Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
444: (GAK) Hilang


__ADS_3

Episode 444: (GAK) Hilang


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Waktu berlalu hingga sore hari. Matahari pagi kini telah berganti menjadi matahari sore. Langit yang semula cerah kini sudah berganti menjadi senja. Banyak orang berlalu lalang karena hendak pulang kerja. Termasuk Lesya sendiri.


Hari ini Lesya sengaja menyibukkan diri dengan memeriksa berkas-berkas kantor Galang. Kata Ronald-asisten Galang, hari ini Galang tak masuk ke kantor jadi dia berniat menggantikan saja. Lesya juga sama sekali tak menghubungi Galang mengenai dia yang menggantikan diri karena ponselnya yang habis baterai.


"Huahhh ... akhirnya bisa pulang huh!"


Lesya mengambil ponselnya yang sedang dicash dengan chargeran yang ada. Dia mengeryit bingung karena saat dia membuka ponsel, sama sekali tak ada respon. Wanita cantik itu secara reflek menepuk keningnya pelan karena baru teringat jika dia mematikan daya sebelah pengisian baterai ponselnya.


"Duh lo udah pikunan bae sih Sya, masih muda juga." gumamnya terkikik sendiri. Segera Lesya mengambil tas selempangnya da berjalan keluar dari ruangan. Sesekali juga Lesya mengangguk singkat dengan sapaan hormat dari karyawan yang bekerja.


"Nona mau pulang 'kah?"


Langkah Lesya terhenti saat bertepatan dengan Ronald-asisten yang bekerja pada naungan Daddy kandungnya. Lesya mengangguk pelan saja menanggapinya.


"Nona kalau bisa turun lewat pintu samping saja, di bawah ada Pak Darell yang mau bertemu Nona. Katanya mau bahas kerjasama, saya takut Nona risih."


Lesya mengembangkan senyumnya dan mengangguk antusias saja. Beberapa belakangan ini juga pemilik nama Darell mulai sering mengunjungi kantor Daddy nya. Hal itu membuat Lesya terkadang terpaksa mengawasi kantor dari layar laptopnya. Untung Ronald lebih dahulu memberitahu hal tersebut padanya.


"Makasih Om Ronald!"


"Sama-sama Nona, hati-hati ya."


Lesya mengacungkan jempolnya pada Ronald. Setelah itu, dengan segera dia bergegas melewati jalan belakang yang hanya diisi beberapa orang penting saja. Beruntung dia dapat lolos hingga masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya ke arah jalan rumahnya.


"Annoying!"


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Setibanya di rumah, Lesya masuk ke dalam dan terkejut di saat Elvan memeluknya segera. Bahkan langkahnya saja melangkah mundur karena pelukan dadakan dari suaminya itu. Lesya saja bingung karena adanya beberapa temannya yang berada di sana.


"Eh kenapa lagi?" bingung Lesya.


"Sorry hiks, lo pergi gak bilang-bilang. Takut gw ngadepin Pawang lo yang ngamuk-ngamuk sama kita." ucap Luna mengusap pelupuk matanya yang basah.


"Gw bukannya udah bilang ya?"

__ADS_1


"Mana ada! Gara-gara lo, kita diomelin seribu kali sama dia! Untung kita udah biasa, tapi si Luna yang ada nangis denger ocehan laki lo." ucap Lisa ketus.


Lesya mengelus punggung Elvan dan berbisik agar melepaskannya. Nafasnya bisa habis jika terus-terusan dipeluk dengan erat oleh suaminya. Lesya lupa menghubungi mereka karena saat di jalan, baterai ponsel miliknya habis.


Elvan segera melepaskan pelukannya dan memutar balikkan tubuh sang istri seolah memeriksa apakah ada yang terluka atau tidak. Lesya hanya menghela nafasnya panjang saja dan pasrah karena memang sudah biasa dia diperiksa demikian oleh Elvan.


"Gak luka 'kan?"


"Enggak."


"Gunanya handphone apa? Kenapa gak hubungin biar dijemput? Terus kemana aja dari tadi sampai sore begini hah?"


Luna yang mendengar pertanyaan beruntun Elvan tampak menangis kencang. Walau yang ditanya adalah sahabatnya, rasanya ngilu bagi Luna melihat sahabatnya seperti dibentak, baginya. Jika bagi Lesya, itu adalah omelan Elvan seperti ibu-ibu cerewet.


"Pak Ketu, mending duduk dulu. Jangan marah-marah, nanti cepat lekas tua... " hibur Valen tanggap seraya berusaha menenangkan istrinya yang masih menangis kejer. Elvan menghela nafas dan menyuruh semuanya untuk duduk.


Kali ini Lesya memilih duduk di single sofa. Namun, melihat tatapan tajam Elvan, akhirnya dia menurut saja dan berpindah di sebelah Elvan. Tak lupa juga dengan cengiran kudanya layaknya orang yang tak memiliki kesalahan.


"Jadi ... tadi itu 'kan Luna ngajak nobar, ya akhirnya gw bolos, lagian gabut juga nunggu jam kelas berikutnya. Nah pas nobar, mereka ketiduran dan gw gabut dong." ucap Lesya menceritakan seraya menunjuk ke arah Luna dan Lisa.


"Maksudnya salah kita gitu?"


"Nah because I'm gabut, gw pergi ke rumah Aunty. Tadinya mau ngabarin, tapi pas di jalan baterai gw habis. Habis dari rumah Aunty, gw ke kantor jadinya ini baru pulang. Handphone baru gw cash, tapi gw matiin." jelas Lesya singkat.


"Kenapa gak ngomong-ngomong sih?"


"Huwaaa... "


"Lisaaaaa... Please deh jangan nambah kerusuhan. Bini gw gak bisa denger yang suara kenceng-kenceng kayak lo."


Valen kembali menenangkan Luna yang nangis kejar lagi akibat Lisa yang bertanya dengan ketusnya pada Lesya. Lisa hanya tersenyum canggung saja mendengar teguran Valen. Sungguh, Lisa amat kesal pada perubahan mood Luna yang mudah hancur dan langsung menangis kencang karena hal sepele.


"Stok kesabaran lo berapa Val, ngadepin bini cengeng begitu?" tanya Revan terkekeh pelan. Luna yang mendengar kata 'cengeng' kembali menangis histeris membuat Valen segera menendang Revan karena sengaja mengerjai nya.


"Haha... aduh, sakit, Yang!"


Revan mengaduh sakit di saat perutnya dicubit oleh istrinya setelah puas menertawai Valen. Lisa hanya memutar bola matanya malas. Jika mood Luna berubah menjadi cengeng, berbeda dengan Lisa yang berubah menjadi lebih galak dibandingkan hari-hari biasanya.


Elvan hanya menghela nafas dan mengusap anak rambut istrinya dari belakang. Lesya yang sedang puas menertawakan nasib kedua teman suaminya, tampak terkejut dan menoleh ke arah samping. Jika dilihat lebih dekat, wajah Elvan sekarang sudah berubah menjadi lebih teduh dibandingkan tadi.

__ADS_1


"Jangan diulangin ya?"


Lesya tersenyum dan mengangguk pelan. Keduanya berpelukan dengan erat membuat Revan yang melihat memasang wajah hendak muntahnya.


Terlebih di saat melihat ketuanya mencium pucuk kepala sang istri, membuat Revan kegelian. Biasanya, ketuanya selalu datar, dingin, kutub. Itu saja, tapi jika bersama Lesya semua berbeda. Jikalau sewaktu-waktu ketuanya marah besar, Revan dapat menggunakan Lesya sebagai tamengnya nanti. Walaupun begitu, Revan juga harus tetap menghormati dan menghargai adanya Lesya yang dapat mengubah sikap ketua sekaligus temannya.


"Iri amat lo!" sinis Valen.


"Woiya dong, Pak Boss enak masih bisa main-main, lah gw harus nunggu 4 bulan lagi baru bisa main-main." ujar Revan mengarahkan empat jarinya pada Valen.


"Gak ikhlas hah?" ketus Lisa.


"Ikhlas kok Yang, cuman harus sabar biar dedeknya nanti gak penyok." ujar Revan memelas karena takut dengan kemarahan sang istri. Bisa-bisa nanti dia tak ada guling tidur jika sempat marah.


"Iya-iya... bilang aja takut gak peluk-peluk aku 'kan?" cemberut Lisa dengan wajah masamnya membuat Revan menoel dagu istrinya yang terlihat lucu.


"Kalian nginep aja di sini, udah malam. Masalah kamar, pakai aja kamar yang di sebelah sana." ucap Elvan seraya menunjuk ke arah kamar yang berada di sekitaran ruang tamu rumahnya.


"Yess nginep!! Yuhuuu.. ayok Yang, ke kamar yuk." ajak Lisa yang antusias saat mendengar ucapan sepupunya. Bukan apa-apa, tetapi Lisa senang di saat melihat wajah Lesya terkadang mengamuk karena melihat rumah dia yang diotak-atik ulah tangannya.


"ENGGAK DIH OGAH YA NAMPUNG LO!"


"HUWAAA... "


Lesya menutup mulutnya di kala mendengar tangisan Luna yang kembali merajalela. Lisa tampak tertawa puas di saat Valen menghela nafas dan tak tahu harus menegur bagaimana. Kehadiran Luna malam ini, mungkin akan menambah suasana malam di mana mereka akan bermalam sehari.


"Bu... " lirih Valen putus asa.


"Iya maap-maap, peace lho... "


"YA TUHAN, CAPE SAYA LOH!" frustasi Valen mengacak-acak rambutnya. Susah payah dia menenangkan sang istri, usahanya dibuat nol akibat ucapan ngegas sahabat istrinya itu.


"HUWAAA... ALIEN GAK IKHLAS!"


"Ikhlas kok Sayang, ikhlas."


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<

__ADS_1


25191511251712519♡


__ADS_2