
Keesokan harinya, di ruangan putih menyadarkan dirinya dan mengerjap pelan. Mengumpulkan kesadarannya penuh, melirik ke kanan dan kirinya, dia mendapati sebuah tangan yang masih setia menggenggam nya walau sedang tertidur. Helaan nafas terdengar karena dia khawatir dengan kesehatan tulang sang mama. Iya, dia Luna!
"Mama.. "
Berkali-kali memanggil sang mama yang asik terlelap tidur akhirnya sang empu mengerjap dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Seketika dia kaget dan beralih menekan tombol di samping brankar sang kursi.
"Kamu udah sadar, Lun? Dari kapan? Ada yang sakit? " cecar Henny khawatir. Luna mencebikkan bibirnya monyong dan membalas pelukan sang mamanya.
"Baru aja sadar! Nanti malah bukan aku yang sakit, tapi mama encok pinggangnya karena tidur kek posisi tadi." sebal Luna menggerutu pelan.
Henny hanya dapat geleng-geleng kepala mendengarnya. Memang seposesif itu Luna jika menyangkut mengenai kesehatannya. Tak lama dokter pun datang dengan seseorang di sampingnya. Namun kali ini bukan suster yang berada di samping sang dokter. Tapi Valen!
"Lo ngapain di sini?! " kaget Luna.
Henny dan Luna sudah sama-sama melepaskan pelukan mereka. Valen yang mendengar hanya menyengir pelan dan mendekat dengan satu buket bunga di tangannya. Dokter pun juga ikut mendekat agar dapat memeriksa keadaan Luna, pasiennya selama Candra tak ada.
"Nih bunga buat CalIst! "
Valen meletakkan buket bunga yang dia bawa di atas brankar Luna. Sengaja sebenarnya agar Luna terlihat bersemangat nanti melihatnya. Benar saja Luna tersenyum dengan alis yang terangkat keduanya. Modus, pikirnya.
"CalIst apa lagi? " bingung Luna.
"Calon Istri dongg.. " jawab Valen.
Blushh...
Entah dari mana dapat kata-kata begitu, Valen mampu membuat Luna malu ke ubun-ubun. Apalagi kejadian ini dilihat sang mama dan dokter. Di mana urat malu lelaki itu? Ayolahh, bagaimana dia tak baper jika ucapan Valen segitu manisnya. Apa ini efek pertemanan dari kedua buaya darat alias Revan dan Ken? Hadehh, tak tahu deh pusing mikirnya!
"Ekhem, beh saya periksa dulu? "
Dokter di sana yang terasa hanya angin lalu akhirnya angkat bicara. Valen dengan tanggap mengangguk dan memberikan ruang memeriksa untuk dokter tersebut. Berbeda dengan Henny yang hanya menahan tawa melihat raut wajah sang putri tunggalnya yang seperti ingin mencakar wajah Valen. Lucu!
__ADS_1
"Jangan banyak bergerak dan jangan paksain angkat yang berat-berat supaya lukanya mengering dulu, oh iya setelah cairan infus habis, pasien diperbolehkan pulang besok." jelas dokter tersebut.
"Oke dok, makasih ya." tulus Henny.
Dokter tersebut mengangguk dan pamit keluar. Setelah kepergian dokter tersebut, Henny beralih mendekat ke arah sang putri tunggalnya. Sungguh, dia mengira sang putri akan koma seperti Leon. Dia tak dapat membayangkan hal itu kembali terulang lagi untuk kedua kalinya. Dia sangat bersyukur!
"Syukurlah, lain kali kalau mau perang jangan nyampe luka gini ya Lun! Mama gak suka ih," omel Henny. Luna hanya menyengir pelan lalu mengangguk pelan.
"Gak sengaja Luna, Ma." balas Luna.
"Ralat, bukan gak sengaja tapi serangan dadakan." koreksi Valen menyahut. Luna menatap tajam Valen dan mengisyaratkan agar lelaki itu diam saja.
"Oh iya, btw Lesya mana Ma? Leon juga gimana? " tanya Luna melanjutkan ucapannya. Henny menghela nafasnya dan mengelus anak rambut Luna sayang.
"Leon sekarang koma. Lesya skizofrenia nya kambuh, anaknya juga gugur... Lesya juga ngalamin kebutaan." jelas Henny pelan. Luna terdiam mencerna setiap perkataan mamanya. Dia terkejut jika rencana perang kali ini berdampak besar. Di antara ketiganya, hanya dia yang mengalami luka ringan. Beruntung!
"Separah itu? " kaget Valen.
Henny mengangguk pelan. Valen membulatkan mulutnya dan segera menutupnya. Pikirannya berkelana dengan bagaimana perasaan sang ketua—Elvan saat ini. Dia tak menyangka jika perang yang berlangsung kemarin akan berdampak sebesar ini. Mengejutkan!
"Ikuttt! "
"Heh! Gak usah, kamu masih belum pulih-pulih amat Luna! Biar Valen aja yang jenguk" kata Henny melotot tak mengizinkan. Luna mengerucutkan bibirnya manyun mendengar penolakan dari sang mama yang tak memberi izin.
"Tapi Ma, Lesya juga sahabat Luna! Leon juga, emang Mama gak sayang sama mereka? Mereka lagi susah loh Ma! Dulu waktu kita susah, mereka ada dan giliran mereka susah masa Luna gak boleh jengukin bentar doang sih?! " kesal Luna menyerocos panjang kali lebar.
Henny mendengus mendengarnya. "Gak boleh, kamu juga butuh istirahat biar bisa pulang Luna... " kekeuh Henny yang tetap tak mengizinkan. Luna menyatukan kedua tangannya pelan seolah sedang memohon.
"Pliss Ma... Sebentar doang kok, sama Palen! " pinta Luna memohon. Valen yang tak tega melihat raut wajah Luna akhirnya mengusulkan ide saja. Dia juga tak punya banyak waktu untuk menyaksikan perdebatan ibu anak itu.
"Gak papa kok Ma, yang penting nanti Luna biar Valen dorong pake kursi roda." usul Valen menyahut dengan halus.
__ADS_1
Henny terdiam sejenak. Berpikir sebentar, ada benarnya ucapan Luna tadi. Akhirnya dengan berat dia mengizinkan sang anak pergi dengan catatan menaiki kursi roda dan terus tetap bersama Valen. Luna sebenarnya berat namun mengiyakan saja. Daripada tak diperbolehkan, akhirnya mereka berdua lebih dulu pergi meninggalkan Henny yang ingin mencari makan.
Oh iya, sebelumnya Henny juga sudah memberitahu dimana letak kamar Lesya dan Leon sebelum mereka benar-benar pergi menjenguk.
...〰〰〰〰〰〰〰✍...
Sebelum ke ruangan Lesya, kedua insan sudah mempir ke ruangan Leon terlebih dahulu. Setelah berbicara sejenak dengan sahabat lelakinya yang tampak tak ingin membuka mata akhirnya Luna memutuskan hendak keluar dengan mendorong kursi rodanya sendiri. Ya, memang Valen dengan sengaja tak ikut masuk ke dalam dikarenakan ingin memberi waktu Luna menemui Leon.
Luna yang sudah keluar melihat wajah Lisa dan Felicia yang duduk dengan diam di sana. Sepertinya mereka tampak sangat terpuruk. Valen yang menghampiri dan mengambil alih kursi roda yang dikenakan Luna.
"Gw mau jenguk Lesya, ada yang mau ikut gak jenguk Lesya? " tawar Luna.
Felicia menoleh dan menggeleng pelan saja. Luna mengangguk saja dan beralih menatap Lisa. Sang empu yang ditatap hanya menanggapi dengan gelengn kepalanya. Luna menghela nafasnya pelan. Tiba-tiba mereka menoleh ke arah Vay yang datang dengan dua kotak makanan di tangannya.
"Vay ikutt! " kata Vay.
"Vay mau ikut? Yaudah ayo, sekalian tunjukin jalannya tau kan? " tanya Luna diangguki oleh bocah lelaki itu. Setelah menyerahkan kedua kotak makanan kepada Felicia dan Lisa bergantian, Vay beralih berpamitan kepada sang mama.
"Mama, Vay pergi ya jangan lupa makan nasinya biar gak sakit! " kata Vay. Felicia mengangguk dan memeluk sejenak Vay. Sungguh dia tersentuh dengan Vay yang menghilang dan ternyata hendak membeli makanan untuk nya.
"Dari mana uangnya nyampe kamu beli makanan gini? " bingung Felicia yang justru balik bertanya. Vay hanya tersenyum tipis. Sebenarnya dia mengambil dari tabungannya. Ingat kan dia adalah hacker cilik dengan usia yang masih dini? Nah, uang dari sana dia ambil sedikit untuk membeli makan sang mama dan Lisa agar tak kelaparan.
"Dulu Papa pernah kasih kartu kan ke Vay? Yaudah, Vay pake" bohong Vay. Felicia mencubit sebelah pipi Vay. Dia tahu anaknya berbohong agar tak memberi kesan buruk pada dia dan Vion. Sudahlah, biarkan ini juga salahnya.
"Luna, jaga anak gw baik-baik ya! " pinta Felicia dibalas anggukan kepala oleh Luna. Setelah berpamitan, ketiganya berjalan ke arah ruangan Lesya. Kecuali Luna ya tentunya, dia masih duduk di kursi rodanya. Sementara Valen yang mendorong kursi roda Luna dan Vay yang menunjukan jalan ke ruangan Lesya.
Setibanya di tempat yang mereka tuju, mata mereka menangkap seorang lelaki yang duduk dengan tangan yang dilipat di dada. Kepalanya menatap langit-langit walau matanya terpejam. Rambut hitam yang teracak hingga menutupi kedua mata lelaki itu. Dia adalah Elvan!
Penampilannya kacau dan sepertinya terjadi sesuatu dengan Lesya. Tak ada orang lain selain Elvan di sana. Lalu bertanya mengenai Mayang? Dia sudah kembali karena memiliki urusan penting yang tak bisa ditunda lagi. Toh sih sudah ada Elvan yang menjaga Lesya.
"Van? "
__ADS_1
Sang empu nama menoleh. Mereka sama-sama terkejut melihat mata lelaki yang memiliki sikap dingin itu memerah. Terdengar suara pecahan dari ruangan Lesya. Seketika mereka menoleh dan berjalan masuk. Masih dalam posisinya, Luna yang didorong Valen masuk ke dalam. Sementara Elvan dan Vay berlari kecil masuk ke dalam.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗