
Berbanding balik dengan adiknya yang feminim, kalem, lumayan pinter, heboh, terkadang cerewet, dll.
Berbeda dengan Lesya yang tomboy, tak tahu aturan, langganan BK, kasar, pecinta keributan, dll. Rasanya Letha adalah Angel sementara Lesya adalah Devil!
Itulah panggilan dari anak-anak OSIS jika menyapa atau berbicara kepada Lesya dan Letha.
Back to Lesya, dia berjalan santai menuju kantin. Dia melihat Lisa yang sedang bersama Vannya. Dia menyeringai jahat. Punya teman rupanya? Pikir Lesya.
Luna yang aneh melihat Lesya, menyenggol lengan Lesya pelan, "Sehat lo? " Lesya tersadar dan menatap sahabatnya itu.
"Lo kira gw gil*? " sewot Lesya. Luna mencibir tak jelas. Bukankah tadi Lesya belok? Apa itu tak termasuk gil*?
Luna mengambil pesanannya begitu pula dengan Lesya. Jika Leon, dia memesan minuman mereka bertiga nanti. Dua gadis itu berjalan menuju meja mereka.
Tapi Luna berhenti di jalan begitu saja. Dia melihat bangku yang lain masih tersisa., "Sya, ke sono aja yuk" ajaknya menunjuk meja yang berada di samping Elvan dkk.
Yap! Elvan dkk sudah berada di kantin sejak tadi. Lesya mendelik tajam ke arah Luna. Yang benar saja dirinya berada di meja samping Elvan? Ogah! Pikirnya.
"Situ emang gak bisa? " Luna menggeleng cepat. Dia ogah jika duduk di bangku cabe pasar, Vannya!
"Big no! I can be allergic if I sit next to the market chili!" tolak nya mentah-mentah. Lesya memutar bola matanya malas.
"Cuman di samping kagak nempel! Ada jarak juga kok" Luna mendelik. Mau ada jarak atau tidak, dia tetap tak ingin berada di dekat Vannya! Pikirnya.
"Sama aja! Ogah gw mah! Mau dikasih jarak atau enggak, gw ogah deket sama dia! " ucapnya penuh penekanan.
Tanpa mereka sadari, Leon asik menyaksikan perdebatan mereka memilih bangku. Dia yang malas berdiri malah duduk di tempat tunjukkan Luna.
Mereka masih berdebat hingga Luna yang tak ingin melanjutkan pembicaraan langsung menarik Lesya ke tujuannya tadi. Duduk di samping bangku Elvan dkk.
"Nah! Kan si Leon milih di sini, so kita di sini ya Sya" rengek Luna bagai anak kecil.
Lesya eneg melihat wajah imut Luna. Jujur, dia tak luluh. Justru ingin muntah melihatnya. Leon hampir tertawa melihat wajah Lesya yang ingin muntah.
"Yon! Ada kresek? " Lesya meletakkan pesanannya di meja dan duduk di bangku meja tersebut.
Luna yang tahu arah pembicaraan Lesya mencibir. Padahal mama-nya mengatakan dirinya sangatlah imut.
"Mama aja bilang kalo gw imut kok lo beda sih? " tanya Luna segera duduk di bangku meja dan meletakkan pesanannya di meja.
__ADS_1
Lesya melahap baksonya dan menatap Luna malas, "Beda orang, beda pikiran! " Luna malas mendengar tanggapan itu lagi.
Luna memilih dirinya untuk makan daripada berdebat dengan Lesya yang tak ada habisnya. Mereka melahap pesanan mereka dengan tenang.
"Sya, lo tau gak? " Lesya menggeleng mendengar pertanyaan konyol Leon. Bukankah dia belum diberitahu mengapa bertanya demikian?
"Kalo lo Lun? " Luna menggeleng sama seperti Lesya. Luna sedikit menggebrak meja emosi dengan pertanyaan konyol Leon.
"Lo kan belom ngasih tau gimana sih? " Leon menatap bingung kedua gadis di depannya ini. Serius? Belum tahu?
"Serius? Bukannya bang Cakra udh ngasih tau ya? " Luna dan Lesya saling menatap bingung. "Lo emang di kasih tau Sya? "
Lesya menggeleng. Dia tak sempat membuka ponselnya karena sibuk mengerjakan tugasnya. Berbeda dengan Luna yang memang tak mendapat pesan dari Cakra.
Leon menatap bingung mereka berdua. Siapa yang salah disini? Lesya atau Luna? Atau Cakra? Pikirnya heran.
Lesya mengambil ponselnya dari saku celananya dan hendak menyalakan ponselnya. Nihil! Ternyata ponsel Lesya lowbat. Dia tak sempat mengisi baterai ponselnya tadi.
"Lowbat Lun! Ada powerbank? " Leon mengeluarkan powerbank dari sakunya. Tapi tidak dengan chargernya.
Luna mengulurkan tangannya kepada Leon seperti orang meminta sesuatu. Leon mengira Luna ingin digandeng olehnya.
Dia memegang tangan Luna sesuai isi pikirannya saat ini. Sontak saja Luna menepuk punggung tangan Leon dan menepis nya. Lesya hampir tertawa melihat itu.
"Gw kira minta digandeng" Luna mendelik sinis. Tangannya terulur lagi bak orang meminta sesuatu.
"Apaan dah? " Luna mendengus malas. "Chargernya abang" ucapnya tersenyum penuh makna. Dirinya sangat penasaran dengan isi pesan dari Cakra.
Leon tersenyum kikuk melihat itu. Persis dengan Lesya saat marah. Namun, dimatanya amukan Lesya lebih parah.
"Kagak bawa" Lesya dan Luna menatap tajam Leon. Leon yang ditatap bagaikan narapidana meneguk salivanya susah payah.
"Trus kalo lo ngecash make apa bang Leon? " Dengan santainya Leon menjawab pertanyaan Luna, "Malak lah! Kalo kagak, ya nyolong"
Lesya menepuk jidatnya. Mengapa hanya dirinya yang waras di sini? Luna hanya mengacungkan kedua jempolnya ke atas untuk Leon.
"Salah kah? " Lesya menatap tajam Leon, "Salah lah! Lo tau kan? Jarang² bang Cakra ngirim pesan! Sekali ngirim pesannya penting" oceh Lesya.
"HP lo mana? " Leon menyerahkan ponselnya kepada Lesya. Dia menyerahkan balik ponsel Leon yang tertutup karena sandi keamanan.
__ADS_1
"Cepet amat? " Lesya menunjuk ponsel Leon dengan dagunya., "Apaan tuh pin lo? " kepo Luna. Leon menyerahkan ponselnya kepada Lesya saat ponselnya sudah terbuka.
Lesya mencari kontak Cakra yang tak jauh dicari. Dia mengernyit bingung dengan pesan yang dikirimkan Cakra.
📩Bang Cakra
Yon, markas diteror.
📩Leon
Sama siapa bang?
📩Bang Cakra
Gw gak tau. Kasih tau ke queen besok.
📩Leon
Sip
Lesya membaca ke-empat pesan tersebut dengan pelan. Pikirannya menerka-nerka siapa yang berani mengusik gengster-nya? Pikir Lesya.
"Ini serius? " Leon menatap Lesya dan mengangkat satu alisnya ke atas. "Gw lagi serius Sya"
Luna yang tak tahu apa-apa langsung merebut ponsel Leon dari tangan Luna. Dia membaca pesan tersebut di dalam hatinya. Dia membelak-kan mata tak percaya.
"Omaygat! Serius nih? " Leon menghela nafasnya panjang. Pertanyaan Lesya mengapa diungkit? Bukankah dia sudah menjawabnya tadi?
"Kagak! Bo'ong-an doang" malas Leon merebut paksa ponselnya. "Beneran lah! Lo sendiri baca-kan? "
Lesya memasang wajah seriusnya. Suaranya sengaja dia pelan kan supaya tak terdengar oleh yang lain. "Yon, apa lo ngira kalo itu dari. . . " jeda Lesya.
"Dari? Ice blue-kah? " Lesya mengangguk. Dia mengira ice blue sebagai pelaku karena mereka selalu mencari masalah dengan gengsternya.
"Wait, kemaren gw sempet nelfon bang Cakra sih. Katanya dibawah ada kata-kata 'TW' gitu" Lesya berpikir sejenak.
"Ya kali Tiger Wong! " ceplos Lesya sedikit kencang hingga terdengar oleh Elvan dkk. Mereka melototkan matanya tak percaya dengan ceplosan Lesya.
"Tapi bisa juga! Karena logonya juga huruf 'W' gambar harimau" Kini bukan Lesya ataupun Leon yang bicara. Tapi Luna!
__ADS_1
"Nanti gw ke basecamp! " Final Lesya disetujui oleh Luna. Mereka sepakat akan mencari tahu dalang dibalik semua ini.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗