Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
53: Ericko


__ADS_3

"Iya sibuk! Saking sibuknya, sombongnya selangit! " Lesya memainkan kukunya, "Saya gak sombong tuh bu"


"Halah! Gaya lo! Gak cuman lo ya! Gw juga orkay" sahut Lisa yang angkat suara, "Gak ada yang nanya" santai Lesya.


Mereka hanya tertawa kecil saja. Sedikit hiburan dari Lesya menggelitik di perut mereka. Tentunya kecuali Lisa, Vannya dan Elvan.


Braakk!


Pak Rio sedikit menggebrak meja yang membuat penghuni sekitar terkejut. Mereka mengelus dadanya sabar.


"Kaget gak? Kaget lah masa enggak! " Lesya tersenyum palsu mendengar ejek kan dari kepala sekolahnya, "Kaget lah masa enggak" canda Lesya sengaja mengejek balik pak Rio.


Benar saja, setelah Lesya mengatakan itu, wajah pak Rio masam bagaikan lemon. Pak Rio segera mengalihkan pembicaraan agar kondisi serius.


"Terserah kamu aja! Sekarang masalahnya, siapa yang jadi orangtua kamu? " Lesya menunjuk bu bunga, selaku wali kelasnya.


Bu bunga yang ditunjuk, menunjuk dirinya sendiri, "Kok saya sih? " Lesya menurunkan telunjuknya yang menunjuk wali kelas sekaligus guru BK.


"Ibu gak tau ya? Orangtua di sekolah itu wali kelas saya sendiri. Dan berhubung ibu wali kelas saya, jadi ibu orangtua saya! "


Mulut bu bunga ternganga kaget. Pintar sekali murid lagend nya berbicara. Bahkan Lesya dengan santainya melipat kedua tangan nya di dada.


"Kenapa bu? Salah? " Bu bunga memprotes, "Mana mau saya punya anak nakalnya selangit"


Vannya yang mendengar itu diam-diam tersenyum licik. Tak ada yang menyadari itu kecuali Elvan. Remember? Dia peka akan keadaan walau tak dilihat.


"Iw, saya juga ogah ya bu. Mana mau saya punya ibu cerewetnya kayak gunung meletus! Saya juga heran kenapa pak Rio mau sama ibu" balas Lesya tak mau kalah.


Pak Rio tercengang. Mengapa dia yang sedari tadi diam diseret dalam masalah? Apa salahnya kali ini?


"Jelas karena saya cantik! Iya kan yang" Lesya mengangkat bahunya jij*k melihat ke-uwuan dari gurunya.


Pak Rio hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya kikuk. Dia sempat kesusahan meneguk salivanya karena tatapan tajam dari sang istri.


"Bwahaha! Bapak takut sama istri bapak sendiri? " tawa Lesya ngakak. Bu bunga beralih menatap tajam Lesya.


Lesya yang melihat tatapan tajam bu bunga menghentikan tawanya perlahan., "Ada yang lucu? " Lesya menggeleng saja.


"Hah! Lalu sekarang siapa yang mau jadi orangtua kamu? " Tegas pak Kevin menggantikan pak Rio., "Kalo bapak mau sih, silahkan"

__ADS_1


Ceklek!


Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Tampaklah seorang pria yang kira-kira sudah setengah abad umurnya. Vannya berdiri dan menghampiri pria tersebut.


"Papa! " Vannya memeluk pria tersebut yang berstatus sebagai sang ayahnya. Begitu juga dengan sang ayah yang langsung memeluk anak bontot nya.


"Kamu kenapa? " tanya papa Vannya yang melihat banyak luka diwajah bahkan kaki Vannya.


Vannya menunjuk Lesya sekilas, "Dia mukul aku pah! Padahal anya gak punya salah sama dia"


Lesya menunjuk dirinya sendiri dengan lugu. Bagaimana tidak? Papa dari Vannya adalah rekan kerja Gilang. Sering sekali dia melihat lekaki tua itu.


Pak Rio berdiri dan mempersilahkan papa Vannya duduk di samping Lesya. Sementara Vannya berdiri di samping ayahnya saja.


Papa Vannya yang bernama Ericko, menatap Lesya tak berkedip. Di dalam otaknya, dia akan menjadikan Lesya boneka pribadinya.


Lesya yang risih ditatap oleh Eric, langsung menatap tajam Eric. Eric mengalihkan pandangannya. Semua tak luput dari penglihatan Elvan yang berada di belakang Lesya.


"Ada apa saya disuruh datang kemari? " Pak Rio menghela nafas, "Begini pak, anak bapak baru saja melakukan keributan yang melibatkan dia (Lesya)"


"Dan maksud tujuan saya memanggil anda adalah, anak bapak menjadi korban keributan tersebut--- " Lesya memotong ucapan pak Rio, "Lebih tepatnya adik saya pak"


Vannya mengangkat suara dengan cepat, "Tadi, saya gak sengaja nyenggol bahu Letha pak. Trus Lesya malah mukul saya pak"


"Hehh! " Desis Lesya kecil.


Menurut pendengarannya tadi, Letha-lah yang tak sengaja menabrak Vannya. Vannya mengunakan kesempatan itu untuk membully Letha walau tenaganya kecil.


Pak Rio mengangkat alisnya. Dia tahu jika Lesya selalu masuk daftar hitam. Tapi, semua karena musuhnya yang mencari masalah dengannya.


Bukan karena dia yang terlebih dahulu mecari keributan. Menurut penjelasan Vannya, dirinya tak yakin jika Lesya seperti itu.


"Tapi, Lesya gak akan bermasalah kalo gak diganggu" Lesya menepuk tangannya sekali. Dia memberikan satu jempol untuk pak Rio.


Pak Rio yang melihat itu berdecak malas, "Lalu kamu sya, kejadiannya gimana? "


"Katanya pak Letha gak sengaja nyenggol bahu dia (Vannya) tapi malah dibully. Saya sebagai kakaknya gak terima dong kalo adik saya di bully! "


"Trus gimana? " kepo pak Kevin.

__ADS_1


"Shhtt! Diem dulu pak. Jadi saya baru nyampe ngeliat adik saya dipukul, saya pukul balik lah! Adil kan? "


Bu bunga memijit pelipisnya pusing. Jadi yang mana yang benar? Lesya atau Vannya?


"Jadi yang bener siapa? " Dengan kompaknya, Lesya dan Vannya menjawab, "Saya buk! "


"Gini aja buk biar adil, dihukum aja dua-duanya" usul Kenneth.


Lesya menatap tajam Kenneth. Ken yang ditatap meringis kecil saja. Tatapan Lesya tajam bagai silet.


"Hah bagus juga usulannya Ken, baiklah klo begitu--- "


Eric memotong ucapan pak Rio dengan cepat, "Maaf pak, sebelumnya saya meminta maaf atas masalah anak saya, Vannya. Biar Vannya saja yang langsung meminta maaf untuk em... "


Eric menunjuk Lesya karena dirinya tak tahu nama Lesya. Dengan cepat pak Kevin menyebutkan nama Lesya, "Lesya! "


Dengan cepat Lesya menepis tangan Eric yang menunjuknya "Eem, iya itu! Vannya minta maaf sono" Eric menyenggol bahu Vannya.


Vannya melotot. Apa iya dia harus meminta maaf dengan Lesya? Otak ayahnya berpikir di sebelah mana sebenarnya?


"Gak mau! Dia aja yang minta maaf sama aku! Kan yang jadi korban aku pah" Lesya memiringkan senyumnya.


Eric menatap tajam Vannya. Vannya berdecak kesal karena ayahnya lebih memilih Lesya dibandingkan dirinya. Dengan malas Vannya berkata, "Gw minta maaf! "


"Gak ikhlas gak usah! " Vannya berdecak kesal lagi, "Gw minta maaf! " Lesya menyunggingkan senyumnya tipis, "Klo mau minta maaf, sama adek gw sono! Dia korban bukan gw! "


Lesya beranjak pergi dari ruangan kepala sekolah itu. Pak Rio menyarankan, "Lebih baik Vannya minta maaf sama Letha aja ya"


Vannya melotot dan menghentakkan kakinya pelan. Karena masih sakit karena ulah Lesya. Eric menarik Vannya keluar.


"Maaf semuanya, kali ini Vannya izin gak masuk dulu ya. Karena saya liat lukanya parah" Mereka mengangguk saja.


Vannya terlebih dahulu pergi ke parkiran. Sementara Eric tak sengaja melihat Lesya yang baru saja keluar dari toilet.


Eric menyunggingkan senyumnya dan menghampiri Lesya. Lesya sudah tau jika Eric akan menghampirinya, tersenyum licik.


Tak hanya mereka berdua di sana. Elvan yang berjalan menuju kelasnya, melihat Eric yang ingin menyentuh Lesya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2