Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
160: Maaf!


__ADS_3

Luna tertawa kecil. "Kalo mereka kalah, traktir ya Sya! " Lesya mengangguk cepat lalu menggeleng. "Enggak! Pokoknya mereka harus menang! Ogah gw nanti! Kalo si Teh Rio menang, dia pasti mamer ke gw! "


Luna dan Leon dengan cepat mengangguk setuju. "Semangatin aja noh! " saran Lisa. Luna melotot. "Teriak gitu nih? " Leon memutar bola matanya malas. "Enggak! Ya iyalah! "


Luna menghela nafasnya lalu berteriak. "BUAT PERWAKILAN DARI SMA GREGUS AYO MENANG! KALO GAK MENANG KU TIMPUK PAKE BATU! " Lesya menutup kupingnya yang mulai pengang.


"BRISIK UNAAA! " decak Lisa berteriak. Leon menghela nafas panjang merasakan kuping yang pengang. "Gw sabar dah! Sya.. Lo gak teriak kan? " lesu Leon. Lesya menyunggingkan senyum miringnya membuat bulu kuduk Leon berdiri.


Leon menutup telinganya diikuti Lisa dan Luna di saat teriakkan Lesya terdengar. "PAPAN BERJIWA TEMBOK KALO LO GAK CETAK GOL SEKALI LAGI, TRAKTIR GW SATU PABRIK COKELAT 'CHOCOLATE BOX' YA! "


Sontak saja banyak ricuhan yang terdengar. Bagaimana dapat Lesya yang terkenal sebagai bad girl justru memalak dengan cara yang berada di luar nalar.


Luna menarik Lesya yang berdiri setelah berteriak tak jelas agar duduk di sampingnya. "Brisik serius! " Lesya mendengus. "Habisnya gw gak mau sampe timnya si Teh Rio menang! "


"Btw, lo itu serius mau borong cokelat box? " tanya Lisa. Lesya mengangguk antusias membanggakan dirinya. "Woiya jelas! " jawabnya dengan nada sedikit songong.


Sontak Lisa menatap serius Lesya. "Nanti bagi-bagi! " Lesya melotot tak terima. "Ogah! Lo sultan kenapa gak beli sendiri aja sono! " Lisa memutar bola matanya malas. "Elah, pelit lo! " Lesya tak menggubris nya.


Berbeda dengan Elvan yang mendengar jelas teriakkan Lesya tersenyum samar-samar. Tak ada yang mengetahui dirinya tersenyum. "Heh! "


Letha berdecak kesal mendengar teriakkan Lesya yang menyemangati sang pujaan hatinya. Sudah tak pernah berkunjung ke rumah sakit menjenguk Mila, justru Lesya asik keluyuran tak jelas. Pikir Letha sangatlah kesal.


Waktu terus berjalan hingga membuat suasana semakin tegang. Lesya berdecak pasalnya belum ada bola yang masuk ke dalam ring karena terhalang. Sementara waktu yang tersisa hanyalah hitungan detik saja. "Ck! Habis suara gw, gak ada yang menang gi--- "

__ADS_1


GOLLLL!!


Lesya terdiam kaku karena mendengar ricuhan penonton yang bersorak ria. Tersadar dari keterkejutannya, Lesya mengelus dadanya panjang. "Kaget gw! " gumamnya.


Lesya dapat dengar dengan teriakkan Letha yang tak jauh menyebutkan jika sekolah Gregus lah yang menang di saat detik terakhir. "YEYYY! ELVANN SARANGHAE!! Omaigat! Keren banget gak sih menang waktu detik terakhir? " ucap Letha lalu pergi menghampiri Elvan ke bawah diikuti kedua temannya.


Lisa beranjak dan menarik Luna dan Lesya agar kebawah menghampiri Elvan dkk. "Samper oy keburu rame! " Leon hanya mengikuti dari belakang saja.


Di saat mereka tiba di bawah, tepatnya keberadaan Elvan dkk, rupanya sudah ramai orang yang meminta tanda tangan, memberi buket bunga atau cokelat, ataupun meminta foto kepada Elvan dkk. "Buseett! Rame banget! " gumam Lisa.


Mereka menerobos keramaian dan akhirnya dapat bernafas lega setelah menemukan keberadaan Elvan dkk. Tiba-tiba saja pandangan mereka beralih kepada Letha yang memberikan buket bunga yang lumayan besar kepada Elvan. "Van, kali ini gw mohon terima ya? " pinta Letha.


Deg!


Entah ada sesuatu yang mengganjal, Lesya merasakan sedikit sakit di dadanya. Namun perasaan itu segera ditepis nya namun tak bisa. Sakit! Apa dia menderita suatu penyakit? Pikir Lesya.


Elvan menoleh dan memasukkan tangannya ke dalam sakunya. Pandangan antara Lesya dan Letha terjadi selama 3 detik saja. "Kenapa? " tanya Elvan.


"Inget janji lo! " Elvan mengangkat satu alisnya bingung. "Gak ada tuh! " Lisa meringis kecil di saat Luna menoyor kepalanya. "Aw! " ringisnya kecil.


Luna bertolak pinggang. "Heh yang janji itu Elvan sama Lesya! Kalo gak salah.. Menang ngasih hadiah! Ya kan? " Lesya mengangguk lalu merangkul Luna bagaikan sahabat. "Gw tunggu hadiahnya nanti! "


Elvan mengangkat bahunya acuh dan pandangannya mengarah kepada banyaknya siswi yang meminta tanda tangan ataupun berswafoto dengannya. "Penggemar lo noh! " ledek Leon.

__ADS_1


Elvan menghembuskan nafasnya panjang. Sedari dulu, dia tak pernah memberikan tanda tangannya ataupun fotonya kepada penggemarnya ataupun orang lain. Berbeda dengan keempat kawannya yang memilih meladeni penggemar mereka.


Menurut prinsip Elvan pasal 27, dilarang berswafoto ataupun meminta tanda tangannya dikarenakan dirinya itu sangatlah mahal! Prinsipnya. Sksk, pake prinsip segala dia gaes!


Pandangan mereka teralih dengan Letha yang tetap kekeh memberikan buket bunga besar. "Van, tolong terima! Gw capek belinya masa lo gak terima? Ada cokelatnya juga loh! Gw denger, lo suka cokelat kan? "


Elvan mengangguk. "Taro aja! " Letha akhirnya pasrah saja. Bukannya menolak sebenarnya Elvan, namun Elvan hanya menyuruh meletakkan pemberian orang lain di tempat yang sudah disediakan lalu dibawa ke rumahnya. "Kak, lo dicari di taman samping kiri sekolah! "


Kening Lesya berkerut. Dicari? Siapa yang mencarinya? Pikirnya bingung. Namun dirinya tak sempat bertanya karena Letha terlebih dahulu pergi menyamperi kedua kawannya yang asik meminta foto dengan Frans dan Kenneth. "Siapa yang nyari? " tanya Luna.


Lesya menggeleng tak tahu. "Gak tauk! Gw pergi dulu ke sana, jangan ikutin! Btw, hadiahnya gw tunggu! Byee! " pamit Lesya.


"EHH? BAGI GW LAH NANTI OY! Hissh, cepet banget elah! " desis Lisa berdecak melihat Lesya yang terlebih pergi. "Ambil noh! " Elvan menunjuk ke arah banyaknya bunga dan cokelat yang terkumpul.


Mata Lisa berbinar-binar mendengarnya. "Beneran? Avv thanks, tumben baik gak kayak kacang! " Memutar bola matanya malas, Luna meminta izin memakan beberapa cokelat yang dimiliki Elvan. "Elvan not tembok, bagi ya! "


Menoleh, Elvan mengangguk saja mempersilahkan Luna yang justru langsung cepat melahap cokelat yang ada. Leon menghela nafas saja. "Bukan teman gw! " gumamnya kecil.


...~o0o~...


Lesya melirik jam tangannya seraya berdecak malas. "Ck! Siapa sih yang nyari gw? Lama banget! " kesal Lesya bergumam dan memutuskan beranjak namun terhenti dengan suara bariton yang terdengar di telinganya. "Udah lama ya? " ucap orang tersebut.


Menoleh, Lesya menatap dingin Rio yang membawa beberapa buket bunga yang berada di tangannya. "Maaf ya, soalnya banyak penggemar yang minta foto sama tanda tangan! " Lesya berdehem kecil saja. "To be the point! "

__ADS_1


Rio mendesah panjang mendengar nada bicara Lesya yang dingin dan datar. Berbeda jika sudah bertemu Luna, Leon, dan lainnya. "Maaf! A-aku tau aku salah, tapi.. Plis maafin aku! "


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2