Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
109: Ngapain terima?


__ADS_3

Lesya mengelus dada Luna yang kembali menangis itu. "Iya gw tau.. Kita tunggu aja apa kata dokter oke? " Luna yang mulai tenang justru malah bercerita kepada Lesya membuat tangis nya pecah kembali.


"Lo tau kan sya? Kalo mama banyak berjuang demi gw semenjak papa gak ada? Lo tau kan gimana perjuangan mama buat merjuangin gw sekolah? "


Lesya merasa sedikit bersalah karena mengajak Luna masuk ke dalam dunianya. "Maaf kalo gw bawa lo dalam masalah gw" lirihnya.


Luna menggeleng dan melepas pelukkan Lesya. Dengan cepat dia menghapus air di pipinya dengan tangannya. "No! I'm happy in here! "


Tiba-tiba saja, andre datang dengan jas putihnya. Dia berlari tergesa-gesa ke dalam ruang IGD. "Eeh, bang bang! " panggil Valen.


Sontak Luna dan Lesya menoleh ke asal suara. "Apaan sih? Ntar aja ngomongnya di dalem lagi kritis! " Luna yang mendengar itu menutup telinganya dan kembali pecahkan tangisnya.


"Eeh.. Dia siapa? " Valen berbisik di telinga andre. "Anak pasien di dalem" Andre dengan cepat masuk ke dalam setelah mendengar jawaban Valen.


"Kalian kok di sini? " Lesya tersadar dan menunjuk ke arah Elvan dan Valen bergantian. Luna menghentikan tangisnya dan menatap mereka bergantian. "Sejak kapan? "


Valen menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal bingung harus menjawab apa. "Sejak tadi sih" jawab Valen.


Luna membulatkan matanya dan justru memukul lengan Valen. "Buntutin kita lo ya? " Valen meringis. "Ya kalian asal nerobos pager sekolah! "


"Ya kan reflek! Udah balik kalian kan anggota OSIS! " Valen lagi-lagi meringis mendengar suara ngegas Luna di telinganya. "Ya mana bisa! Soalnya kita juga emang mau ke sini iya kan Van? "


Memang benar jika Elvan dan Valen sudah izin pamit pulang karena harus menemui andre di rumah sakit ini. Dan justru mereka berdua malah bertemu di ruang IGD.


Elvan mengangkat bahunya acuh saja. Dia duduk di sebelah Lesya dan melipat tangannya di depan dadanya. "Ngapain lo di sini? " tanya Lesya.


"Perang di mulai! " gumam Luna dan Valen bersamaan. Jika seorang Lesya dan Elvan dipertemukan berarti harus memiliki stok kesabaran tingkat tinggi melihatnya.


Elvan tak menjawab justru melirik jam tangannya dan menatap pintu IGD yang masih tertutup. Lesya yang melihat itu hanya menyenye kecil saja dan menatap pintu IGD kembali berharap kabar baik datang.


Sudah 1 jam berakhir akhirnya dokter yang satu keluar dengan jas putihnya. Dengan cepat Luna menghampirinya dan bertanya, "Dok gimana keadaan mama saya? "

__ADS_1


Dokter tersebut menggeleng pelan. "Nadi dan jantungnya saat ini sangat lemah! Butuh pengawasan ekstra untuk melihat perkembangan pasien! " Lesya yang sudah berdiri di samping Luna mengacak rambutnya.


"Dok nadinya mulai berdetak perlahan" ucap satu suster yang keluar dan menghampiri dokter tersebut. "Saya permisi! "


Lesya menatap Luna yang masih terdiam menatap kepergian dokter ke dalam pintu IGD. Luna kembali duduk dan berharap jika kabar baik akan menghampirinya. Begitu juga dengan Lesya.


Lesya merasa bersalah sudah membawa Luna dan mamanya ke dalam dunianya yang seharusnya hanya dia yang tempati.


Bahkan mama Luna sempat mengalami hal yang sama setelah mendengar pengakuan Luna yang mengakui jika dirinya masuk ke dalam dunia gengster.


Akhirnya mama Luna menyetujui jika anaknya masuk ke dalam dunia gengster asal Lesya menjaganya bahkan tak diperbolehkan adanya satu luka di tubuh anaknya. Dengan cepat Lesya menyetujui hal itu.


Pikiran Lesya masih berkenala mengenai dalang pelaku dari kejadian mama Luna saat ini. Siapa? Mengapa? Pikirnya.


Ting!


Lampu yang tadinya merah berubah menjadi hijau. Dengan cepat Luna, Lesya, dan Valen berdiri dan menghampiri Andre dan satu dokter tadi. "Bang! " panggil Valen.


Luna mengangguk lesu mendengar penjelasan dari dokter tersebut. "Saya permisi" Dokter tersebut dengan cepat pergi dari sana meninggalkan mereka semua di sana.


Valen menghampiri Andre yang duduk di sebelah Elvan. "Bang lo ke markas sekarang! Banyak yang sakit weh" Andre melotot mendengar bisikkan Valen.


"Kok bisa? " Valen menatap Elvan yang memainkan ponselnya. "Vano, gw wajib ke markas? " Elvan menggeleng. "Gak usah! Banyak perawat di sana"


Valen menggeleng. "Tapi tetep aja ya lo yang jadi dokternya! Anggota TW semua terluka karna penyerangan kemaren! "


"Luka kecil! " Valen memutar bola matanya jengah. Mereka kini hanya bertiga saja karena Luna dan Lesya sudah pergi entah kemana.


Elvan beranjak dan pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua. "Pamit!" Valen menatap kepergian Elvan saja diikuti Andre.


"Gw heran! " Andre mengerutkan keningnya bingung. "Heran? Sama siapa? Elvan? " tanya Andre. Valen menatap Andre bingung. "Akhir ini Elvan susah diajak keluar! Ngerjain bisnisnya juga di rumah bukan di cafe lagi"

__ADS_1


"Bisnis? Apa? " Valen menutup mulutnya karena tersadar membocorkan satu rahasia Elvan. "Bisnis.. Bis nisan! Iya itu! "


Andre memutar bola matanya malas. "Dah lah! Gw pamit mau ke ruangan gw bye" Andre segera pergi menuju ruangannya meninggalkan Valen di sana yang mengelus dadanya. "Syukur deh! "


~o0o~


Luna tertidur dengan nyenyak di rumah sakit seraya memegang tangan mamanya erat. Lesya yang melihat itu hanya tersenyum tipis saja. Setelah operasi tadi, Lesya menemani Luna yang menjaga mamanya.


Dengan cepat dia melenggang pergi keluar dari ruangan menuju parkiran. Dia membelah jalanan kota jakarta dengan motor sprtnya dan berhenti di taman yang lumayan sepi.


Dirinya duduk di satu bangku dan mengingat jika ini adalah tempat dimana Mayang dan dirinya bertemu ke dua kalinya. Menolong Mayang dari perampok membuat Lesya tersenyum tipis.


"Hufft! Pengen cepet ketemu papi! " gumam Lesya menunduk menatap ke arah tanah.


Puk!


Lesya menoleh ke samping karena mendengar jika ada seseorang yang duduk di sampingnya tanpa izinnya. "Elo? Ngapain? Buntutin gw ya?! "


Elvan mengangkat bahunya acuh. Dia memang tak sengaja melewati Lesya. Bahkan dia tak sengaja duduk di samping Lesya. Entah ada dorongan apapun dia justru duduk tanpa sadar.


"Ck! Ngapa harus ada lo sih di sini? Mata gw sakit lihat muka buluq lo! "


Elvan menatap tajam Lesya. Dia menyodorkan minuman kaleng kepada Lesya dan di terima oleh gadis itu. "Mau? "


"Bilang dong! Btw thank! " Lesya dengan cepat membuka minuman kaleng tersebut dan terkejut jika sodanya bertumpahan keluar. "Eeh.. Gimana weh? "


Reflek, Elvan sontak mengambil alih minuman tersebut dan meminumnya agar tak bertumpahan. "Nah! " Lesya menatap kesal Elvan. "Kalo gak ikhlas gak usah! Gw juga gak mau! Jadi basah kan celana gw! "


"Ngapain terima? " Lesya menatap Elvan seraya meneguk minuman kaleng bersoda itu. "Y-ya gw haus! " Elvan yang menatap Lesya beralih kepada pemandangan taman yang di sekitarnya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2