
Lesya menatap tajam Rio dan kembali hendak pergi namun Rio kembali mencekal tangan Lesya. "Sya, pliss maafin aku yaahhh... A-aku tau kalo aku salah, tapi plis lah maafin aku"
Lesya tak menjawab. Dia terlanjur kesal dengan tingkah Rio yang menurutnya sangatlah menjengkelkan. Bagaimana tidak? Dia dikurung tiga hari di dalam gudang yang sama sekali tak ada celah sedikit pun hingga dia merasa sesak nafas.
Tiba-tiba saja suara bariton membuat Lesya menepis kasar tangan Rio dan berlari ke pemilik suara. "Lepasin dia!" dinginnya. Lesya menyembunyikan wajahnya di balik punggung Elvan dan menatap sinis Rio.
Yap! Elvan memang tak sengaja berkeliling dan menemukan Lesya di sekitar sana. Niat jogging nya berhenti dan menyaksikan bagaimana rengekkan Rio yang meminta permohonan maaf kepada istrinya.
Rio menatap tajam Elvan. Rambut Elvan yang acak-acakkan ditambah dirinya tak mengenali siapa lelaki terkesan badboy ini mengernyitkan alisnya. "Siapa lo? "
Elvan memang terkenal hingga luar sekolah. Namun, jika berada di luar sekolah, penampilan ketua OSIS berubah menjadi penampilan preman ataupun anak muda badboy zaman sekarang.
Jadi wajar jika Rio tak mengenal Elvan saat ini. Selain itu, rambut Elvan menutupi sebagian mata hingga tak terlihat jelas di mata Rio. Tak hanya itu saja! Tingkat kecerahan mata Rio minus.
Logat bahasa dan sikap Rio berubah menjadi lo-gw jika melihat orang yang tak dikenalnya. "Gak penting! " Rio terkekeh sinis mendengarnya. "Dia siapa? Sepupu kamu lagi? " tanya Rio kepada Lesya yang kembali menutupi wajahnya di balik punggung Elvan.
Lesya bukan lah takut namun kejadian itu teringat jelas di memorinya. Tak ada satupun cahaya lampu menerangi malamnya, tak ada satu butir nasi, tak ada setetes air putih bahkan tak ada hembusan angin menerpa dirinya.
Dia amat kecewa dengan perubahan sikap Rio kepadanya saat itu hingga tak ingin menampakkan wajahnya. Bahkan Cakra yang ingin menghajar Rio diikuti Alam mendengus marah saat mendengar kabar jika Rio berada di luar negeri.
Lesya juga menahan pergerakkan Alam dan Cakra karena dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Alhasil Alam dan Cakra hanya pasrah saja melihat senyum mengerikan Lesya saat itu.
"Heh! Inget ya lo bukan siapa-siapa Lesya! Lesya itu pacar gw! Udah lah lo minggir sono! " sinis Rio. Elvan menahan tangan Rio yang hendak menyentuh pergelangan tangan Lesya. "Jangan sentuh dia! "
Tiga kata dari Elvan yang terkesan dingin membuat jengkel Rio. Lesya akhirnya dengan malas mengeluarkan wajahnya dan menatap dingin Rio. "Pergi atau gw panggil satpam? "
__ADS_1
Rio menghela nafas dalam. Dia segera menepis tangan Elvan dan menatap Lesya seraya tersenyum semanis gula. "Oke, demi kamu! Tapi ingat, aku bakal buat kamu kayak waktu itu lagi! "
Lesya menatap kepergian Rio dengan sorot mata yang tak bersahabat. Di saat dia berbalik dia tersadar jika Elvan lah yang membantu dirinya. "Lo? " gumam Lesya.
Lesya menghembuskan nafasnya lega. "Makasih! " Elvan mengangguk kecil saja. Ekor matanya masih tak lepas dari pandangan Rio yang berjalan lurus hingga tak terlihat di matanya. "Siapa? "
Lesya memutar bola matanya malas. "Dia Rio! Orang yang suka sama gw! Tapi karena gw masih mau nuntasin rekor gw, gw kagak pacaran sama dia! " jawabnya jengkel.
Elvan mangut-mangut paham saja mendengarnya. Dia kembali ingat dengan orang yang bernama Rio. Dia juga masih teringat dengan orang yang mengurung Lesya di dalam gudang kosong tanpa barang dan celah dan tak lain adalah Rio.
"Lo... Kayaknya kenal ya sama dia? " Elvan mengangguk saja mendengarnya. "Apa, ada di data colongan lo ya?! " Tepat sasaran! Lesya dapat menebak dengan mudah hanya dengan menatap lekat manik mata Elvan.
Elvan kembali mengangguk kecil tanpa merasa terkejut ataupun bersalah sudah mencuri data Lesya tanpa izin sang pemilik. "Arhh! Emang sial*n lo! " Lesya memukul jengkel lengan Elvan yang dipastikan tak bertenaga.
Lesya terhenti dan mengangguk. "Kapten basket perwakilan Flondey kan? Itu sekolah yang mau tanding dengan sekolah kita kah? " Elvan lagi-lagi mengangguk. "Oh! Gw harap nanti sekolah kita menang biar mamp*s tuh orang ngurung gw di gudang! "
"Yok balik! " Lesya mengangguk dan mengikuti langkah demi langkah yang dilalui Elvan dari samping. Sama sekali dia tak mengingat bahkan menghafal jalan pulang karena sibuk bertengkar dengan Lisa.
Langkah Lesya dan Elvan terhenti tepat di gerobak penjual bubur ayam yang berkeliling dan memangkal gerobaknya di sekitar itu. Terlihat sang penjual mengelap keringatnya yang bercucuran karena jualannya sama sekali tak laku.
Lesya yang merasa kasihan menatap Elvan seolah memohon membeli bubur penjual tersebut. Dia pernah berada di posisi sang penjual. Dimana dirinya berjualan kue di komplek sebelah kediaman Fyo namun sama sekali tak laku.
"Pan? Gw laper makan yok! Tapi, gw gak bawa duit! " Elvan yang tahu jika alasan lapar hanya sekedar alasan semata Lesya mengangguk saja mendengarnya. Jika persoalan Lesya tak membawa uang dia tak tahu.
Memang benar jika Lesya tak membawa uang sepeser pun. Dan perkara dia lapar atau tidak, jawabannya tidak dan iya! Dia hanya sedikit lapar dan sedikit merasa kenyang. Entahlah author yang ketik juga bingung!
__ADS_1
"Gw bayar! " Lesya mengembangkan senyumnya dan mendatangi sang penjual yang dengan sigap berdiri melihat kedatangan pembelinya. "Pak, beli dua ya! Dua-duanya gak pake sayur! "
"Siap neng, mau tambah lagi? " ucap penjual tersebut bersemangat. Lesya mengangguk kecil. "Tambah 3 komplit dibungkus! " Penjual tersebut mengangguk dan langsung membuat pesanan Lesya.
Lesya dan Elvan menunggu di meja dan kursi yang sudah di siapkan di sana. Tak ada pembicaraan yang terlontar dan terdengar di kedua pihak itu. Hingga akhirnya Elvan membuka suaranya. "Perut lo mendingan? "
Lesya menoleh dan mengangguk saja. Tiba-tiba Lisa datang dan menghampiri mereka berdua. "Oy! Di sini kalian? "
Tanpa basa-basi Lisa duduk di sebelah Elvan dan menatap Lesya yang berada di depannya. "Tadi si Rio, pacar lo itu ngomongin apaan? " Lesya mengangkat bahunya acuh. "Bisa jangan bahas dia? "
"Hayoloh! Vano liat noh kelakuan istri lo yang maen di belakang! " kompor Lisa sengaja menggoda Elvan di sampingnya.
Elvan tak bergeming sama sakali. Dia menatap tanaman hijau sekitar hingga Lesya tertawa dan mengejek balik Lisa. "Ahahay.. Kacang murahhh! " ledek nya.
Lisa mengeruncutkan bibirnya malas. Tiba-tiba saja penjual bubur ayam datang membawa dua pesanan mereka. "Ini pesanannya neng, monggo dimakan"
Lesya mengangguk dan mengambil satu mangkok pesanannya. Lisa melirik isi dari mangkok Lesya. "Lo gak niat beliin gw gitu? "
Lesya menyenye malas dan akhirnya mengiyakan permintaan Lisa. "Pak yang satunya tadi jangan dibungkus ya! " Penjual tersebut mengangguk dan menyodorkan satu jempolnya. "Siap neng! "
Tak berselang lama akhirnya mereka bertiga menikmati sarapan pagi mereka yaitu bubur ayam. Setelah merasa kenyang mereka beranjak dan mengambil pesanan bungkus mereka.
Tak lupa juga dengan Elvan yang membayar nominal harga walau hanya sebatas selembar uang biru. Karena tak memiliki uang biru tersebut, Elvan membayar dengan selembar uang merah tanpa kembalian.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1