Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
345: Questions Not HQQ


__ADS_3

"Bentar, seberapa banyak sih harta karun yang dipegang sama mertua lo Sya? "


Bisikan Luna itu membuat Lesya hanya terkikik mendengarnya. Dia menggeleng tak tahu karena memang benar dia tak terlalu mengetahui seberapa banyak harta kedua mertuanya. Jika Angga adalah CEO terkenal, Mayang adalah pemilik butik terkenal dan disusul Elena yang hampir menyetarai sang bundanya. Elvan? Jangan salah ya, Elvan juga memiliki beberapa cabang Cafenya mulai dari dalam hingga luar negeri. Kok nambah ya? Sebenarnya begitu tapi author belum sempat kasih tau, wkwk.. Oh iya, lulus nanti juga Elvan langsung turun tangan tanpa sesekali masuk perusahaan sang ayah (later).


Kira-kira seberapa banyak?


Banyak banget lah ya?


Holang kayah beda lagi damagenya!


"Kayaknya nama ayah disebut ya? Ada apa? " tanya Angga yang mengejutkan mereka di sana. Sontak saja mereka menoleh dan melihat keberadaan lelaki tegap dengan wajahnya yang awet muda.


"Panjang umur baru diomongin! " lirih Lesya geleng kepala. Untung tak ada yang mendengar jadi dia tak perlu menguras tenaganya untuk berdebat lagi.


"Ayah, om?! " kompak mereka dengan panggilan masing-masing. Angga mengangguk pelan saja menanggapinya dan beralih menatap sang putra. "Ada yang mau ayah omongin, ayah tunggu di ruang kerja ayah! " kata lelaki itu diangguki oleh sang anak.


"Congrats tuan putri ayah, jaga cucu ayah baik-baik ya! " pesan Angga beralih pada sang putrinya. Elena hanya mengangguk pelan saja dan mengancungkan kedua jempolnya. Sedari dulu panggilan kesayangan untuk Elena adalah tuan putri. Why? Nama Elena saja diambil dari film kecil kesukaan Mayang, Elena of Avalor. Ada yang tahu film ini?


"Lam, jaga putri saya dan calon cucu saya! Lecet sedikit, kamu orang yang pertama kali saya cari, paham? " tekan Angga. Alam yang mendengar hanya mengangguk mantap saja. Namun tak dipungkiri nada bicara nan tegas itu membuat jantungnya ketar-katir. Bukan fall in love gays tapi Alam sendiri jadi takut salah nantinya.

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu om pergi dulu ya semuanya, Vano ayo ikut ayah! " ajak Angga pada sang putra. Elvan hanya mengangguk dan mengikuti arah jalan sang ayah. Luna yang melihat interaksi ayah anak itu hanya geleng-geleng kepala saja. Bukan Elvan maksudnya namun Elena. Kata tuan putri itu membuatnya merasa rindu dengan sosok sang ayahnya yang sudah pergi dengan tenang.


"Huhu... Ngiri gw! " dramatis Luna sendu.


Leon hanya geleng-geleng kepala saja. Kepergian kedua lelaki berbeda usia itu justru membuat Luna begini. "Gw penasaran apa rasanya diperhatiin gitu, ya gak Lun? " tanya Leon menatap sang sahabatnya itu. Luna hanya mengangguk setuju dengan ucapan Leon.


"Kalian ngiri? Sorry, gw nganan! " ucap Lesya dengan nada sombong nyolotnya. Dalam kamus Lesya, nada lembut tak dapat asal dikeluarkan begitu saja olehnya. Terlalu mahal jika menurutnya!


"Gak gitu konsepnya Sya! Tau ngomong sama lo berasa gw kena batunya sendiri! "


Lesya hanya tersenyum kecil saja mendengar perkataan Luna itu. Sedetik dia menoleh ke arah Revan yang bertanya serius padanya. Pertanyaan Revan itu juga membuat yang lain tak kalah serius menatapnya seolah meminta jawaban.


"Sya, lo kok bisa betah sih sama pak boss? Sejauh ini gw rasa hubungan kalian fine-fine aja tuh! Lo gak pernah dibentak atau dimarahin gitu sama pak boss? " tanya Revan. Lesya hanya menggeleng jujur saja. Selama ini dia belum pernah dibentak kan ya? Atau dia yang lupa?


Kejujuran gadis itu justru mengundang kalimat tanya pada benak mereka semua. Sebentar, selama ini Elvan bersikap baik kan padanya? Jujur saja Lesya juga agak canggung mengatakan jika Elvan baik padanya. Pasalnya sebelum mereka dijodohkan, mereka adalah sepasang rival yang sangat populer di sekolah.


"Baik gimana? Coba contohin! " tanya Ken penasaran. Lesya berpikir sejenak mengingat apa saja kebaikan yang dilakukan Elvan hingga mendapatkan cap baik dari padanya. "Apa ya? Emm, menurut gw dia tuh orangnya peka cuman males aja nunjukin kepekaan nya. Kalau dia punya hati, kadang-kadang juga dia bawa hiburan juga menurut cara dia sendiri. Emang kenapa? Gak pernah ngerasain? Kasian! " ujar Lesya.


"Ck, bukan itu! Kita tau aja cuman tuh gimana ya? Kadang-kadang dia susah ketebak orangnya! " kata Ken menyahut.

__ADS_1


Valen memutar bola matanya malas dan melemparkan kulit kacang ke arah temannya itu. "Gampang gobl*k! Lo aja yang orangnya gak bisa bedain mana serius mana yang enggak! " seru Valen mencibir. Ken hanya mengaduh pelan saja saat merasakan wajahnya sedikit tersentuh dengan kulit kacang itu.


"Ya maksud gw kan pak boss tuh gak banyak ngomong kenapa lo bisa betah sih Sya? " jelas Ken meluruskan. Lesya mengangkat kedua bahunya acuh saja. Malas sekali dia menjawab pertanyaan itu. Namun mau tak mau dia harus menjawab sebelum pertanyaan yang terlontar justru semakin melunjak nantinya.


"Menurut gw tuh KetBok gak sedingin itu sama gw, tapi kadang-kadang ngeselin juga sih! " kata Lesya menjawab dengan sedikit malas. "Ngapain sih nanya-nanya gitu sama gw? Wartawan bukan, mak bapak gw juga bukan, apalagi temen gw juga bukan! Urusan lo sama gw apa yah?! " lanjut Lesya dengan sewotnya.


"Beh, nusuk! " gumam Ken geleng kepala.


Tiba-tiba saja satu lontaran pertanyaan membuat Lesya melotot. Bukan hanya Lesya, lebih tepatnya mereka semua juga melotot. Pertanyaan yang kurang ber-haqiqi terlontar. Baru saja selesai bertanya sudah nambah saja pertanyaannya. Apalagi bobot pertanyaan sangat rendah faedah. Wah, melunjak!


"Udah nganu? " polos Amel angkat suara.


Sontak saja Lesya melempar kulit kacang yang ada ke arah Amel. Karena jarak mereka berhadapan, mampu saja kulit itu mengenai Amel tepat dibagian keningnya. Sang empu alias si pemilik kening itu hanya dapat meringis pelan saja.


"Bapak mu yang nganu! Pertanyaan konyol abad ke berapa itu? Gw colok nula lo mamp*s lo gak bisa makan?! " ketus Lesya mengalihkan pandangannya.


Amel hanya mengerucutkan bibirnya manyun saja. Amel adalah gadis tomboy sekolah Gregus walau tak pernah masuk ruang BK. Namun dibalik sikap tomboynya, dia adalah gadis manja kesayangan keluarganya. So, jangan salah mengira jika dia bersikap demikian walau ber-cap sedikit mirip lelaki gayanya.


"Gil*a! Frans cewek lo gak polos lagi." geleng Valen menyenggol sikut Frans yang sedari tadi menyimak. Frans hanya geleng kepala saja dan menempelkan telunjuknya di bibir saat pandangannya bertemu dengan sang kekasih. Amel hanya mengangguk patuh saja dan menutup mulutnya. Masih ingat kan tentang kedua pasangan ini walau tanpa momen dekat?

__ADS_1


"Stoppp, bentar gw ambil pesanannya gak usah tanya jawab! Sya, temenin yukk bawain banyak loh." ajak Luna pada sahabatnya. Lesya hanya mengangguk setuju saja. Dia juga ingin segera pergi dari sana karena malas terus-terusan dipertanyakan ini itu oleh teman-teman Elvan di sana. Yang ada dia sendiri yang pusing bercampur malu nantinya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2