Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
97: Mall!


__ADS_3

Mayang mengerucutkan bibirnya. "Udah bunda sama echa mau belanja dulu byee" Mayang menarik Lesya agar menjauh dari Angga.


"Byee ayah... " Lesya pasrah saja saat dirinya ditarik oleh Mayang. Dirinya melambaikan tangan ke arah Angga.


Angga menatap kepergian mereka saja. Dirinya geleng-geleng kepala saja dan pergi ke lantai atas untuk menemui pemilik mall tersebut.


Lesya dan Mayang berkeliling ke beberapa toko yang ada. Mayang sudah membeli beberapa set barang namun tidak dengan Lesya.


Hingga Mayang yang menyadari, membawa Lesya menuju arah toko perhiasan yang paling besar di mall tersebut. "Selamat datang di toko kami nyonya"


Mayang mengangguk. Dia merangkul Lesya dan menawarinya beberapa perhiasan. "Sya, menurut kamu bagusan ini atau ini? "


Lesya bingung sendiri melihatnya karena semuanya menurutnya sangatlah bagus. "Em.. Kiri bagus bun, ada permata kecil ditengah"


Tiba-tiba saja satu pelayan toko menimpali ucapan Lesya. "Mata Anda sangat jeli nona! Satu set perhiasan ini dihiasi dengan permata biru langit yang baru ditemukan beberapa hari yang lalu"


"Selain itu, set tersebut merupakan salah satu perhiasan yang dirancang sangat khusus" lanjutnya lagi. Mayang terkagum-kagum mendengarnya, "Mata kamu jeli Sya"


"Hehe.. Biasa aja kali bun" Mayang mengangguk dan beralih menatap pelayan toko tadi. "Saya pesan yang ini ya satu set"


"Tapi nyonya, soal ukuran ini tak dapat diubah" Mayang menggeleng. "Ini bukan buat saya"


"Baik nyonya silahkan ditunggu sebentar" Mayang mengangguk dan melihat satu set perhiasan yang menurutnya cantik. "Itu bagus ya Sya? "


"Bagus bun! " antusias Lesya. Mayang mengangguk, "Kalo Elen pake bagus gak ya? "

__ADS_1


Lesya berpikir, "Pasti bagus bun! Diliat dari sini set-nya bening" Mayang menyetujui ucapan Lesya. "Mba saya minta yang itu juga dibungkus ya"


"Baik bu, tunggu sebentar" Mayang mengangguk. Namun, karena dirinya saat ini ingin pergi ke toilet, dia segera pamit kepada Lesya. "Sya, bunda ke toilet dulu ya kamu di sini aja"


Lesya mengangguk dan menatap kepergian Mayang ke toilet yang ada di toko ini. Selang beberapa menit berlalu, dirinya melihat di mana Gilang terlintas dengan merangkul seorang wanita.


Dirinya mengepalkan tangannya erat-erat. Itu bukanlah wanita yang sebelumnya yang dia temui di mall bersama Luna.


Jika kalian ingin tahu mengapa Gilang dapat terlintas di sana, jawabannya keluarga Fyo merupakan keluarga kalangan atas sama seperti keluarga Grey. Namun, keluarga Grey lebih unggul dibandingkan keluarga Fyo.


Lesya ingin rasanya menghampiri dan mencekik Gilang di tempat itu juga. Hatinya berkata 'jangan' kepada Lesya karena ada alasan yang sangat kuat.


"Don't hate him! You know who him? " gumam Lesya pada dirinya sendiri. Dia berusaha mengontrol emosinya saat ini. "Sya.. "


Mayang menggenggam tangan Lesya dan memeluknya. Jujur saja dia melihat dan mendengar gumaman kecil Lesya. "Lepas aja"


Lesya yang mendengar itu langsung memeluk Mayang erat-erat. Dirinya dengan cepat menutup wajahnya di leher Mayang. Dia tak kuat untuk kembali tersenyum lagi.


Lesya hanya mengeluarkan cairan bening tanpa bersuara sedikitpun. Dapat Mayang rasakan jika lehernya sedikit basah. Mayang dengan lembut mengelus punggung Lesya, "Forget about that! "


Lesya mengusap kasar cairan beningnya. Dia merutuki karena dirinya seperti terlihat lemah dihadapan Mayang kali ini. "Maaf bun"


Melepas pelukkan, Lesya mengusap leher Mayang yang basah akibat ulahnya. Mayang mengangguk dan tersenyum, "Gak papa, oh iya kamu udah laper belum? "


Lesya mengangguk. Dia tahu jika Mayang mengalihkan pembicaraan agar dirinya tak kembali sedih. "Maaf nyonya, ini pesanan anda"

__ADS_1


Mereka menoleh dan mengambil pesanan mereka. Dengan cepat Lesya dan Mayang mengeluarkan kartu mereka masing-masing.


"Punya saya aja mba" Mayang menggeleng dan memberikan kartunya dengan cepat kepada sang pelayan.


"Pake punya saya aja mba" Sang pelayan yang ketakutan dengan nada ucapan Mayang, dengan cepat menerima kartu milik Mayang dan mengembalikan.


Lesya mengerucutkan bibirnya. Buat apa Elvan memberikan dirinya kartu jika tak digunakan? Pikirnya. Mereka berjalan ke arah cafe yang ada di sana guna mengisi perut mereka.


~o0o~


Mayang memberikan set yang memiliki permata di dalamnya. "Nah, buat kamu" Lesya tercengang dan menggeleng. "Enggak bun! Echa gak suka make beginian"


"Gak dipake juga gak papa asal diterima" Lesya lagi-lagi menggeleng. "Buat apa diterima tapi gak dipake? "


"Makanya kamu terima aja biar dipake" Lesya memayunkan bibirnya. "Anggap aja hadiah dari bunda" lanjut Mayang.


"Tapi Echa gak lagi ulang tahun bun" Tiba-tiba saja pelayan cafe datang dan menyajikan pesanan kepada mereka. "Selamat dinikmati, saya undur diri"


Setelah pelayan tersebut pergi, Mayang memegang tangan Lesya dan menyerahkan paper bag yang berisi satu set perhiasan tadi. "Kalo Elen yang ini, kamu yang itu oke? "


Lesya mengangguk pasrah saja mendengarnya. "Yaudah Echa terima, makasih ya bun" Mayang mengangguk.


Mereka kemudian melahap makanan yang sudah disajikan di meja mereka. Tiba-tiba saja suara bariton dari belakang mengagetkan mereka yang sedang asik makan berdua.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2