
"Lo gambar Sya? Gilee bagus bener gambaran lo, insecure deh gw! " kata Amel yang beralih melihat hasil gambaran Lesya. Letha memutar bola matanya malas. Hatinya memang mengakui sketsa gambar Lesya bagus. Namun hal itu segera dia tepis. Kan dia ke mana-mana paling bagus!
"Vano, kamu bisa ajarin aku gak soal yang ini? Aku, Nayla, sama Amel gak paham cara kerjainnya. Kamu kan juara umum, boleh ya? " pinta Letha beralih pada Elvan. Lelaki itu melirik sekilas dan menghembuskan nafasnya berat.
Lesya hanya melirik sekilas. Pandangan matanya beralih melihat soal yang dimaksud oleh Letha. Dia terdiam sedetik dan tersenyum lega karena Elvan menolak permintaan Letha, adiknya. Yaiyalah adik, kan dia masih anggap adik. Tak seperti Letha yang asal main putus hubungan!
"Sibuk, tanya yang lain! "
Lesya hanya geleng-geleng kepala melihat soal yang mudah di benaknya. Hah? Mudah? Yaiyalah kan jika masalah matematika begini Lesya sudah diajarkan oleh Elvan. Em, bukan itu sih. Kalau soal yang Letha bilang, Lesya memang belum diajarkan oleh Elvan. Namun, IQnya yang tinggi membuat dirinya paham maksud soal itu. Terlebih itu pelajaran dia saat menduduki bangku Sekolah Dasar.
"Rumusnya pake phytagoras ini mah! Gitu aja gak tau sih, katanya bintang kelas! " kata Lesya geleng kepala. Letha menoleh dan berdecak sinis saat mendengar jawaban Lesya. Dia bukannya tak tahu hanya saja bingung dengan hasilnya yang sangat diluar nalarnya. Apa cara perhitungannya yang salah? Tapi dia memakai rumus phytagoras kok!
"Gak nanya! " ketus Letha.
"Cuman kasih tau elah kalau hasil dari a² lo salah! Kan harusnya hasilnya 86 bukan 76 kalee.. " malas Lesya memutar bola matanya malas. Amel yang kembali melihat soalnya mangut-mangut paham. Benar saja setelah dihitung ulang rupanya jawaban Lesya benar hitungan.
"Eh iya Tha, bener nih udah gw itung balik hasilnya 86! " kata Amel menyahut dan menunjukkan hasil hitungannya. Letha hanya mengangguk saja dan berdesis sinis seolah masih tak percaya. Berbeda dengan Nayla yang justru tertawa kecil seolah masih ragu dengan hitungan Lesya.
"Coba pake kalkulator aja Tha, siapa tau salah! " usul Nayla. Letha mengangguk setuju dan mulai mengetik hitungan sebelumnya di benda kalkulator itu. Benar saja rupanya hasil Lesya lah yang benar!
"Hah?! " kompak Letha dkk cengo.
"Belajar dari mana lo Sya? Padahal gak hitung langsung tau? Jangan-jangan cenayang lo ya? " ngawur Amel. Luna melemparkan bantal sofa yang ada di sebelahnya pada Amel. Untung saja dengan reflek Amel menangkap.
"Yee, gak tau lo ya nih otak emang tinggi IQnya cumen males aja dipake! Katanya ‘kalau gw pake otak gw, dunia panik turun awan mendung plus petir! Kan kasihan, jadi gak perlu gw pake otak gw, terlalu melampaui Albert Einstein!' " ucap Luna menirukan gaya bahasa Lesya. Leon dan Lisa tertawa receh mendengarnya.
"Saingan Albert Einstein gak tuh? " ledek Leon menyenggol sikut sang empu yang dibicarakan. Lesya hanya mendengus kesal mendengar lontaran dari Leon dan Luna. "Kan queen gw gitu loh, menang penghargaan dulu waktu kecil masa soal ginian letoyy sih ya gak Lun? " lanjut Leon beralih pada Luna. Luna mengangguk mantap dan hal itu membuat Lesya merasa kedua sahabat dekatnya itu sedang memberikannya support.
"Nah clear kan? Yowes lepas gak usah pegang-pegang, ayang bebep gw nih! " galak Lisa menghalangi jarak antara Lesya dengan Leon. Lelaki yang merupakan sahabat Lesya hanya tertawa kecil saja dan mengacak rambut sang kekasih saja. Luna dan Lesya hanya menggerutu kesal saja karena kedua insan itu selalu tak tahu tempat jika ingin bermesraan begini.
__ADS_1
"Buciinn huuu.... " ledek Revan dari arah belakang mereka. Lisa menoleh dan memeletkan lidahnya meledek. "Heleh, jomblooo lo huu.. Sirik ae lo! " balasnya.
* Lo bahagia Lis dan gw seneng liatnya. Semoga lo selalu ceria begini walau tanpa gw! * batin Revan tersenyum kecut menanggapi ledekan Lisa. Hohoho, dia bukan sembarang playboy gays. Ada alasan tertentu yang buat dia jadi playboy dan salah satunya adalah Lisa!
"Wah rame-rame gini masih belum kelar juga kah belajarnya? " tanya Mayang yang baru saja datang dengan beberapa ART agar menyediakan cemilan yang sudah sekejap habis dilahap para remaja itu.
"Belom tante.. " kompak mereka bersamaan kecuali Elvan dan Lesya yang justru sibuk beralih bermain ponselnya masing-masing. Ckck, anak durhaka!
"Oiya, gw lupa! List makanannya tadi kemana? " tanya Lesya menepuk jidatnya sendiri pelan. Leon yang kebetulan berada di sekitar Lesya menyerahkan buku yang dipastikan sangat tebal. "Nih, tadi lo lupa bawa pulang jadi gw ambil! " kata Leon menyodorkan satu buku tebal milik Lesya.
"Ok, thanks! "
Leon hanya mengangguk pelan saja. Pandangan Lesya beralih menoleh pada Luna yang justru menoel-noel pipinya. Padahal niatnya ingin memilih makanan untuk carnaval nanti jadi teralihkan.
"Lo gemukan Sya! " jujur Luna.
"Sensi lo akhir ini! " jujur Luna lagi.
Lesya hanya berdecak malas dan mengabaikan perkataan Luna saja. Mayang yang masih di sana hanya terkekeh pelan saja. Dia tahu mengapa Luna mengatakan Lesya lebih gemukan karena biasanya bentuk tubuh Lesya memang kurus dan lebih ramping.
"Kan akhir ini Lesya banyak makan Lun, makanya dia gemukan! " kata Mayang menyahut. Luna hanya mengangguk paham saja. "Tapi tan, biasanya nih pipi gak tembem begini! Harusnya tirus tau tan, kayak biasanya! " ucap Luna lagi.
"Di bawa makan mulu dia sama si Vano! " jawab Mayang lagi tersenyum kecil. Luna hanya tertawa kecil saja dan kembali menoel-noel pipi sang sahabat. "Cieee, dibawa makan jadinya sahabat gw ini gembul yaa.. " goda Luna.
Lesya menghentak-hentakkan kakinya malas. "Aaaa.. Bunda enggak ish! Lesya tuh enggak gemuk, cuman matanya Luna doang yang perlu dibawa ke dokter! " bantah Lesya tak terima dibilang gemuk.
"Haha.. Iya Syaa, tapi imut kok hihi.. " tawa Mayang. Luna mengangguk setuju dan mengancungkan jempolnya dua pada Mayang. "Truee banget tan, lo gak gendut dan gak gemuk kok Sya, tapi lo itu berpipi gembul hahaaa... " tawa Luna diikuti Lisa, Leon, dan Revan yang menyimak.
"Aaaaaa Lunaa, bundaa... enggakk ya! Echa gak gembull ihh, mata Luna aja yang katarak! " kata Lesya melotot kepada sahabat perempuannya itu. Luna tak terima dan membalas pelototan Lesya tak kalah melotot. "Enak aja! Mata gw masih aman tanpa rabun ataupun silinder ya! Emang bener kok pipi lo gembull ihh Syaa.. " greget Luna gemas.
__ADS_1
"Enggak ya! "
"Iya! "
"Enggakkk?! "
"Stoopp, pak KETOS terhormat please deh kasih kaca buat bini lo ini yang pipinya udah gembull ih lucu! " ledek Luna pada Lesya dan bahkan sengaja kembali menoel-noel pipi gembul sahabatnya itu.
Lesya melotot kepada Elvan seolah menyuruh lelaki itu menggelengkan kepalanya. Namun bagaimana? Elvan justru dengan mudah menyetujui ucapan Luna yang menyatakan jika pipi Lesya sekarang ini menggembul dengan anggukan kepalanya. Sontak saja banyak sorakan menggema karena memang mereka juga setuju dengan pernyataan Luna. Memang benar kok pipi Lesya menggembul. Kan Lesya makin imutt!
"Hahaha.. Ayoloh Sya, pak KETOS kesayangan lo aja setuju! " ledek Leon. Lesya menatap horor ke arah Leon dan menggeplak tenguk leher lelaki itu. "Sembarangan, enggak ya! " kesalnya lalu kembali melihat ke arah buku listnya tadi.
"Ochh, " ringis Leon.
Valen tertawa melihat raut wajah Lesya yang tak bersahabat. "Van, gw kasih tau ya kamus cewek tuh gini, kalau cewek bilang iya artinya enggak. Kalau cewek bilang enggak artinya iya. Dan kalau cewek bilang terserah, artinya dia gak mau dibantah. Contohnya sekarang, nanti lo bujuk dia tuh biar gak marah-marah sama lo! " jelas Valen sedikit berbisik.
Elvan mengernyitkan alisnya bingung. "Ribet amat! " malasnya. Farel geleng-geleng kepala dan menepuk-nepuk pundak Elvan pelan bak teman baik.
"Van, kalau lo benar-benar sayang dan cinta sama bu boss kita, lo pasti gak akan keberatan sama sekali nanggung semua beban untuk dia. Karena menurut kamus laki-laki yang mencintai pasangannya dengan tulus, prioritasnya adalah pasangannya sendiri! " kata Farel angkat suara.
Valen hanya mengangguk setuju dengan ucapan Farel begitu juga dengan Ken. Mereka sedikit berbisik hingga tak terdengar oleh yang lainnya. "Tumben lo bijak Rel? Mana ucapan lo itu panjang bener lagi kayak serasa rel kereta! " ledek Ken. Farel hanya memutar bola matanya malas mendengar ledekan Ken.
"Semerdeka lo Ken! " malas Farel.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Masih ada yang nunggu?
__ADS_1