
Lesya mendelik tajam. Dengan cepat dia hendak menghentikan gerakan putar kursinya yang ditempati oleh Elvan. Nampaknya kalian salah kira karena Lesya justru tak sengaja menabrak sudut mejanya hingga terjatuh di pangkuan Elvan entah bagaimana teorinya.
Bak slow motion, Lesya yang kembali berdiri justru ditangkap sigap oleh tangan kekar Elvan yang berada di dekatnya. Alhasil saja Lesya yang tertarik oleh tangan kekar itu, duduk di pangkuan Elvan. Begitulah kira-kira teorinya.
"Auu! "
Lesya menatap lekat manik mata Elvan begitu juga dengan Elvan yang menatap wajah Lesya intens tak kalah lekatnya. Spontan saja gerakan putar kursi itu itu terhenti dan membiarkan kedua pasangan itu saling menatap satu sama lain.
* Oh God! She very beautiful! Hanya minus sikapnya saja yang super galak, ketus, cuek! But, I like everything about it! Mungkin gw punya prinsip baru sekarang, kamu milikku kapanpun dan dimanapun baby! Gak akan gw biarkan orang menyakiti, melukai, menyentuh lo sedikitpun kecuali gw sendiri! * batin Elvan yang tanpa sadar mulai memuji kecantikan paras Lesya yang ditutupi oleh wajah polos tanpa make up di wajahnya.
Begitu juga dengan Lesya yang justru memuji ketampanan yang dimiliki oleh Elvan. Dia mengapa baru menyadari jika lelaki yang selalu bersamanya, selalu menjaganya, selalu di sampingnya, lelaki yang berstatus suaminya, lelaki yang selalu membuatnya kesal ternyata memiliki wajah yang sangat tampan.
* Oh my God! He very handsome for me! Yah, walau terkadang sikapnya buat gw kesal, kali ini beda! Kayak ada sesuatu yang ganjal di dada gw gak sih?! Dada gw tuh debar-debar mulu, apa jangan-jangan gw punya riwayat jantung lagi?! * batin Lesya menggigit bibir bawahnya.
Cup!
Elvan dengan cepat mengencup sekilas bibir Lesya dan tersenyum simpul kali ini. Sementara Lesya hanya berlagak polos bagaikan orang bod*h yang tak tahu apa-apa. Konyol sekali untuk wajah kejam Lesya. "Hah? " polos Lesya tak sadar.
Elvan terkekeh kecil dan mengacak rambut Lesya dari samping. "Lo kok lucu sih? " tanya Elvan kembali menggoda Lesya secara sengaja. Lesya hanya mendelik saja karena bingung dengan pertanyaan Elvan. "Dari dulu gw emang lucu kali! Lo aja kali yang gak nyadar betapa cantiknya, imutnya, lucunya, unyunya gw ini! " sombong Lesya mengibaskan rambutnya ke arah Elvan.
"Iya-iya cantikku... Jangan galak-galak ih! " ucap Elvan menggoda Lesya dengan menoel-noel pipi gadis itu. Lesya mencebik kesal dibuatnya. "Hihh, apaan sih noel-noel?! Lebay tau gak! " kesal Lesya yang sedikit risih dengan nada bicara Elvan.
Elvan terkekeh kecil seraya mengusap anak rambut belakang Lesya. "Emang salah lebay sama ISTRI gw sendiri? Atau salah kah, lebay sama PACAR HALAL gw sendiri? " tanya Elvan menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Hah? Pa-car? " beo Lesya mengulangi perkataan Elvan. Elvan mengangguk singkat dan menatap aneh Lesya. "Lo lupa waktu di bianglala? Dan gw serius sama ucapan gw! " ucap Elvan.
Lesya mendesis kecil mendengarnya. Dia benar-benar tak menyangka jika ucapan Elvan saat di pasar malam itu serius. Dia pikir Elvan sengaja hanya untuk menggoda dirinya saja. Ternyata pemikiran dia salah!
"Kenapa? Mau ngulangin yang waktu di pasar malam? " tanya Elvan menaik turunkan alisnya lagi. Lesya dengan sontak menutup mulutnya seraya menggeleng karena paham maksud Elvan apa.
Elvan terkekeh kecil mendengarnya. Mengacak rambut Lesya, Elvan mengenc*p kening Lesya sekilas dan menggerakkan kursi ke arah meja hingga Lesya dapat merasakan jika dirinya sudah terpentok sendiri.
Cup! Slengg!
Lesya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sementara Elvan tersenyum simpul dan menggerakkan tangannya membuka layar laptop milik Lesya. Jarinya dia gunakan untuk mengetik huruf ke huruf hingga Lesya yang mendengar ketukan jari Elvan, membuat gadis itu menoleh.
Lesya membenarkan posisi tubuhnya hingga duduk di pangkuan Elvan dengan menghadap laptop. Untung saja Elvan lebih tinggi dari Lesya hingga dapat melihat layar laptop walau terhalang kepala Lesya di depannya. "Apaan tuh? "
Elvan tak menjawab langsung pertanyaan Lesya. Namun dirinya membuka satu link yang dia kirim baru saja dari laptop Lesya. Saat isi link tersebut muncul, mata Lesya terbelak lebar melihatnya. "Hah?! "
Selain itu, yang membuat Lesya tak kalah marah dengan ucapan Felicia walau hanya dalam bentuk vidio. Bagaimana tidak? Bahkan saat ini Lesya baru tahu jika Felicia lah yang memprovokasi Vion agar membunuh mendiang papinya dengan umpan jika Lesya lah yang memisahkan Vion dengan keluarganya. Padahal tidak!
Menghadap ke belakang kembali, alias hanya menggeser posisi duduknya sedikit dengan wajah yang menatap Elvan, Lesya melipat tangannya di dadanya. Entah sudah keberapa kalinya dia melipat tangannya hari ini. Entahlah keberapa!
"Kenapa lo nunjukin vidio ini? " tanya Lesya menaikkan satu alisnya. Dia yakin jika Elvan memiliki satu alasan yang membuat dirinya harus menyaksikan vidio itu di depannya. Elvan mengangguk samar dan menjawab. "Apa lo gak mau coba cari tau keberadaan keluarga Vion? "
Lesya menajamkan pandangannya bingung maksud Elvan. "Maksud lo? Lo nyuruh gw buat nyari keberadaan keluarga bad*bah itu?! Gak akan! " tajam Lesya menolak mentah-mentah ucapan Elvan yang tak masuk akal di benaknya.
__ADS_1
"Serius gak mau? Siapa tau bisa jadi bukti kalau lo bukan pemisah tapi pencari! "
Lesya terdiam bingung maksud Elvan. Setelah mencerna satu per satu ucapan lelaki yang memangkuinya, Lesya menjentikkan jarinya paham. "Owhhh, maksud lo gw nyari sebagai umpan dia nanti? Dan dia diem bingung memilih, begitu maksud lo kah? "
Elvan tersenyum simpul dan mengacak rambut Lesya. "Nah, pintar! Dan dia kemungkinan diam bukan? " Lesya melotot paham sekarang. Dia tak menyangka jika strategi Elvan sangat menguntungkan baginya. Dia kira Elvan hanya menyebalkan saja. Ternyata salah!
"Gw kira lo gak ngerti masalah strategi, secara lo lebih suka baca buku kayak anak culun! " cibir Lesya yang mendapatkan sentilan kecil di keningnya. "Itu cuman tambahan otak doang kali! " balasnya.
~o0o~
Lesya berjalan turun dari tangga dengan santai setelah acara makan malam tadi. Dia berjalan-jalan di taman belakang dan tanpa sengaja menemukan Letha yang berdiam diri duduk dengan wajah yang sedikit menunduk. Dengan bingung, dia berjalan menghampiri sang adik dan duduk di sebelahnya. Kebetulan saja mereka duduk di depan patung air mancur yang ada di rumah mewah itu.
"Dek, lo kenapa? " tanya Lesya.
Letha mendongkak dan menatap Lesya dengan pandangan yang sulit di artikan. Dengan cepat dia menggeleng menanggapi ucapan Lesya namun tidak dengan sorot matanya yang memancarkan wajah sendu.
"Bilang sama gw lo kenapa? Lo diganggu? Sama siapa? Bilang sini biar gw tonjok mukanya nyampe bonyok! " desak Lesya.
Letha yang ditarik perlahan ke arah pelukan Lesya membalas pelukan hangat itu. Akhirnya tangisnya pecah begitu saja di pelukan kakaknya itu. "Kak, tadi gw ke rumah mampir bentar buat ambil buku sekolah yang ketinggalan! A-aku. . . "
"Kenapa? Papa apain kamu? " desak Lesya mengelus pucuk kepala letha. Letha terisak-isak karena tak sanggup berkata lagi. "Pa-pa ngomong sama abangnya kalau. . . Ka-kalau, kita bukan anak kandung papi... Hikss! " tangis Letha.
Deg!
__ADS_1
Lesya tak sanggup lagi berkata. Elusan tangannya terhenti mendengar cerita pengakuan Letha. Apalagi dia sudah sangat lama tahu jika dia bukanlah anak kandung Arga. Namun, dia tak sanggup jika Letha mengetahui hal itu seperti ini.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗