Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
247: Main PS!


__ADS_3

Setelah puas menggelitiki Luna dan Lisa, Lesya pergi menuju kamar Elvan diam-diam untuk berganti baju. Dia tahu jika pakaiannya itu masih belum dipindahkan ke kamarnya dan Letha.


Setelah mengganti dengan piyama tidur bewarna navy polos, Lesya yang membuka pintu walk in closet terkejut melihat keberadaan Elvan di depan pintu. "Lo ngapain di depan pintu? " tanya Lesya dengan tatapan tajam nya.


"Masuk lah! " jawab Elvan enteng lalu masuk ke dalam walk in closet. Jangan tanyakan niatnya memang berganti baju. Namun melihat Lesya baru saja keluar, membuatnya sedikit terkejut.


Lesya duduk di tepi ranjang dan mengambil koper di bawah kolong kasur. Niatnya dia ingin membantu Elvan membereskan pakaiannya nanti sebagai ucapan terimakasih karena sudah membawanya ke pasar malam.


Tiba-tiba Elvan keluar dengan piyama yang sama dengan lesya namun bedanya, piyama Elvan sedikit gelap dan terdapat kotak-kotak putih tipis. "Koper siapa? " Lesya menoleh dan beranjak berdiri menunjuk ke arah Elvan. "Lo lah! Kan, hari ini lo mau berangkat kan nanti subuh? Jadi, mumpung gw di sini sekalian gw beresin! " jelas Lesya enteng.


Elvan tersenyum simpul dan mengacak-acakkan rambut Lesya. "Boneka lo noh ketinggalan! " ucapnya menunjuk ke arah ranjang yang dimana terdapat boneka beruang milik Lesya.


Lesya hanya mengangguk kecil. Dia lupa jika dia meninggalkan barang itu di ruang tamu. Mereka berjalan menuju ruang makan dengan Lesya yang sengaja terlebih dahulu tiba karena tak ingin mengundang kecurigaan untuk Letha.


Di saat semuanya tiba, mereka mulai makan dengan tenang. Sementara Lisa dan Luna saling berdebat kecil memperebutkan daging rendang yang dimasak oleh Mayang. Katanya, enak makanya mereka rebutan!


"Shut, brisik! " lerai Lesya.


Saling melemparkan tatapan permusuhan satu sama lain, Angga dan Mayang diam-diam terkikik kecil melihat perdebatan itu. "Masih banyak juga, gak usah rebutan! " geleng Elena.


Sementara letha, Elvan dan Alam hanya menyimak saja tanpa komentar. Setelah melaksanakan makan malam, letha bergegas ke kamarnya untuk menghubungi Nayla, temannya.


Mengambil ponselnya di atas meja rias, jari jempol letha menekan nama Nayla di layar ponselnya. Tak butuh waktu lama, Nayla di seberang telepon menerima panggilan Letha dalam bentuk vidiocall.

__ADS_1


📽 Halo Nay?


📽 Iya, ngapa Tha? Kayaknya seneng banget nada bicara lo!


📽 Jelas lah! Lo tau gak, ini gw di mana?


📽 Eh iya? Lo dimana? Kok belakang lo kek bukan kamar lo sih?


📽 Gw ada di. . . Rumah Elvan! Aaaa... Gw seneng banget diajak nginap sama nyokapnya! Kayak mimpi tau gak?! Tapi, gw udah mukul diri gw berkali-kali, sakit! Itu artinya gw gak mimpi, ini kenyataan Nay! *tersenyum girang


📽 Serius? Wah, selamat dong Tha! Nah, sekarang lo nelfon gw ada apaan?


📽 Gw masih bingung Nay! Gimana ya cara ambil hati nyokapnya, kakaknya, bokapnya apalagi orangnya! Soalnya kakak gw yang diajak ikut nginap di sini justru langsung bisa jalan sama Elvan ke pasar malam! Kan gw juga mauu... *bibirnya melengkung ke bawah


📽 No worry beb! Menurut gw, lo utamain penampilan lo yang jauh lebih sempurna! Nah, terus lo selalu nolong nyokap, bokap, atau kakaknya Elvan aja! Siapa tau nih ya, Elvan terpikat sama penampilan dan sikap lo!


📽 Eum. . . Aiya, mungkin lo harus banyak bicara biar deket sama mereka! Lo tau kan? Lesya tuh gampang deket sama orang lain tapi sikap akhlaknya minus?


📽 Em, bener juga sih! Oke deh, bakal gw coba! Makasih Nayla sayangkuu... Love u so much, muahh


📽 Haha iya dah, bye-bye Tha! Semoga berhasil!


Tuutttt!

__ADS_1


Letha mengakhiri panggilan vidionya bersama Nayla barusan dan mulai kembali memoles wajahnya di meja rias. Hingga Letha merasa jika dirinya mulai terlihat lebih cerah dan wajahnya lumayan cantik, letha merapikan pakaiannya dan berjalan anggun menuju ruang tamu.


Di ruang tamu Letha dapat melihat baik Lesya, Lisa, Luna, Alam dan Elena bermain PS yang ada di sana. Sementara Elvan berada di sofa melihat mereka bermain dengan santainya. Karena merasa adanya celah, dengan cepat Letha berlari dan duduk di sebelah Elvan. "Hai, Van? "


Elvan diam tak menanggapi dan akhirnya memilih untuk duduk di belakang sang kakak saja, Elena. Jangankan menanggapi, melirik saja tidak! Beh, bisa kalian bayangkan rasa sakit yang dialami Letha sekarang ini? Seperti ditusuk namun tak berdarah.


Berbeda dengan yang bermain PS itu. Mereka asik fokus tanpa mempedulikan sekitarnya. Luna tersenyum mengejek ke arah tim Lisa yang beranggotakan Lisa, Alam dan Elena. Sementara dia satu tim berdua dengan Lesya saja. "Aye-aye! Huu.. Gw sama Lesya menang nih bentar lagi! "


"Heleh, bentar lagi palingan gw yang menang! " sinis Lisa. Mata Alam melotot di saat Lesya justru mengalahkan kubu pertahanan tim-nya. "Woee Sasaa, lah k-kok main ngancurin kubu kita sih?! " lotot Alam.


Luna berjingkrak karena dirinyalah dan Lesya yang menang. Sementara Lisa, Elena dan Alam mendesis kecewa karena tim mereka kalah. "Yee bang, emang gitu konsepnya dari zaman batu sampe zaman kucing bertelur anak buaya! " kesal Lesya merenggangkan ototnya.


Luna yang berjingkrak mendengus malas dan menjitak kepala Lesya. "Mana ada kucing bertelur anak buaya! " ujarnya. Lesya meringis kecil dan menyengir. "Auu, aelah lun! Ya siapa tau ada ye kan? "


"Aaaaaaa.... BOD*AMAT! KAPAN SIH ELAH GW BISA MENANG?! Perasaan gw udah latihan seribu kali tetap aja hasilnya gini?! Sebenarnya kalian berdua make pelet apaan sih?! " kesal Lisa menyeplos seraya mengacak rambutnya.


Lesya berdecak malas mendengarnya. "Pelet dari mana cobak?! Tinggal akuin aja elah kalau gw ituh, skillnya jauh di atas lo apa susahnya coba? " sombong Lesya membanggakan dirinya. Lisa menyenye tak jelas saja. "Iya skill lo bagus tapi nilai lo anjlok! Ahaha.. Nilai lo juga di bawah gw keles! " sombong lisa membanggakan dirinya.


Luna mencibir kecil. "Wait deh, bukannya nilai gw jauh lebih tinggi dari lo ya Lis? Kayaknya salah woe! " polosnya mencibir. Lisa menatap datar Luna dan melemparkannya kacang yang dijadikan cemilan mereka. "Sial*n asal bocor bae lo Lun! " malas lisa.


Luna dan Lesya hanya tertawa receh saja melihat wajah malas lisa. "Mental masih aman kan dek? " sahut Elena ikut-ikutan. Alam tertawa kecil mendengarnya. "Hon, jangan ikut nyaut! Biarin aja yang kena mental! " tambahnya.


Lisa menutup telinganya berpura tak mendengar jika semua orang memojokan dirinya. "Aaakh, tau lah! Jangan denger Lis! Anggap aja angin lewat, mereka kurang obat kayaknya! " ucap Lisa mengelus dadanya seolah dia sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Buahaha.. Makanya jangan nyeplos kalau gak tau ada yang lebih atas! " ledek Lesya memegang perutnya yang terasa geli karena merasa jika perutnya sedang diaduk-aduk bagai adonan.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2