
Setiba di kamar, perlahan Elvan membaringkan Lesya dengan hati-hati takut terbangun. "Enteng juga ya? " gumam Elvan kecil.
Setelah menggosok gigi dan mencuci mukanya, Elvan berbaring di samping Lesya. Tanpa Lesya sadari, dia memeluk erat Elvan bak tak ingin kehilangan.
Elvan membuka matanya dan menatap Lesya yang ada di depannya dengan kening mengerut. "Em.. " gumam Lesya.
Lesya justru membenamkan kepalanya di dada bidang Elvan membuat Elvan tak dapat bergerak sama sekali karena pelukkan Lesya yang memang sangatlah erat.
Elvan pasrah saja dan memejamkan matanya. Dia lupa memasang banyak pembatas antara dirinya dan Lesya. Pantas saja jika Lesya lewat dari perbatasan.
Mayang yang berjalan guna mengecek Lisa sudah tidur apa belum, bernafas lega jika Lisa sudah tidur. Biasanya, Lisa akan sulit tertidur karena dia bermain game PSnya.
Mayang tak sengaja melihat kamar Elvan yang sedikit terbuka. Tumben bagi seorang Elvan tertidur dengan pintu terbuka walau hanya sedikit saja. "Heuh? Tumben! "
Dengan langkah pelan, Mayang berjalan dan mengintip sedikit ke arah celah pintu kamar Elvan. Dia tersenyum tipis melihat Elvan memejam dengan Lesya yang memeluk erat Elvan. Bahkan kaki Lesya berada di atas paha Elvan. "Syukurlah! "
Mayang menutup pintu rapat dan hal itu dapat diketahui oleh Elvan yang belum sepenuhnya tertidur. "Haiiss! " gumam Elvan kecil.
Mayang berjalan menuju kamar miliknya dengan senyum yang mengembang menghiasi wajahnya. Dia berharap dengan adanya Lesya di kehidupan Elvan, akan mencairkan pertahanan kutub Elvan.
Sebenarnya tak ada kejadian yang membuat Elvan menjadi seperti ini. Namun, hanya memang sifat turun temurun saja. Bahkan Elvan bertingkah seperti itu karena dia tak ingin ada satu wanita pun akan bertahan dengannya.
Hal itu membuat Mayang dan Angga risau. Dari umur 3 tahun, Elvan mulai berubah. Mereka pikir Elvan mengidap satu penyakit dan di saat mereka memeriksa kepada dokter spesialis terbaik di dunia namun nihil!
Kondisi Elvan saat itu memang baik-baik saja. Bahkan sangat baik! Namun sebagai orang tua, Mayang khawatir dengan pertumbuh kembangan anak-anaknya. Bayangkan saja Elvan yang sangat cengeng berubah menjadi kutub.
Jatuh dari tangga saja tak menangis sama sekali di usia dini. Aneh sekali bukan? Wajar saja jika Mayang dan Angga berharap Elvan akan cair dari penyakit pengidap es batu tingkat akut.
__ADS_1
~o0o~
Lesya dengan perlahan membuka matanya. Dia mendongkak ke atas dan menemukan Elvan yang menatapnya datar. "Woah! Pangeran! " gumam Lesya kecil.
Dapat dipastikan jika Elvan mendengar gumaman pagi Lesya. Lesya sedetik tersadar dengan pemilik manik mata di depannya ini. "ARHH! PAPAN NGAPAIN LO?! "
Beruntung kamar mereka sudah mengaktifkan kedap suara. "Lo lupa? " Lesya menggeleng kecil. Dia duduk di ranjang dan menatap Elvan seolah penuh tanya.
"Lo yang peluk sendiri! " Lesya tercengang kaget. Apa iya dirinya yang memeluk Elvan terlebih dahulu? Pikir Lesya terdiam mencerna perkataan Elvan.
Elvan beranjak menuju walk in closet meninggalkan Lesya terbengong di kasur. "Ya kali gw meluk tuh bocah! ' gumam Lesya.
"Harusnya kuku gw naik kan kalo bersentuhan lama dengan orang lain? " Lesya terus bermolog hingga Elvan keluar dengan pakaian santainya.
Lesya terbengong dengan penampilan Elvan. Celana hitam dan kaus hitam sudah melekat di tubuh Elvan. "Lah? Lo gak mandi? Mau kemana lo? "
Dia berniat akan jogging mengelilingi komplek perumahan sekitar. Dengan baju oversize hijau lumut dan celana legging biru langit bergaris putih sedikit. Perfect!
Lesya berjalan keluar dengan memasang earphonenya di telinganya. Rambutnya sedikit berantakan dan jam sporty di tangannya. Eum ... sebenarnya jam tersebut adalah milik Elvan.
Yeah, Lesya mengambil tanpa izin kepada pemiliknya dengan alasan tak ada sang pemilik di sana. Alhasil dia mengambil dan tersenyum penuh kemenangan.
Lesya yang sudah berada di ruang makan tersentak melihat Lisa yang merusak pandangan paginya. "Lo masih di sini? Gw kira udah diusir! "
"Sial*n! Mau kemana lo? Masih pagi kali! Jangan bilang lo mau jogging? " Lesya mengangguk saja. Lisa mendengus malas mendengarnya.
Bagaimana tidak? Lesya dan Lisa sudah siap dengan pakaian yang mereka kenakan untuk jogging nanti. Bedanya, Lisa tak menutupi sedikit perutnya dan bajunya bewarna putih.
__ADS_1
Lesya yang bingung dengan dengusan malas Lisa, mengerutkan keningnya. "Ngapa? Gak suka? Apa lo mau jogging? " Lisa mengangguk malas membuat mood Lesya sedikit hancur.
"Bagus dong! Kalian pergi berdua sana! Nanti pulang bunda bakal kasih kalian nasi goreng special! " Lesya dan Lisa menoleh bersamaan kepada Mayang yang baru saja datang.
Lisa menggeleng cepat. "No! Sendiri-sendiri aja bun! " Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Di satu sisi dia sangat malas jogging bersama Lisa dan di satu sisi dia tak tahu arah jalan.
Tiba-tiba saja mereka bertiga menoleh ke arah Angga yang menghampiri mereka dan merangkul mesra Mayang. "Lisa, ponakan om yang paling cantik persis seperti mamanya, barengan ya jogging nya sama Lesya. Kan dia gak tau arah jalan komplek di sini! "
Lisa mendengus kesal. "Udah ih! Gak usah uwu-uwu di depan Lisa! " Mayang dan Angga terkekeh kecil mendengar kekesalan Lisa. Sudah tak asing mereka dengar celotehan yang ini.
Lisa menutup kupingnya, matanya, bahkan mengoceh tak jelas di saat dirinya melihat pemandangan Angga dan Mayang yang terlihat mesra membuat gelojak jomblonya iri. Wkwk, iri dia!
Lesya mencibir kecil. "Heleh! Makanya cari pacar biar gak sirik sama orang! " Lisa memeletkan lidahnya ejek. "Sok punya aja lo! "
"Emang punya Elvan kan! " jawab Mayang. Wajah Lisa seketika masam mendengarnya. Dia lupa jika Lesya dan Elvan adalah sepasang suami istri.
Lesya terkikik kecil diikuti Angga dan Mayang. "Udah sana jogging berdua! No penolak kan! " Lesya dan Lisa mendengus pasrah mendengar nada bicara Angga seperti mengusir.
Dengan cepat Lesya menarik Lisa pergi dan mengejek Angga secara terang-terangan. Dia tahu apa yang ada di pikiran Angga hingga mengusir mereka berdua. "BILANG AJA AYAH MAU BIKIN DEBAY SAMA BUNDA KAN? "
Mata Mayang dan Angga membulat bersamaan. Lisa mendengus kesal mendengarnya. Beberapa asisten rumah tangga, tukang kebun, bahkan satpam yang mendengar ikut tergelak.
Angga yang menyadari itu, menatap tajam sekitarnya. Alhasil mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka seolah tak tahu apa-apa. Mayang mengeruncutkan bibirnya. "Gak ada! " cebiknya menatap Angga kesal.
Angga melotot. "Kenapa? Kemaren kan gak jadi keganggu sama Lisa! " Mayang bertolak pinggang mendengarnya. "Enggak mau malu diliat mantu! "
Angga mendengus pasrah melihat Mayang pergi berlalu seraya menghentakkan kakinya. Walaupun umur mereka setengah abad, tak dipungkiri jika wajah Mayang masih terlihat imut di pandangan Angga.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗