
Lesya yang jengah terus berjalan mengikuti langkah Elvan bertanya kemana tujuan mereka sebenarnya.
"Pan! Papan! Kita kemana sih? Jangan bilang lo mau—" Pikiran Lesya melayang ke mana-mana.
"Jangan nethink! Ikut aja" Lesya menutup mulutnya dan tak lagi berbicara.
Dia berpikir tak ada untungnya jika bertanya kepada papan! Pasti akan tak dijawab. Jadi tak perlu berbicara dengan papan! Pikirnya.
Lesya dan Elvan berhenti di dalam gudang sekolah yang menyimpan banyak barang. Lesya mengerti bahwa hukumannya pasti membersihkan gudang.
"Bersihin! " Lesya menurut saja toh memang dia benar-benar salah.
Elvan hanya melirik setiap pergerakkan yang Lesya tampilkan. Mulai dari menyusun berkas di rak-rak, menyusun bola-bola olahraga, dll.
Lesya risih dirinya ditatap oleh Elvan. Dia meletakkan tumpukkan berkas yang ada di tangannya dan menatap Elvan.
"Lo gak cape apa liatin gw terus? Gw tau gw cantik tapi gak usah kayak gitu natap nya! Ngeri gw" oceh Lesya.
Elvan melirik jam tangannya tanpa menanggapi ucapan Lesya. Rupanya sudah masuk jam pelajaran kembali. Bahkan sudah lewat 20 menit yang lalu.
Lesya kembali membersihkan gudang. Perlahan gudang sudah mulai rapi dengan tangan Lesya. Setelah merasa cukup, Elvan memasukkan tangannya di saku celananya.
"Cukup! Lo boleh ke kelas" Lesya terbaring lemas di lantai yang cukup kotor. Tapi dia tak peduli sama sekali,
"Capek! Minta minum dong" ucap Lesya menyodorkan tangan ke arah Elvan dengan posisi yang masih tertidur.
"Bangun! " Dengan malas Lesya terbangun. Rambutnya yang sudah acak-acakkan tak beraturan. Darahnya sudah berhenti.
Tanpa basa-basi, Elvan menggendong Lesya ala bridal style. Lesya terperanjat kaget dengan tingkah Elvan yang di luar nalar.
"Eeeh! Turunin gw pan! " Elvan keluar dan berjalan menyusuri koridor sekolah. Koridor tampak sepi namun Lesya memberontak minta diturunkan.
Elvan berhenti di satu koridor, "Diem atau. . . " jeda Elvan sengaja memancing emosi Lesya.
Fyuh~
Lesya mengerjapkan matanya berkali-kali. Akhirnya dia memilih diam dari pada berbicara.
Dia sendiri bingung mengapa dia sangat nurut kepada Elvan? Pikirnya. Elvan tersenyum miring melihat Lesya yang terdiam. Elvan melangkahkan kakinya menuju UKS.
Setelah tiba di UKS, Elvan membaringkan kesya di satu brankar yang ada. Lalu dia pergi mengambil kotak P3K.
Lesya meringis kesakitan memegang lukanya. Sudah terluka malah nambah luka. Sksk, miris kau Sya! Kapan sembuhnya jika begitu?
"Ssst! Gil* makin nyeri kaki gw" ringisnya kecil.
__ADS_1
Elvan sudah mengambil P3K. Dia memegang luka Lesya dan mengobatinya dengan telanten. Sesekali Lesya meringis kecil merasa nyeri pada kakinya.
"Shh! Pelan-pelan dong pan! " Elvan menghela nafas panjang. Sudah sekian kalinya Lesya berbicara itu padahal dirinya sudah sangat pelan mengobati luka Lesya yang agak membiru.
Setelah selesai mengobati, Elvan meletakkan kotak P3K ke tempatnya semula, "Gw balik " datarnya.
Dengan langkah lebarnya, Elvan mampu menghilang dari pandangan Lesya dalam sekejap. Lesya tertidur di UKS selama 30 menit.
Setelah sekian lama, Lesya menoleh ke saku celananya. Rupanya ponselnya bergetar pertanda ada pesan masuk.
📩Lucinta Luna
Sasa, lo dimana? Gw ama
Leon udh di kelar tinggal nunggu lo!
^^^📩Sasa kutub^^^
^^^UKS, gw bolos.^^^
^^^Jangan tungguin gw.^^^
📩Lucinta Luna
Wokeh, pelajaran pak Bambang
^^^📩Sasa kutub^^^
^^^OTW, kantin^^^
📩Lucinta Luna
Siap Queen
(read)
Lesya geleng kepala saat dirinya di sebut sebagai queen oleh Luna. Lesya melangkahkan kakinya menuju kantin.
Kringg...
Tepat waktu! Dengan santainya, Lesya berjalan menyusuri koridor. Kantin tampak ramai pengunjung. Sudah ada Leon dan Luna di sana.
Lesya duduk tepat di kursi kosong depan Luna. Leon? Dia duduk di samping Luna. Kebetulan kursi mereka menampung 4 orang saja.
"Di hukum apaan lo? " tanya Luna melahap somay miliknya. Mereka sudah memesan makanan dan minuman mereka.
__ADS_1
"Bersihin gudang " jujur Lesya. Leon melirik Luna. Karena merasa aman, Leon menyeruput minuman Lesya yang belum disentuh sang pemilik.
Sruupp!
Luna merasakan ada hawa yang tak bersahabat di sekitarnya. Leon juga menyeruput minuman Luna yang masih utuh. Dasar Leon!
"Yakk! Leon ta¡! " kompak Luna dan Lesya. Lesya dan Luna berdiri dan berusaha menggapai minuman mereka masing-masing di tangan Leon.
Leon sengaja meninggikan kedua minuman di atas. Alhasil mereka menjadi tontonan gratis penghuni kantin. Luna dengan bodohnya berusaha meraih gelasnya.
Berbeda dengan Lesya yang sudah menyerah karena Leon memang tinggi. Menyerah bukan berarti kalah ngab!
"Luna geser dah" Luna tak bergeming. Sekali lagi Lesya sabar, "Luna geser" Luna menurut.
"Mau apa lo? " tanya Luna lugu. Lesya tersenyum jahat. Leon bergidik ngeri sendiri bahkan gelasnya sudah diletakkan di meja. Tangannya terangkat ke atas.
"Jangan macem-macem lo Sya" Lesya tersenyum penuh arti. Luna duduk santai paham kemana arah tujuan Lesya.
"Kalo ada cara gampang kenapa harus sulit? " gumam Lesya. Leon meringis kesakitan saat Lesya menendang lutut belakangnya dengan sepenuh jiwa dan raga.
srrakk!
"Cari masalah lo? " bangga Lesya kembali duduk di bangkunya.
Luna tertawa melihat Leon, "Hahaha, sakit Yon? " Leon meringis kecil
"Sakitlah masa enggak?! " kesalnya. Luna membantu Leon duduk kembali di kursinya namun tetap tertawa.
"Duh, mantan kok galak sih? " adu Leon bak perempuan.
"Jij¡k Yon" Luna kembali tertawa mendengar itu. "Janlup bayar ke kasir" peringat Luna.
Kantin kembali seperti semula. Tontonan mereka habis begitu saja. Leon terus menggoda Lesya yang terlihat murung.
"Murung amat neng? " Lesya melotot, "Lo ngapa sih ke sini? Bikin ulah apa lagi lo di sekolah sebelumnya? " Leon menyengir.
"Bonyokin temen nyampe masuk RS" Luna dan Lesya geleng kepala. Ada-ada saja Leon!
"Cakep gw kasih duit 500 jt dipotong pajak! " bangga Lesya. Leon membanggakan dirinya. Luna ikut dalam pembanggaan Leon.
"Gw juga ngasih lo 250 jt dipotong pajak! " ucap Luna ikut-ikutan.
"Mana? " tanya Leon. Luna dan Lesya mengkode satu sama lain. Sementara Leon yang melihat merasakan hawa tak sedap di sekitarnya.
"Setelah kita potong kedua ginjal lo " kompak mereka melanjutkan makan mereka. Wajah Leon masam semasam Lemon.
__ADS_1
Senyumin aja lah, cewek maha benar! Lagi pula ngapain gw dipindahin ke sini sama bang Alam? Pasti ngejagain dua bocah nih! Tapi gw mulu kena imbasnya —batin Leon mengcape.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗