Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
356: Darurat


__ADS_3

I'm the first to say that I'm not perfect~


And you're the first to say you want the best thing~


But now I know a perfect way to let you go~


Give my last hello, hope it's worth it~


Here's your perfect~


—Here's Your Perfect: Jamie Miller—


***


Menyalakan musik di sepanjang mobil, seorang gadis juga turut ikut bernyanyi dalam beberapa lirik lagu yang sedang trending di media sosial. Dia meletakkan ponselnya di sebuah tatakan ponsel yang menempel di depan stir mobilnya dan juga dekat dengan kaca mobilnya agar tak menghalangi pandangannya.


Saat hendak mengerem mobil di sebuah jalan raya karena lampu menandakan warna merah, Lesya terkejut karena rupanya pedal remnya sama sekali tak berfungsi. Alhasil dia menerobos lampu merah hingga mengundang sirene polisi berhamburan untuk mengejarnya.


"Mamp*s! " gumam Lesya mengumpat.


Menaikkan kecepatan mobilnya, satu tangannya beralih mengotak atik ponselnya mencari nomor kontak di ponselnya. Aleesya adalah nama gadis itu. Dia seolah menggunakan kedua matanya saat ini. Satu untuk melihat jalan dan satunya untuk melihat ponselnya.


You calling 'Singa Kutub😾'...


Lesya terus menunggu sambungan telepon agar tersambung. Dia juga sudah meloud speaker agar terdengar jelas padanya. Dia tak menggunakan mobilnya yang selalu siap teknologi canggih. Dia hanya bermodal pistol, pisau lipat dan ketana versi mini. Gadis itu mana dia tahu jika ada orang berniat mencelakainya dengan mobil bukan fisik. Lalu siapa?


Lesya berdecak kesal saat sambungan telepon nya tak kunjung diangkat. Dapat dia simpulkan jika Elvan sedang sibuk. Kembali dan terus menelepon, karena tak terus tersambung kepada sang suami, mata Lesya memerah menahan tangisnya. Jujur dia takut sekaligus panik sekarang.


"Pan, angkat pleasee! " gumam Lesya.


...~o0o~...


Sementara di sekolah mewah, istirahat kedua sedang terlaksana. Siswa-siswi kini tak hanya ke kantin namun mereka berpencar ke taman sekolah, ruang musik, perpustakaan, lapangan, dan lain sebagainya. Dengan masing-masing temannya, kini kita beralih pada suasana yang terjadi di kantin sekolah saja.

__ADS_1


Dua gadis dengan pemikiran yang sama sedang duduk di pojok kantin. Mereka tak memesan apapun hanya menongki seperti biasa saja. Pikiran mereka hanya tertuju pada perubahan Leon. Ya itu adalah Luna dan Lisa.


"Mungkin gak sih tuh anak ngambek gara-gara gw pernah ledek dia mental tempe? " bingung Luna. Lisa menggeleng tak tahu. Wajahnya benar-benar lesu dan kehilangan naf*su makan. Hanya satu obat penawarnya yaitu kehadiran sang kekasih hatinya yang tengah menghindari dirinya tanpa sebab. Dia saja tak tahu apa kesalahannya pada sang kekasih.


Di saat mereka yang tengah galau memikirkan hal yang sama menoleh seketika. Ponsel Luna berdering cukup keras karena volume suaranya sengaja Luna naikkan. Kening mereka berkerut saat sama-sama melihat ke layar ponsel. Kontak bernama 'Echaa Pawang Ketos' membuat mereka sedikit merasa resah.


Echaa Pawang Ketos calling you..


📞 Halo Sya, kenapa?


📞 Ada Papan gak? Suruh dia hubungin gw, darurat!


📞 Hah? Dia? Bentar gw susul ke ruang OSIS nih bareng Lisa!


Luna mengkode Lisa agar ikut dengannya berjalan sedikit tergesa-gesa ke arah ruang yang sudah lama tak dia kunjungi. Lisa yang paham hanya mengikuti Luna dari belakang saja. Jujur saja mereka sama-sama bingung dengan sambungan telepon Lesya yang dadakan itu.


Setibanya di ruang OSIS atau kerap dipanggil RuaSis, Luna dan Lisa terhenti dan membaca sebuah peringatan surat di depan pintu ruangan itu. 'HARAP TENANG, SEDANG BERLANGSUNGNYA RAPAT OSIS!', begitulah kata-katanya di sana. Luna dan Lisa sama sekali tak mempermasalahkan rapatnya OSIS atau tidak. Namun di dengar dari suara Lesya, Luna dapat tebak jika sahabatnya sedang berada di sebuah masalah.


📞 Ehh bentar deh, ini tulisannya di pintu RUASIS katanya ada rapat OSIS Sya!


Tuttt!


Luna tersentak terkejut. Namun dia berhasil menetralkan wajahnya setelah mendengar pesan Lesya yang menyuruhnya agar tak panik ataupun teriak. Ya, kalian tau kan jika terkejut Luna pasti akan mengeluarkan suara cempreng nya. Itu sebabnya Lesya berpesan agar sang sahabat nantinya tak teriak.


"Kenapa? Ada masalah nyampe kita ke sini? "


Luna menoleh pada Lisa yang bertanya padanya. Luna menghela nafasnya dan berbisik memberitahu pada Lisa kondisi Lesya saat ini. Lisa sempat terkejut namun dia ikut menetralkan wajahnya sama seperti Luna setelah ditepuk pelan seolah sebuah kode agar tak membuat keributan di depan ruang OSIS ini.


"Terobos gak nih? " usul Lisa polos.


Luna menatap Lisa sejenak dan menimbang agar tak sembarang masuk. Akalnya teringat dengan Lesya yang sudah menunggu bantuan merek pastinya. Kedua gadis itu tersenyum smirk seolah satu pikiran. Tangan Luna memegang knop pintu dan membuka pintu kecil tanpa mengetuk.


"Haiiii.. Hehe, " cengir mereka berdua menyembulkan kepala mereka ke dalam ruangan OSIS. Sangat imut bahkan kaum lelaki di sana bahkan hampir mimisan.

__ADS_1


Valen yang kebetulan mejanya berada di samping pintu ruang OSIS menutup kedua wajah gadis itu menggunakan dua tangannya. Mereka sedang OSIS dan mengapa mereka datang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?! Sangat tak sopan sekali hingga rapat mereka terpaksa sedikit tertunda sekarang.


"Heh, kalian ngapain masuk-masuk?! " tanya Valen sedikit ketus. Luna memasang wajah datarnya dan masuk ke dalam ruangan itu. Melihat raut wajah serius Luna, Valen dan Elvan kini menyadari jika gadis itu sedang ingin mengutarakan permintaannya sekarang, mungkin.


Berbeda dengan Lisa justru menerobos tanpa berdiri di pintu lalu berjalan ke arah Elvan. Dia berbisik pelan pada sepupunya dan memberitahu keadaan Lesya yang darurat di seberang sana. Mata Elvan sontak membola karena terkejut dan menutup satu berkas yang dia pegang.


"Rapatnya undur, gw balik dulu! " pamit Elvan datar lalu mengemasi barang-barangnya. Mengkode ke empat temannya, dengan tanggap mereka paham dan ikut mengemasi barang-barang mereka. Setelah itu barulah mereka berjalan pergi dari ruang OSIS itu.


"Jangan lupa, nanti pasang dekorasinya ya! Man, gw percayain sama lo ya! " pesan Valen sebelum pergi dan diangguki oleh para anggota OSIS yang lain. Arman, selaku pengganti Elvan dkk yang pergi juga hanya mengancungkan jempolnya seolah siap saja. Mereka bingung namun mereka tak dapat mencegah. Toh rapat mereka memang hampir selesai kok.


"Loh mau kemana yang? " tanya Amel yang sedang bertepatan dengan sang kekasih. Letha dkk memang dari UKS menemani Letha yang pingsan itu. Bahkan Letha kini sudah sadar dan mulai tenang dibandingkan sikapnya yang tadi.


Sontak mereka menghentikan langkah mereka dan menatap Letha dkk sejenak saja. Berpikir sejenak, Luna akhirnya memberitahu saja mengenai kondisi darurat Lesya. Toh sebagai adik kembar Letha harus tahu walau tak akur.


"Rem yang Lesya kendarain blong! "


Keempat teman Elvan dan Letha dkk terkejut. Deringan telepon dari Lesya membuat mereka menoleh sejenak. Luna dengan segera menggeser tombol hijau pada layar ponselnya setelah melihat nama kontak 'Echaa Pawang Ketos' kembali menghubungi dirinya.


📞 Halo Sya?!


📞 Jalan Raya ******** ******!


📞 Sabar ini pada OTW nyu---


Tuttt!


"Lah? Haloo?? Sya?! "


Luna dibuat panik di saat sambungan telepon mereka terputus. Elvan yang dapat menebak kondisi Lesya saat ini, dengan segera berlari ke arah parkiran. Meninggalkan teman-temannya, dia sedikit tersentak di saat gelang tangannya mengirimkan sinyal jika Lesya di seberang sana sudah tak baik-baik saja.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<

__ADS_1


Update awal nihh, dapet apa ya kira-kira~


__ADS_2