
Mayang menggeleng dan menatap Angga dengan perasaan yang dicampur aduk. Angga menggandeng sang istri duduk dan menyuruh Elvan mengikuti Lesya. "Vano, awasin istrimu! "
Elvan mengangguk karena kebetulan sarapan paginya sudah selesai. Berjalan langkah cepat, Elvan berhasil mengikuti Lesya yang berjalan menuju arah halaman depan.
Lesya yang melihat Mily, kembaran sang mami berada di depan pintu gerbang, berjalan ke arah satpam yang berada di depan Mily dan meminta gerbangnya dibuka. "Pak, tolong buka! "
Satpam tersebut menggeleng. "Maaf non, tak bisa! Nanti saya kena amuk tuan sama den Elvano! " Lesya menatap tajam Mily yang menatapnya benci.
"Tolong buka pak, soal Elvan sama Ayah nanti Lesya yang urus! " Satpam tersebut masih tak bergeming karena ragu membukakan gerbang atau tidak. "Pak, ayolah! Dia keluarga saya! " pinta Lesya memohon.
Ada rasa senang di dalam diri Mily yang medengar jika Lesya menganggapnya seorang keluarga. Namun perasaan itu ditepis oleh Mily karena satu kebencian yang dia simpan.
Elvan masih memantau dari jarak sedikit jauh pergerakkan mereka. Akhirnya dengan berat pak satpam tersebut membuka dan mempersilahkan Lesya bertemu Mily. "Oke kalo gitu non, tapi jangan lama-lama ya! "
Lesya tersenyum tipis dan keluar menghampiri Mily. "Tante ngapain di sini? " datar Lesya tanpa ekspresi. Mily menyunggingkan senyum liciknya. "Seperti yang lo tau! "
"Apa tante belom puas?! Setelah pergi ke luar negeri, tante berpura menjadi mami hingga Lara salah mengira?! " dingin Lesya. Mily terkekeh sini. "Rupanya mata tajam anak pembawa si*l masih berfungsi rupanya?! "
Lesya menyunggingkan senyum miring nya. "Sepertinya tante iri dengan mata tajam yang ponakanmu miliki! " Mily menatap benci ke arah Lesya. "Sampai kapan pun, lo bukan keponakan gw! Paham lo?! " tekan Mily.
Ada rasa sakit mendengar ucapan Mily yang masih belum menganggapnya keponakan. Sudah biasa terdengar di telinga Lesya namun, masih sakit mendengar hal itu. "Mau tante ke sini apa?! "
Mily menyunggingkan senyum miring nya mendengar hal itu. "Gak banyak! Cuman buat lo hancur aja! Siap-siap aja lo ya! " remeh Mily menepuk pundak Lesya lalu pergi begitu saja dari sana.
* Kenapa? Kenapa harus gw? Tuhan.. Aku lelah menghadapi semua cobaan-Mu! Apa takdir tak membiarkan diriku berbahagia? Kapan permasalahan ini usai Tuhan? Papi, Lesya gak sanggup! * batin Lesya menatap langit atas.
"Ngapain? " Lesya menoleh ke arah Elvan yang keluar menghampiri dirinya. "Enggak! Misi gw mau masuk! " Lesya berlalu begitu saja melewati Elvan yang masih berada di sana.
__ADS_1
Elvan menghampiri pak satpam yang membuka kan gerbang untuk Lesya tadi. "Pak, jangan buka gerbang buat orang asing! " Satpam tersebut mengangguk. "Maaf den, "
"Gak papa pak, permisi! " Elvan menyusul Lesya yang sudah terlebih dahulu masuk. Satpam tersebut mengelus dadanya lega. "Untung aja! "
Kembali kepada Lesya yang baru saja masuk dan melewati Angga dan Mayang yang berada di ruang tamu setelah selesai sarapan. Elena dan Alam? Mereka pergi ke kamar!
Langkah Lesya terhenti di saat Angga angkat suara. Bahkan dia tersentak kaget mendengarnya. Dia sama sekali tak menyadari keberadaan Mayang dan Angga di sana. "Sya! "
Lesya menoleh dan menghampiri Mayang dan Angga. "Kenapa Yah? " tanya Lesya. Angga menghela nafasnya panjang. "Kami tahu masalah kamu! Kami juga baru sadar kalo kamu itu.. Keponakan Mily! "
Lesya terdiam mencerna maksud Angga. Dia sangat paham maksud dari pembicaraan Angga saat ini. Dia juga tahu jika Angga dan Mayang adalah teman baik Arga dan Mila.
Angga juga bahkan baru menyadari di saat dirinya bertemu dengan Mily yang bersama Gilang di restoran tempat pertemuan client nya tadi. "Kalo kamu butuh apa-apa, ngomong aja ya ke kita! Gak usah sungkan oke? " tambah Mayang.
Lesya mengangguk saja. Dia tak menyangka akan diterima dengan lapang dada di keluarga Grey. Keluarga yang salah satunya merupakan pembisnis yang sangat terkenal bahkan mendunia.
Beralih dari Mayang, Lesya memeluk erat Angga. Dirinya kembali merasakan pelukkan hangat seorang Ayah bagi anaknya lagi. Menangis? Tidak! Lesya tak ingin terlihat lemah di hadapan Mayang dan Angga.
Tiba-tiba saja suara cempreng milik Elena merusak suasana haru yang terjadi. "Eyoo! Ada apaan nih pake acara peluk-pelukkan segala! Mau dungs dipeluk! "
Lesya melepaskan pelukkan nya dan membiarkan Elena memeluk sang Ayah. "Ululu.. Udah lama ya gak kayak gini lagi kita? " Elena mengangguk. "Udah lama sejak Elen sibuk bikin skirpsi! "
"Makanya skirpsi nya udah selesai belom? Bentar lagi kan lulus! " tanya Mayang. Elena melepaskan pelukkan nya dan menggeleng. "Belom bun, capek bikinnya! Refresh dulu bentar! "
Mayang geleng-geleng kepala mendengarnya. Alam yang duduk di samping Elvan menoleh ke arah Elena yang bertanya kepadanya. "Eh? Cakra teman kamu itu mau pergi kah? " Alam mengangguk.
Lesya mengerutkan keningnya bingung. "Bang Cakra mau pergi ke mana emangnya bang? " Alam menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Sebenarnya gw yang lupa ngasih tau tadi! Dia mau nyusul pacarnya ke Jepang sekarang! "
__ADS_1
Lesya menggerutu. "Pacar mulu bang Cakra! " Alam memutar bola matanya malas. "Pacarnya lagi sakit makanya dia ke sana! " Lesya mengangguk saja mendengarnya.
"Kenal sama Cakra? " Lesya mengangguk singkat. Elena mangut-mangut mengerti saja mendengarnya.
...~o0o~...
Lesya yang dalam suasana bosan karena sama sekali tak memiliki pekerjaan saat ini, mengambil gitar yang ada di kamarnya alias milik Elvan. Perlahan jari lentiknya memetik senar dan menghasilkan musik yang merdu.
Mulutnya mengeluarkan suara merdu yang menyanyikan lagu 'Surrender' yang dinyanyikan oleh Natalie Taylor itu. Ini merupakan salah satu lagu favorite nya selama ini. Sksk, author juga suka!
Elvan yang mendengarkan dari balkon kamar melirik sekilas. Dia kembali mengerjakan tugas sekaligus pekerjaannya di laptop setelah lagu tersebut berakhir.
Ting!
Lesya yang baru saja usai menyanyikan salah satu lagu favorite-nya, melirik ponselnya yang berbunyi notifikasi. Dengan cepat dia meletakkan gitarnya dan mengambil ponselnya.
đŸ“©+62**********
∅Pesan ini sudah di hapus
"Lah? Siapa sih? " gumam Lesya. Karena penasaran, Lesya mengambil laptopnya dan mengotak atik laptopnya guna mencari pemilik nomor yang tak dikenalnya. "Amanda?! "
Lesya terdiam dan memutuskan membaca ulang kembali data diri Amanda dengan teliti. "Sksk, kita senasib! Tapi cara lo salah Amanda! " lirih Lesya membaca artikel data Amanda kembali.
"Hadeuhh.. Rupanya dia salah satu anak buah Ice Blue? Bahkan tangan kanannya?! Gak tau aja dia kalo adeknya dilindes sama Ice Blue atas perintah bosnya! " gerutu Lesya kecil.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gifđŸ¤—
__ADS_1