
Seperti janjinya, seorang lelaki bertubuh tegap sedang menunggu kedatangan anak-anak mereka. Di samping lelaki itu sudah terdapat anak kecil berusia sekitar 4 tahun sedang melahap ice cream buatan restoran yang dia tempati.
Tak lama kemudian, meja mereka di datangi oleh kedua insan yang berbaju couple dengan tangan yang menggenggam satu sama lain. Ini permintaan gadisnya dan dia tak mungkin dapat menolak. Sang ayah yang menunggu hanya tersenyum geli saja dalam hati. Bucin juga rupanya anaknya.
"Duduk dulu atau mau pesen apa gitu? " tanya Galang menawar. Lesya mengangguk saja. Setelah memesan dan menunggu pesanan mereka tiba, mata satu gadis di sana teralih kepada satu bocah yang berseragam TK yang duduk di samping sang ayah.
"Vayleen, "
Sang empu yang dipanggil itu menoleh saat Lesya angkat suara. Ya, bocah itu Vayleen. Dia saat ini dibawa oleh Galang ke restoran milik keluarga Erthan. Vayleen yang menyadari kebingungan Lesya hanya tersenyum manis bagaikan bocah pada umumnya dan menjelaskan maksud kehadirannya di restoran mewah ini.
"Hai kakak cantik, Vay ke sini cuman mau makan ice cream kok sama ngerayain ulang tahun Vay bareng kakek! " kata Vayleen gembira. Lesya menautkan alisnya bingung dengan kata 'kakek' di kalimat bocah lelaki itu. Matanya dapat melihat jelas sorot mata Vayleen yang sama seperti Vion. Dia seperti melihat bayangan Vion sekarang di depannya.
"Kakek? " tanya Lesya.
Vayleen mengangguk antusias. Menunjuk Galang di sampingnya dan mengaku jika dia adalah cucu dari lelaki berusia setengah abad itu. Galang hanya terkekeh mendengarnya. Bahkan Lesya tak percaya jika keduanya saling kenal dekat.
"Iya, karena saya sering main ke markas IB (Ice Blue) dulu, saya gak sengaja kenal sama Vay. Jadinya saya angkat cucu deh. Nah sekarang Vay lagi ulang tahun dan saya ajak dia ke sini buat beli ice cream kesukaannya. " cerita Galang dengan singkat. Lesya mengangguk mengerti saja.
"Vay ultah kok gak bilang sih? Kan biar kita berdua bisa beli atau bawa kado gitu di jalan tadi tau! " ketus Lesya.
Vayleen hanya menyengir saja mendengarnya. Lagi pula ada-ada saja pertanyaan Lesya itu. Gimana cara hubunginnya sementara dia tak memiliki nomor Lesya. Secara pribadi fyi, Vayleen punya ponsel sendiri dengan jerih payahnya yang terkadang diam-diam melakukan tugas oprasionalnya di bidang IT dalam usia dini. Kerja apa? Menjadi peretas cilik. Dia saat ini belajar ilmu teknologi yang sangat mudah dipahami nya. Dengan kejeniusannya, bahkan dia sudah menjadi peretas handal se-Asia dengan nama samarannya. Caleen, nama samaran dari anak Felicia dan Vion itu. Kedua orang tuanya tak tahu mengenai hal ini. Hanya Vayleen saja yang tahu.
"Aku punya permintaan kok buat kakak, tapi kayaknya kakak gak akan percaya deh sama omongannya Vay! " kata Vayleen tiba-tiba. Alis Lesya dan Elvan berkerut bingung. Saling berpandangan satu sama lain, mereka mulai menanggapi serius perkataan Vayleen. Sebenarnya hanya Lesya sih, kalau Elvan mah kapan gak serius. Elvan always serius kok dia.
__ADS_1
"Panggilnya kak Lesya aja sama bang Vano biar akrab Vay. " ucap Lesya diangguki mengerti oleh Vayleen. Lesya memang cukup risih dengan kata-kata Vay yang memanggilnya kakak namun bagaimana lagi? Sudahlah, dibandingkan Vayleen memanggilnya nenek? Kan gak lucu nanti!
"Kak Lesya sama bang Vano bisa bantuin Vay buat lenyapin papa? " tanya Vay serius. Lesya membulatkan matanya mendengarnya. Bahkan Galang yang duduk disamping Vayleen saja hampir tersedak namun tertahan.
Hah?
Ini serius?
"Vay? " lirih Galang.
Vayleen mengangguk mantap. Bocah lelaki tampan itu menempelkan telunjuknya di bibirnya dan mulai menjelaskan maksud dari perkataannya. Sementara yang lain diam menyimak dengan baik setiap perkataan Vayleen.
"Vay gak mau papa terus-terusan bunuh orang seenaknya. Papa gak pernah peduli sama Vay juga mama, cuman sekedar liat muka Vay aja papa gak mau. Jadi Vay berharap, papa cepet tiada dengan tenang biar kesalahannya di bumi gak merajalela. Vay gak mau papa terus-terusan sakitin mama. Vay gak bisa benci papa juga karena sejahat apapun papa, Vay tetaplah anak dari penjahat itu. Bagi Vay, lebih baik papa gak ada dibandingkan ada tapi selalu masuk lingkup hitam. " jelasnya.
Lesya terenyuh mendengarnya. Gadis itu merasa tak sendiri sekarang. Vay, rupanya bocah lelaki yang imut itu juga mengalami hal yang sama dengannya. Tak jauh dari sang anak, Galang juga merasakan hal yang sama. Karena gagal menjaga adiknya membuatnya semakin dibenci atau juga diacuhkan oleh kedua orang tuanya. Hanya kembarannya—Gilang saja yang selalu mendukungnya selama ini.
Anak menyuruh membunuh orang tua kandungnya? Gila sih tapi hal itu sangat terlarang. Lesya tahu bahkan ada anak yang langsung membunuh dengan tangannya sendiri. Lalu Vay? Apa maksudnya ini? Lesya masih belum bisa menjawab permintaan inti Vayleen.
"Vay tau kalau masalah itu, tapi Vay gak tega buat bunuh papa dengan tangan Vay sendiri. Vay gak mau kalau mama kecewa sama Vay. " lirih Vayleen menunduk kecil. Elvan menautkan alisnya. Pikirannya sama seperti Lesya. Masih belum percaya jika anak kandung musuhnya sendiri dengan cepat bahkan tanpa ragu menyerahkan sang ayah pada mereka.
"Lalu bagaimana kita? Sama saja kita mengecewakan mama kamu. Kamu tau? Bagi saya, mama kamu adalah kakak angkat saya karena sikapnya tulus. Berbeda dengan sekarang tapi rasa itu masih sama. " kata Lesya lagi.
"Vay. . . Lupain, Vay tau kakak gak tega bunuh papa sama mama bukan karena hubungan dulu kan? Tapi karena hubungan persahabatan? Vay tau uncle Vay(adik Felicia) masih ada di dunia. Dan marga papa juga sebenarnya bukan Fillybert kan? Tapi Scheinen? " kata Vayleen tanpa ragu meminta konfirmasi pada Lesya. Sang empu mengangguk saja.
__ADS_1
"Yaa.. Relifon Scheinen nama asli dari papa kamu. Nama marganya dari bahasa Jerman yang artinya bersinar. Dia sebenarnya hilang dan diangkat anak dari keluarga Fillybert. Marga itu juga sudah hancur kan? Apa kamu mau buat marga Scheinen bangkit lagi Vay? " tanya Lesya diangguki mantap oleh Vayleen. Lesya hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Kakak, boleh Vay ketemu uncle? Ganti dari permintaan aneh Vay tadi? " tanya Vayleen ragu. Lesya menautkan alisnya. Dia bukannya tak mau atau mau namun lubuk hatinya masih ragu. Lalu untuk apa dia repot-repot menyembunyikan adik dari Felicia Morn itu kalau ujungnya akan terbongkar? Dia tahu pepatah pernah mengatakan: aroma bangkai pasti akan tercium pada saatnya. Dan Lesya masih belum siap saja membawa dan mengatakan hal jujur di depan Felicia tentang keberadaan adiknya itu.
"Sorry Vay, kakak masih belom bisa. " jawab Lesya. Vayleen hanya mendesis kecewa saja. Elvan yang melihat ketidak enakkan Lesya, menggenggam tangan gadis itu di bawah meja dan mengelusnya. Lesya hanya menatap tak percaya Elvan yang mudah menangkap situasi. Dia juga perlahan tersenyum tipis karena senang jika Elvan mulai peka dengannya.
"Udah bahasannya masalah mulu, mending bahas yang lain aja noh! "
Lesya mencibir kecil mendengar sang ayah kandungnya sudah angkat suara. Sedari tadi lelaki itu hanya diam saja menyimak pembicaraan. Sungguh aneh justru mengalihkan pembicaraan.
"Nyenye~ "
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Coba gays tebak, siapa hayo adik dari Felicia Morn? Kalau clue-nya: Selalu ada namun tak tersadar dan dia laki-laki.
Tebak ya😙
Nah, visual Vayleen gays. Btw, namanya cuman Vayleen aja ya. Vion tak ingin menetapkan marga Fillybert di nama anak kandungnya itu. Felicia? Dia tak mempermasalahkan asal Vion tetap di sampingnya dan Vayleen. Bege sih!
__ADS_1
Gimana? Semoga suka ya gays, ku bingung loh carinya. Jangan lupa tinggalin jejak yah maunya gimana! Mau Vay bantu lenyapin Vion atau mau Vay bantu Vion lenyapin Lesya? Hayo, sebenarnya di sini Vay itu bukan tokoh antagonis alias pendendam. Dia cuman pemeran pembantu yang mungkin bakal jadi pemeran utama, wkwk...
Pilih ya~