
Tidur? Hal yang penting dilakukan untuk setiap manusia salah satunya Lesya. Jika kekurangan waktu tidur, kesehatan dapat terganggu. Begitu yang dialami Lesya saat ini yang memang kekurangan tidur.
Kemarin malam, Lesya menghabiskan waktu mandi yang cukup lama ditambah angin malam yang menerpa dirinya saat di balkon. Elvan yang baru saja pulang membantu Angga mengurus masalah perusahaan hingga malam hari pukul 9 malam, menyuruh Lesya agar cepat tidur saat itu.
"Huuaahhh! Ngantukk njem! " gumam Lesya setelah tiba di UKS dan merebahkan dirinya di salah satu kasur yang ada.
Waktu berlalu dengan sangat cepat hingga Lesya tertidur kembali bangun dan menatap sekelilingnya. "Hoaaahh! Jam berapa saat ini? Tanyakan pada peta eh jam! " molog Lesya melotot melihat jam di tangannya.
"Shitt?! Jam dua? Perasaan baru tidur beberapa menit langsung jam duaan?! " Lesya beranjak dan berlari terbirit-birit menuju kelasnya.
Kosong! Itu satu kata untuk kondisi kelas B saat ini. Hanya tersisa satu tas yang berada di meja Lesya saja yang ada. Lesya dengan cepat mengambil tasnya dan membuka tas ranselnya.
Betapa terkejutnya dia menemukan satu box yang entah apa isinya. Penasaran, Lesya hendak membuka namun tertahan dengan suara bariton yang sangatlah dia kenal. "Ngapain? "
Lesya menoleh dan mendapati Elvan masuk ke dalam kelasnya. Mamang Elvan baru saja mengambil tasnya dan pulang karena tadi dirinya dipanggil oleh pak Rio mengurus keperluan outing yang akan dilaksanakan lusa.
Sekolah sudah kosong. Bahkan teman-temannya sudah pulang terlebih dahulu. Namun dia tertahan mendengar suara adanya orang selain dia di sekolah. "L-lo? Belum balik? " Elvan menggeleng. "Ngurus outing! "
Lesya mangut-mangut paham saja. Dia yang tersadar memegang box, hendak memasukkan kembali namun tertahan oleh Elvan kembali. "Itu apa? " Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Eum.. I-ini kotak! "
Tak percaya, Lesya meneguk salivanya melihat tatapan horor Elvan. "A-anu.. Gw gak tau! Soalnya tadi ada di tas gw tiba-tiba! " jawabnya jujur.
Elvan mengerutkan keningnya heran. "Gak mungkin ada di tas lo tiba-tiba! " Lesya menggedik-kan bahunya tak tahu. "Gw dari UKS dan baru dateng ke kelas! Mana gw tau kalo di tas gw ada box! "
Paham maksud Lesya yang menyebut UKS sebagai tempat bolos, Elvan mengambil alih box tersebut dari tangan Lesya. "Eehh! Jangan dibuka! Biar gw aja! "
Kembali mengambil alih, akhirnya Lesya terkejut melihat isi kotak hingga kotak tersebut terlempar. "ARRHH! " Elvan menahan tubuh Lesya yang hendak jatuh ke belakang. "Eh? "
__ADS_1
Lesya mengatur nafasnya panjang. "I-itu rokok! " Elvan mengulurkan satu tangannya sementara tangannya yang lain menopang tubuh Lesya yang sedikit gemetar. "Rokok? Boneka? Tikus? Darah? Apa maksudnya? "
Lesya melotot mendengarnya. "Kebalik! Tikus, boneka, rokok, darah! Artinya Sakh yang diambil dari huruf akhir nama Sakh! Lebih tepatnya.. Itu nama geng! " Elvan menatap Lesya yang seperti tak biasanya. Sangat jujur! Tumben? Pikirnya.
"Tumben? Biasa lo gak takut sama boneka, darah, sama tikus! Sekarang?" Lesya menutup hidungnya dengan memencet hidungnya. "Jauhin rokok dari gw! " ucapnya sedikit ngegas.
Elvan menendang box tersebut sedikit menjauh. Adanya angin, salah satu foto terbang tertinggal di sana. Lesya menghela nafas lega. "G-gw sebenarnya alergi rokok! " Elvan menatap Lesya tak percaya. "Lo alergi? "
"Lebih tepatnya kalo gw ngeliat batang rokok, bulu kuduk gw naik! Gw gak tau! Cuman gw simpulin kalo gw alergi! " Elvan mengangguk paham saja. "Pantes waktu Leon buang rokoknya lo ngalihin pandangan! "
Lesya mengangguk. "Foto siapa? " Lesya mengambil foto yang ada di bawah meja dan melotot kan matanya.
Bagaimana tidak? Gambar tersebut menampilkan wajah Arga yang sudah di coret-coret dengan spidol merah dan sedikit darah. "Papi! " lirih Lesya.
Elvan mengambil foto tersebut dan merobeknya hingga terpecah beberapa bagian. "K-kok dirobek? " Elvan membuang begitu saja foto tersbeut dan menatap Lesya. "Gak pantes! Udah ayok pulang! "
Lesya menurut saja dan menenteng tasnya. Dia membiarkan Elvan manarik dirinya menuju parkiran yang ada. "Eeehhh! Bentar! Motor gw gimana? " tanya Lesya memberhentikan langkahnya.
Elvan mengangguk. "Sekarang naik motor! Mobil gw dibawa Ayah! " Lesya mengangguk paham lalu melotot. "What?! Pulang sama lo?! Lagi?! Berdua?! "
Elvan mengangguk sebagai jawaban dengan enteng. "Kenapa? " tanya Elvan enteng.
Lesya berdecak malas lalu pergi ke arah motornya terlebih dahulu seraya menggerutu kecil. "Pengennya pulang bareng pangeran asli yang baik hati dan tidak dingin! Ehh... Malah sama pangeran kodok yang sombong dan sangat dingin! Pengen nonjok! "
Lesya menggunakan helmnya dan naik dengan cepat ke atas motornya. Elvan yang mengerem mendadak membuat Lesya terkejut berakhir memeluk Elvan. "Lo sengaja ya? "
"Motor lo butut ya?! " Lesya melotot tak terima di saat motornya dihina. "Heh! Motor gw kagak gitu ya! Motor lo kali! " ucapnya kesal.
__ADS_1
"Lo! "
"Lo! "
"Lo! "
"Lo! "
"Stop! Jadi pulang gak?! "
Elvan kembali melaju dengan cepat membuat Lesya terkejut dan akhirnya memeluk pinggang Elvan. Bayangkan saja jika dirinya hampir terjungkal ke belakang karena tak ada pegangan. "Modus biar gw peluk kan lo?! " sindir Lesya.
Lesya menghela nafasnya panjang di saat ucapannya sama sekali tak di jawab. Dia lupa dirinya berada di jalan yang ramai hingga suaranya tak terdengar. "LO MODUS YA BIAR GW PELUK?! "
Elvan menggeleng tak mengerti. "APA?! " Lesya berdecak malas mendengarnya.
Bohong saja jika suara Lesya tak terdengar. Bahkan sindiran awalnya dia dapat dengar dengan baik dan jelas. Namun, dia saja yang malas meladeni nya. Apalagi harus berteriak di tengah jalan. Hancur dirinya!
"KAGAK! " Elvan mengangguk saja mendengar suara Lesya yang kembali berteriak. Tak ada percakapan yang terdengar hingga masuk ke dalam halaman kediaman Grey.
Terdengar suara sedikit keributan di dalam rumah hingga Mayang berteriak histeris di dalam. Lesya dan Elvan saling berpandangan satu sama lain. "Bun-da Pan! "
Lesya dan Elvan segera masuk mencari keberadaan Mayang di rumah mewah itu. "BUNDAA! " panggil Lesya berteriak. Elvan menoleh ke arah lantai 4 yang digunakan untuk penyimpanan senjata. "Lantai empat?! "
Lesya yang mendengar gumaman Elvan berlari menyusul Elvan menuju ruang penyimpanan senjata itu. Angga masih belum kembali karena memang harus kembali pergi ke kantornya seusai dari sekolah.
Dorr! Dorr! Dorr! Pyarrr! Aargh!
__ADS_1
Lesya dan Elvan melotot melihat Mayang yang diikat di kursi dan menangis histeris mendengar suara tembakkan di sekitarnya. "Bundaa! "
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗