Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
414: Keterkejutan Keluarga Chatrin


__ADS_3

"Iya Bu. Maklum, anak SMA banyak pengen coba ini-itu. Nanti saya coba ngomong sama orangnya." timpal Sella.


"Iya Bu, saya udah angkat tangan ngurusnya. Untung ada Elvan yang dulu ketua OSIS. Jadi kalau dia bolos atau berulah bisa ditanganin." pelan Bu bunga yang merasa tak enak dengan permintaan maaf kedua wanita itu.


"Bu, saya izin keluar. Oh iya, suara laki-laki di video itu, saudara jauh Luna yang dianggap abang sama Lesya." sopan Elvan hendak keluar. Bu bunga mengangguk paham saja. Toh dari awal dia lebih percaya murid lagend dibandingkan murid dengan banyak muka. Sudah sering dia lihat!


"VANO TUNGGU! " panggil Chatrin.


Sang pemilik nama yang dipanggil sama sekali tak bergeming. Cukup sudah kerisihannya dengan sahabat kecilnya yang menempelinya terus-menerus. Dia cukup muak. Bukan begini Chatrin yang dahulu dia kenal. Berbeda drastis!


"Vano," panggil Chatrin lagi.


Dengan cepat Chatrin merentangkan tangannya di depan Elvan hingga lelaki itu terhenti. Tak tinggal diam, sang ibu yang melahirkan sosok Chatrin itu beranjak dan hendak menghampiri keduanya yang sedang mode sengit.


"Kamu kenapa gak bela aku sih?! Ingat, kita tuh di Inggris waktu kecil selalu bareng-bareng terus. Dan di saat kamu begini, aku terus bela kamu loh. Kok giliran aku situasinya begini, kamu malah bela dia?! " ucap Chatrin dengan nadanya yang sedikit sendu bercampur kesal.


Sang ibu dari perempuan itu langsung mengangguk setuju dari belakang anaknya. "Benar, harusnya kamu bela Chatrin bukan perempuan jadi-jadian itu! Kamu ingat gak siapa selama ini yang sempat temanin kamu waktu kecil? Chatrin, bukan cewek laki-laki itu." ucapnya sedikit mengomeli Elvan.


Elvan menaikkan alisnya bingung akan ucapan yang terlontar dari sepasang ibu anak itu. "Iya, terus? Memang benar kok kenyataannya anak dan anda sendiri jual harga diri, jual tubuh hanya demi uang. Lagi pula, saya cuman bela kebenaran, bukan di antara kalian." ucap Elvan dengan nada datar khasnya.


"Oh iya, kalau mau sogok guru jangan di depan pemilik sekolahnya! Saya bisa lapor ke pihak berwajib dengan ancaman hak manusia. Jangan kira saya gak tau kalian juga ikut pengedaran narkoba."


Chatrin dan kedua orang tua Chatrin juga ikut terdiam mendengarnya. Mereka cukup takut dengan ancaman dari Elvan  itu. Terlebih di saat mereka mengingat marga yang menyertai jiwa lelaki itu.


"V-Vano, b--"


Ucapan sang ibu dari Chatrin dengan segera disela oleh Elvan. Memang terlihat tak sopan, tapi jika tak kasar tak akan jera mereka. Biarkan dia memiliki cap buruk, tak peduli. Asalkan kebenaran terus dikemukakan sebelum kebohongan merajalela. Pikir Elvan dalam benaknya.


"Satu lagi, Lesya, perempuan yang anda bilang, dia istri saya. Jangan sembarangan bicara sebelum tau identitas aslinya! Kalau kalian berani usik, sama aja kalian nantangin saya, paham? " tekan Elvan lalu berjalan meninggalkan mereka di sana.

__ADS_1


Chatrin mematung di tempatnya. Dia cukup kaget juga tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Mengepalkan tangannya kuat, logikanya menolak percaya mengenai hal tersebut.


Elvan membuka knop pintu dan berjalan ke arah luar. Ternyata hanya beberapa orang saja yang berada di sana. Gilang, Galang, Luna, Cakra, dan tentunya Lesya.


Sejenak dia terdiam di tempat dengan pandangan menatap Lesya. Dirinya sedikit tersentak kaget merasakan sebuah hawa yang membuat tangannya terkepal kuat. Insting apa itu? Pikirnya.


Kini Sella juga Mily sudah keluar dari ruangan. Mereka tampak merasa aneh saat melihat Elvan justru berdiri tegak dengan pandangan lurus. Tangannya yang mengepal kini merenggang dan mengacak pelan rambutnya.


"Vano? " panggil Sella menyadarkan.


"Hah? Iya Mom? "


Elvan menoleh dan menetralkan wajahnya seperti biasanya. Sella geleng-geleng kepala melihatnya membuat Elvan menggaruk tenguk lehernya kikuk. Berbeda dengan Mily yang tak ambil pusing dan berjalan ke arah Lesya. Bola matanya berputar dengan malas melihat keponakannya yang justru asik mengobrol dengan Luna tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Udah kan? Yaudah pulang aja."


Gilang yang tak betah hendak beranjak namun tertahan oleh pegangan tangan sang abang yang cukup erat menahannya. Berdecak kesal, dengan terpaksa Gilang kembali duduk di kursi yang sempat dia tempati itu.


"Gimana apanya? " bingung Lesya.


"Di skors gak? " tanya Galang mengulang. Lesya sontak menatap Sella seolah meminta jawaban. Sang empu yang ditatap hanya menggeleng pelan saja. Toh, benar guru BK itu sedang tak memberi murid legend nya hukuman.


"Katanya sih enggak, padahal kan pengen libur. Eh tapi mingdep udah ulangan sih. Gak tau deh! "


"Plin-plan amat lo! Dah lah, gw balik dulu, mau nge-date." ucap Cakra lalu berjalan pergi meninggalkan mereka. Luna hanya mencibir kecil melihat kepergian sang abang angkatnya dari pandangannya.


"Temen gw mana? " tanya Elvan pada Luna. Sang empu ditanya menoleh dan menunjuk ke arah bawah pagar batas koridor. "Pada ke bawah ngarahin tugas OSIS baru." jawab Luna apa adanya.


Elvan mengangguk paham saja dengan jawaban dari Luna. Saat semua hendak bersiap untuk pergi dari sana, sebuah suara menghentikan langkahan kaki mereka. Mulut mereka membulat lebar dengan apa yang mata mereka tangkap dan saat berbalik ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Lesya?! " panggil Chatrin.


Semua berbalik dan sontak menghindar kecuali Galang juga Lesya. Secara reflek Elvan memukul ke arah benda tajam yang dibawa Chatrin. Ya, Chatrin berlari tak lupa dengan sebuah pisau kecil yang sempat dia sembunyikan di saku roknya.


Awalnya Chatrin mengambil sebagai ancaman saja dari ibu kantin secara diam-diam. Karena tak berjalan sesuai rencana, akhirnya Chatrin memutuskan membalas dengan menyerang secara langsung musuhnya itu.


Plaaangg…


Pisau yang terangkat ke udara itu kini jatuh akibat ulah Elvan. Menutup mulutnya tak percaya, segera Sella menghampiri suaminya dan Mily menghampiri keponakannya yang membulatkan mulut kaget.


Jika Luna? Gadis itu kini sedang bertugas dengan ponsel pintarnya untuk menghubungi petugas keamanan.


"Chatrin?! " panggil Bu bunga yang baru saja keluar.


"Nak, kamu ngapain sih?! " kaget sang ibu dengan segera menghampiri putrinya yang sama sekali tak gencar hendak menyakiti Lesya. Chatrin hanya diam saja. Saat hendak kembali melangkah, ayah tirinya sudah lebih dahulu menahan pergerakannya.


"Kalian siapa? " tanya Galang datar.


"T-tuan Galang?! " kaget sang ayah tiri Chatrin.


"Siapa anda? " tanya Gilang mewakilkan sang kembarannya yang dilanda kebingungan. Ayah tiri Chatrin membulatkan matanya terkejut melihat keberadaan Gilang di sana.


"A-aaa… Tuan Gilang, s-saya Arelan, salah satu penanggungjawab proyek anda." sopan ayah Chatrin itu.


Lesya yang mendengar ayah dari musuhnya sedikit takut, dengan segera melingkarkan tangannya di lengan Galang. "Daddy, pergi aja yuk! " ajak Lesya sengaja dengan wajah polosnya.


Dengan sengaja Lesya sedikit mengeraskan panggilan ‘daddy’ agar diketahui oleh satu keluarga yang belum tahu siapa dirinya itu. Galang menautkan alisnya bingung. Sejenak dia berpikir dan paham maksud dari putri sulungnya itu.


"D-daddy? " beo mereka kaget.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2