Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
434: Tau dan Hadiah


__ADS_3

Episode 434: Tau dan Hadiah


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Suasana rumah mewah dengan interior yang menakjubkan kini sangat tenang dan damai. Seorang wanita berjalan cepat ke dalam setelah pulang dari rumah sakit, Letha namanya. Dia bertanya pada satu asisten rumah tangga di sana karena hendak mencari keberadaan sang kakak kembarnya.


Letha segera pergi ke kamar sebelah kamarnya dahulu di kediaman Grey karena salah satu asisten rumah tangga yang memberitahunya mengenai keberadaan Lesya di kamarnya.


Lesya tersentak kaget dengan kedatangan sang adik kembar dengan raut wajah berbeda dengan suasana hati saat berada di kampus tadi. Lesya juga dapat melihat adanya rasa marah juga kecewa dari pandangan mata sang adik.


"Biasain ketok pintu dulu Tha! Kaget gw,"


Letha tak mempedulikan gumaman kakak kembarnya. Dia melemparkan surat yang dia ambil dari tas ranselnya ke arah sang kakak. Entahlah, bagaimana reaksi pribadi saat ini Letha tak tahu harus bagaimana lagi.


Sang empu yang mengerutkan alisnya bingung, bergerak membuka isi surat. Lesya melotot karena cukup terkejut dengan isi surat. Semua terbongkar dan Letha lolos dari kekangannya yang menutupi kabar kondisinya.


"Kakak kenapa gak bilang sama aku? Pantes ya aku ke mana-mana selalu ngerasa dimata-matain, ke mana-mana jadi pusat perhatian, ternyata karena aku yang gemuk bawaan bayi?" emosi Letha.


Lesya hanya diam saja. Dia juga menggunakan anak buahnya untuk mengawasi Letha dari jarak jauh. Sepertinya di saat Letha pergi ke rumah sakit sebelumnya, anak buahnya lengah menjaga dan mengawasi pergerakan adiknya. Ada orang lain di balik ini atau anak buahnya yang berkhianat?


"Kak, aku tau kalau Kakak ngelakuin ini buat aku! Kalau masalahnya udah begini, kenapa gak kasih tau sama aku sih dari awal?" lanjut Letha kembali menyentak.


Lesya menarik Letha perlahan ke arah kamar mereka saat di mana Letha masih tak tahu mengenai hubungannya dengan Elvan. Kamarnya sangat privasi baginya juga Elvan. Walaupun Letha adalah adiknya, tak sopan rasanya membiarkan orang lain ke area privasi mereka tanpa izin Elvan. Lesya sudah belajar banyak dari masa lalunya akhir ini.


"Kak, jawab!"


"Memang kenapa? Memang mau apa kalau kamu tau kamu hamil? Aborsi hm? Enggak boleh, Tha!" balas Lesya tajam.


"Tapi- kenapa harus ditutupin Kak?"


"Sekarang maunya apa? Udah kebongkar kan? Gw gak mau lo kayak Mami yang dulu nekat buat bunuh gw."


Letha terduduk lemas di bawah ranjang. Letha mengacak rambutnya frustasi dan menangis terisak karena tak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Semua tiba-tiba saja terjadi. Seharusnya dia tak pergi ke rumah sakit demi memecahkan rasa penasarannya. Namun, akan semakin aneh saat tahu di masa depan.


"Tha, denger gw dulu ya! Lo sekarang mau jadi orang tua, tanggungjawab lo sebagai orang tua itu ngelindungi anak lo, darah daging lo sendiri. Jangan pernah mikir buat aborsi dia, ya?" pesan Lesya ikut berjongkok dan memeluk Letha yang menangis sesegukan saat ini.


Elvan yang baru saja lewat dari pintu kamar tersebut tampak mengeryit bingung dengan suara tangis dari adik istrinya itu. Lesya segera menyuruh agar Elvan tetap diam dan kembali ke kamar melalui kode tangannya. Segera Elvan mengangguk menurut, baginya tak pantas juga dia ikut masuk. Toh, masalah tak ada hubungan dengannya.


"Ya terus gimana, Kak?" seru Letha membentak. "Gw gak bisa nerima anak ini di hidup gw! Dia tuh cuman anak haram yang buat hidup gw sial!" lanjut Letha menepis kasar tangan Lesya yang memeluknya. Letha baru pertama kalinya merasa kotor juga najis dalam hidupnya.


Plaak!


"Lo lupa hm? Mami juga pernah ngalamin apa yang sama kayak lo alamin, tapi dia akhirnya lahirin kita berdua kok! Gw emang dulu anak haram, setelah lima bulan lagi lo juga ada, Tha! Sama-sama anak haram, jadi gak usah ngatain balik siapa anak lo ini!"


Lesya menyentak tak terima dengan perkataan adiknya yang mengumpat kasar layaknya Mila mengumpati dirinya dahulu. Semua dapat dia cari dari CCTV yang tersembunyi. Setelah potongan demi potongan CCTV yang dia dapat, barulah Lesya paham bagaimana masa lalu mendiang kedua orang tuanya.


Letha memegang pipinya yang ditampar. Semua terasa ngilu juga berubah membuat pandangan matanya berubah menjadi sedikit buram. Segera dia menahan dan mendorong kakaknya karena ingin berjauhan. Ini pertama kalinya dia ditampar langsung secara kasar oleh sang kakak.


"Kakak jahat! Udah gak mau dukung aku, bahkan aku sendiri gak boleh deket sama Farel! Padahal sebelumnya aku sama Farel lumayan deket kak!" amuk Letha memekik. Lesya terdiam saja. Dia memang sengaja menyuruh Farel menjauhi adiknya. Bahkan jika mereka berduaan, Lesya seolah menjadi pengganggu antara keduanya.


"Itu karena gw gak mau ada korban lagi! Cukup Papi yang jadi korban karena Mami, Tha! Jangan ngulangin kisah sama lagi. Jadiin semua pelajaran bukan alasan demi keberuntungan dan bukan demi menutup aib lo! Stop please, jangan jadiin orang lain tameng lo ataupun jadiin dia boneka yang bisa lo atur sana-sini!" kata Lesya mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Lesya tak mau melihat mata adiknya menangis dan mengingatkannya mengenai manik mata mendiang papinya yang bersimbah darah. Memorinya masih tersimpan penuh walau dia terpentok tiang listrik sekalipun.


"Tapi jangan kekang aku! Setidaknya kasih aku pasangan sebelum anak ini lahir, Kak! Aku gak mau sendirian lagi."


Letha berseru dan berakhir dengan lirihan nadanya. Lesya hanya menggeleng cepat. Alasan macam apa itu? Menjadikan orang lain sebagai tameng? Wah, mendiang maminya juga begitu dan dia tak terima semua kembali terulang walau yang satu berdasar cinta.


Menjadikan orang lain tameng adalah sikap pengecut. Mendiang maminya dahulu asal menunjuk orang tak bersalah dan akhirnya mendiang papinya lah yang menjadi korban. Lalu, di masa kini apa dia harus mengiyakan saja kisah lama kembali terulang? Oh no enggak ya, itu sama saja dengan Lesya yang lama akan kembali lahir menggantikannya.


"Kak," lirih Letha memanggil. "Aku pusing!" lanjut Letha membuat Lesya menoleh dan memapahnya ke tepi ranjang. Saat sudah bersenderan ke tepi ranjang, Lesya melototkan matanya panik karena adiknya tiba-tiba pingsan.


"BUNDA!!"


Lesya segera ke bawah dan memanggil Mayang yang berada di dapur. Tak mungkin dia memanggil Elvan karena dia yakin lelaki itu sedang mandi. Sebelumnya Elvan baru kembali dari lapangan setelah bermain basket dengan teman-temannya. Lagipula, Letha tak ada hubungan sama sekali dengan Elvan.


"Ada apa, Sya? Aduh, pelan-pelan larinya, Sayang, awas jatoh nanti!"


"BUNDA!" panggil Lesya lagi. "Letha pingsan, Bun!" lanjut Lesya setelah mengatur nafasnya menjadi stabil.


"Dia udah tau semuanya terus ngamuk jadinya pingsan di kamar yang dulu dia pakai!" sambung Lesya lagi. Mayang membelakkan matanya lebar.


"Panggil dokter, Yah!" ucap Mayang.


Angga yang duduk di meja makan hanya mengangguk dan segera menelepon dokter ke rumah. Sementara Lesya dan Mayang sudah lebih dahulu kembali ke kamar di mana Letha pingsan karena takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan nantinya. Bisa bahaya yang ada!


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Matahari kini sudah berganti menjadi bulan. Akhirnya setelah mandi Lesya yang hendak menjenguk adiknya, melihat pergerakan bangun dari sang empu. Dokter yang menangani juga sudah lama pulang setelah memberi resep obat.


Sang empu hanya menggeleng pelan. Dia masih mengingat semua yang terjadi sebelum dia pingsan.


Lesya juga menyadari dan sangat paham bagaimana menjadi Letha. Suatu hal yang sama sekali tak wajar bagi seorang perempuan berstatus single akan memiliki anak. Namun, bagi Lesya lebih tak wajar jika seorang perempuan itu berniat membunuh anaknya yang sama sekali belum melihat betapa indah dan kejamnya dunia dengan banyaknya orang yang memiliki dua muka.


"Gw tau mungkin lo gak terima Tha, tapi semua ini udah kejadian! Coba lo pikir lagi, kalau bukan karena lo yang gampang kehasut Vion waktu itu, lo masih suci. Menurut gw ya, lo gak pantes dapetin yang sempurna kayak Farel, makanya gw larang lo deket-deket sama dia." ucap Lesya menyenderkan kepalanya di salah satu bantal yang ada.


"Bayangin aja begini, Tha! Kalau ada pensil patah dan dia mau nyatu lagi, itu gak akan bisa. Begitu juga sama lo, gak bisa nyatu sama dia yang masih utuh, mendekati sempurna lah contohnya."


"Tapi- di dunia ini segala sesuatunya bisa mungkin!"


"Iya gw tau. Masalahnya di sini Tha, lo bakal punya anak, ANAK, Tha! Coba bandingin lo sama janda gatel di seberang jalanan yang ngejar cowok masih muda, single, tajir pula. Apa bedanya lo sama mereka kalau gitu?"


"Beda, jangan samain gw sama badut pinggir jalan!"


"Yaudah maksudnya gini, kalau lo masih suci gw sih masih okelah ya. Lah kalau ini gimana, Tha? Emang keluarganya mau nerima lo yang bakal jadi ibu gitu?" tanya Lesya lagi membuat Letha terpojok hingga kehilangan kata-kata.


"Orang tua gak akan pernah mau buat anaknya turun! Masalahnya gw sengaja jauhin kalian karena gw gak mau lo berharap sama dia, bukan hal lain karena kalian sekarang udah beda, Tha!" kata Lesya lagi beralih menatap wajah murung sang adiknya.


"Gw gak maksa sih, tapi kalau lo gak dengerin gw, jangan salahin gw punya tindakan langsung!" ucap Lesya lalu berjalan pergi meninggalkan Letha yang masih setia termenung di sana.


Lesya masuk ke kamar dan berlari meloncat ke kasurnya. Selama sebulan ini dia disibukkan jadwal kuliahnya.


Diliriknya ke arah balkon di mana Elvan mengerjakan tugas-tugasnya. Setelah memulai belajar dengan jurusan masing-masing, mereka hanya bertukar sapa saja tanpa embel-embel layaknya pasangan pada umumnya.

__ADS_1


"Pan," Lesya memanggil dan duduk di sebelah lelaki itu setelah tiba di balkon.


Sang empu menoleh dan berdehem sebagai jawaban saja. Tangannya masih sibuk membereskan alat-alat yang dia gunakan sebelumnya. Niatnya juga hendak menghampiri Lesya, tetapi dia sendiri yang disamper lebih dahulu.


"Kenapa?"


Lesya menggeleng dan meletakkan kepalanya di paha Elvan. "Gw beruntung rasanya deh! Mami dulu jodohin gw sama lo kayaknya karena takut gw yang anak pertama ngalamin apa yang dialamin dia dulu. Padahal kenyataannya, Letha yang alamin, bukan gw." ucap Lesya memainkan jari-jemari Elvan yang lebih besar dari miliknya.


"Jangan urus lagi karena dia bukan anak kecil, Le!" ucap Elvan sedikit tak suka dengan bahasan Lesya.


Lesya mengangguk pelan dan kembali melanjutkan ucapannya. "Pan, kenapa lo mau dijodohin sama gw? Alasannya juga apa nyampe mau bertahan sama gw, padahal di luar masih banyak yang jauhhhh lebih segalanya dibanding dari gw?" tanya Lesya tiba-tiba.


"Awalnya karena dipaksa terus Bunda nangis. Gw gak suka liat Bunda yang selalu senyum tiba-tiba nangis karena gw, jadinya gw nerima deh. Kalau diizinin juga dari dulu, gw juga bakal cari cewek lain kali." jawab Elvan santai.


Plaak!


"Sembarangan! Cukup sekali woyy nikahnya, jangan dua kali!" ketus Lesya mengangkat dua jarinya. Elvan hanya tersenyum lucu saja karena berhasil membuat istrinya cemburu.


"Tapi katanya sekalian jauhin gw dari hal-hal negative sih! Bunda gak mau gw jadi cowok breng*sek yang gak ngehargain kodrat perempuan di dunia." lanjut Elvan berubah menjadi serius.


Lesya menganggukkan kepalanya setuju. Jika dia menjadi Mayang, pasti akan melakukan hal yang sama karena tak mau masa lalu sahabatnya justru terulang pada anak-anaknya.


"Kayaknya sekarang gw harus berbakti dengan baik sama Bunda," lirih Elvan memainkan anak rambut Lesya yang masih terbaring di pahanya. Alis lawan bicara mengerut bingung karena tak paham dengan maksud ucapan Elvan.


"Kenapa?"


"Soalnya gw beruntung jadi suami lo!"


Lesya menahan senyumnya dan berhenti menautkan jemarinya pada jemari Elvan. Baper? Woiya jelas, tapi masih mending dia baper pada pasangannya dan berstatus halal. Dibandingkan baper karena dighosting? Lebih parah, wkwk…


"Kayaknya gw harus ke rumah sakit deh!"


"Kenapa? Lo sakit? Di mananya sini bilang sama gw!"


"Jantung gw dag-dig-dug berasa lagi maraton sejuta kilometer, tanggungjawab Pak, saya baper sama kamu!" lirih Lesya dengan raut wajah sok putus asanya. Elvan mengulum senyumnya karena ikut baper oleh ucapan sang istri. Udah sekian lama, akhirnya mereka berdua layaknya pasangan kekasih dengan cap halal.


"Mau hadiah gak?" tanya Elvan tiba-tiba.


"Mauuu!!" antusias Lesya menjawab.


Elvan segera mengecup kedua pipi Lesya karena gemes. "Tunggu ya, gw minta izin restu Bunda sama Ayah dulu biar jadi rejeki, oke?" ucap Elvan penuh semangat. Hadiah yang ingin dia berikan saat kelulusan kini sudah selesai dan baru bisa dia berikan pada istrinya.


Lesya mengerutkan keningnya bingung. Mengapa harus meminta izin dahulu sama mertuanya? Hadiahnya belum dikasih, memang harus minta restu kah? Otak kecil Lesya tak sampai memikirkannya karena sifat Elvan. Jika sembunyi, ya sembunyi!


Namun, walau demikian Lesya tetap mengangguk patuh membuat Elvan tak sabar segera memberikan hadiah special, mungkin.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<


Karma Letha udah ada, masih protes?

__ADS_1


Hadiah? Apa tuh?


__ADS_2