lesya dengan wajah cemberutnya.
Elvan tersenyum simpul dan memeluk Lesya. "Jaga dia baik-baik kalau aku gak ada," ucap Elvan membuat Lesya melengkungkan bibirnya ke bawah.
"Kok gw doang sih yang jaga? Lo juga lah!" ucap Lesya merasa kesal dengan ucapan Elvan. Jaga diri? Lalu guna dia apa? Tak paham jika begini Lesya.
"Iya maksudnya lo jaga dia karena lo satu tubuh sama dia. Kalau misal gw ada kelas, lo gak ada yang jaga karena Bunda juga udah pergi," jelas Elvan.
Lesya hanya mengangguk mengerti. "Lo tau Pan? Bunda nyuruh lo tetap di sini, nyuruh lo gak pindah hari itu, lo tau kenapa?" Sang empu menggeleng. "Karena dia gak mau rumah ini sepi, rumah ini terlantar, rumah ini kosong."
"Di sini ada kisah Bunda, Mami, juga Aunty yang sempat berantem, sempat berpelukan, sempat terjadi tumpah darah. Dia mau kasih rumah ini buat putranya, itu lo, Van!" ucap Lesya lagi.
"Kak Elen udah pergi ikut Bang Alam, gw di rumah kita juga sering kesepian karena gak ada temen kecuali Lisa. Di sini gw bisa sama Luna kemana-mana. Kita udah bareng-bareng sejak SMP, dia ngerti gw dan gw ngerti dia. Kita kayak saudara kembar yang gak sedarah,"
"Jadi kita di sini aja ya? Suasananya lebih adem dibanding di rumah, ya?" pinta Lesya. Elvan sejenak merenung dan menatap isi kamar dari sofa balkon kamarnya. Akhirnya dia mengangguk setuju saja dengan permintaan Lesya.
"Lo- baca pesan gw ya?" selidik Elvan.
"Hehe ... ampun Bang, ga diulangin kok!" cengir Lesya menggaruk tenguk lehernya yang sama sekali tak gatal.
Fyi, ucapan Lesya yang ingin menetap di rumah mendiang mertuanya adalah pesan dari Mayang sebelum tiada. Sebelum kecelakaan terjadi, Mayang sempat mengirim pesan kepada Elvan-putranya. Dia meminta agar menetap di rumahnya bersama dengan Lesya-menantu kecil keluarga Grey.
"Udah jangan nangis! Mending masuk, di sini dingin. Kasian dedeknya nanti sesak nafas," ucap Elvan menggandeng tangan sang istri ke dalam kamarnya.
"Gak gitu konsepnya!"
"Iya-iya,"
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗