
Di sebuah tempat kini sudah diisi banyaknya orang. Suara music begitu menggema seolah tak membiarkan pelanggannya merasa bosan. Bahkan kini banyak kalangan anak muda bahkan hingga kalangan dewasa sibuk meminum alkohol dengan santainya tanpa mempedulikan kesehatan mereka.
Di sebuah meja pojok, hari ini sedang diduduki oleh beberapa lelaki dengan paras mereka yang tampan. Tak heran jika beberapa kali banyak para wanita juga gadis yang datang sekedar menggoda dan meminta nomor mereka. Sayangnya kali ini mereka sama sekali tak tertarik sedikitpun dengan kaum hawa yang menggoda mereka itu.
"Dare or Drunk? "
Frans terkekeh melihat wajah masam teman yang memiliki jiwa playboy nya. Lelaki tegap dengan segudang mantan dengan pemilik nama Kenneth Dayfino, kali ini dia merupakan korban dari putaran botol alkohol kosong untuk game yang mereka mainkan.
"Dare nya apa dulu? "
"Pacarin selama sebulan cewek yang ada di ujung sono itu." tantang Farel dengan smirk khasnya. Ken melongo kaget setelah melihat siapa gadis yang baru saja ditunjuk oleh Farel.
"Rel, itu kan Nayla! Gak-gak gw gak mau pacarin cewek galak kayak dia." tolak Ken mentah-mentah. Valen juga Revan tertawa mendengar tolakan Ken yang seolah merendahkan Nayla.
"Gak papa kali Ken, biar lo insyaf sono. Dari pada lo minum lagi tambah kecap mau hem? " tentang Revan menggoda lalu tertawa pelan melihat dengusan kasar dari temannya.
"Oke fine! Gw samperin, tapi cuman sebulan doang. Fine, tengkyu! " kesal Ken lalu melangkah pergi agar melakukan tantangannya. Keempat temannya yang menyaksikan hanya tampak tertawa kecil saja. Kecuali Elvan yang melirik sekeliling bar langganan mereka itu.
Kini beralih pada Ken yang sengaja duduk di samping Nayla agar dapat melancarkan aksinya. Dalam hati dia sungguh berdo'a agar Nayla tak menceramahi nya panjang kali lebar. Sungguh, Ken cukup mengenal Nayla karena mereka satu daerah dengan komplek yang berbeda.
"Nayla, ya Tuhan lo di sini? Ngapain cewek rumahan malem malem ada di tempat beginian? Nyari cowok hem? " cerocos Ken memulai percakapan.
Sang empu yang dipanggil menoleh diikuti dengan seseoang yang duduk di sebelahnya. Dalam hatinya Nayla bersyukur dapat dipertemukan dengan sosok Ken. Dengan segera Nayla beranjak dan berdiri di sebelah Ken.
"Ken, bantuin gw lepas dari itu cowok dong... Risih tau ditarik ke tempat beginian." pinta Nayla dengan nada sedikit memelas. Sang empu yang dibisiki hanya mengangguk pelan seolah mengiyakan saja walau tak tahu apa permasalahan di antara mereka berdua.
Lelaki yang tadi duduk di sebelah Nayla tampak melirik Ken dengan tatapan tak sukanya. Terlebih di saat Nayla justru melingkarkan kedua tangannya manja di tenguk leher milik Ken. Sungguh, dia dianggap layaknya angin lewat saja.
"Nay, dia siapa? " tanyanya.
__ADS_1
"Dia? Pacar gw. Kenapa MANTAN lagi iri ya karena gak laku? Oh iya, kita bentar lagi tunangan loh. Jangan lupa ya waktu gw kasih undangannya lo dateng! Sekalian bawa mantan-mantan juga pacar-pacar lo, siapa tau gw bisa kasih mereka makan." cerocos Nayla dengan kata-kata pedasnya hingga membuat lelaki itu mengepalkan tangannya kuat.
"Nay, jangan bercanda lo! "
"Enggak tuh! Gak ada yang bercanda, iyakan beb? " tanya Nayla seraya melotot sedikit garang ke arah Ken.
Sang empu yang ditatap layaknya mangsa beralih merangkul pinggang Nayla mesra dan mengulurkan sebelah tangannya ke arah lelaki yang dianggap MANTAN oleh Nayla. Senyumnya yang manis seolah dianggap meledek lelaki yang dianggap hanya sekedar angin.
"Gw Kenneth Dayfino, pacar Nayla."
Lelaki itu hanya mengabaikan ukuran tangan Ken lalu segera pergi dari sana. Nayla yang melihat punggung mantan kekasihnya sudah mulai menghilang, dengan segera melepas gulungan tangannya yang melingkar di leher Ken. Saat hendak melepas rangkulan, justru Nayla terkejut karena Ken menambah energi seolah tak ingin melepaskannya.
"Lo pikir dengan mudah lo pergi tanpa bayaran ke gw hem? Untung tuh cowok gampang dipanasin kalau enggak, repot di gw nya loh Nayla." ujar Ken enteng.
"Jadi lo gak ikhlas bantuin gw hah?! "
Walaupun music di tempat itu memang berisik, karena mereka berada di ujung kursi, Nayla masih dapat mendengar jelas ucapan Ken. Nayla hanya tak mengerti mengapa Ken menembaknya tanpa bunga seperti mantan-mantan lelaki itu yang lain. Dia tahu dan cukup kenal dengan sosok playboy yang mulai insyaf dari jiwa playboy cap badaknya.
"Hah? " cengo Nayla tak paham.
"Ck, lo paham gak maksud gw tadi? " tanya Ken berdecak malas.
Nayla yang masih dalam mode ngebug nya hanya mengangguk polos saja. Jujur dia paham bahkan sangat paham. Namun permasalahannya mengapa dengan tiba-tiba begini Ken menembak dirinya tanpa dipadukan dengan adanya benda layaknya orang lain menyatakan cinta. Bukan itu artinya Nayla lebih memilih mementingkan adanya benda sebagai simbol rasa sayang seseorang pada dirinya. Hanya saja dia masih tak mengerti jalan pikiran Ken sekarang.
"Paham banget tapi dadakan tau."
Ken menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Benar kata Nayla jika pernyataannya terlalu dadakan. Jujur saja lelaki jangkung itu masih belum ada rasa sama sekali untuk seorang wanita kecuali sang mama tercintanya.
Berpacaran dengan lawan jenis hanyalah sebuah kegiatan untuk mengubah rasa bosannya. Dia cukup bosan jika terus-terusan tanpa interaksi banyak orang. Jadi deh seorang Kenneth yang playboy. Namun akhir ini karena teguran sang mama akhirnya dia mulai tobat dari dunia produsen luka sebagian hati perempuan yang cukup sensitif.
__ADS_1
"Gw ngerti kalau ini dadakan sih, tapi gw lagi butuh banget bawa pacar ke acara sepupu gw lusa buat yang ultah. So because I done help you(Jadi karena aku sudah membantumu), boleh lah bantuin gw balik? " pinta Ken memelas.
Nayla hanya menganggukkan kepalanya saja. Jujur dia cukup kaget saat lelaki yang dia kagumi di sekolah justru memintanya menjadi pacarnya. Tentu saja dia tak menolak. Kesempatan emas jangan disia-siakan sebelum pergi bukan? Nayla ingin merasakan waktu bersama saja dengan sosok playboy itu.
Aneh!
Oke skip!
"Done loh ya, tapi gw anter pacar dulu pulang ke rumah sekalian balik. Keburu emak gw marah kan gak elite, good bye all.. " pamit Ken mengambil jaket juga kunci mobilnya yang tertinggal di kumpulan sahabatnya yang asik meminum itu. Farel dan Frans hanya mengangguk saja. Cukup kaget di saat melihat Ken menggenggam tangan Nayla. Pacaran dong? Wah, ternyata salah sasaran rupanya mereka.
Setelah kepergian Ken juga Nayla, Revan menepuk-nepuk pundak Elvan yang masih sibuk meminum satu gelas kecil berisi alkohol. Sontak Elvan juga yang lainnya menoleh pada Revan.
"Kenapa? " tanya Elvan.
"Itu bukannya bini lo ya Pak Boss? Lo juga Val, itu bukannya tunangan lo ya? Ada Bang Cakra juga di sana, berarti mereka kumpul bertiga dong? " tanya Revan memberitahu dengan tangannya yang menunjukkan ke arah ujung kanan meja yang berada dekat para bartender.
Elvan menaikkan satu alisnya. Valen sedikit tersentak dan sontak beranjak berdiri. Namun karena cegahan dari Farel yang tanggap dengan paham Valen hanya menghela nafas seolah menenangkan emosionalnya.
"Hufftt," hela Valen. "Hampir aja." lanjutnya kembali menghela nafasnya. Farel menggelengkan kepalanya melihat tingkah Valen. Mereka juga cukup kaget dengan keberadaan kedua sahabat yang disertai dengan kehadiran tangan kanan Lion Claws alias Bang Cakra di sana.
"Kita pantau dulu, kalau macam-macam langsung gas." kata Elvan memberi usul walau dalam benaknya ingin sekali dia menyusul keberadaan ketiga orang itu.
Namun di saat melihat Cakra dan Luna yang seperti sedang menangis, mereka tak mau mengganggu keduanya. Lihat saja Lesya di sana hanya menonton dengan kamera menyala yang entah kepada siapa kamera itu mengarah.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Baru sadar selama ini PEUBI ku banyak yang salah. It's oke, mungkin setelah ini tamat baru aku perbaiki. Kalau ada typo tandain aja ya gayss..
__ADS_1