Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
179: Khawatir?


__ADS_3

Menarik pergelangan Luna, Lesya terkejut dengan kakinya yang sedikit masuk ke dalam tali yang ada. Samar-samar melihat pergelangan kaki Lesya yang masuk ke dalam tali, Luna juga melihat adanya Valen menghampiri mereka. Catatt! Hanya Valen saja!


"Emmmm! " kesal Lesya memperhatikan kakinya yang masuk ke dalam tali. Bukannya terlepas dari tali, pergelangan kaki Lesya justru semakin terbelit dan erat masuk ke dalam tali.


Valen menepuk pundak Lesya dan mengisyaratkan agar dirinya lekas membawa Luna yang hampir kehabisan nafas. Lesya mengangguk saja dan fokus pada ikatan di tali tersebut.


Valen menarik lengan Luna mendekat ke arahnya dan membawanya menuju tepi dasar sungai. Tega meninggalkan Lesya? Tidak! Jawabannya karena Elvan akan menyusul walau kaki Elvan juga terikat saat menghampiri Luna dan Lesya tadi.


Yap! Elvan juga mengalami hal yang sama dengan Lesya. Tak parah sebenarnya karena dirinya cukup mengeluarkan sedikit tali dan menyusul Valen.


Tadinya Valen ingin membantu Elvan. Namun Elvan mencegah melalui bahasa isyarat mereka untuk segera menghampiri yang lebih membutuhkan darinya. Terpaksa Valen menyusul keberadaan Lesya dan Luna saat itu dan meninggalkan Elvan sendiri saat itu.


Sudah dua menit berlalu dan Lesya masih berusaha membuka belitan tali di pergelangan kakinya. Sementara Luna sudah dibawa ke dasar sungai. Semua bernafas lega tinggal menunggu Lesya dan Elvan saja.


Panik? Tentu saja! Lesya sudah dua menit berada di dalam sungai namun dirinya masih saja terbelit dengan tali tersebut. Suara dari gelang Lesya juga terdengar walau di dalam air.


Ting! Ting! Ting! Ting! Ting!


* Tali sial*n! Kalo lo manusia, gw libas nih tali! Ini juga apaan sih bunyi-bunyi gelang gw brisik bener dah! Bundaaa... Tolong Lesya di siniii! Elah mana gw lupa bawa pisau lagi! Ck, nafas gw hampir habis lagi! Siapapun tolongggg!! * batin Lesya berteriak seolah suaranya keluar dari mulutnya.


Detik-detik dimana Lesya hampir kehabisan nafasnya mulai terlihat. Sebuah tangan kekar akhirnya nampak dan mengeluarkan pisau di sakunya dan mengarahkannya ke arah pergelangan tangan Lesya.


Lesya menoleh ke arah bawah dan menatap manik lelaki tersebut dengan seksama. Terkejut? Tentu saja! Kali ini Elvan juga yang menjadi penyelamat hidupnya!

__ADS_1


Ting! Ting! Ting! Kringg!


Akhirnya suara dari gelang mereka terhenti. Lesya semakin bingung dengan gelang di tangannya ini. Gelang doraemon! Pikirnya aneh.


Menarik tangan Lesya kembali ke dasar, Lesya setidaknya bersyukur hidupnya kembali selamat walau dengan bantuan rivalnya sendiri. Dirinya masih memiliki waktu untuk menyelesaikan semua masalahnya bukan? Pikir Lesya.


Terus menarik pergelangan tangan Lesya menuju tepi, Elvan justru tak berbalik ke tempat yang semula namun tempat yang sedikit berjauhan dengan kumpulan sekolahnya.


"Huhh!! Se-sesak gw! " lirih Lesya setelah tiba di tepi dan mendudukkan dirinya memegang dadanya yang membutuhkan oksigen.


Ctakk!!


Lesya meringis kecil saat Elvan menyentilkan keningnya. "Ouch! Sakit tauk! " Elvan menghela kecil dan mengusap pelan kening Lesya. "Kenapa langsung nyebur? "


"Kan Luna tenggelem! Lo tau? Dia gak bisa renang! Udah dua kali dia kecebur dan gw yang selamatin dia! Leon juga bisa tapi agak lelet! Jadi mau gak mau gw yang turun tangan! " cerocos Lesya menjawab dengan lengkap agar tak ditanyakan lagi.


Lesya menggeleng. "No! Selama gw bisa, gw gak butuh bantuan orang lain! " Mengacak rambut panjang Lesya, Elvan kembali menatap tajam Lesya. "Lain kali bisa pikir dulu baru nyebur? "


Lesya yang melihat sorot mata Elvan yang khawatir padanya mengalihkan pandangannya kebawah dengan wajah masih mengarah kepada Elvan. "Liat gw Le! "


Menatap Elvan kembali, Lesya justru melempar pertanyaan kepada Elvan dengan sudut bibir yang sedikit tertarik kecil. Mulutnya berceloteh ria sementara Elvan menunggu akhiran dari celotehan Lesya.


"Lo khawatir? Wah, kejadian langka! Dimana seorang tiang papan kutub utara berubah menjadi seseorang yang khawatir! Gw salut liat nya kek.. Merasa terhormat gw dikhawatirkan presiden dari rakyat beruang kutub, rakyat pinguin, rakyat ikan salmon, rakyat apa lagi ya? Oh! Rakyat SMA Gregus! Beh, khawatirkah presiden Zioner Elvano Gregorius Grey ini? " tanya Lesya mengakhiri ucapannya melihat Elvan yang terus-menerus memperhatikan dirinya.

__ADS_1


Elvan menautkan alisnya dan menarik turunkan alisnya balik bertanya. "Kalau iya gimana? " Melotot, Lesya mengalihkan pandangannya dan mengambil karet di saku celananya. "Y-ya gw.. Em gimana ya? Menurut gw ya bagus lah! " ucap Lesya berusaha santai.


"Masa? Bagus gimana? "


Lesya berdecak kesal dan mengikat rambutnya. "Ya bagus akhirnya lo gak dingin lagi sama gw! Jadi, gw gak perlu repot-repot lagi buat bawa jaket ke mana-mana! Udah gw mau liat keadaan Luna dulu! " celetuk Lesya mengarang.


Beranjak berdiri, Lesya terjatuh ke dalam pangkuan Elvan hingga dirinya melepaskan kontak mata mereka yang lumayan lama itu. "G-gw.. "


"Kaki lo merah kebiruan! " Lesya teralih ke arah pergelangan kakinya yang benar saja bewarna merah kebiruan. Bengkak?


Memang Lesya sempat melepaskan sepatu dan kaus kakinya sebelum menangkap ikan tadi. Lesya menghela nafasnya dan seketika melotot di saat Elvan berdiri dan menggendong dirinya. "Pan! "


Memoyongkan sedikit bibirnya dan menatap tajam gadis keras kepala di hadapannya ini, Elvan menghentikan ceramahan Lesya yang akan dimulai. "Syuuttt! Sekali ngomong, gw c*um lo disini! " ancam Elvan.


Terdiam karena takut terjadi, Lesya mengangguk patuh saja dan menggulungkan tangannya di leher Elvan. Sudut bibir mereka tertarik sedikit walau sorot mata mereka mengarah malas ke arah lain. Jika orang lain lain di mulut, lain di hati. Justru pasangan yang ini lain di mata, lain di bibir.


Sementara di tepi sungai, Luna masih belum sadarkan diri karena banyaknya air yang masuk di mulutnya. Valen masih terus menekan bagian dada Luna agar segera sadar.


Perlahan pasti, Luna menyemburkan air dan membuka matanya menatap sekelilingnya. Leon melotot dan menggeser sedikit posisi Valen. "Lun, lo gak amnesia kan? Lo ingat gw kan? " tanya Leon yang mendapatkan satu tinjuan dari Luna.


"G-gw gak amnesia kali! Lesya? Lesya mana? " ucap Luna sedikit terbata. Berusaha duduk dengan bantuan Leon, Luna teringat dengan kondisi Lesya di sungai tadi. "Oh iya tadi Lesya ke iket di kakinya! "


Sontak semua terkejut dan sedetik bernafas lega dengan hadirnya orang yang mereka bicarakan. "Apaan si? " ucap Lesya tiba-tiba.

__ADS_1


Lesya turun dari gendongan Elvan walau sedikit tertatih berjalan. Dengan sigapnya, Elvan memegang tangan Lesya membantu berjalan. "Eh lo gak papa kan Sya? " tanya Leon dibalas gelengan dari Lesya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2