
Episode 417: Makam Arga
Beralih lagi pada sebuah tempat pemakaman yang hanya dapat diisi be berapa orang penting saja. Setelah lama berkendara dan melewati rintangan hidup, akhirnya Lesya dapat menemui makam sang papi lagi.
Omong-omong, Lesya baru sadar jika dia sudah lama tak berkunjung ke tempat itu. Selalu saja tertunda karena sibuk mengurusi dunianya yang saat itu sedang berada di situasi tidak kondusif.
Mengusap pelan batu nisan yang sedikit didekorasi dengan campuran keramik, Lesya tersenyum lembut mengingat banyaknya nasihat dari Arga sebelum meninggal. Senyum lembut yang tak pernah dia pancarkan termasuk kepada-- Elvan bahkan sahabatnya.
"Hai Pi, apa kabar? Di sana tenang kan sama Mami? Papi bahagia kan sama Mami di sana? " ucap Lesya memulai ucapannya. Rasanya dia kini mati rasa jika kepalanya terus-menerus memaksanya untuk mengingat kejadian tusuk menusuk hingga Papinya tiada.
"Papi, selamanya Papi tetap jadi papi Lesya walaupun Daddy ada sekarang. Walaupun sebenarnya Papi itu uncle aku, tapi Papi tetap jadi papinya Lyra, sampai kapanpun." lirih Lesya seraya mengelus dengan lembut nisan putih di depannya.
"Aku udah coba ngelakuin apa yang Papi bilang, tapi Lyra takut kalau Ara beneran dikurung KetBok selesai ujian. Lyra gak mau Pi, tapi Lyra juga takut kalau KetBok kecewa. Menurut Papi, aku harus nurut KetBok atau tetap jagain Ara? "
Lesya terus berbicara pada makam di depannya seolah-olah sedang berhadapan dengan sang Papi secara langsung. Bahkan kehangatan dan kasih sayang mendiang Arga seolah masih terasa di benak Lesya.
"Pi, Lyra ngerasa kayak ngekhianatin Papi." kata Lesya lagi. "Hanya karena Lyra yang butuh kasih sayang seorang ayah, Lyra sampai mau nerima tawaran Daddy biar buka lembaran baru. Padahal, Lyra sendiri pernah bilang kalau Papi, laki-laki kebanggaan Lyra. Kesannya kayak Lyra kemakan omongan Lyra sendiri, Lyra jahat banget kan Pih? " sambung Lesya.
Tes!
Dengan segera Lesya mengusap pipinya yang kembali sedikit basah karena setetes cairan di pelupuk matanya sudah terjun bebas tanpa izinnya. Sungguh, dia sangat membenci dirinya yang mudah menangis. Kesannya saat ini dia kelihatan sangat cengeng jika dilihat.
"Tu me manques Pi! (Aku kangen kamu, Pi!)" lirih Lesya. "Lyra kangen semua kenangan sama Papi. Mulai dari Papi yang selalu buatin Lyra susu, selalu beli makanan kesukaan Lyra, suka larang ini-itu, suka buat Lyra ngambek, suka kasih surprise, bahkan waktu ledekan kata 'ira' juga Lyra kangen banget dengernya lagi." cerocos Lesya menceritakan kejadian dahulu saat masih bersama mendiang Arga.
Di sini ada yang pernah bingung? Kenapa Lyra dipanggil Rara sementara Lara dipanggil Ara? Padahal akhiran kedua nama itu sama-sama 'Ra' loh. Bisa aja sebenarnya Lara dipanggil Rara. Tapi bagi Lesya itu sama sekali tak bisa.
Jawaban dari pertanyaan di atas, karena Lesya menganggap panggilan 'ira' terdengar kurang bagus. Dan Lesya bahkan menganggap panggilan 'ira' itu terdengar meledek dirinya. Dan saat dahulu, Arga meledek Lesya dengan panggilan 'ira' sehingga Lesya sering kali ngambek mendengarnya.
Lalu kenapa saat kecil Lesya tak dipanggil 'lyly' saja? Menurut pemikiran Lesya dahulu saat kecil, katanya panggilan 'lyly' terkesan feminim dan nampak kesan manja sementara dirinya tak suka dibilang anak manja.
Itu sebabnya nama Lara dipanggil ‘Ara’ bukan ‘Rara’. Lucu bukan? Mengingat hal itu Lesya tersenyum kecil. Hasil ambekannya dahulu membuat sang papi dahulu harus membeli ice cream dengan box jumbo. Mengingat hal itu, hatinya perlahan mulai menghangat.
"Tapi Papi tenang aja. Selamanya Papi sama Mami akan Lyra ingat. Kalian orangtua terbaik Lyra sampai kapanpun itu." ucap Lesya mengembangkan senyumnya manis. Sedetik dia teringat sesuatu hingga langsung memancarkan raut wajah muramnya dalam sekejap.
__ADS_1
"Tapi Pi, Lyra sekarang masih sedih. Kira-kira Lyra dosa gak ya kalau gak bisa pertahanin anak Lyra waktu perang? Lyra gak becus jagainnya sampai-sampai dia pergi lagi. Lyra ngera-sa gagal Pi. . ."
"Kalau Papi ketemu anak Lyra di sana, tolong bilang ke dia biar gak benci Lyra. Bilang juga kalau Lyra minta maaf gak bisa jagain dia lebih lama."
Lagi, satu tetes cairan bening sudah turun dengan bebasnya. Perlahan isakan kecil mulai terdengar. Sungguh, sekali lagi, dia benci dengan dirinya yang terlihat lemah saat ini. Alhasil untuk meredakan tangisnya, Lesya memeluk nisan sang papi seolah-olah dia sedang berada di pelukan Arga.
"Lyra manque vraiment à Papi ! (Lyra bener-bener kangen sama Papi ! )" lirih Lesya memeluk erat nisa putih yang dihias sedikit bunga juga kaca keramik. Setelah puas menumpahkan keluh kesahnya, barulah Lesya mulai menaburkan bunga dan membaca do’a sebelum pergi dari sana.
...𖥻 𖥻 𖥻 𖥻 𖥻 𖥻 𖥻...
Suara petir yang melenggar membuat seorang gadis cantik tersentak. Kini dia berada di rumahnya setelah mengunjungi kedua orang terkasihnya. Eum, ralat, maksudnya di rumah mertuanya. Ya, dia saat ini masih menumpang di rumah mertuanya.
Saat ini kedua mertuanya sedang tak berada di rumah. Dan para pekerja rumah juga hari ini sedang diliburkan. Menanyakan keberadaan kakak iparnya juga sedang di rumah sang abang angkatnya. Jadilah dia di rumah dengan sang suami yang berada di kamar.
Sebelumnya juga dia sudah pulang dengan tubuh sedikit basah, itu sebabnya Elvan menyuruhnya agar segera mandi. Dan selepas mandi sore, Lesya berencana membuat susu cokelat hangat untuk menghangatkan hidungnya yang sedikit tersumbat.
Dan di sini lah dia sekarang, dapur rumah dengan peralatan cukup lengkap. Sedari tadi dia hanya bersenderan di lemari dapur yang cukup besar seraya bersiul menunggu air yang dimasaknya matang.
Jderrr..
"Awh, panas!" ringis Lesya lirih.
Lesya dengan segera kembali meletakkan panci panas di tempat semula. Berbalik secara perlahan, Lesya sedikit tersentak dengan seluruh ruangan yang cukup gelap. Tanpa sadar Lesya yang memundurkan langkahnya ke belakang, hingga tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas keramik di sana.
Gelap? Lesya merasa dirinya sedang terjebak dalam sebuah ingatan di mana dia tak dapat melihat warna kecuali hitam. Takut? Tentu saja. Walau kemampuan sang ayah yang menurun padanya, tetap saja Lesya merasa takut.
*Gak-gak! Jangan takut Sya! Lo bukan anak kecil lagi, gak usah selemah ini, keliatan cupu deh lo.* batin Lesya yang kini beralih sudah bersembunyi di bawah kolong meja dapur. Haduh, memalukan!
"Le, lo di mana?"
Suara lelaki yang sangat familiar membuat Lesya sedikit mendongkak untuk mencari asal sumber suara. Namun, saat hendak keluar, justru kepala gadis itu terpentok meja dapur itu hingga sang empu meringis kecil.
Mendengar suara dari bawah kolong meja dapur, dengan segera Elvan melangkahkan kakinya ke arah meja dapur. Dia berjongkok dan menghela nafas lega setelah melihat siapa yang berada di bawah meja dapur.
__ADS_1
"Le, syukur deh lo di sini. Lagian ngapain lo di sini hm? Kan gw tadi udah nyuruh lo tunggu di dalem kamar aja."
Elvan menyerocos hingga sang lawan bicara mendengus sebal. Dengan segera mereka keluar dari bawah kolong meja dapur. Elvan yang memegang ponselnya yang memancarkan cahaya senter sedikit terkejut melihat pecahan kaca yang berada di bawah lemari dapur.
"Sorry Pan, tadi gw kaget karena lampunya mati. Terus gw gak sengaja nyenggol tuh gelas jadinya pecah deh." cicit Lesya langsung menjawab karena sudah paham dengan raut wajah Elvan.
"Lagian lo juga ngapain sih ke dapur? Gw bilang tunggu di kamar aja. Masalahnya gelas yang pecah ini gelasnya Ayah, bukan gw." ucap Elvan dengan penuh kesabaran lalu beralih membereskan serpihan gelas keramik yang sebetulnya adalah gelas kesayangan Angga.
Lesya membulatkan matanya dan menggigit kukunya resah. Setelah melihat gelas keramik yang tak sengaja dia pecahkan sudah dibereskan, dengan segera Lesya beralih memeluk Elvan.
"Huweee… Terus gw gimana Pan? Ayah gitu-gitu rada galak." lirih Lesya. "Padahal kan gw niatnya cuman buat susu cokelat doang bukan lempar gelas." lanjut Lesya.
Elvan yang mendengar pengakuan Lesya yang mengatakan jika ayahnya galak berusaha menahan tawanya. Memang benar. Dia sendiri sebagai anak kandung Angga juga merasa jika ayahnya itu memiliki sisi galaknya tersendiri.
"Gak tau dehh kalau gitu..." ledek Elvan dengan kekehan. Lesya mengerucutkan bibirnya manyun dan memukul lengan lelaki itu dengan cukup keras karena sudah berani meledeki dirinya.
"Udah nanti gw omongin sama Ayah, sini gw buatin susunya buat bayi manja ini."
"ELVAN IH!"
"Bercanda Le,"
"Pan, hansaplast ada gak? "
"Di laci bawah."
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Pengen langsung ending?
Kalau mau, berarti langsung banyak skip, mau kah? Soalnya author pribadi udah siapin alur dan ekstra part novel ini. Spoiler nya, ekstra part nya kisah anak-anak Lesya nanti lho... Tunggu terus ya, semangatin dulu donggg sini❤︎
__ADS_1
Btw, lebih milih bunga 🌹 atau 🌻 ?
Luv kalian gaysss... 😍😘