
Luna dan Lesya segera ikut menghabisi anak buah Vion agar berkurang sedikit demi sedikit. "Yon, sorry soal tadi! " Leon yang berada di samping Lesya mengangguk dan tersenyum.
"Gak papa! Gw tau lo gak suka sama orang yang gak nepatin janji kan? " Lesya mengangguk dan tersenyum tipis mendengarnya. " Fokus! " tegas Lesya diangguki oleh Leon.
Leon dan Lesya kembali fokus membidik dan sesekali menyerang dengan tangan mereka hingga tanpa sengaja balutan perban di tangan Lesya terbuka. Tak ada rasa bagi Lesya karena dia sudah terbiasa.
Dorr! Argh!
Rintihan kecil yang di dapat oleh Lesya di saat satu pelatuk bersarang di lengannya. Luna menoleh ke arah sahabatnya. "Queen! " Dengan cepat Lesya menghentikan Luna yang ingin menghampiri dia. "Fokus! "
Luna tetap menghampiri Lesya dan membantu berdiri. "Lo gak papa kan Queen? " tanya Luna. Lesya mengangguk saja. Sepasang sahabat itu kembali menyerang dan membidik satu sama lain.
Jika kalian bingung mengapa Vion tak bermain senjata lainnya seperti pedang, bom, ketana, dan senjata api lainnya, jawabannya hanya satu!
Vion dan anak buahnya tak pandai menggunakan senjata api selain pistol saja. Taktik penyerangan juga tak setinggi Lesya. Vion tak masalah asalkan dia dapat memiliki Lesya dan Luna! Itu saja. Egois bukan?
Dorr! Srak! Kreek!
Sementara di sisi Elvan dkk yang masih menyerang dan menghajar anak buah Vion dengan mudahnya. Jelas mudah! Anggota Vion tak pandai berbela diri semua.
Sesekali mereka menggunakan senjata api mereka karena memang mereka membawanya. Tandas! Elvan menyuruh beberapa anak buahnya yang berada di sana agar menyelesaikan kekacauan yang ada. "Tolong beresin! "
"Siap king! " Elvan mengangguk lalu bergabung dengan teman-temannya yang duduk di tepi arena balap tersebut.
Mereka duduk di kursi atas sementara Lesya, Luna, Cakra, Alam, dan Leon di tiga kursi bawah mereka. "Ngapa ya tiba-tiba nyerang kita? Kira-kira dari siapa? " molog Lisa.
"Vion! " Farel, Frans, Lisa, dan Ken terkejut. Mereka memang tak tahu bahkan tak mendengar teriakkan Lesya memanggil nama musuh mereka karena terlalu fokus bertarung. "Jadi dua bad girl kenal ama Vion! Kita ikutin eh malah hilang! "
__ADS_1
Mereka tiba-tiba saja melirik arah bawah mereka dimana Lesya mengambil pisau lipatnya dan merobek perutnya guna mengambil peluru yang bersarang. "Shhss! "
"Udah ngapa Sya! Gw panggil bang Candra ya! " tawar Luna. Lesya menggeleng cepat. "Enggak! Sakit kalo dia yang bikin! Bilangnya gw nanti harus operasi! Ogah gw! "
Cakra mengambil alih pisau lipat yang Lesya pegang dari tangannya. "Itu yang terbaik! Dari pada lo kayak gini?! Udah gw panggil Candra! " Lesya menatap tajam Cakra. "Kalo kalian manggil gw balik! "
"Kayak gini? " tanya Alam angkat suara. Lesya mengangguk tanpa dosanya. Alam yang memperbaiki tangan Lesya dengan sengaja menekan lukanya hingga Lesya reflek memukul pundak Alam. "Anj*ng! Sakit bang! "
Leon meringis mendengar rintihan Lesya sangatlah memekikkan telinga. "Sst! Cempreng juga suara lo Sya! " Lesya mendengus. "Ya gimana kagak cobak?! Bang Alam kayaknya punya dendam terselubung sama gw ya? "
"Ya kali gw dendam sama lo! " Lesya menunjuk tangannya yang terasa nyeri. "Terus tadi ngapain?! " Alam menggeleng. "Salah sendiri nantangin pulang kayak gini! Ketahuan bunda mamp*s aja! "
"Siapa bilang gw pulang ke rumah bunda? Rumah gw banyak noh! Markas, apart papi, hotel, apart gw, tinggal pilih gampang kan?! " cerocos Lesya.
Luna mengangguk. "Jangan salah bro! Tambah sama Villa lo! " Lesya mengangguk karena lupa menambahkan villa nya. "Sultan bebass! "
Alam sudah selesai membalut ulang luka di tangan Lesya. Tiba-tiba ponsel Lesya berdering dari sakunya. "Dah kelar! Tuh angkat telponnya" ucap Alam.
Dengan kompaknya Luna dan Leon menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda. "Hancur belebur! Dibanting! " Cakra dan Alam mangut-mangut mengerti saja. Sudah biasa bagi mereka mendengar permasalahan itu.
Di saat Lesya ingin menggeser tombol hijau, telepon tersebut sudah tak berdering lagi karena terlalu lama Lesya angkat. Tak lama ponsel berdering dan dengan cepat Lesya angkat.
📞 Siapa?
📞 Gak lama lagi lo dan Luna bakal hadir di genggaman gw! *tajam penuh penekanan.
Lesya yang mendengar suara yang tak asing mengetatkan rahangnya kuat. Mereka terdiam dan menyimak pembicaraan Lesya dengan entah siapa yang mereka tak ketahui.
__ADS_1
📞 Dan gak lama lagi lo berhenti bernafas Revion Fillybert! *tajam
tuttt!
Luna dan Cakra mengeraskan rahang mereka kuat. Mendengar nama lengkap musuh mereka membuat mereka ingin membunuhnya. "Vion? " tanya Alam tenang.
Lesya mengangguk. "Gw heran ya kapan tuh anak jera sih?! Apa harus kita congkel ususnya baru jera?! " cerocos Luna kesal. Leon mengangguk setuju. "Itupun kalo bisa Lun silahkan lo coba! "
"Ya kalo bisa! Btw udah lah gw mau ke RS! Byee.. Sya jangan lupa luka lo! " Mereka mengangguk saja. "Traktir dulu oy! Lo dapet 30 jt barusan! "
Luna memeletkan lidahnya lalu pergi. "Kalo dikasih sama Lisa otw! " Lesya mendengus malas. "Kalo dia gak bayar tinggal palak gampang lah! " Luna mengandungkan jempolnya kepada Lesya dari jarak lumayan jauh.
Lesya berdiri dan merenggangkan ototnya. "Heh duduk! " Lesya terduduk akibat tarikkan Cakra yang menyuruhnya segera kembali duduk. "Apa sih?! "
"Mau kemana heh?! " Cakra, Leon, Alam mengejar Lesya yang justru beranjak dan pergi menuju arah motornya. "Sya sya! Jangan kabur lo! "
Lesya menaiki motornya dan memeletkan lidahnya mengejek. "Wlee! BYEE ALL MY BROTHERRR! KABOORRR!! " ejek Lesya terkikik lalu melaju dengan motornya.
"Lah? SYAA GW ADUIN KE CANDRAA YA-!! ' ancam Cakra berteriak.
Cakra adalah sosok abang yang sangat perhatian jika Lesya lecet sedikit saja. Dia juga tak segan-segan menghabisi bahkan membab* buta semua orang yang mengusik Lesya.
Lesya adalah sebongkah berlian yang berada di ruangan yang sangatlah gelap bagi Cakra, Candra, dan Alam. Malaikat tak bersayap seolah penolong namun sangatlah keras kepala.
Mereka berharap di saat mendengar kabar jika Lesya sudahlah menikah dengan King Tiger Wong yang terkenal tak kenal ampun itu, sikap Lesya akan berubah. Mereka berharap juga agar ada celah lampu yang menemani hari-hari berlian mereka.
Mereka pilih kasih dengan Luna? Tidak sama sekali! Jika Lesya adalah berlian, Luna adalah permata bagi mereka. Mereka akan menjaga dengan baik berlian dan permata mereka agar tak lecet dengan air mata.
__ADS_1
Mereka juga menyumbang seikhlas mereka untuk pengobatan operasi jantung mama Luna. Alam, Cakra, Candra, Sarah, Leon, Luna dan Lesya bagaikan keluarga tanpa orang tua.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗