Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
336: Tunangan


__ADS_3

Kantin tampak ramai sekarang. Baik siswa-siswi berlalu sana sini ke kantin dengan para teman-temannya seraya membahas carnaval. Memang pasalnya baik kelas 10 hingga kelas 12 ikut berpartisipasi. Bahkan tak jarang beberapa siswa-siswi menanya kepada bu kantin mengenai resep makanan.


Berbeda dengan kelas 12 B sekarang. Mereka masih tetap tenang karena ketua kelas mereka, Lesya lah yang menentukan besok makanan dari daerah apa mereka. Menurut mereka yang terpenting adalah pembagian tim. Jika para siswa lelaki akan mengatur segala tempat duduk dan para siswi perempuan yang mengatur makanan maka, pengurus kelas akan mendekorasi tempat kelas mereka nanti. Adil kan? Yaiyalah, ide Lesya gitu loh!


Di meja kantin yang paling pojok, sedari tadi seorang gadis tengah mengaduk makanannya. Bahkan ketiga temannya bingung mengapa tingkah cerianya berubah menjadi murung begini.


"Alunaaa Margaretha! " panggil Lesya.


Luna sontak saja tersadar dan mengelus dadanya yang hampir loncat. Bagaimana tidak? Lamunannya seketika terbuyar begitu saja karena Lesya yang sedikit berteriak tepat di sebelah telinganya.


"Apa sih Syaa... " lesu Luna.


"Lo ada masalah Lun? Sini cerita sama kita! " kata Lesya menebak. Luna hanya menatap ketiga temannya saja. Dia beralih mengulurkan jari manisnya ke arah ketiga temannya. Tentu saja mereka syok dengan cincin yang terikat di jari manis gadis itu.


"Gw udah tunangan! " lirih Luna.


WHAT THE HELL?!!


"Tunangan? " beo Leon dan Lisa bersamaan. Luna mengangguk lemah saja. Berbeda dengan Lesya yang sudah menggulungkan lengan bajunya seolah siap melabrak seseorang saat ini. Niatnya akan menghampiri seseorang yang menjadi tunangan sahabatnya itu. Wah-wah, harus lewat dia dahulu baru boleh menerobos Luna.


"Siapa? " datar Lesya.


"Valentino Clarence! Huwaaa, gak nangka gw ngalamin hal yang sama kayak lo Sya cumen bedanya gw nikahnya pas lulus SMA nanti! Jangan labrak orangnya Sya, percuma juga mama yang minta karena orang-tua Valen sama mama dulu deket banget! Miris sih nasib gw kayaknya kena karma gara-gara sering ledekin lo sama ketos dah! " lesu Luna menahan tangan Lesya yang hendak siap berdiri.


Sontak mereka terdiam dan kembali duduk menatap penuh tanya ke arah Luna. Gadis yang ditatap dengan rasa penuh penasaran teman-temannya, menghela nafas pelan sebelum bercerita.


—Flashback on—


Di sebuah parkiran butik terdapat satu wanita yang berjalan dengan beberapa barang di tangannya. Sayangnya, dia kesusahan membawa semua barang-barangnya. Saat satu lelaki lewat dan melihat kesusahan wanita itu, dengan cepat mendekat dan menepuk pelan pundak wanita itu agar tak mengejutkan.


"Bu, butuh bantuan? " tawarnya.


Wanita itu menoleh dan menatap anak lelaki remaja yang sepertinya seusia dengan anaknya. Pakaiannya masih seragam sekolah dengan logo sekolah Gregus. Lelaki itu juga menggunakan almamater OSIS kebanggaannya yang terpasang tag Wakil Ketua OSIS di almamaternya itu. Wajah lelaki itu terasa familiar di benaknya membuat seketika terdiam dan mengembangkan senyumnya.


"Kamu. . . Joshua? " tanya wanita itu dan mengabaikan pertanyaan tawaran lelaki muda di depannya. Senyum tipis kembang di wajah lelaki itu. "Saya Valen bu, kalau Joshua papa saya. " jawabnya seraya menahan pedihnya dengan senyumnya.


"Ah, oke saya paham. Boleh nak tolong bawa ke dalam ya. " pinta Henny yang ternyata adalah wanita yang ditolong lelaki remaja itu. Valen yang ternyata lelaki yang menolong Henny hanya tersenyum kecil saja. Menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya, dengan segera dia mengangkat box besar yang berada di bagasi mobil Henny.


Mereka berjalan beriringan ke arah toko butik yang bernama Hanny-Boutique yang dia rancang setelah kepergian sang suaminya sesuai nama panggilannya itu. Setelah tiba, Henny tentu saja membuka pintu dan mempersilahkan Valen agar barangnya dibawa masuk ke dalam.

__ADS_1


"Kamu letakkan di sana saja, saya mau ambil sesuatu dulu oke? " ucap Henny lalu berjalan ke arah ruangannya. Valen hanya mengangguk patuh saja. Sesuai tunjukan Henny, dia meletakkan box besar itu di samping meja seseorang. Dan betapa terkejutnya di saat pandangan matanya menoleh ke arah samping meja orang itu.


"Elo?! "


Orang itu menoleh. Matanya melotot melihat Valen yang berada di sana. Gadis cantik yang berketurunan Tionghoa dari sang ayah menatap garang Valen. Teman bertengkar di sekolahnya muncul siapa lagi kalau orang itu bukan Luna?


"Ngapain lo di sini?! " galak Luna.


"Dih, gw ke sini buat nolongin orang ya. Jangan ge'er duluan! " jawab Valen tak kalah galak. Tiba-tiba saja mereka menoleh ke arah depan melihat siapa yang datang. Rupanya Henny yang baru saja mengambil barang yang dia inginkan.


"Wah-wah, lagi akur rupanya! " celetuk wanita yang berusia tak muda lagi. Sontak saja Luna dan Valen melotot tak percaya. Ribut begini di bilang akur? Helloo, sampai kapan pun Luna ogah kali. Kalau Valen, dia masih diam saja karena bingung dengan situasi di depannya ini.


Henny tanpa dosanya mengusir Luna yang duduk di satu kursi. Tentu saja gadis itu mengalah dan mempersilahkan sang ibu duduk di kursi yang tadi dia ditempati. Menatap keduanya, Henny seolah memasang wajah seriusnya kali ini.


"Kalian tunangan! "


WHAT THE HELL??!!


Entah angin bertiup apa pun, Henny mulai menceritakan bagaimana persahabatannya dengan mendiang orang-tua Valen dan hal itu membuat mereka terenyuh dalam cerita. Queen of Drama saat sekolah adalah Henny dan mungkin mereka masuk ke dalam drama itu, wkwk...


"Kalian dulu udah tunangan waktu bayi dan masalah cincinnya kan udah kecil karena dikasih waktu bayi, nah sekarang nih cincin gantinya! Pasang-pasang! " antusias Henny.


No, apa ini?!


Luna dan Valen saling berpandangan setelah saling memasangkan cincin karena paksaan drama Henny. Pikiran Valen bercamuk mendengarnya. Dia yang bantuin, dia juga yang berakhir begini. Kalau begitu dia tak usah membantu tadi! Eh, tapi kasian juga lihat wajah kesulitan Henny tadi. Taulah?!


Berbeda dengan Luna yang menatap kosong cincin di jari manisnya. Ayolah, dia selama ini memiliki rasa kagum dengan Valen hanya saja ditutupi oleh wajah judesnya. Tapi jika begini. . . Sama saja dia masuk lubang buaya mamanya sendiri. Bagaimana dia menghadapi Valen nantinya? Akh, mamanya aneh sekarang!


"Kalau soal nikahnya setelah lulus nanti ya! " antusias Henny dengan tampang polosnya. Percayalah, kedua remaja berbeda jenis itu melotot dan saling berpandangan seolah memberi perhitungan pada keduanya.


Satu kata buat mereka, sial! Mereka baru saja tunangan lalu langsung membahas hal pernikahan? Gilak sih tapi jika melawan Henny, wajah wanita itu mungkin akan berkaca-kaca memerah menahan tangis. Luna tak mau mamanya menangis hanya karena dirinya. Jika mamanya menjaga dia dahulu, sekarang giliran dia yang menjaga mamanya. Luna ini anak yang sangat berbakti kan?


—Flashback off—


Lesya, Lisa dan Leon yang mendengarkan cerita Luna hanya menahan tawa. Mereka tak menyangka Luna akan bertunangan dengan orang yang selalu dia judesin. Mungkin mereka juga berpikir hal yang sama dengan gadis berwajah campuran Tionghoa itu. Bagaimana nanti jika kedua insan itu bertemu? Apa kembali ribut? Atau justru menjadi damai?


"Aneh sih. " lirih Lisa geleng kepala.


Lisa salah satu anggota Tiger Wong. Dan dia juga dekat dengan Valen. Menurutnya Valen adalah seseorang yang mudah terkontrol emosi namun sangat bijak mengambil keputusan. Sekarang ini, mengapa tiba-tiba bertunangan dengan Luna? Biasanya juga Valen akan menolak tanpa ragu jika suatu penawaran sangat tak berfaedah untuknya. Jadi wajar saja dia bilang aneh!

__ADS_1


"Wah gak bener nih, jodoh lo ya sama tuh Waketbok! " kata Lesya enteng. Tangannya menopang wajahnya dan menatap penuh curiga sahabat perempuannya itu. Tentu saja Luna mendengus sebal karena ejekan Lesya.


*Waketbok: WAkil KETua temBOK


Author be like: Julukan dari Lesya aneh-aneh semua!


Lesya be like: Lah, bukannya dari otak author semua ya?!


Author be like: Oiya author kok bisa lupa ya, wkwk..


Oke lanjut..


"Ini sahabatnya sedih loh, hibur gek jangan ledekin! " ketus Luna melahap dua bakso sekaligus karena kesal. Leon hanya menepuk-nepuk pundak Luna yang dia anggap adik perempuan sekaligus sahabat terdekatnya. "Sabar ini ujian hidup lo Lun, haha... " kata Leon lalu tertawa receh pada akhirnya kalimatnya.


Mengerucutkan bibirnya manyun, dengan malas Luna menepis tangan Leon yang masih menepuk-nepuk pundaknya. "Tau lah, gak sobat lagi kita berdua yah Yon! " kesal Luna menggerutu kesal.


"Ululu.. Bungsunya LC lagi ngambek nih ceritanya! " ledek Leon lagi merangkul pundak Luna. Ya memang kali ini mereka duduk saling sejajar. Lesya yang paling pojok alias dekat tembok, Luna di sebelahnya lalu Leon dan diakhiri Lisa.


"Gak ih! "


"Ngambek nih ya? "


"Enggak! "


Lesya memutar bola matanya malas. Melahap satu bakso di mangkuknya, Lesya beralih menatap kedua sahabatnya yang masih saling berselisih kecil.


"Shut up please! Gw lagi pusing nih mikir karnaval! Lagian kenapa harus gw sih yang jadi ketua kelas, kan gak elite ya pemimpin LC berubah profesi jadi ketua kelas, kan makin nurun jadinya pangkat gw! " malas Lesya memijit keningnya yang terasa pening. Lisa tertawa receh dan meledek gadis itu saja tanpa beban. "Yee derita lo kalau itu mah! " ledeknya namun tak ditanggapi oleh Lesya.


"Lun nanti tolong data anak-anak kelas kasih ke gw terus bilang sama pengurus kelas kalau kumpul di rumah gw buat diskus! " kata Lesya lalu kembali melahap makanannya. Luna mengangkat satu alisnya bingung. Pasalnya pengurus kelas adalah mereka berdua dan Letha dkk.


"Serius? Rumah mana nih? " tanya Luna memastikan. Lesya memutar bola matanya dan menyeruput jusnya sebelum kembali berbicara. Lisa dan Leon juga menunggu hingga Lesya angkat suara.


"Rumah ketbok lah bege, masa rumah gw yang Prancis! " malas Lesya. Luna menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Luna dan Leon paham maksud dari rumah Lesya yang berada di Prancis adalah rumah warisan keluarga Erthan selain itu terdapat rumah milik Lesya pribadi di sana. Jika keluarga Fyo memiliki warisan di negara sakura, Jepang.


"Oke entar gw kasih tau sama yang lain! " jawab Luna. Leon dan Lisa saling berpandangan dan sama-sama saling mengangkat alisnya karena mereka memikirkan ide yang cermelang. Entahlah mereka memang salah satu pasangan aneh di sini. Dipastikan ada sebuah ide yang mereka susun di benak mereka.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<

__ADS_1


Besok izin gak update ya gays di karenakan urusan pribadi yang gak bisa author tunda. Lusa mungkin author akan update lagi seperti biasa dengan banyaknya scene dimana sepasang saudari kembar yang memperebutkan ketos kita hehe.. Ditunggu ya guys lusa, salam hangat author buat kalian yang selalu setia😘


__ADS_2