Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
343: Tak Sadar


__ADS_3

Suasana rumah mewah milik keluarga ternama sangat ricuh. Gerombolan anak-anak remaja sedang saling lempar canda tawa di ruang makan rumah mewah kediaman Grey itu. Hanya Letha dkk saja yang tak terlalu banyak berbicara.


"Gimana Lam? Mau bunda bantu? " tawar Mayang yang tak sanggup melihat Alam acak-acakan berperang dengan peralatan dapur. Bukan takut barang-barangnya rusak, Mayang hanya takut jika anak orang kenapa-napa saja. Laki-laki loh!


Alam menggeleng sopan saja. Ini sekian kalinya Mayang menawarkan bantuan. Elena saja juga menawarkan diri untuk membantu. Namun kondisi wanita yang berstatus istrinya itu yang sedang mengandung buah cintanya, Alam menolak keras setiap Elena hendak masuk ke dalam dapur. Dia kan suami siaga!


"Gw tebak dari aromanya, kurang yakin gw sama masakan bang Alam! " lirih Leon namun terdengar jelas di telinga mereka semua. Luna tertawa kecil saja mendengar ucapan Leon yang lebih tepatnya ke meledek. Padahal belum cicipin masakan Alam, Leon sudah nethink begini!


"Gak tau aja lo gimana bang Alam? Ambrol bener kalau perkara dapur! Palingan cuman bisa roti bakar, nasgor, telor sama mie atau gak air! " sahut Luna.


"Beneran? " tanya Elena heran.


"Dulu cuman itu sih kak cuman nambah lagi waktu dia bilang mau masakin buat pacarnya! Behh, waktu itu bang Alam ngerecokin rumah Lesya di Prancis nyampe dapurnya kebakaran! Ya diomelin deh sama yang pemilik rumah karena asal main bakar! " jujur Leon geleng kepala. Elena hanya menganga tak percaya saja.


"Lesya punya rumah di Prancis? "


Luna dan Leon menoleh ke arah Mayang yang ikut menyahut. Mereka mengangguk kompak menjawab pertanyaan wanita berusia hampir setengah abad itu. "Iya tan, cumen jarang dipakai aja rumahnya karena kita tuh banyakan di Indonesia! Makanya Lesya tuh banyakan bolos buat ke luar negri entah ke Belanda, Amerika, Jepang, Singapore, banyak deh pokoknya asal buat refresing! " jawab Luna jujur.


"Gilee, duit dari mana tuh bolos aja kadang nyampe ke luar negri? " sahut Ken geleng kepala mendengar cerita Luna. Luna hanya mengangkat bahunya acuh saja. "Lo lupa dia kerja? Kalau gak dapet dari hasil hotel palingan dari cabang lain perusahaan papinya! " kata Luna acuh.


"Enak sih CALPER! " gumam Leon.


"CALPER apa yang? " tanya Lisa bingung.


"Calon pewaris sayangku! " jawab Leon.


"Semoga pasangan gw nanti gak terlalu lebay sama gw! Semoga juga dia gantengnya melebihi my WWH alias Kim Seokjin! Semoga nanti dia kasih duitnya ke gw juga melebihi pak Ketos kasih buat sahabat gw! Semoga juga dia gak resek kayak alien planet Mars! Se--- "


Belum selesai Luna menyerocos, Lisa melempar gadis itu dengan kacang yang ada di sana. "Heh banyak banget mau lo tapi lo sendiri yang gak mau cakep dikit doang! " cibir Lisa. Luna menatap nyolot ke arah Lisa. "Like-like me lah! " acuhnya.


"Apaan tuh like-like me? " tanya Revan.


"Suka-suka saya! " polos Luna menjawab.


"Kayaknya pemilik rumah sakit jiwa nyariin lo deh Lun, soalnya lo mulai stress nih! " malas Valen menyahut. Luna menatap horor saja ke arah Valen seolah tak ingin berbicara dengan lelaki itu.


"Kalian lanjut dulu, Letha mau ke atas! "


Letha yang penasaran mengapa Lesya dan idolanya di sekolah—Elvan tak kunjung turun, akhirnya memutuskan untuk mengintip kedua pasutri itu. Oh iya, kedua pasutri itu sebenarnya sedang berada di kamar membicarakan masalah sambungan telepon Vay tadi.

__ADS_1


Luna tersenyum remeh pada Letha yang sudah berjalan di atas tangga rumah mewah itu. "JANGAN LAMA-LAMA THA, PINGSAN NANTI LO KALAU LIAT MEREKA LAGI ENAK-ENAK! " kata Luna dengan nada yang sedikit dikeraskan.


"Luna?! " peringat Alam dari dapur.


"Hehe, peach bang! Abisnya tuh anak bege atau emang gobl*k sih?! Padahal jelas-jelas dia udah tau Lesya sama ketos itu udah sah alias halal! Masih aja tuh anak kejar-kejar ketos, mirip pelakor anj*r! " geleng Luna. Nayla yang tak terima sahabatnya dihina begitu akhirnya angkat suara. "Emang salah sahabat lo aja tuh yang jadi pengkhianat! Pantesan Letha minta kita buat punya mansion bertiga ternyata karena kakaknya jelmaan iblis! " cibir Nayla tak kalah pedas.


"Lo masih belom tau segalanya udah deh diem! Tuh mansion kan sebagian besar uangnya dari Letha kan? Nah lo tau gak uang Letha itu dari siapa? Dari Lesya sendiri yang kerja bukan dari Gilang ataupun tabungan papinya! " sarkas Luna tenang namun menohok. "Lo tinggal nikmatin hasil doang padahal lo holkay loh! Makanya ngaca sebelum gw lempar lo kaca! " lanjut Luna pedas.


"Lun udah keburu kebongkar! " bisik Leon. Luna hanya mengerucutkan bibirnya manyun saja. Akhirnya karena suasana ruang makam yang begitu mencekam, akhirnya Revan yang tanggap memulai pembicaraan lagi agar mencair. Tentu saja alhasil mereka semua saling melempar canda tawa seperti semula.


Balik lagi pada. . .


Letha yang mendengar itu melotot. Gadis itu tak berbalik namun hanya mengeraskan genggaman tangannya pada penyangga tangga saja. Mempercepat langkah kakinya, Letha hanya terdiam mematung saja melihat dari luar pintu Elvan yang sedikit terbuka. Dia menahan sesak di dadanya di saat Elvan mengencup kening Lesya dengan durasi yang cukup lama jika menurutnya.


...~o0o~...


Lesya dan Elvan yang berada di kamar terus berdebat kecil karena masalah pendapat mereka yang berbeda. Lesya yang tetap nekat untuk menjadikan dirinya sendiri umpan dan Elvan yang tak ingin Lesya tak kenapa-napa. Btw, ini saat belum ada Letha yang nguping ya gays :v


"Gitu aja rencananya gimana? " tanya Lesya setelah memberitahu Lesya mengenai rencana dia nantinya. Lesya juga sudah memberitahu pada Elvan mengenai pembicaraan dia dengan Vayleen tadi di sambungan telepon.


"Enggak! Bahaya kalau lo bisa dilukain sama Vion nanti! " tolak Elvan mentah-mentah. Lesya menajamkan pandangannya menatap Elvan tanpa rasa takutnya. "Tapi ini kesempatan emas gw buat hentiin perdebatan kita Pan! " kekeh Lesya yang tetap ingin terlibat dalam peperangan gangsternya nanti.


"Le?! "


"Apa?! "


Memegang kedua bahu sang istri yang terlihat tak bersahabat itu, Elvan mengecup sekilas kening Lesya lembut dengan durasi sedikit lama. Lesya hanya diam saja menerima perlakuan Elvan. Nah kalau sekarang ini, penguping sudah ada ya gays di luar. Btw, baru dateng dia :b


"Denger gw, lo itu istri gw! Kalau lo kenapa-napa nanti gw juga yang repot. Kali ini lo denger lah kata gw ya? Gw gak mau lo sampai kenapa-napa dibuat Vion. Rencana lo emang bagus tapi masalahnya antara lo dan gw yang gak ada paham? Sekarang gw tanya, lo mau kehilangan gw? " tanya Elvan dengan tenang namun sedikit menusuk pada Lesya.


Tentu saja Lesya menggeleng.


"Enggak! Jangan tinggalin gw! " cepat Lesya lalu memeluk Elvan erat seolah tak ingin ditinggal. Senyum tipis terbit di bibir lelaki itu. Elvan mengusap anak rambut Lesya dan membiarkan gadisnya memeluknya seberapa erat pun.


"Makanya, jangan yah? " bujuk Elvan lembut. Lesya mengangguk cepat. Jujur saja dia lebih baik tetap bermusuhan dibandingkan kehilangan lelaki yang dia peluk itu. Elvan tersenyum lega dan melepaskan pelukan Lesya. Hidung mereka bersentuhan. Bahkan mereka dapat merasakan aroma khas tubuh pasangan mereka masing-masing.


"Bener kata Luna, lo tambah gembul! "


Lesya mencebikkan bibirnya. Meninju keras lengan Elvan, sang empu hanya mengaduh kecil saja seolah merasa sakit dengan tinjuan sang kekasih halalnya. Wait, kekasih halal? Mereka sepasang kekasih kan ya? Hanya sikap mereka saja yang biasa tanpa embel-embel lebay. Menurut mereka jika saling romantis begitu, mereka sendiri yang geli.

__ADS_1


"Maksud lo gw gendut hah?! Yaudah sana cari yang lain yang bohay plus ramping biar enak lo peluk-peluk, lo sayang-sayang, biar dia juga bisa muasin lo tuh sekalian! Kan gw gak perlu lagi cape-cape nguras tenaga buat urusin lo! " galak Lesya. Elvan menggeleng. Berbalik menangkup wajah Lesya, Elvan sedikit menekan kedua pipi gadis itu hingga bibirnya tercondong ke depan.


"Enggak, maksud gw tuh lo makin imut begini! Kan jadi gak mau dibawa keluar sayangku... " jelas Elvan lalu menempelkan bibirnya di kedua pipi Lesya sekilas dengan bergantian.


"Sayang? " beo Lesya.


"Iya sayang! Kan gw sayang sama lo cantik! " jawab Elvan enteng. Lesya hanya tertawa pelan saja. Tangannya masih tetap berada di pinggang lelakinya.


* Bull-****! * gumam Lesya dalam hatinya.


Ayolah, wajar sekali bagi Lesya berkata demikian di dalam hatinya. Selama ini dia masih belum pernah merasakan kenyamanan begini. Apalagi setelah merasakan hidup kekeluargaan dan seatap dengan lelaki yang berstatus musuh sekolahnya. Rasanya semua seperti mimpi indahnya. Namun dia tahu ini nyata karena setiap dia bangun, dia tetap berada di rumah mewah milik keluarga Grey.


"Udah ke bawah aja nyusul yang lain! " kata Elvan dan dibalas anggukan kepala Lesya. Lesya mengambil ponselnya sejenak dan berjalan menyusul Elvan. Saat mereka keluar, sudah tak ada Letha yang menguping. Elvan sadar ada yang menguping namun dia tetap bersikap biasa saja agar Lesya tak curiga dan menimbulkan keributan dengan Letha.


Tung!


Tanpa sadar Lesya menjatuhkan sebuah kalungnya saat menggaruk tenguk lehernya. Tentu saja karena gaya gravitasi ada di planet bumi, kalung tersebut jatuh tepat di lantai depan kamar Letha.


...~o0o~...


"Iya sayang! Kan gw sayang sama lo cantik! " jawab Elvan enteng. Lesya hanya tertawa pelan saja. Tangannya masih tetap berada di pinggang lelakinya.


Letha yang masih di luar mendengar hal itu hanya diam saja dan berpura masuk ke dalam kamarnya. Kamarnya? Iya, kamar yang dahulu pernah dia tempati. Sudah runtuh semua wajah tegarnya. Dia hanya menumpahkan tangisnya di kamar itu saja. Bayang-bayang tentang sikap Elvan pada Lesya masih terbayang di benaknya.


DIA IRI!


"Tunggu nanti lo Sya! " geram Letha lalu menghapus bekas air matanya


Saat dia keluar dari kamar, betapa terkejutnya dia saat menginjak lantai yang sedikit kasar. Melihat ke bawah, diambilnya lah kalung bertulisan


'Elvano G' itu dan tersenyum penuh makna. Tentu saja tanpa berpikir panjang dia menyimpan di sakunya dengan baik. Senyum indahnya terus menghiasi wajahnya selama turun dari kamar.


* Wait me Sya! * batin Letha tersenyum.


Licik? Dia tak peduli!


Besok? Sekarang juga boleh!


Kesempatan emasnya!

__ADS_1


__ADS_2