Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
182: Salim!


__ADS_3

Tangan Amanda terkepal kuat mendengar kata 'batu kerikil bekas orang lain' yang Lesya sebutkan tadi. Lesya dengan santainya kembali duduk dan mencicipi ikan bakar miliknya seolah tak ada apapun di sekitarnya.


Siswa-siswi bergidik ngeri dengan keributan yang ada di hadapan mereka. Banyak yang membela Amanda dan ada juga yang membela Lesya. "Kalian kalau mau ribut mending tidur! " tegas bu bunga yang sedikit mendengar keributan.


"Oper botol woy! " cepat Arman sebelum mereka disuruh tidur. Bernyanyi ria kembali, botol berhenti tepat di tangan Lesya. "Truth or dare? " tanya Arman.


"Kalau bisa dua kenapa harus satu? Gw milih truth and dare! " polos Lesya diangguki sorakan dari siswa-siswi yang mendengar Lesya langsung menjawab dua pilihan. "Kalau truth, coba sebutin siapa orang yang lo benci? Siapa aja dah! "


Terdiam, Lesya hanya membersihkan tangannya yang sudah selesai melahap ikan bakarnya. "Vion! " jawab Lesya sedikit ragu.


Di satu sisi, dirinya menghargai Vion sebagai sahabatnya. Bahkan dahulu Vion hampir membuat dirinya sedikit terbuka kepada orang lain selain Luna. Dan di satu sisi, dia membenci Vion disaat tahu jika pembunuhan dari Arga karena ulah Vion. Pilihan yang sulit bukan?


"Sekarang dare, ada yang punya usul mungkin? " tanya Arman selaku wasit permainan ToD ini. Luna angkat suara yang dimana membuat semua orang terkejut kecuali Elvan.


Lesya melotot di saat Luna justru memberikannya tantangan yang diluar nalarnya. "Salim tangan ketos kebanggaan SMA Gregus! " tantang Luna tersenyum jahil. Lesya menatap tajam Luna. "Selain itu! "


"Gak bisa nolak! Wajib! Valid no debat! Harus! Pokoknya haruss dan wajibb! Atau kita teror lo mau hah?! " ancam Luna.


Lesya mengangkat satu alisnya. "Udah kebal sama teror Lun! " Luna menyengir saja. "Ya pokoknya harus! Lah yang lain dukung dong!! Kesempatan langka buat ngerjain Lesya disia-siain! " kesal Luna tak ada yang mendukung tantangannya.


* "No!! My girlfriend Lesya gak boleh! "


"Jangan pliss!! Kotor tangan suci my bebeb Elvan! "


"Btw mereka serasi kalo diliat! Ayo lakuin tantangannya!! " *


Lesya pusing sendiri mendengar banyak celotehan yang terlontar hingga bahkan Letha berdiri menghampiri dirinya. "Tolak atau?? " ancamnya tak tahu apa kelemahan Lesya.

__ADS_1


"Atau? " tanya Lesya mengangkat satu alisnya. Tak dapat menahan, Letha menahan kesal dengan Luna yang menarik Lesya berjalan menuju Elvan dan melepaskannya saat membentur lengan kekar Elvan.  "Buabay and congrats Sya! " tawa Luna.


Lesya mendelik mendengarnya. Masuk perangkap? Pikirnya. Luna hanya duduk seraya terkikik kecil diikuti Lisa. "Tantangan yang bagus! " bisik Lisa.


"Jelas dong! Biar mereka tahu 'what is lope! ' dalam hidup! " Lisa mengangguk setuju. Sementara Leon yang mendengar bisik-bisikan kedua gadis yang bergosip geleng-geleng kepala saja. "Dasar cewek! " gumamnya kecil tak terdengar.


Lesya mengusap jidatnya dan berusaha menampilkan wajah biasanya. "Hayo lo mau ngapain? " goda Valen. Lesya menatap tajam Valen hingga senyum Valen luntur dan bersikap biasa saja. "Udah gak usah galak-galak! Sok atuh saliman! " tambah Ken.


Lesya mengangkat satu tangannya mengulur ke arah Elvan. Elvan yang sudah menghabiskan satu ekor ikan bakar, menatap uluran tangan Lesya. Banyak pasang mata melihat serius ke arah mereka menyangka jika Elvan akan mengacuhkan Lesya.


Ternyata dugaan mereka salah! Justru Elvan membalas uluran Lesya dan membiarkan bagaimana Lesya meletakkan punggung tangannya di jidatnya bagaikan seorang anak yang menyalimi ayahnya. Bak slow motion Lesya membuat syok sebagian siswa-siswi bahkan Letha.


"Udah kan? Gini doang kan? " tanya Lesya santai setelah menyalimi punggung tangan Elvan. Luna cengo sendirinya di saat melihat kejadian slow motion tersebut di layar kamera Lisa yang merekam. "Udah? Cepat banget ya Lis? "


Memutar bola matanya malas, Lesya melepaskan jabatannya dan berjalan agak sedikit gugup di dalam dirinya ke arah Luna. "Terlalu menunggu! Dah lah gw mau tidur! "


Teringat, Lesya berpikir sejenak. "Trus gimana kalau gw ketemu sama kutub? Gw harus gimana? Ngafalin rumus? Jungkir balik? Pura-pura gak inget? Atau.. Gak usah ketemuan dulu? Omaigad kenapa gw kek gini sihhh?! " kesal Lesya terus bergumam.


Lesya akhirnya memilih tertidur dan memejamkan matanya dibandingkan bertempur dengan pemikirannya. Nihil! Bayangan dimana dirinya menjadi pusat perhatian hanya karena menyalimi punggung tangan Elvan membuatnya melek kembali. "Gw rasa gw udah gak waras! " gumamnya.


Lesya akhirnya memejamkan matanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Walau dirinya berposisi sedang tertidur, Lesya sebenarnya bertempur dengan pemikirannya.


Srellettt! [Gak tau bunyinya]


Luna yang hendak kembali ke kemah dengan Lisa karena ucapan tegas pak Rio yang menyatakan jika mereka wajib tidur sekarang. "Lah? Udah ngebo aja nih anak satu! " ucap Luna.


Lisa geleng kepala. "Gak gugup apa ya? Perasaan gw yang nonton greget pengen bakar! " celetuk Lisa. Lesya yang merasa memiliki teman bicara, dia segera angkat suara. "Ngebo dari jonggol! "

__ADS_1


Terkejut, mereka bertiga terduduk di kemah dengan bentuk lingkaran. "Gimana perasaan lo? " tanya Luna. Lesya menggedik kan bahunya tak tahu. "Mana gw tauk! Lagian lo aneh-aneh aja kasih gw tantangan! Tantangan buat nembak si Amandel gek! "


Luna menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Ya mangap! Tapi suka kan? " goda Luna. Lesya menoyor kecil kepala Luna. "Suka dari hongkong! Yang ada gw kesel begokk! " bohong Lesya.


Lisa berpikir sejenak tanpa ikut membahas mengenai tantangan Lesya tadi. "Btw, serius ngadain perang nih? " Mereka dengan kompaknya menoleh dan mengangguk antusias.


"Gw agak heran nih ya, kenapa si Amandel bawa nama gw ya? Salah gw sama dia apaan? " tanya Luna diikuti Lisa yang mengangguk setuju. "Nah! Itu yang gw pikirin! "


Lesya menggedik kan bahunya tak tahu. "Mene ke tehe! " jawabnya. Mereka asik berbincang hingga mereka memutuskan untuk kembali tidur karena waktu yang terus berjalan.


~o0o~


Menuju toilet, Lesya merasa ada seseorang yang mengintai dirinya. Naas, saat dia berbalik tak ada satu orangpun yang ada.


Lesya mengsampingikan niatnya yang hendak ke toilet dan berpura berjalan menuju jalan yang sangatlah sepi. Tiba-tiba dirinya teringat dengan gelang pemberian Elvan saat di sungai tadi.


Diam-diam Lesya menekan tombol gelang dan terhubung dengan gelang yang dimiliki Elvan di seberang. Lesya memejamkan matanya sejenak dan melangkah dengan kaki yang cepat. "Berhenti! " ucap orang itu.


Lesya terhenti dan terdiam mendengar suara yang terdengar familiar di telinganya. Kemudian dia berbalik, terkejut melihat Letha yang berada di depannya. "Ara?! Gw kira siapa! "


Letha tiba-tiba mencekik leher Lesya dan mendorong ke arah batang pohon besar lalu melepaskannya. "Itu buat lo yang udah berani nolak permintaan gw tadi! Gw udah bilang jangan berani sentuh ataupun jabat tangan sama Elvan sekalipun!! " bentak Letha.


Lesya memegang lehernya dan memejamkan matanya agar tak terbawa emosi. "Ohokkk! Uhuk!! " batuk Lesya. Lesya masih menahan amarahnya yang sudah terpancar jelas di mata tajamnya.


Berdiri sinis, Letha merasa jika Lesya saat ini sudah tak berdaya melawannya. Dengan cepat dia menarik tangan Lesya dan berjalan menuju arah depan mereka. "Ark! " pekik Lesya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2