
Lesya memutar bola matanya malas. "Ya siapa tau aja Lunaaa... Nj*m, ini temen siapa sih kok kayaknya miring ya? " cibir Lesya saat melihat Frans, Ken, dan Valen berpelukan teletabis tak jelas.
Lisa bergidik ngeri melihatnya dan berlari kecil mengambilkan tisu untuk Leon. "Yang, lap dulu biar bersih! Gak kena kuman kecoa nanti! " ucap Lisa menyodorkan Leon tisu basah yang ada. Leon hanya tersenyum tipis dan menurut saja. "Thanks beb! " ucapnya tulus dibalas anggukan dan senyum manis oleh Lisa.
Spontan mereka yang baru saja sadar memekik kecil dan melepaskan diri satu sama lain. "Aaaa... Gw masih normal! " reflek Frans. Walau Frans terlihat dewasa, jangan tanyakan jika dia salah satu orang yang tak menyukai serangga apalagi serangga yang dipermasalahkan saat ini!
"Gw juga kali masih doyan cewek! " ucap Valen kesal. Ken hanya mengelus dadanya tanpa memekik heboh. Dia mengedarkan matanya mencari keberadaan temannya. "REPANN WHERE ARE YOU BABYY?! " nyeleneh Ken beteriak sedikit keras.
"Gini nih hidup seorang playboy akibat kebanyakan cewek! Miring ya otak lo?! " cibir Luna santai. Revan yang di panggil segera memekik menyahut. "ANJ*RR, SIAPA LOO!! " pekik Revan dari bawah kolong meja Lesya hingga membuat Cakra yang berada di sebelahnya berjingkrak kaget.
"AAA.. NGAPAIN LO DI SINI?! " kesal Cakra keluar dari kolong meja dan mengelus dadanya. Dengan cepat dia berlari kecil ke arah Luna seraya bergidik ngeri. Mengapa dirinya baru menyadari jika Revan juga berada di kolong meja? Memalukan! Pikirnya.
"Omo-omo pemandangan apaan nih?! " dramatis Lisa lalu tertawa ngakak diikuti yang lainnya. Lesya tersenyum kecil menahan tawanya. Dia melihat ke arah depannya dan mengapa dia juga baru menyadari jika dia dalam gendongan Elvan? Dengan cepat dia melepaskan gulungan kaki dan tangannya dan perlahan turun dari gendongan lelaki itu.
Luna menggerakkan tangannya yang di pegang erat oleh Cakra. "Iiihhh, bangg Andreeee... Lepasin ihh! Katanya mantan preman besar! Ditoel kecoa loyo-loyo! " pedas Luna menepis tangan Cakra.
Selain Cakra, biasanya dia juga kerap dipanggil dengan sebutan Andre. Kok bisa? Nama lengkapnya adalah CAKRAWALA ANDREAN dan itu mudah saja dipanggil Andre. Cakra melepas saja dan mengelus dadanya sabar. "Ya kan gw geli liat bentuknya! " kikuknya.
Lesya melambaikan tangannya seolah mengusir Cakra. "Hus-hus sana! Biang keroknya lo nyampe bawa kecoa ke ruangan gw! " ketus Lesya. Leon mengangguk setuju. "Nah bener tuh! Sono-sono balik kamar sendiri! Tangan gw gak suci lagi kan jadinya! Untung ada ayang gw yang bersihin! " bangga Leon merangkul sang kekasih.
__ADS_1
Cakra memegang dadanya seolah dirinya lah yang terpojokkan. "Pen tak hihh! Lagian juga mentang-mentang pacaran, asal ngusir gw! Sembarangan lo ya! Awas kualat, kena karma! " sinis Cakra.
"Gak akan, wlee! " Leon dengan santainya memeletkan lidahnya ke arah Cakra. Sementara Frans yang memiliki ide di benaknya menjentikkan jarinya dan melerai perdebatan unfaedah itu. "Stoopp, bentar dulu! Izinkan gw ngomong hal penting! " lerai Frans.
"Widih, bapak Prans mau ngomong apaan nih? Sok atuh ngomong tinggal ngomong! Gak usah pake tampang seriusnya kalee.. " ucap Ken mempersilahkan.
"Brisik lo Ken! Gw cuman mau ngomong, kayaknya kalau gak salah beberapa anak-anak TW bakalan ngerayain hari ultah ke 7 tahun kan? Gimana kalau kali ini kita ajak kalian gabung acara? " usul Frans menawarkan.
"Deall! "
Bukan Lesya, Luna ataupun Leon yang menjawab namun Cakra. Lelaki itu justru dengan cepat menyepakati usulan Frans barusan. Luna yang belum mengambil keputusan melotot tak terima. "Eii! Apa-apaan asal main deal-deal segala! "
"Beh, sakit! Yaudah mending tinggal nunggu kepastian aja noh sama echa sebagai perwakilan! " tunjuk Cakra duduk di satu kursi dan menunjuk Lesya menggunakan dagunya. Lesya yang ditunjuk oleh Cakra hanya menggedikkan bahunya acuh. "Terserah kalian lah! Gw ikut-ikut aja tapi tergantung yang punya TW lah! " acuh Lesya.
"Gimana Van menurut lo? " tanya Valen yang menyenggol sikut Elvan. Elvan menoleh dan hanya mengangguk saja. "Boleh deh! " jawabnya enteng menyetujui usulan Frans barusan.
"Waitt, ceritanya boleh gak nih ajak yang lain? " tanya Ken. Revan yang juga ikut duduk setelah mengatur nafasnya hanya menyahut saja. "Boleh dah! Asalkan yang deket aja jangan yang jauh! " ucapnya.
Ken hanya mangut-mangut paham maksud dari perkataan Revan. Lesya melipat tangannya di dada dan perlahan mengatur nafas. "Huft, udah kan meeting dadakannya? Sekarang, GO OUT OF MY ROOM! " tegas Lesya sedikit keras berteriak mengusir semua orang yang ada di ruangannya agar segera pergi dari sana.
__ADS_1
Sontak mereka yang terkejut lari terbirit-birit keluar dari ruangan Lesya terkecuali Elvan tentunya. Lebih lucunya, Cakra lari terbirit-birit menuju kamarnya dengan wajahnya yang terbungkus oleh selimut tebalnya. Sementara Leon dan Lisa tentunya saling merangkul pergi dari ruangan itu. Luna? Dia hanya cepat kabur saja dari sana. Sedangkan yang lainnya? Mereka hanya berlari kecil keluar tanpa drama seperti Cakra contohnya.
Saat ini Elvan justru dengan santainya berjalan dan duduk kursi yang di tempati khusus untuk Lesya. Dengan cepat dia mengaktifkan kedap suara dan menutup pintu hingga terkunci otomatis dari remote control Lesya. Sebenarnya, Lesya merancang itu agar dirinya tak kesulitan saat malas menutup pintu ataupun saat dia malas mengaktifkan kedap suara.
Lesya berdecak malas melihat ruangannya yang berantakan karena ulah teman-temannya dan tentunya tamu tak diundang itu. "Aelah, males lagi gw beresinnya?! Emang no have akhlak tuh manusia pake bawa-bawa kecoa ke kamar gw?! Ck, biarin lah! " malas Lesya lalu berbalik membuka pintu yang ada di sudut ruangan dengan warna pintu yang menyatu dengan tembok sekitarannya. Dan jika untuk cara masuk ke dalam, hanya tinggal menekan tombol bewarna hitam di tengah-tengah pintu.
Ceklek!
Lesya terhenti saat mendengar deheman Elvan. Karena tak menyadari keberadaan lelaki itu, Lesya berbalik dan mendelik melihat keberadaan Elvan yang duduk di kursi miliknya. Dengan cepat dia berjalan menghampiri Elvan setelah melirik sekilas pintu kamarnya yang tertutup kembali.
"Ngapain lo di sini? " tanya Lesya saat sudah tiba tepat di hadapan Elvan. Tangannya saat ini dia lipat kembali di dadanya dan menatap galak Elvan. Elvan hanya mengedikkan bahunya acuh dan memutar-mutar kursi melihat seluruh sudut ruangan Lesya. "Liat-liat doang! "
Lesya mendelik tajam. Dengan cepat dia hendak menghentikan gerakan putar kursinya yang ditempati oleh Elvan. Nampaknya kalian salah kira karena Lesya justru tak sengaja menabrak sudut mejanya hingga terjatuh di pangkuan Elvan entah bagaimana teorinya.
Bak slow motion, Lesya yang kembali berdiri justru ditangkap sigap oleh tangan kekar Elvan yang berada di dekatnya. Alhasil saja Lesya yang tertarik oleh tangan kekar itu, duduk di pangkuan Elvan. Begitulah kira-kira teorinya.
"Auu! "
Lesya menatap lekat manik mata Elvan begitu juga dengan Elvan yang menatap wajah Lesya intens tak kalah lekatnya. Spontan saja gerakan putar kursi itu itu terhenti dan membiarkan kedua pasangan itu saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗