
Keesokan harinya matahari perlahan mulai menyinari dunia. Kedua insan yang masih asik saling memeluk satu sama lain, kini mulai bergegas bangun dan membersihkan diri masing-masing.
Kemarin karena hujan turun dengan deras, membuat tubuh Lesya sedikit menggigil. Ditambah dia sudah selesai mandi, akhirnya Lesya memilih memakai pakaian yang dapat menghangatkannya.
"Dingin?" tanya Elvan saat melihat Lesya yang meniup tangannya. Sang empu menoleh dan mengangguk pelan saja sebagai jawaban. Melihat tanggapan sang istri, Elvan segera menurunkan suhu kamarnya yang biasanya dingin.
Keduanya berjalan dan bertepatan dengan Elena yang hendak keluar dan mengetuk pintu kamar mereka. Elvan segera menahan tubuh kakaknya yang kembali menerjang tubuhnya.
"Sorry, gw telat ucapin happy birthday kemarin," lirih Elena membuat Elvan mengangguk-angguk pelan saja.
"Kak, udah. Lagian yang penting gw masih bisa tambah umur sekarang, jangan nangis lagi!" ujar Elvan mengusap sudut mata sang kakak yang basah.
SementaraLesya yang berada di samping Elvan hanya melengkungkan bibirnya ke bawah. Cukup terharu dia dengan moment kakak-beradik yang terkadang akur dan terkadang bertengkar. Berbeda dengan suasana kakak-beradik kembar yang hingga saat ini masih belum bisa saling akrab satu sama lain.
"Huweee ... kok vibes nya jadi lebih ke abang-adek ya bukan kakak-adek?" ucap Lesya yang mulai ikut turut sedih melihat raut wajah kakak iparnya. Elena hanya menurunkan sudut bibirnya dan memeluk adik iparnya sejenak.
"Udah jangan ikutan sedih juga! Mending kita makan-makan di bawah, yang lain udah nunggu kita dari tadi," ucap Elena mengalihkan pembicaraan dan menggandeng Lesya melangkah ke arah lantai bawah rumah orang tuanya.
Lesya dan Elena segera duduk di salah satu kursi saat sudah tiba di ruang makan. Terlihat semua orang berkumpul menunggu kedatangan mereka. Alam yang juga melihat, mengedipkan matanya sekali ke arah Lesya yang hanya diketahui oleh sang empu saja.
"Apaan tuh kode-kode gak ngajak?"
Suara yang berasal dari Cakra membuat Lesya menghela nafas. Salah berbicara sedikit bisa rusak ekosistem pikirannya. Banyaknya pertanyaan aneh dapat keluar secara spontan dari bibir seorang Cakrawala Andrean. Jangan pernah meremehkan walau sosok Cakra kadang memiliki otak yang agak miring!
"Kepo sia!" balas Alam.
"Cih, rahasia-rahasiaan dari gw, ga setia bestie kita!" sinis Cakra mencebik. Percakapan dihentikan oleh Arya. Ada banyak hal yang mereka ingin urus hingga mereka diwajibkan makan dengan tenang tanpa suara.
"Kakak minta sop nya dong, itu!" pinta Lisa menunjuk ke arah makanan yang hendak dia tuju. Arya menghela nafas. Sudah diperingatkan untuk tak bersuara malah terlepas. Untung dia sabar!
"Lisa kalau makan jangan ngomong! Masih banyak yang mau dibicarain sekarang," tegur Maurine yang paham dengan raut wajah suaminya. Sang empu yang ditegur hanya mengangguk dan menyengir saja sebagai tanggapan.
"Emang mau ngomongin apa, Tan?" tanya Elena. Arya dan Maurine saling menatap satu sama lain. Perlahan Arya menghela nafas dan beralih menatap Elvan yang hanya makan dengan tenang.
"Vano, kamu tau 'kan perusahaan punya Ayahmu besar? Sekarang kamu yang tanggung jawab semua, biar butik Bundamu diurus Elena. Om gak bisa bantu urus karena Om sendiri punya perusahaan yang harus dikelola,"
Maurine mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. "Kamu juga harus kuliah, nanti beberapa waktu Lita bisa ikut bantu-bantu. Biar perusahaan kami diurus Cakra sama Om Arya, ya?" timpal Maurine yang mengkhawatirkan dengan banyaknya pikiran keponakannya.
"Gak usah, Vano bisa urus sendiri!"
__ADS_1
Sebelum Maurine kembali angkat suara, Elvan lebih dahulu berbicara. Dia tahu tujuan mereka baik, tetapi dia sudah memikirkan dengan matang dengan apa yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Banyak yang harus diurus dan itu resiko dia yang lahir dari anak pemilik banyaknya usaha di mana-mana!
"Iya kita tau kamu bisa, tapi kalau kamu sakit gimana? Nanti Kakak ikut bantu waktu kamu kuliah, ok?" sahut Lita yang duduk di posisi seberang Lisa.
"Lesya juga bisa bantu!" sahut Lesya.
"Yaudah sekarang gini aja, kalian masih muda. Jangan capek-capek ini-itu cuma karena harta warisan dari Bunda juga Ayah. Kalian juga punya hidup, punya masa depan, jadi kami harap kalian bisa tetap jaga kesehatan, jangan stress mikirnya!" ucap Maurine.
"Jangan jadiin kepergian Bunda juga Ayah buat kalian harus pikul ini-itu! Kalian udah dewasa, selesaiin masalah pakai cara baik-baik. Kalian harus bisa bagi waktu, terutama kamu Elena. Jangan gampang diprovokasi orang-orang di luar sana! Mending sekarang kamu fokus buat jalanin semuanya,"
Sang empu yang disebut mendongkak dari tundukannya. Jika Tante nya angkat suara dengan serius, artinya kondisi memang benar-benar serius. Terlebih yang mereka hadapi tak satu, melainkan banyak. Belum urusan pribadi, hal yang mereka hadapi kian bertambah.
"Toko desain Bundamu ada banyak dan Bunda pernah sakit karena mikir ini-itu. Tante gak mau kamu terlalu banyak pikiran. Kamu udah punya Axel, punya suami, kamu juga harus bisa urus desain, jangan dibawa pusing sampe lupa makan, lupa keluarga, lupa istirahat. Kesehatan kamu juga penting, ya?"
Elena mengangguk pelan menanggapinya. Hal yang mereka bicarakan tak sembarang. Arya dan Maurine sengaja segera membicarakan hal ini agar kedua keponakan mereka tak terlalu pusing memikirkan ini-itu hingga lepas kendali mengingat sikap gigih dari kedua keponakannya yang tertanam.
"Perusahaan Ayahmu juga banyak, bukan Om nakutin atau gimana Van, tapi musuh Ayahmu juga banyak. Kalaupun kamu udah siap tanggung resiko, jangan pernah pulang dalam keadaan berantakan! Ingat kamu punya istri yang harus kamu jaga, jangan semena-mena karena Ayah-Bunda mu udah gak ada!" peringat Arya berpesan dengan tegas.
Elvan hanya mengangguk saja menanggapinya. Setelah pesan-pesan Arya juga Maurine yang sudah tertanam, mereka kembali melanjutkan makan mereka dengan tenang. Terpukul? Tentu, tapi mereka harus dapat mendewasakan diri. Mereka harus belajar memulai dan menggantikan posisi mendiang kedua orang tua mereka setelah ini.
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Tangan Lesya dengan tepat menangkap flashdisk yang dilempar oleh Alam padanya. Laptop yang sudah dia sediakan kini telah terpasang flashdisk yang dilempar oleh Alam. Sementara lainnya yang berada di ruang keluarga dibuat bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Lesya saat ini.
Alam angkat suara dengan nada bicara yang terlihat sangat kesal bercampur benci. Alam sendiri juga cukup tak terima dengan kepergian kedua mendiang mertuanya yang ternyata merupakan kecelakaan yang memang disengaja.
"Arghhh brengs*k lo ulat!" gumam Lesya mengumpat saat melihat isi layar laptopnya mengenai pelaku yang menabrak mobil mendiang mertuanya. Jalanan sore yang dilalui cukup sepi saat itu. Pantas mereka terlambat dibawa ke rumah sakit hingga tak dapat diselamatkan. Semua disengaja!
"Gak usah ngamuk! Apaan sih? ANJ--"
Umpatan Lisa terhenti saat mendengar suara teguran dari wanita yang melahirkannya. Lisa yang terkejut dengan siapa orang yang berada di belakang kecelakaan. Chatrin, orang itu lagi! Cukup kesal Lisa mendengar, melihat, membaca nama tersebut.
"Lisa," tegur Maurine.
"Maaf Ma, tapi Lisa kaget ternyata si Chatrin yang ngelakuin, nih liat aja!"
Lisa mengambil alih laptop Lesya dan mengarahkannya pada mereka yang masih bingung. Berbeda dengan Lesya yang sudah berkutat dengan ponselnya.
"Dia? Berani-beraninya dia asal tabrak!" emosi Elena. Kekesalan Elena dengan cepat ditenangkan oleh tangisan sang putranya yang tampak terkaget mendengar sang Mama yang emosional.
__ADS_1
Di dalam layar, mereka melihat mobil Angga dan Mayang yang melaju dengan kecepatan stabil. Tiba-tiba saja sebuah mobil lain datang menabrak hingga mereka tersungkur menabrak sebuah toko kue yang berisi kaca. Saat pelaku mobil keluar, justru sosok Chatrin menyeret kedua orang di dalamnya dan menusuk jantung keduanya dengan pisau. Mereka baru saja ditemukan saat beberapa jam kepergian Chatrin.
Tangan Elvan mengepal melihat vidio yang berulang-ulang kali diputar. Kepalanya ingin pecah karena dia tak bisa marah saat ini. Mau marah sama siapa? Di sini tak ada pelakunya.
"Tapi tenang aja, tadi waktu jam lima subuh gw udah dihubungin polisi dan dia udah ditangkap. Kata kepala polisi, sekitar lima belas tahun dia bakal mendekam di sel penjara yang paling busuk," ucap Alam angkat suara.
"Pantes tadi gw liat lo lagi teleponan di dapur, gw kira lo selingkuh. Padahal gw pengen kasih tau Elen barusan," polos Cakra menambah masalah.
"Sembarangan lo ya!" kesal Alam.
"Hehe ... peace Lam!"
"Gak cukup dia dihukum segitu! Hukumannya kurang karena dia bisa aja datang balas dendam setelah bebas nanti!" ucap Elena yang kurang puas dengan hukuman yang dialami oleh pelaku pembunuhan kedua orang tuanya.
"Udah Len, udah cukup itu! Biarkan dia dapat karma diluar sana, jangan terlalu dibebanin! Kamu urus keluarga kamu aja biar gak sama kayak dia. Setidaknya Bunda sama Ayah udah punya pembela di sini," ucap Maurine bijaksana dan dibalas anggukan oleh Elena.
"Lo ngapain, Sa?" tanya Cakra penasaran karena sedari tadi Lesya menggerutu dan menyentak dari sambungan telepon.
"Apa lagi kalau gak jatuhin keluarganya? Biar mamρυs sekalian tuh!" kesal Lesya beralih membuka televisi dan mencari siaran berita yang dia tunggu barusan.
Sejak kemarin, layar televisi terus-menerus menampilkan mengenai kasus kecelakaan kedua mertua dari Lesya. Disebabkan karena kasus sudah diketahui mengenai pelaku, saat pagi tadi sudah ada berita mengenai penangkapan pelaku. Sayangnya saat tadi, mereka tak sempat menonton.
Pandangan mereka yang ada di ruang keluarga beralih melihat berita mengenai kejatuhan saham perusahaan milik keluarga Chatrin yang tiba-tiba anjlok.
Berbeda dengan ekspresi mereka yang melongo, Lesya justru tersenyum miring bak physio. Elvan yang paham dengan ulah siapa hal tersebut terjadi, hanya dapat tersenyum tipis dan mengacak rambut Lesya. Setidaknya, ini cukup membela nama baik kedua orang tuanya.
"You naughty, Baby! (Kamu nakal, Sayang)" bisik Elvan membuat Lesya hanya mengerjap berlagak polos saja.
"Good Sya, adek ipar paling baik lo emang! The best emang lo mah!" bangga Elena dengan kedua jempolnya yang diacungkannya.
"Sultini lewat gays!" cibir Lisa.
"Bu boss, tolong berikan lah ramuan kaya raya mu pada hambamu ini!" pinta Cakra dengan sopan dan penuh dramatis.
"Ngepet aja Bang," polos Lesya.
"SEMBARANGAN, OGAH GW!"
"Bang jangan teriak-teriak! Nanti anak gw nangis di dalam gara-gara mulut lo itu," ucap Elvan tak terima.
__ADS_1
"WHAT?"
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗