
Pasrah, Lesya menggulingkan lengan kaki dan tangannya lalu masuk ke tepi sungai. "Gak enak mancing kek gitu! Mending gini! " Memasukkan tangannya ke dalam sungai, Lesya berhasil menemukan satu ikan dan berusaha menangkapnya.
"IKAN WOY IKAN! " pekik Leon.
"TANGKAP BEGOK SYA! DEPAN MATA TUH!! " tambah Luna.
"SABAR BANGS*T!! " kesal Lesya.
"BAKAR IKAN NANTI MALEM SYA! " ucap Lisa.
"BISA SABAR GAK SIH LO PADA?! SUSAH NIH UWWAHHH!! " pekik Lesya.
Tertangkap satu ikan, Luna dengan cepat mengambil satu ember dan mengarahkannya ke arah Lesya. "MASUKKIN KE SINI SYA!! "
Memasukkan ikan ke dalam ember, Lesya memundurkan beberapa langkahnya ke belakang. Untung saja ada tangan kekar yang sigap menahannya agar tak terjatuh.
Grebb!
Menarik ke arahnya, Lesya sontak membentur dada orang yang menariknya. "Ouch! " Pandangan mereka bertemu hingga tanpa sengaja Valen terbatuk. "Uhuk! "
Pluakk!
Reflek, Luna menoyor belakang leher Valen. "Aw! " Menatap tajam, Valen hanya menggaruk belakang telinganya yang tak gatal di saat tiga tatapan tajam mengarah padanya.
Lesya mengalihkan pandangannya di saat Elvan menatapnya sekilas. "BANGS***! Kaget gw! " latah Lesya saat merasakan ada sesuatu di bawah kakinya.
"Eh ikan tuh! Tangkep-tangkep! Nanti malem bakar-bakar ikan kita! " ucap Lisa. Luna terdiam menatap Leon yang berada di sampingnya. "Dalem gak Sya? " tanya Leon yang paham maksud Luna.
Lesya menggeleng. "Kalo gak dalem gw juga gak bakal tenggelem kali! " Luna sontak perlahan mulai masuk ke dalam sungai. "Rel, tuh ikan di samping lo! " ucap Lisa perlahan ikut masuk ke dalam sungai.
Alhasil mereka mulai menangkap ikan walau sesekali mereka terjatuh. Guru-guru tak mempersilahkan murid lain mengikuti aksi mereka karena takut ada yang hilang.
__ADS_1
Mengapa? Karena guru-guru sangat hafal dengan wajah Elvan dkk dan Lesya dkk yang memudahkan tahu siapa saja yang hilang atau tidak. Selain itu, mereka tahu jika terjadi sesuatu diantara mereka, pasti mereka akan berteriak.
Ingat? Suara mereka bagaikan petir menyambar yang disertai gemuruh yang amat estetik? Apa lagi yang berteriak itu Luna, Lisa, dan Lesya!
Banyak siswa-siswi yang iri melihat kedekatan mereka semua. Seraya mengamati sekitar sungai, mereka memperhatikan arah sungai juga.
Byurr!
Luna dengan sengaja nya mencipratkan air kepada Lesya yang mendapatkan ikan lalu tertawa. "Haha! Lucu lo Sya! " Tak mau kalah, Lesya mengusap wajahnya dan menendang air mengenai Luna. "Mamp*ss! " balasnya.
"Njirr! Kalo mau berantem jangan kena sama gw dong! " ucap Ken. Akhirnya baik Lesya dkk dan Elvan dkk saling menciprat air satu sama lain seraya menangkap ikan yang ada. Kecuali Elvan tentunya.
Hingga akhirnya Lesya meletakkan satu ikan yang dia tangkap di ember besar pemberian pak Kevin tadi, dan tak sengaja melihat Elvan yang wajahnya sama sekali tak basah. "Hem.. Gas lah! " gumam Lesya kecil seraya tersenyum jahil.
Slaasshh!
Dengan sengaja nya Lesya mengambil air sungai dengan tangannya dan mencipratkan nya ke arah wajah Elvan. "Wahaha... Kena kan lo! " tawa Lesya.
"Blaahh! Ngajak ribut? Ayok sini! " tantang Lesya kesal. Valen merangkul Elvan ala lelaki dan angkat suara. "Santai! Jangan ribut! Kita ke sini bukan buat ribut! Ki---- "
Terhenti, mereka menoleh ke arah dimana Luna mundur kebelakang dikarenakan ikan yang dia tangkap tak dapat diam. Karena tuh yang tak seimbang, Luna akhirnya mundur dan tercebur ke belakang sungai. "ARHH! "
"LUNA! " Tanpa berpikir dua kali panjang kali lebar, Lesya berendam dan mulai ikut mencebur kan diri. "Lesya! Haiss! " desis Leon hendak ikut menolong namun tertahan Lisa. "Jangan! Biar yang lain yang selametin! "
"Masalahnya Luna gak bisa renang! " ucap Leon. Lisa berpikir dan menemukan ide di benaknya. "Valen aj--- Loh? Valen mana? Dia jago renang noh! "
Frans menunjuk ke arah Valen dan Elvan yang sudah menghilang sejak tadi. "Noh! Waketos and Ketos udah duluan nyebur! Tunggu aja, mereka ahli renang! "
Akhirnya Leon dapat bernafas lega walau sedikit resah karena kedua sahabat yang dia anggap keluarganya masih belum menampakkan dirinya. "Kita tunggu! " ucap Lisa menenangkan. Leon mengangguk kecil saja.
"Kalian semua ayo naik! Kalau kecebur gimana?! " ucap bu bunga. Alhasil mereka naik dan menunggu kabar dari atas rerumputan tepi sungai. "Moga aja mereka selamat! " ucap Ken diangguki oleh mereka semua.
__ADS_1
Hening!
Tak ada suara dari guru-guru, siswa-siswi, bahkan Letha dkk yang masih syok dengan kejadian yang berlangsung. "Kakak! " lirih Letha.
Letha ingin menyusul keberadaan Lesya saat ini. Namun, apa daya dia? Dia tak dapat berenang di tempat yang dapat menenggelamkan wajahnya. Sebatas dagunya saja yang dia mampu.
Amanda yang melihat sedikit terkejut. Namun, keterkejutan nya berubah menjadi senyum penuh licik secara diam-diam.
* Moga aja tuh dua cewek gak selamat! Dasar pembawa si*l! Vannya gak ada karena mereka! Papa selalu marah sama gw karena misi gw yang gagal hancurin mereka! Dan.. Kini semua bergantung keadaan! Gw do'akan agar mereka tak selamat! Dengan begitu, gw bisa deketin Elvan dan mengusir adik pembawa si*l dengan mudah! Sksk, emang pinter lo Manda! * batin Amanda mengukir kan senyum liciknya.
Di dalam sana, Lesya masih terus membuka matanya melihat sekelilingnya. Rupanya Luna berada di dasar sungai yang tak terlalu dalam itu. Banyak ikan-ikan yang terlintas di sana.
Memang hutan tersebut cukup asri hingga air sungai tak terlalu kotor. Sedikit penduduk yang ada di sekitar hutan bahkan sangat sedikit.
Tanpa basa-basi, Lesya dengan cepat menghampiri Luna yang sudah mulai kehabisan nafas namun masih sadarkan diri. Sedikit terkejut, Luna dapat bernafas lega di dalam hatinya jika Lesya sudah datang.
Sebenarnya dia tak tergantung dengan Lesya. Dia hanya berharap nyawanya masih ada untuk ikut membalas dendam Lesya suatu saat nanti. Eitts, ralat! Bukan membalas dendam karena Lesya tak memiliki perasaan dendam pada siapapun.
Menurut Lesya, dia hanya menyelesaikan segala masalahnya nanti entah itu kapan. Terpenting, saat ini dia menyelamatkan Luna kembali. "Lun blu... " ucap Lesya dengan sedikit air yang masuk ke dalam mulutnya walau tak tertelan.
Menarik pergelangan Luna, Lesya terkejut dengan kakinya yang sedikit masuk ke dalam tali yang ada. Samar-samar melihat pergelangan kaki Lesya yang masuk ke dalam tali, Luna juga melihat adanya Valen menghampiri mereka. Catatt! Hanya Valen saja!
"Emmmm! " kesal Lesya memperhatikan kakinya yang masuk ke dalam tali. Bukannya terlepas dari tali, pergelangan kaki Lesya justru semakin terbelit dan erat masuk ke dalam tali.
Valen menepuk pundak Lesya dan mengisyaratkan agar dirinya lekas membawa Luna yang hampir kehabisan nafas. Lesya mengangguk saja dan fokus pada ikatan di tali tersebut.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Selamat gak nih? Btw, visual Luna cocok gak nih sama sikapnya? Moga cocok ya!
__ADS_1