Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
40: Rooftop!


__ADS_3

Leon memeriksa telinganya. Begitu juga dengan Lesya. Biasa Luna akan tertawa jika telinga Leon memerah. Leon tambah malu dan berusaha menetralkan wajahnya.


Kini bergantian dengan Lesya yang tertawa dibarengi Luna. Perut mereka terasa menggelitiki mereka agar tertawa terus.


Letha dkk merasa aneh sendiri melihatnya. Lesya sudah berhenti tertawa tapi tidak dengan Luna. Luna masih setia tertawa dan memegangi perutnya.


Leon menopang wajahnya dengan kedua tangannya. Kejadian yang tak pernah dilupakannya, malah terungkit kembali secara tak sengaja.


Dulu, Leon adalah anak yang penakut. Hingga saat dia melihat tatapan tajam Lesya, dia hampir kenc*ng di celananya.


Bahkan dia mundur beberapa langkah hingga dia menyungsep ke dalam got. Dia menangis? Tentu saja! Lesya dan Luna membantu Leon dan mengajarkan Leon untuk berani menatap mata orang lain.


"Plis dah jangan diungkit! Malu gw serius" Luna tambah tertawa. Dibarengi oleh Lesya. Air mata Luna sudah jatuh ke samping karena terlalu lama tertawa.


"Ya elo sih! Takut nyampe nyungsep" Telinga Leon memerah kembali. Lesya menghela nafas.


Dia capek rasanya tertawa terus-menerus, "Udah woy lah! Gak cape ketawa mulu hah? " tanya Lesya malas.


Telinga Leon yang memerah mulai kembali seperti semula. Dia teringat dengan masalah kemarin. Jantungnya terpompa cepat.


Apa jika Lesya ingat soal datanya yang kehack dia marah besar? Bahkan dia belum menemui dalangnya hingga sekarang! Pikir Leon.


"Kak, emang ada yang lucu? " tanya Letha polos. Lesya menggeleng, "Kagak ada, nih aja yang stress" Lesya menunjuk Luna dengan santai.


Luna melotot, "Heh! Gw waras ya" ucapnya tak terima.


Kringgg....


"Udah bell, masuk gak? " tanya Amel. Luna mengangguk, "Karena gw alim, gw masuk" jawabnya.


"Hilih! Gw bolos bye" pamit Lesya menarik tangan Leon. Leon terperanjat kaget. Antara siap dan tidak, dia harus berani menanggung resiko.


...~o0o~...


Lesya membawa Leon ke rooftop sekolah. Lesya sebenarnya ingin sekali bertanya mengenai masalah kemarin.


Bahkan dia menyuruh Alam dan Cakra ke rooftop secara diam-diam. Bahkan jam 5 subuh, mereka sudah berada di sana. Lesya membuka pintu rooftop dan menutupnya.

__ADS_1


Karena lumayan cemas, pintu yang ditutup oleh Lesya tak tertutup rapat. Alam dan Cakra yang melihat kedatangan dua manusia yang ditunggu nya, bangkit dari duduknya.


"Ngapain nyuruh kita ke sini jam 5 subuh tapi kalian datengnya jam 10? " tanya Cakra dengan nada sinis.


Lesya menatap datar tiga lelaki di depannya. Leon berada di samping kiri Alam dan Cakra berada di samping kanan Alam.


Lesya bersingkap dada. "Kalo gw suruh jam 10 ke sini, bakal ketangkep sama kapten OSIS"


"Iya, tapi lo kan tau sendiri kan dek? Kita jago nyelinap masuk walaupun lo jauh lebih jago dibandingkan kita" oceh Alam.


Tentu saja Alam dan Cakra kesal. Disuruh kumpul jam 5 namun mereka datang jam 10. Gil* gak tuh?


Coba bayangan jika kalian diposisi Cakra dan Alam! Selama 5 jam mereka menunggu kedatangan Lesya dan Leon!


Alam memasukkan tangannya ke dalam sakunya dan menatap Lesya dengan tatapan bingung. "Ada masalah? " tanyanya.


Lesya mengangguk. Suasana kembali menjadi hening. Hanya terdengar angin yang lewat saja. Ketakutan Leon meningkat. Di sinilah kelemahannya terlihat.


Sosok periang yang aslinya penakut. Dia tak mempunyai keluarga selain Lesya, Luna, Alam dan Cakra. Dia sangat menyayangi ke empat orang yang dianggap keluarganya sendiri.


Orangtuanya sudah tak ada disebabkan kecelakan beruntun. Dan setelah dia dan Lesya mengecek kecelakaan dengan detail, memang benar murni kecelakaan.


Namun, semua berubah disaat dia diajak Lesya dan Luna ke markasnya. Mencari kebenaran kecelakan kedua orang tuanya, dilatih menjadi pemberani dan menjadi bagian keluarga gengster Lesya.


Dia bersyukur atas itu semua. Dua nyawa digantikan menjadi empat nyawa. Dia bertekad akan menjaga ke empat keluarganya dengan baik. Terutama Lesya!


Dia sempat terkejut dengan jalan cerita Lesya, Alam, dan Cakra. Dia masih beruntung dibandingkan mereka. Dan dia menggunakan kesempatan memiliki keluarga angkatnya.


Sangat beruntung hingga dia tak tahu bagaimana cara membalas budi Lesya. Dia bahkan bersyukur dipertemukan dengan Lesya. Manis namun sadis! Bad girl tapi berhati malaikat!


"Gw kecolongan" Alam dan Cakra berusaha mencerna ucapan Lesya yang tak mereka mengerti.


Mungkin Leon belum bercerita mengenai masalahnya. Lesya menghela nafas kasar. Dia mengangguk dan menceritakan dengan detail.


Alam menatap Leon. Leon menunduk ke bawah. Lesya mengangkat wajah Leon dengan tangannya, "Ini bukan sepenuhnya salah lo"


Leon memeluk Lesya disusul Cakra dan Alam. Lesya hampir kehabisan nafas karena dipeluk oleh ketiga lelaki di samping dan depannya.

__ADS_1


"O-oy! Eng-ap be-g*! " Leon melepaskan pelukan begitu juga Cakra dan Alam.


"Kalian mau bunuh gw ya? " kesal Lesya jengkel.


Walaupun hanya sedetik sampai lima detik, Lesya pengap karena tak biasa dipeluk. Ditambah badan mereka yang besar-besar dari pada dia.


"Shutt! Udah gak usah marah, gw buru-buru jam 12 mau jemput Elen. Jadi apa rencana lo? " Lesya mencibir.


"Mentang-mentang udah punya bini! Enak lo ya" Alam membanggakan dirinya mendengar cibiran Cakra.


Alam juga menyisir rambutnya menggunakan tangannya, "Gw ganteng banyak yang suka tapi cuman satu yang ada di hati"


"Buciinn!" sindir Leon. Alam terkekeh pelan. Dia menepuk pundak Cakra.


Cakra memang mempunyai pacar namun tak pernah dikenalkan kepada mereka. Dia takut, Alam menjadi orang ketiga. Apalagi Leon!


Bahkan dia dan pacarnya sudah siap menikah. Hanya menunggu waktu saja. Lamaran? Sudah bertunangan malah! Tunggu kondisi yang baik saja mereka pasti nikah.


"Tunggu undangan di rumah aja" Lesya tersenyum dan menepuk pundak Cakra. "Jangan lupa ajak gw ya bang"


Cakra mengangguk. Dia pasti mengajak keluarga angkatnya jika dirinya menikah., "Santuy aja dek, kalian sama Luna bakal gw undang kok"


"Uhuy! Makan-makan gratis" girang Leon. Pecinta diskon plus gratis brey!


Alam menoyor kepala Leon, "Makan mulu lo" Leon mengaduh pelan., "No eat, no life bro"


"Eak... B. Ingg lo makin bagus aja" Leon membanggakan dirinya mendengar pujian Cakra. Hanya sedetik saja!


"Tapi, ngapa B. Ingg lo yang rendah nilainya? " Cakra tertawa puas. Leon mendengus malas saja mendengarnya.


"Rencana lo apa dek? " tanya Alam. Suasana mulai serius. Tak ada yang bercanda lagi.


Lesya menjeda ucapannya, "Jadi gini . . . " jedanya. Mereka bertiga sontak membuka lebar telinga mereka dan penasaran rencana Lesya selanjutnya.


"Ada deh! Rencana gw masih blom ada yang tau. Karna gw gak mau kejadian waktu itu terulang" Mereka menghela nafas sabar.


Mereka tak masalah sebenarnya. Namun, mereka juga ingin siap siaga saat dibutuhkan. Lesya terkekeh melihat wajah masam mereka.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2