Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
127: Balapan 2


__ADS_3

Luna memutar bola matanya malas. "Itu king TW juga Ellll.. " Lesya tercengang tak percaya. "Really? Kok gw gak nyadar ya? Terus kalo seri lagi gimana? "


"Gw juga baru sadar dan kalo masalah serinya, gw gak tau! " Lesya menghela nafas mendengar jawaban Luna. Luna menyengir kecil saja. "Kalo lo sama Vano seri, lo gak usah bayar dah! "


Lesya dan Luna terkejut dan menoleh ke arah Lisa yang memandang mereka remeh. "Gini ya! Leon lawan Farel, Ken lawan Cakra, bang Alam lawan Valen! " Luna tercengang sendiri. "Trus Frans? "


Lisa menggeleng. "Dia gak ikut! Dan kalo lo seri lawan sepupu gw, lo gak bayar apapun! Gimana? " Lesya tersenyum miring. "Deal! " Lisa membalas dengan senyum miringnya. "Gw rasa lo bakal kalah! "


Elvan yang mendengar pembicaraan mereka ikut menimbrung juga. "Lo bayar nanti! " Lisa mencebikkan bibirnya. "Iya! Puas lo?! Lo mana mau bayarin kan?! " Elvan menggedik-kan bahunya acuh.


...—...


Bruumm...


Pertandingan pertama yang berlangsung dimulai oleh Alam yang bersaing dengan Valen yang di menangkan oleh Valen. Sementara Cakra bersaing dengan Ken, Cakra menjadi pemenang.


Sorakkan terus menggema di saat Leon berhasil mengalahkan Farel. Lisa dan Luna yang sudah duduk di motor mereka masing-masing menatap sengit satu sama lain. "Gw pastiin lo kalah! '


Luna menyenye tak jelas. "Amoso! " ledek nya. Lisa mengancang-ancangkan tangannya hendak membogem Luna. "Kalo lo menang gw tambah 30 juta! " Luna tersenyum miring mendengarnya.


Go!


Brruuummm!


Lima putaran bagi mereka dan Luna berusaha untuk dapat menyelesaikan terlebih dahulu putaran nya. Lesya yang melihat tersenyum bangga sendiri jika ajarannya menanam benih di tubuh Luna.


Prokk! Prokk! Prokk!


Luna terlebih dahulu menyelesaikan putaran nya lebih unggul dibandingkan Lisa. "Sesuai janji gw! Noh! " Luna memamerkan satu amplop kepada Lesya yang berisi 30 juta. "Bagi woy! "


"Ogah! Sono lo udah sultan kelas kakap! " Lesya memutar bola matanya malas. Dia berjalan mengambil motor sport nya dan menyalakan mesin motornya.


Sebelumnya pandangannya melihat sekilas Elvan diikuti oleh Elvan lalu memasang full face helmnya. "Ready? "

__ADS_1


Go!


Bruumm...


Lesya dan Elvan diharuskan untuk memutari lapangan arena sebanyak 7 kali. Dengan kecepatan dan ketenangan yang dimiliki Lesya, Lesya mampu membuat anggota TW berdecak kagum padanya.


Begitu juga dengan Elvan. Banyak anggota LC yang merendahkan dirinya karena merasa tak sehebat Elvan yang mengendalikan motornya dengan lihai.


Ckkiiitt!


Prokk! Prokk! Prokk!


Sorakkan menggema di arena balap itu. Mereka seri seperti dugaan Lesya! Dengan cepat gadis yang baru saja melakukan balap motor membuka full face helmnya dan membenarkan posisi maskernya.


Berbeda dengan Elvan yang menggunakan masker hitam seraya mengacak-acak rambutnya. Lesya yang melihat dari kaca spion hanya tersenyum tipis di balik maskernya.


"Oy! " Luna menyeret Lisa agar tak mengingkari janjinya. "Woah! Janji lo mana?! " Lisa memutar bola matanya malas. "Berapa? "


Lisa justru menaikkan lengan pendeknya seolah mengajak bertengkar. "Gelud yok bab*! Meras lo ya! " Lesya yang tak terima melotot dan menarik lengan panjang sweaternya hingga sikut. "Lah gak terima lo?! Salah lo sendiri asal ngasih tantangan mana Luna yang diseret! Gak tau dia mata blackcard?! "


"Lah? Ngapa jadi gw yang diledek! Kawan gak sih? " Lesya menatap Luna malas. "Fakta no hoax! " Luna menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Memang benar apa kata Lesya baru saja tentangnya. "Tapi ini namanya pemerasan! "


Lesya menepis tangan Lisa yang menunjuk dirinya. "Gak sanggup gak usah ngajak balapan! " Setelah pedebatan yang lumayan lama oleh Luna, Lesya, dan Lisa tak kunjung berakhir.


Elvan yang malas karena dirinya ingin pulang menatap malas ketiga gadis yang kunjung tak berhenti berdebat. Leon yang tak ingin Lisa, Luna, dan Lesya semakin bertengkar hebat segera melerainya. "Udah nih pake ATM gw aja! "


"Mana aci! Itu sama aja lo ngasih makan sama diri lo sendiri! Lo juga ngapain sih pake acara bela-belaan sama dia(Lisa)? Lo milih siapa sih sebenarnya?! " Lesya yang sudah tersulut emosi akhirnya tak sengaja mengucapkan hal yang membuat Leon ragu sendiri.


Luna menyenggol sikut Lesya karena menyadari jika Leon tertunduk bingung. Leon merasa LC dan Lisa sama-sama berarti baginya. Dan dia tak dapat memilih di antara keduanya. "Psst! Sya! " bisik Luna.


"Apa?! " Nada Lesya yang kurang bersahabat membuat Luna mengelus dadanya sabar. "Lo sadar gak sih sama omongan lo tadi? " Lesya sontak membulatkan matanya tersadar.


Di saat dirinya ingin meminta maaf kepada Leon, terlebih dahulu Leon menyela pembicaraan Lesya. "Iya gw tau kalo gw mirip kayak dia yang mirip seperti kacang lupa kulit kan? Gw sadar kok! Gw gak bisa milih di antara kalian! Gw pamit! "

__ADS_1


Lesya tercekat. Dia tak dapat mengejar Leon karena Luna yang menahannya. Jadilah Cakra yang mengejar Leon.


Dor! Dor! Dor!


Leon berhenti sejenak membuat Cakra menghela nafas lega. Anggota TW dan LC sibuk mencari asal sumber suara. Tak lama terdengar suara tembakkan lagi di arena itu.


Dor! Dor! Dor!


Lesya mengangkat senjatanya dan menembak ke arah timur karena dirinya tak sengaja melihat sosok bayangan yang terlintas. "El, Al! "


Anggota intim TW dengan sigap meluncurkan peluru mereka kepada lawan yang mereka temui. Sementara anggota kedua belah pihak ditugaskan menjaga markas mereka masing-masing. "Fokus! "


Lesya yang kehabisan peluru mencari peluru cadangan di sakunya. Nihil! Lesya tak membawa peluru cadangan sama sekali. "Shitt! Gw lupa! "


Elvan yang berada di samping Lesya melemparkan pistol cadangannya. "Tangkap! " Reflek Lesya menangkap dan menyimpan pistol miliknya.


Vion yang berada di timur menyunggingkan senyum liciknya. Lesya yang tak sengaja melihat Vion dengan matanya yang mampu melihat dengan jelas wajah orang lain walau gelap ataupun tengah malam. "REVION FILLYBERT-!! "


Vion yang mendengar namanya disebut ingin berlari pergi namun digagalkan oleh tambahkan Lesya yang tepat sasaran dari Lesya di kakinya.


Dorr!


Vion yang merasakan kakinya terasa nyeri terjatuh dan memekik kesakitan. "AGRRHHH!!! " Lesya dengan cepat berlari dan sesekali menghindar dari serangan anak buah Vion.


Luna yang mendengar nama mantan sahabatnya dipanggil dan memekik kesakitan berlari menyusul Lesya. Bukan hanya Luna saja! Namun Elvan dan Valen juga ikut berlari menyusul Lesya.


Vion berusaha sekuat tenaga agar dapat kabur dari Lesya. Lesya yang melihat Vion kembali berdiri dan berlari walau pincang menggertakkan rahangnya keras. Tangannya terkepal dan bayang-bayang dimana Arga dibunuh di hadapannya oleh Vion terlintas.


Dengan tangan terkepal kuat Lesya berjalan cepat menghampiri Vion seraya dengan santai menembak tanah agar Vion merasa gencar. Itulah alasan Lesya!


Dalam kamusnya, jangan takut untuk membuat musuh menderita! Karena dirinya sudah terusik walau sedikit. Buat apa dia akan tiada di tangannya jika tak menderita terlebih dahulu? Itulah pedoman jiwa pemberontak Lesya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2