Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
427: Pesta


__ADS_3

Episode 427: Pesta


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Keesokan harinya sesuai janji, Lesya kini sudah bersiap menemani sang Daddy yang sudah menunggunya di depan rumah. Rencananya hanya menambah pengetahuan sesama rekan kerja saja agar nanti dia tak terlalu kaku. Toh, dia juga bosan jika terus-terusan di rumah tanpa pekerjaan selain mengurus restoran juga dua hotelnya.


Kali ini Lesya cukup terkejut di saat memasuki salah satu hotel yang dia kenal. Segera dia ikut turun di saat Galang juga turun. Sebenarnya dia sama sekali tak pernah memasuki Kawasan hotel yang dimiliki keluarga Grizi. Namun, dia hanya cukup kenal dengan nama hotel tersebut yang bertulisan Grizi Hotel.


"Kenapa? Gugup?" tanya Galang.


Sang empu hanya menggeleng pelan saja. Mereka kini masuk ke dalam lift yang kebetulan sedang kosong. Menekan tombol nomor lift, akhirnya pintu sudah menutupi mereka berdua yang baru saja masuk dalam lift.


"Bukan. Heran aja kok bisa ke hotel ini? Dunia sempit banget. Kemaren ketemu Ayah, sekarang ke hotel Grizi." heran Lesya dengan kebetulan-kebetulan yang membuat dirinya sedikit terkejut.


Galang hanya tampak tersenyum kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lupa? Hari ini kita datengin acara nikahan abang kamu, Cakra. Dan karena saya juga Arya mulai berbaikan, Arya ajak saya dan kamu ke acara anaknya." ujar Galang mengingatkan.


Sang lawan bicara hanya menoleh dan berkedip bingung saja. Dia melupakan tanggal yang sudah ditentukan seminggu yang lalu di restoran miliknya.


"Oh iya ya? Tapi gw belom sempat bawa kado. Apalagi gw lagi musuhan sama anak sulungnya Om Arya." balas Lesya terang-terangan. "Tapi kan gak ada orang yang tau kalau gw anak Daddy. Kalau mereka sadar sama muka kita yang mirip, apa kabar dah?" lanjut Lesya.


Galang mengangkat bahunya tak tahu. Keduanya berjalan beriringan menuju ruangan yang ditujui mereka dari awal. Tak lupa sama-sama memasang wajah datar khas masing-masing, wibawa mereka cukup terlihat saat ini.


"Saya yang kasih tau kalau kamu anak saya. Lagipula punya anak gak harus nikah dulu. Ada yang nikah tapi belum dapat anak, ada juga yang suka sama anak kecil akhirnya adopsi anak walau belum menikah."


"Bener juga sih! Ada juga yang belom nikah tapi punya anak di luar nikah. Yang satu pura-pura gak tau apa-apa sama yang jadi korban." sindir Lesya membuat langkah kaki Galang terhenti.


"Yaudah maaf, saya udah tobat sekarang."


"Haha… Bercanda kali, bawaan serius amat Dad!"


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


"Congrats Abang!"


Dua kata dadakan itu membuat Cakra mendongkak. Dia beralih memeluk singkat ketua gangsternya sekaligus adik angkatnya. Sedari tadi, pemuda yang tak lagi bujang itu hanya menunggu kedatangan pemilik nama Aleesya.


*Akhirnya Sasa, nyampe juga di acara gw. Kirain dia bakal lupa.* batin Cakra merasa lega dengan kehadiran Lesya.


"Akhirnya lo dateng gw kira lupa!"


"Emang lupa. Diingetin sama Daddy tadi."


Cakra menoleh dan tersadar dengan kehadiran Galang di sana. Dia hanya mengangguk dan tersenyum tipis menanggapi ucapan selamat dari ayah kandung adik angkatnya itu.


"Kalau udah temuin Daddy di bawah, biar dikenalin sama rekan Daddy di sini." ucap Galang yang diangguki patuh dari Lesya. Toh dia juga tak ingin berlama-lama di sana melihat tatapan sinis dari Elita yang kini menjadi istri sah abang angkatnya.


"Lo udah terjun bisnis, Sa?"


Lesya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan dari Cakra. Sedetik dia menggeleng cepat karena memang tak yakin dengan jawabannya.

__ADS_1


"Awal terjun ke resto baru mulai ke bisnis. Lo sendiri pengennya kapan lagi bangun bisnis, Bang?" tanya Lesya. Cakra menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Pikirannya juga sama dengan pertanyaan dari adik angkatnya.


"Gak bangun bisnis juga kita masih bisa makan kali. Lagipula, sukses gak perlu bangun bisnis." sahut Lita yang kini angkat suara dari samping Cakra.


Lesya menoleh dan mengangkat alisnya satu. Dia cukup tak suka dengan ucapan yang terlontar dari mulut gadis bernama Elita itu walau dia adalah sepupu iparnya.


"Emang sih. Menurut gw sukses itu keberhasilan yang tercapai dari proses belajar yang panjang. Kalau Bang Cakra gak bangun bisnisnya, buat apa dia masuk jurusan falkutas bisnis? Buat pajangan otak iya?" ketus Lesya.


Elita terdiam mendengarnya. Berbeda dengan Cakra yang mulai merasa was-was dengan aura dingin yang dipancarkan oleh adik angkatnya.


Cukup paham dengan watak mudah tersinggung dari ketuanya, segera dia menahan saat sang istrinya hendak angkat suara. Takut kena semprot!


"Gak perlu bangun sana-sini, Sya. Cukup ambil alih bisnis keluarga kami juga gak masalah. Lagipula Lita agak ceroboh dalam bisnis, biar mereka berdua saja yang ambil alih. Keluarga kami juga butuh penerus kalau masalah ini."


Bukan Lita atau Cakra yang angkat suara. Namun, itu berasal dari Arya yang tak sengaja mendengar obrolan mereka. Maurine dan Lisa juga mulai tampak di samping Elita. Lesya berdecak malas. Dia merasa direndahkan jika begini.


"Penerus Grizi? Boleh, saya gak bisa ikut campur kalau begini. Lagipula untuk apa Kak Elita disekolahin di falkutas bisnis kalau ceroboh dalam bisnis? Seharusnya hal wajar jika seorang calon pembisnis teledor dalam urusan yang baru dia hadapi." sinis Lesya menatap tajam Elita.


Di kala Lesya melihat Arya akan segera angkat suara, sesegera dia menempelkan telunjuknya pada bibirnya. Dia tak terima jika alasan itu membuat Cakra dimanfaati oleh keluarga sahabatnya, mungkin.


"Nope! Maksud saya, alasan itu kurang kuat bagi saya. Bang Cakra, lo gak perlu bergantung atau bertopang sama orang lain. Dari dulu lo selalu berdiri di atas kaki yang lo pijak sendiri. Jangan kecewain Leon juga! Kalau butuh dana buat bangun bisnis, kasih tau gw." jeda Lesya.


"Laki-laki gak perlu harta perempuan walau lo yang kerja di sana. Itu sama aja lo direndahin seolah harta perempuan lebih banyak dari lo. Mending bangun dari nol, buktiin kesuksesan lo lebih berharga dibanding harta turun temurun."


"Ini yang gak gw suka semenjak lo pacaran, sibuk calling terus! Lo seolah lupa jati diri, Bang. Gw gak bisa larang lo lagi mau nentuin ini atau itu, tapi ingat pesan gw. Jangan lupain apa yang didukung Leon sebelumnya!"


"Justru ini kesempatan buat Abang kerja keras! Terapin apa yang udah Abang pelajari di sekolah! Walau Abang yatim piatu, ada gw di belakang lo. Gw gak suka ya denger lo direndahin begini hanya karena lo belom punya kerja setelah nikah. Setidaknya, kalau Abang sukses, kerja keras Bang Andre lebih berarti dari pada kerja keras Bang Alam."


Cakra sedikit menunduk mendengar ceramahan dari ketuanya. Memang dia juga merasa direndahkan saat diperintahkan papa mertuanya untuk meneruskan bisnis keluarga Grizi yang kini membutuhkan penerus baru. Dia tahu kata-kata dari keluarga Grizi sangat tajam dan menohok, tetapi tak kalah tajam di saat dia mendengar ceramahan adik angkatnya itu.


"What?! Gw? Apaan dah?"


Alam yang baru saja datang dengan Elena yang menggandeng lengannya. Lesya hanya melirik tanpa menggerakkan lehernya ke arah sumber suara. Dia yakin akan banyak pertanyaan yang terlontar karena kepergiannya.


"Kalau lo direndahin, angkat kepala, lawan mereka! Gw gak suka lo direndahin begini, Bang." ucap Lesya menyentak kakinya sekali dan segera pergi dari sana. Dapat dia lihat sebelumnya raut wajah Cakra yang tertekuk karena ceramahannya.


"Direndahin siapa lo Cak? Mamp*s ketua marah, lo dicuekin nanti!" ledek Alam yang masih belum sadar dan tahu-menahu dengan ceramahan Lesya.


Cakra hanya diam dan meninju pelan bahu Alam seolah mengisyaratkan agar diam. Lesya memang suka menceramahi di saat anggotanya direndahkan. Bagaimana pun juga, Lesya ketuanya dan harus memiliki anggota tangguh tanpa diinjak orang lain.


"Jangan ngompor dulu, Yang!" peringat Elena tajam. Alam hanya mengangguk menurut saja. Untuk rasa penasarannya saat Lesya mengangkat namanya, biar saja nanti dia tanyakan saat acara sudah selesai. Dia dan Elena juga sudah tahu mengenai seminggu sepinya keluarga Grey tanpa adik angkatnya itu.


Sementara di sisi Lesya, sang empu berdecak karena saat hendak menghampiri sang Daddy kandungnya, Lesya justru tak sengaja menabrak seseorang hingga dia terjatuh. Mood nya kini turun seketika melihat siapa yang dia tabrak. Rupanya dia menabrak Luna!


"Lesya?!" kaget Luna.


Luna segera berdiri dan mengulurkan tangannya guna membantu sahabatnya, mungkin. Namun, Lesya segera berdiri sendiri tanpa mempedulikan uluran tangan Luna yang masih terulur padanya. Luna dengan canggung menarik kembali tangannya yang sama sekali tak ditanggapi oleh Lesya.


"Maaf, saya gak sengaja. Permisi,"

__ADS_1


Lesya segera berpamitan dan berjalan melewati Luna yang terdiam mematung karena sikapnya. Jujur saja, Lesya masih menyimpan memori di mana Luna tanpa sadar membentak dan merendahkan dirinya. Padahal, selama ini Luna lah yang selalu mengatakan jika dia sama sekali tak pembawa kesialan.


Lesya tersadar dan menoleh di saat suara sang Daddy mengejutkannya. Segera dia berjalan cepat menghampiri dan berdiri di sebelah daddy kandungnya. Mata tajamnya menatap bingung dengan kehadiran dua orang yang berada di depan Galang.


"Sya, kenalin dia rekan kerja Daddy. Ini namanya Pak Adi kalau yang itu anaknya, Darell, anak Pak Adi. Dan Pak Adi, kenalin dia putri saya, namanya Aleesya." ucap Galang memperkenalkan saat Lesya berada di sampingnya.


Lesya menjabat tangan keduanya dengan formal tanpa ekspresi apapun. Dia cukup risih di saat ditatap oleh anak rekan kerja Daddy nya. Siapa namanya? Ah, maksudnya Darell. Tatapan tersebut seperti tatapan lapar, mungkin.


"Wah, Tuan sudah punya putri kah? Cantik sekali, nikah kok gak undang kami, Tuan?" tanya pak Adi dengan nada akrabnya. Lesya hanya melirik sekilas ke arah Daddy nya yang tampak tersenyum tipis saja menanggapi ucapan rekannya.


"Ya. Saya sudah menikah, tapi saya sengaja gak undang siapa pun. Istri saya pemalu soalnya, Pak." ujar Galang memberi tanggapan.


"Ha-ha… Bagaimana kalau anakmu dengan anakku bersama Wah kira-kira---"


"Maaf sebelumnya Pak Adi yang cukup terhormat, saya punya suami!" sela Lesya dengan sengaja dengan menekankan semua ucapannya karena tak suka dengan ucapan pak Adi.


Benar dugaannya jika kedua pria di depannya hanyalah sedang mencari muka saja. Watak seperti orang di depannya saat ini sudah banyak dia kenali dan ketahui di luar sana.


"Apa?!" kaget pak Adi dan Darell.


Lesya menyerigai tipis. Dia menyenggol sikut Galang seolah meminta bantuan agar kedua orang di depan mereka tak membuat masalah baru. Dengan tanggap Galang hanya menganggukkan kepalanya sedikit paham saja. Mereka juga tak sedekat layaknya teman.


"Benar Pak, jadi kami harap untuk informasi ini tak keluar media sebelum kekuasaan kami turun tangan." sahut Galang berdehem pelan. Kedua pria yang cukup terkejut itu kini tahu bahwa ucapan Galang barusan sedang menekan alias mengancam mereka.


"A-aah, ya! Siap itu, iya begitu Tuan."


Lesya memutar bola matanya malas melihat reaksi keduanya. Obrolan terasa hambar tanpa kesan karena sedari tadi mereka hanya menawarkan proyek pada Galang. Beginikah rasanya setelah turun tangan dalam bisnis nanti? Pikir Lesya.


"Nona Aleesya, sekarang anda berumur berapa? Kalau saya lihat masih muda, benar-benar sudah menikah kah?" tanya Darel penasaran di kala melihat adanya celah untuk saling berbicara berdua.


Beruntung ayahnya, pak Adi dengan sigap selalu mempertanyakan banyak hal pada Galang. Itu dia manfaatkan untuk mengajak Lesya berbicara.


"Anda siapa saya harus tanya umur?"


Skakmat!


Darell meringis mendengar nada bicara datar Lesya yang seperti tak menyukainya. Dia juga dapat lihat jika tatapan tajam dari gadisnya membuat Darell bergidik. Mulut Lesya ternyata pedas juga jika bersuara.


"Hanya ingin tau memang gak boleh?"


"Anda bukan siapa-siapa saya."


"Kalau begitu sekarang saya teman kamu, gimana?"


"Anda sudah tua, Om. Ngaca ya!"


Lesya segera pergi dari sana setelah mengucapkan enam kata yang membuat pemilik nama Darell terdiam membeku. Niatnya hanya pergi mencari makanan yang dapat menghilangi rasa bosan juga kesalnya. Ini yang dia tak suka dari sebuah pesta, terlalu ramai orang.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2