
Pagi telah tiba sang surya sudah menampakkan cahayanya, namun Lyra masih tetap tak bergeming dari tempat tidurnya. Dia masih nyenyak dengan alam mimpinya hingga suara alarm gawainya membangunkannya.
Alarm: ZELYRA ALEESYA MICHELLA FYO BANGUN WOY-!!
"Moy*ng kaget gw anjirrr, alarm sial*n lo" Lyra langsung bangun dari tidurnya.
Setelah merapikan kamarnya, Lyra langsung bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap ke sekolah.
Kali ini, Lyra memakai celana panjang khusus lelaki dan baju seragam lengan panjang perempuan yang tak dimasukkan. Dengan sepatunya yang berwarna kuning. Dan tak lupa dasi yang tak terpasang di lehernya. Ditambah rambutnya yang dibiarkan tergerai asal-asalan adalah ciri khas seorang Zelyra Aleesya Michella Fyo.
Lyra bergegas turun ke bawah dengan tangan yang sudah memegang kunci motornya. Beberapa dia di panggil oleh bi Ana namun tak dihiraukannya. Dia memakai earphone di telinganya menyebabkan tak mendengar omongan di sekitar.
...~o0o~...
ckiiit...
Lesya memarkirkan motornya di parkiran khusus motor dan melepaskan helmnya. Ditenteng nya tasnya yang dibawanya tadi di pundak kanannya. Jangan lupakan tangan kirinya yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
Banyak pujian dan cibiran di lontarkan oleh netizen sekolah tersebut untuk Lesya. Dipuji karena mempunyai paras cantik alami dan dicibir karena gayanya yang tampak seperti lelaki. Namun itu semua tak didengarkan Lesya. Dia tetap berjalan dengan gayanya menyusuri koridor sekolah sampai di kelasnya.
"LESYA! Lo gak kenapa-napa kan? " tanya Luna menghampiri Lesya saat dikelas.
Luna baru saja sampai setelah 5 menit Lesya berada di kelas. Yang diketahui Luna saat Lesya memakai lengan panjang ke sekolah, itu pertanda dia baru saja disiksa oleh Gilang.
Karena kesal tak dijawab, Luna langsung mencopot earphone yang bertengger di telinga Lesya. Dengan sontak, Lesya bangun sambil memasang wajah datarnya.
"Kenapa sih Lun? " tanya Lesya ketika tahu siapa yang mencopot earphone miliknya.
"Ya elo sih, kan gw nanya sama lo. Eh taunya make erpon" jawab Luna memegang earphone milik Lesya.
Lesya mengambil earphonenya dan memasukkan di telinganya kembali, "earphone Lun bukan erpon"
"Typo dikit elah" Lesya hanya mengangkat bahunya acuh dan meletakkan wajahnya di tangannya yang menjadi tumpuan nya.
"Sya, si Lara pindah ke NAT ya? " tanya Luna dan dibalas anggukkan dari Lesya.
kriiing..
Pelajaran pun dimulai, semua siswa-siswi berhamburan masuk ke kelas karena takut dihukum. Letha dkk baru saja masuk dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Baru nyampe? " tanya Lesya yang berada dibelakang Letha.
__ADS_1
"Gak sih kak, kami cuman pergi ke kantin buat sarapan" jawab Letha dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Nanti ke cafe itu lagi yok" tawar Luna dan dibalas anggukkan oleh Letha, Nayla dan Amel.
"Klo lu sya? " tanya Luna menyenggol pundak Lesya pelan.
"Kalian aja deh, gw ada urusan nanti habis pulang" Lesya menolak halus tawaran sang sahabat.
Semua mendesah pelan kecewa akan ketidakhadiran Lesya nanti. Mereka pun membatalkan janji mereka untuk nongki di cafe.
Pelajaran pertama dimulai, selama pelajaran Lesya hanya memainkan bolpoin saja sambil menempelkan pipi kirinya ke meja. Sambil menunggu pelajaran selesai Lesya hanya mencoret-coret bukunya. Gabut sekali bukan?
kriiing..
Siswa-siswi sudah berhamburan keluar kelas untuk mencari makan. Ada juga yang masih di dalam kelas untuk memakan bekal mereka. Waktu istirahat pun sudah tiba. Nayla, dan Amel sedang memesan makanan untuk mereka. Sedangkan Luna dan Letha memesan minuman mereka. Bagaimana dengan Lesya? Dia hanya duduk sambil memainkan handphonenya.
"HAPE TROSSS" sindir Luna membawa nampan yang berisi 5 gelas minuman. Dibelakangnya ada Letha dan disampingnya ada Amel dan Nayla yang membawa bakso mereka.
"Iri bilang sahabat" balas Lesya mengambil satu bakso dan satu minuman jeruk untuknya.
"Bodoklah, Selamat makan semua" Luna langsung memakan makanannya begitu juga dengan yang lain. Kecuali Lesya yang baru saja ingin minum minumannya hingga setengah gelas.
Namun saat Lesya baru saja ingin memakan baksonya, penghuni kantin heboh akan kedatangan para most wanted yang menjabat sebagai anak OSIS. Hal tersebut membuat waktu makan Lesya terganggu. Dia tak jadi untuk memakan baksonya.
"Gak nafsu, liat mukanya si papan dkk bikin gw mual" jawab Lesya menunjuk ke arah most wanted tersebut.
"Apa sih yang dipuja-puji? Muka kayak sendal jepit aja belagu. Masih mending gw" cibir Lesya sambil memainkan handphonenya.
"Ya tapi kan mereka cakep kak, gw aja demen sama yang satu itu" Letha menunjuk salah satu most wanted dengan jari telunjuknya sambil tersenyum sendiri.
"Selera lo rendahan tha, masih banyak cowok yang ganteng dari pada dia"
"Selera lo aja kali kak yang rendahan, dia cakep banget omaigad"
"Udah, ngapain bahas cowok sih. Nih gw aja yang demen ama yang muka baby face aja diem"
"Sama aja kali Nay, bedanya gw sama ketuanya"
"Yeh, gw dong! yang kagak demen aja b aja tuh, ya walaupun dikit suka sama yang cerewet sih"
"Sama aja kali Lun! Udah deh jangan bahas cowok sendal jepit. Pengen muntah gw dengernya"
__ADS_1
"Yeh lo kan aneh sya. Cowok kayak mereka aja yang mendekati sempurna dibilang muka sendal jepit"
"Tau sya bener kata si Amel. Mereka udah tajir, ganteng, pinter, berbakat kurang apa lagi coba? "
"Iya, kak lo mah masalah cowok kagak peka dikit. Sekali-sekali apa belajar mengenal apa itu cinta"
Lesya malas mendengarkan ocehan teman- temannya yang ribet masalah cowok ganteng.
"Bod*amat gw kagak peduli masalah cowok. Yang penting semua cowok sama-sama suka mainin perasaan wanita. Apalagi yang tajir+ganteng? Beh, udah pasti ceweknya banyak" Lesya menyerocos tanpa jeda menjelaskan kebenciannya terhadap lelaki.
"Ya kan gak semuanya sya, masih ada cowok yang baik-baik " jelas Amel.
"Itukan menurut lo Mel, menurut gw kagak ada. Karena habis disayang pasti ditinggal" Lesya memutar bolanya jengah akan pembicaraan.
"Emang lo pernah ngerasain kak? " tanya Letha sambil memakan baksonya.
"Kagak sih, tapi gw paham betul sifat cowok" Lesya menutupi rasa gugupnya dengan muka datarnya.
"Udah-udah ngapa jadi bahas cowok sih? Gw aja punya cowok tapi dah putus b aja kok" sahut Nayla sewot.
"Gimana rasanya Nay diputusin pas disayang-sayang? " tanya Luna yang penasaran akan perasaan saat putus cinta.
"Rasanya seperti anda menjadi ironman. Ya kali, sakit lah! Untung gw dah move on" jawab Nayla.
"Sakitnya tuh di sini di dalam hatiku" Amel malah nyanyi sambil membuat nada mengejek ke arah Nayla.
"Itu mah lagu Mel, lagunya si cita-citata" Letha menoyor kepala Amel pelan.
"Aduh sakit tha" ringis Amel kecil. Letha sontak mengelus kepala Amel yang ditoyorkannya tadi.
"Sakit ya? Haha, rasain lo, siapa suruh ngeledekin orang" ejek Nayla.
"Jahat lo Nay" Amel mengerucutkan bibirnya sambil memakan baksonya yang masih tersisa. Namun hanya diacuhkan oleh Nayla yang asik melahap makanannya.
Letha kembali ke posisi makannya. Sedangkan Luna? Dia asik makan membiarkan yang lain berkarya sesuka hati mereka. Lesya? Dia beda dengan yang lain. Dia malah asik memainkan gadgetnya membiarkan teman-temannya dan adiknya bertengkar. Lakn*t sekali bukan?
"Sya, gak makan lo? " tanya Luna menyenggol bahu Lesya pelan takut sang empu marah.
"Kagak, gw udah kenyang. Buat lo aja klo mau" jawab Lesya yang udah tau kemana arah pembicaraan Luna.
"Ah, makasih sya mwuah" Luna mengambil mangkok bakso Lesya yang blom dimakan sang pemilik dan mencium Lesya dari arah jauh.
__ADS_1
Acara makan pun selesai. Luna, Letha, Amel dan Nayla pergi ke toilet sedangkan Lesya pergi ke rooftop. Mereka tahu jika Lesya ke rooftop pasti dia mau bolos karena bosan belajar apalagi pelajaran bu bunga. Matematika! Pelajaran yang dibencinya, malahan dia belum mengerjakan semua PR-nya. Jadi mendingan bolos daripada kena hukuman pikir Lesya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗