
Now I don't need your wings to fly~
No, I don't need a hand to hold in mine this time~
You held me down, but I broke free~
I found the love inside of me~
Now I don't need a hero to survive~
Cause I already saved my life~
—Hero: Cash-cash ft. Christina Perri—
Setelah menyanyikan lagu itu Lesya meletakkan gitar di sampingnya. Saat ini baik Lesya dkk, Elvan, Valen, Farel, dan Frans berada di rooftop. Sementara Revan dan Ken sedang proses mengambil laptop Revan yang tertinggal di kelas.
Dan tak lama dari sana terlihatlah Revan dan Ken yang datang ke tempat itu. Ken tak membawa apa-apa namun Revan sepertinya memegang sesuatu benda kecil dan tas ranselnya dia letakkan di sebelah bahunya. Kedatangan merekalah yang paling dinantikan karena membawa sebuah petunjuk tentang kasus yang melibatkan Elvan tadi. Hanya saja Elvan sedang malas sebenarnya bermain laptop. Setiap malam selalu saja terkena pancaran cahaya benda itu. Maka dari itu, Lesya lah yang turun tangan mencari petunjuk.
"Woee, nih gw sekalian bawa kamara CCTV nya! " ucap Leon lalu melempar camera yang dia pegang. Lesya dengan cepat menangkap CCTV itu karena memang mengarah padanya.
"Serius nih bisa? " tanya Revan memastikan seraya memberikan laptopnya dari dalam tasnya. Lesya berdecak malas mendengarnya dan mengangguk saja tanpa menjawab.
"Wah-wah diem-diem ternyata lo nyimpen foto cewek ya? Widih banyak juga ya yang masuk kandang crocodile lo! " kata Lesya setelah melihat background laptop Revan. Lelaki itu hanya mengaduh kecil saja karena lupa mengganti background.
Luna dan Leon tertawa meledek. Rupanya tak hanya Cakra namun Revan juga. Mereka dapat melihat raut wajah Revan, lelaki itu seperti terlihat putus asa dan kebingungan. Apalagi di saat mata tajam Elvan mengarah tajam pada Revan sendiri.
"Wahaha... Anj*r lagian lo nyimpen foto cewek buat apaan sih? Buat adu jantan? Adehh, gak laku lo yang ada! " ledek Luna.
__ADS_1
"Ckckck, kebongkar akhirnya kebiasaan lo Rep! " ledek Valen. Memang Revan kerap dipanggil dengan sebutan rep karena jika dipanggil van, maka Elvan juga ikutan menoleh nanti. Wkwk, nasib pan-pan!
Lesya mulai mengotak atik laptop milik Revan sementara yang lain sibuk bermain. Jika Revan dan Ken sedang pergi sedikit menjauh untuk menghirup batang rokok. Sementara Farel asik bermain game dengan Frans. Memang duo F ini sering kali bermain game jika bosan.
Leon? Tentu saja sibuk kencan dengan Lisa. Luna? Ah sepertinya gadis itu kembali bertengkar dengan waketos kesayangan kita, Valen. Bagaimana tak bertengkar jika Valen justru mengganggu ataupun menggoda Luna. Seperti sekarang ini, lihat saja mereka!
"Hayoloh, chat siapa tuh? Jangan-jangan pacar lo ya?! " goda Valen menebak-nebak. Tanpa sengaja saja Valen yang berada di samping Luna tiba-tiba melihat isi layar ponsel Luna, gadis yang menjadi rivalnya di sekolah. Luna mendengus sebal. Seharusnya dia pindah tempat jika tahu Valen akan mencari gara-gara dengannya.
"Pacar ndasmu lah, gw tegasin ya! DIA BUKAN PACAR TAPI MANAGER GW! Secara gw sekarang udah pegang butik nyokap gw, gak kayak lo yang pengangguran. Lagian ya kalau gw sekolah yang urus butik gw tuh manager gw kale, nyokap gw mah udah pensiun dari dunia desainer! " cerocos Luna dengan nada ngegas khas miliknya.
"Dih, ngegas amat mbak! Lagian gw gak nanya kale lo kerja jadi apaan sekarang! Emang pekerjaan lo itu urusan gw hah? " ujar Valen dengan tampang tak berdosanya dan akhirnya mendapatkan sebuah pukulan bogem dari Luna.
"Diem woy atau gw tendang! " ancam Lesya yang mendengar keributan kedua remaja berbeda jenis itu. Sontak Luna berdecak malas dan duduk di sekitar perbatasan rooftop. Valen tak tinggal diam. Bukan apa-apa namun dia mala jika bermain ponsel dan tak masalah bukan jika menggangu Luna, hehe..
Oke abaikan!
"Dikit lagi nih bentar, " jawab Lesya.
Ctakk!
Begitu Lesya menekan tombol enter pada keyboard laptop, seketika terdengar suara bising dari laptop. Sontak saja mereka menoleh dan berjalan mendekat kepada sepasang insan itu. Namun sepertinya Revan melupakan sesuatu sekarang.
"Weekkk, siapa sih? Matiin dulu rokoknya, bau tau! " kesal Lesya memencet hidungnya. Revan hanya menyengir saja dan membuang batang rokoknya itu setelah dia padamkan. Jangan salah ya, di sana juga terdapat tempat sampah!
"Whehe.. Maap bu bos! " cengir Revan.
Elvan mengusap pelan pucuk kepala Lesya seolah mengatakan agar melepaskan pencetan yang berada di hidung gadis itu. Tentu saja Lesya yang paham melepas dan ikut menyaksikan isi laptop yang dia cari.
__ADS_1
Kali ini yang mereka bingungi adalah banyaknya camera CCTV di kantin. Ahh, ternyata kantin mereka juga diawasi rupanya? Baiklah mereka mulai memeriksa satu per satu camera.
Hingga secara sengaja ataupun tidak, jemari Lesya berhenti di satu titik dimana punggung seorang siswi perempuan seperti sedang memeras sesuatu. Penasaran, akhirnya Lesya membesarkan layar hingga terlihat jelas. Kepalan tangannya membentuk bagaimana dugaannya benar adanya. Berubah yah?
"Wah-wah, parah sih! Rupanya nih anak yang bikin ulah hah?! " kesal Lisa setelah melihat bagaimana Letha bertindak dalam layar laptop. Sementara yang lain juga menggelengkan kepalanya tak menyangka dengan perilaku Letha.
Berbeda dengan Lesya yang hanya diam saja. Dia tak merasa panas dan juga dia tak merasa dingin. Dia biasa saja. Why? Karena hubungan kembaran itu bukanlah seperti kembaran pada umumnya. Jika Letha berpihak A, maka Lesya berbanding balik dari pendapat adiknya. Semua karena satu, keselamatan! Jika Letha tak mementingkan keselamatan, dia juga yang repot. Sebaliknya, Lesya adalah anak ceroboh yang harus merubah kecerobohan menjadi sebuah langkah dewasa. Usia dini tak dihiraukan. Selama dia bersabar dengan segala tindakan Letha, semua pujian orang lain untuk Letha, semua kasih sayang untuk Letha, hanya kali ini kesabaran Lesya sudah habis.
Lesya tak suka ada orang lain yang mengusik hidup orang-orangnya. Dia tahu jika Letha sedang salah sasaran karena tak sampai padanya. Namun dia juga adalah seseorang yang mudah emosional. Bukan menyangkut seberapa berharga kehadiran Elvan, namun tentang bagaimana dia tak mau dan sangat melarang keras orang lain ikut terlibat dalam masalahnya.
"Sama aja gak sih ini tindakan kriminal? Bisa nyeret penegak hukum! " cicit Valen. Lesya menatap datar arah laptop. Tangannya bergerak menyimpan data itu. Sekilas dia diam dan kembali angkat suara.
"Kalau mau hukum, silahkan! Gw gak larang. " kata Lesya dengan nada datarnya. Bukan apa-apa, Lesya hanya mau agar adiknya merasakan bagaimana sikap tanggung jawab yang sebenarnya. Setiap kesalahan pasti ada hukumannya. Dan untung saja Elvan yang melihat raut wajah Lesya yang tak bersahabat, mengerti dengan hati gadisnya itu.
"Farel, lo yang tanganin! " kata Elvan.
"Lah k-kenapa gw? " tanya Farel balik sedikit gugup. Elvan mengangkat satu alisnya bingung. Tumben sekali temannya ini berbicara sedikit gugup? Biasanya juga akan langsung menurut tanpa bertanya karena sudah paham terlebih dahulu. Dan sekarang? Aneh, seperti mengganjal!
"Yah, lo aja Rel mendingan! Gw denger lo akhir ini sering deket sama tuh anak ya? Gimana kalau lo coba cari informasi dulu nyampe dia mau ngaku. Nah yang lain kita-kita diem dulu, kita liat apa yang bakal dilakuin siapa namanya? " jelas Revan disertai pertanyaannya.
"Letha! " jawab Ken.
"Nah iya itu, kita tunggu dulu apa yang Letha lakuin nanti! Gitu kan bos maksud lo tadi? " tanya Revan yang selesai menjelaskan. Elvan mengangguk sekilas. Memang dalam rangkaian rencana, Revan lah yang patut menjadi translatornya.
Mereka mengangguk saja. Setelah puas menyusun rencana untuk Letha, mereka juga menyusun siasat rencana akan mulai membuat penyerangan ataupun perlindungan terkait dengan Ice Blue. Saat ini mereka tampak tertawa lebar layaknya teman dekat. Hanya Farel dan Elvan lah yang hanya tampak lebih pendiam walau nyatanya begitu!
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1