
Hingga Lesya yang merasa nafasnya sudah habis, mengkode Elvan untuk melepaskan tautan mereka dengan tepukan-tepukan di dada lelaki itu. Beruntung kaca yang mereka tempati itu tak tembus pandang dari luar. "Hah-hah! Lo mau bunuh gw ya?! " kesal Lesya menatap tajam Elvan.
Elvan hanya menatap tanpa dosa Lesya. "Kenapa? " Lesya memukul-mukul dada bidang Elvan berkali-kali. "Huwaaa... My first kiss! " kata Lesya memegang bibirnya yang dia lengkungkan ke bawah.
Elvan melotot saat melihat mata Lesya yang justru berkaca-kaca seperti orang yang hendak menangis. "Lah? " gumam Elvan memeluk Lesya agar tak menangis. Apa salahnya? Apa dia keterlaluan kah tadi pada Lesya? Bukannya Lesya juga menikmatinya bukan? Bingung Elvan.
Lesya yang tersenyum kecil lalu menenggelamkan wajahnya di dada Elvan. Tangan dan kakinya tak tinggal diam untuk mencubit perut dan menginjak kaki Elvan. "Aduuh! " ringis Elvan.
Lesya tertawa puas dan justru memeluk balik Elvan karena merasa bianglala yang mereka tempati itu berhenti tepat di paling atas. "Haha, mamp*s lo! Siapa suruh aaanj*r kaget! " kata Lesya diakhiri dengan cicitan. Bukan takut sebenarnya namun Lesya hanya terkejut saja.
Setelah merasa aman, dia melepaskan pelukan dan menatap arah luar kaca. Senyumnya kembali mengembang melihat pemandangan indah dari kaca. "Ketbok, nanti ke sana yuk! " ajak Lesya merengek kembali tanpa dosa kepada Elvan.
Elvan menghela nafasnya. Baru saja mereka akur lalu berdebat kecil lalu kembali akur kembali! Aneh memang kepribadian Lesya saat ini. Namun dia tak dapat menolak karena memang saat ini dia sedikit lega dengan senyum yang terpancar dari wajah Lesya.
Akhirnya setelah puas bermain hingga mereka sudah mencobai banyak wahana, mereka memutuskan untuk pulang. Dengan satu bando kelinci yang tanpa sengaja mereka mendapatkannya sebagai hadiah, diletakkan di atas kepala Lesya.
Lesya yang melihat banyaknya pengendara yang berlalu lalang, teringat dengan dirinya di pasar malam tadi yang tersenyum lebar tanpa suatu keterpaksaan. Dia memeluk erat pinggang Elvan seolah tak ingin melepaskan kebahagiaan sesaat ini. Dia bersyukur setidaknya dia dapat merasakan kebahagiaan walau dia tahu jika pancaran senyumnya itu hanya sejenak saat ini.
Setibanya di rumah, Lesya turun dari motor Elvan dan membuka full face helmnya. Tangannya yang satu dia gunakan membenarkan letak dari bando kelinci yang dia dapat. Sementara Elvan membuka helmnya dan turun dari motor besar sportnya.
Mereka beriringan masuk ke dalam rumah walau Lesya lebih terdahulu berada di depan. Bunyi suara sorakan dari Luna, Lisa dan Elena terdengar dari arah ruang tamu. "Huu berduaan mulu klean! "
"Benih-benih apaan nie yang kerasa? " goda Elena. Lesya hanya memutar bola matanya malas seolah tak ada apa-apa. Kaki panjang gadis remaja itu berjalan santai dan duduk di antara Mayang dan Luna. "Berdua dari hongkong! Kita gak cuman berdua doang ya! " malas Lesya.
__ADS_1
"Ya terus sama siapa kalau gak berdua? " tanya Lisa menaik turunkan alisnya. Lesya justru menjawab polos bagai orang yang tak berdosa. "Ada orang, tanaman, tanah, jalanan, ada juga ma--- "
"Stop! Nyesel gw nanya sama lo! Bilang aja berduaan susah amat! " malas Lisa menyela ucapan Lesya. Mayang tersenyum simpul dan melihat ke arah Elvan yang membawa boneka beruang yang lumayan besar. "Loh? Boneka siapa itu Van? Besar amat! " tanya Mayang bingung.
"Boneka aku bun! " jawab Lesya. Elvan memberikan boneka beruang yang mereka dapat kepada Lesya dan diterima secara sukarela oleh Lesya.
"Btw, kalian berdua dari mana? " tanya Elena. Dengan kompak Lesya dan Elvan menjawab. "Pasar malam! " jawab mereka.
"Jiakkh! Jodoh-jodoh woe! " goda Lisa. Luna tertawa receh seraya memakan chiki di tangannya. "Lesya udah gede bree! " tambah Luna. Lesya menjitak kepala Luna pelan dan mengambil chiki yang ada di tangan Luna. "Lo pikir gw sekarang masih kecil?! "
"Ouch, gw seloww dong! " kesal Luna mengusap bekas jitakan Lesya. Mayang terkekeh kecil dan melerai perdebatan tak bermutu itu. "Sudah-sudah! Mending sekarang kita makan aja, belum makan kan kalian? " ujar Mayang diangguki mereka kompak.
Lisa, Luna, dan Lesya beranjak berdiri. Luna yang sifatnya usil jika bersama Lesya bukannya menyudahi topik justru memperpanjang. "Kayanya hatinya berbunga-bunga nih? Huu, kayak pengantin baru ae lo! " goda Luna kecil menyenggol sikut Lesya.
Lesya menatap tajam ke arah Luna dan Lisa bergantian. Sontak Luna dengan cepat lari ke atas tangga sebelum Lesya kembali mengamuk. "WAHAAY... KABORR LISS!! " katanya yang dimana membuat Lisa ikut kabur menuju kamarnya di atas.
Tak tinggal diam, Lesya ikut mengejar Luna dan Lisa berlari di atas tangga. "Woy tunggu anj*r! " ucap Lesya.
Lesya dengan cepat memegang satu tangannya lalu loncat dari tangga dan terbang ke arah samping tangga kemudian kembali masuk ke dalam tangga dari arah samping. Hal itu membuat Angga yang baru datang dan mereka yang melihat melotot terkagum. Luna dan Lisa melotot tak percaya karena Lesya ternyata sudah berada di depannya menatap tajam mereka. "Mau kemana lagi bree? "
"Cabut-cabut! " bisik Luna yang justru menarik Lisa berjongkok dan kembali kabur ke arah kamar Lisa. Lesya melotot malas. "Eh?! Bentar woe tunggu! "
"LESYA JANGAN LARI-LARI NANTI JATUH! " peringat Mayang berteriak dibalas teriakan juga oleh Lesya. "Iya bunn! " balasnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Luna berhenti hingga dengan spontan Lesya dan Lisa ikut berhenti. "Ei? Bentar deh, kayaknya kalau gak salah tadi gw dapat pesan dari. . . "
"Anj--- Heh untung gw gak jatuh?! " kesal Amanda. Luna melotot dan berbalik ke arah Lesya yang sama halnya dengan Lisa. "Apa Leon tau ya siapa kakaknya? " molog Luna yang membuat mata Lesya membulat lebar.
Luna dan Lesya saling berpandangan lalu berlari menuju kamar Lisa meninggalkan sang pemilik kamar berdiam bingung di sana. Lisa masih bingung apa maksud dari perkataan Luna. "Hah? Kakak? Jadi, Leon masih punya kakak ya? " molognya lalu pergi ke kamarnya menyusul kedua teman non-akhlaknya itu.
Sementara Luna yang memberikan ponselnya kepada Lesya, diterima baik oleh Lesya. Lesya membaca pesan dari nomor yang tak dikenali dirinya dan Luna. Benar saja pikirannya langsung tertuju pada arah pemikiran Luna.
📩+6284*********
Kau tau siapa adikku?
Saya, felicia akan mencari keberadaan
adikku! Dan kamu dan temanmu jangan sesekali menghalangi dan menyembunyikan keberadaan adikku!
(read)
"Dia kak Feli! " gumam Lesya diangguki setuju oleh Luna. "Bod*h! Kenapa dia memberitahukan namanya? " lanjut Lesya menghela nafasnya. Luna menoleh ke belakang dan tersadar. "Kayaknya kita gak boleh cari apapun sekarang! Takut ada yang curiga! " usul Luna diangguki Lesya.
"Masalah tadi masih belum kelar ya! " tajam Lesya. Luna tercengang meneguk salivanya kasar. Padahal mereka sudah beralih pembicaraan. Alhasil Lesya menggelitiki Luna beralih pada Lisa yang baru saja tiba. Begitulah pertemanan mereka selama ini! Terlihat serius namun aslinya mudah diajak bergurau hal sepele.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1