Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
61: Terkunci!


__ADS_3

Keesokan harinya, Lesya lari terbirit-birit menuju kelas. Jujur saja tadi dia bangun lebih awal. Dia terlambat karena mampir ke cafe dulu tadi.


Lesya berhasil masuk ke kelas lantai paling atas. Hari ini adalah waktu dimana semua kelas 12 digabung. Lesya langsung berjalan ke arah Luna dengan nafas yang belum teratur.


Lesya duduk di sebelah Luna, "Hahh! Cape anjiir" Luna menyodorkan satu botol aqua dari tas Leon, "Nah! Dari mana aja? "


Lesya meneguk aqua botol yang di sodorkan Luna, "Cafe!" Leon yang mengecek tasnya guna mengambil minumnya terperanjat kaget.


"Eh lah! Botol gw, Sya! " Lesya menutup kembali botol tersebut, "Mana gw tau! Yang kasih ono si Luna"


Luna menyengir, "Nih! Gantinya punya gw" Luna memberikan botol aqua miliknya dari dalam tasnya.


Leon yang melihat wajah memelas Luna yang tak ikhlas memberikannya ganti botolnya tadi, hanya menghela nafas malas saja, "Buat lo aja dah. Gw nanti tinggal beli"


Luna kembali ceria. Dia memasukkan kembali botolnya ke dalam tasnya mendengar suara pak Rio sudah terdengar.


"Selamat pagi semua... " ucap pak Rio memulai pelajaran. Murid-murid menjawab dengan kompak, "Selamat pagi juga pak! "


Lesya tak fokus mendengar penjelasan dari pak Rio. Pikirannya melayang-layang ke mana-mana. Bisa jujur? Dia mengingat kejadian aneh kemarin.


Pak Rio berhenti menjelaskan pelajarannya dan berjalan ke arah Lesya. Luna yang menyenggol Lesya untuk menyadarkan-nya tak mempan.


"Syaa... " bisik Luna di samping Lesya. Lesya tak kunjung sadar. Pak Rio sudah berada di depan Lesya, "LESYA! "


Semua pasang mata menoleh ke arah Lesya yang akan segera di hukum pak Rio. Letha dkk berada di bagian depan sementara Elvan berada tepat di belakang Lesya.


"Ice b--- " spontan Lesya berdiri. Elvan dkk yang menebak sambungan ucapan Lesya terkejut. Lesya mengusap wajahnya kasar, "Apa sih pak? Ngagetin mulu"


Pak Rio mengabaikan pertanyaan Lesya, "Ice? Ice apa? " Lesya mengigit bibir bawah-nya, "It-tu apa ya. . . " gumam Lesya.

__ADS_1


"Ice? " Lesya dengan spontan menjawab, "Ice cream pak! Bapak mau beli-in saya ice cream gak pak? "


Pak Rio sontak menjewer telinga Lesya hingga Lesya menjerit kesakitan, "Ini masih pelajaran ngapain mikirin makanan? Hah?! "


"Adooh pak! Lepas-in dong! Sakit pak! " Pak Rio mengencangkan tenaga jewerannya membuat Lesya semakin menjerit kesakitan.


"Jawab pertanyaan saya dulu! Ngapain kamu mikirin makanan di jam pelajaran saya?! " Lesya meringis, "Dari pada saya mikirin bapak mending saya mikirin ice cream kan? " jujurnya.


Sontak murid-murid kelas 12 mencoba menahan tawanya mendengar kejujuran Lesya. Pak Rio melepaskan jewerannya dari telinga Lesya.


Lesya mengelus-elus telinga kirinya yang terasa panas dan merah, "Maksud kamu apa? Mau malu-in saya di depan umum? " tanya pak Rio.


"Dih! Saya jujur loh pak! Kan lebih baik saya mikirin ice blue--- eh maksudnya ice cream dari pada muka bapak yang gak ada bagusnya! " bohongnya.


Luna menatap Lesya bingung. Ice blue? Buat apa Lesya mikirin itu? Bingung Luna. Begitu juga dengan Elvan dkk dan Leon.


Lesya menggeleng, "Enggak kok pak, suer deh! Saya kan cuman jujur doang pak! Emang salah kalo saya jujur? "


"Ya enggak sih! Udah-udah kita lanjutkan materi kita hari ini! Kamu Lesya, awas kalo sampai ketahuan bengong lagi! " Pak Rio kembali mengajar.


Sementara Lesya kembali duduk di tempatnya. Dia yang tak fokus memilih menggambar saja di buku Luna. Dia mengambil buku Luna dan merobek selembar.


"Ngapain lo mikirin ice blue? " tanya Luna kecil. Pertanyaan Luna sontak membuat Valen, Ken, dan Farel menyimak pembicara-an mereka.


Lesya kembali berbisik, "Kemaren gw ngeliat orang tanda ice blue di jidatnya ngasih kotak di depan ruang OSIS"


"Lo bunuh atau bogem? " Lesya menggeleng, "Bukan gw yang bunuh tapi. . . " Luna menatap Lesya serius, "Siapa? "


Lesya berpikir sejenak. Lebih baik dia merahasiakan hal itu bukan? Lesya kembali menjawab, "Bundir dia! Nodongin pistol di kepalanya akhirnya mat* " bohong Lesya.

__ADS_1


"Amoso? Ya kali! " Lesya mengabaikan ucapan Luna. Dia membaringkan wajahnya di meja dan mulai fokus menggambar.


...~o0o~...


Vannya berjalan perlahan menuju toilet wanita. Lesya yang baru saja masuk ke satu toilet, terkejut mendengar pintu toiletnya dikunci.


Dia merogoh sakunya dan menggapai ponsel nya. Beruntung dia membawa ponsel nya ke mana-mana. Dia menekan nomor bu bunga di ponsel nya.


📲 Halo, Sya.


📲 Bu, saya dikunci di dalam toilet lantai atas bu! Tolong bu!


📲 Hahh?! Dikunci? Van, kamu ke toilet perempuan sono! Ada yang dikunci di dalam toilet!


📲 RASAIN LO-!! SIAPA SURUH LO NANTANGIN GW HAH?! VANNYA SENJAYA GITU LOH!! HAHA.. SELAMAT MENIKMATI LESYA...!! /teriak Vannya dari luar.


tuuutttt...


Sementara Vannya di luar teriak tak jelas menertawai Lesya yang terkurung akibat ulahnya.


"RASAIN LO-!! SIAPA SURUH LO NANTANGIN GW HAH?! VANNYA SENJAYA GITU LOH!! HAHA.. SELAMAT MENIKMATI LESYA...!!"


Lesya menyumpah serapahi Vannya yang berani mengurung dirinya. Setelah beberapa menit kemudian Lesya mendongkak melihat pintu yang terbuka.


Wajah yang pertama kali dia lihat adalah wajah tampan Elvan. Dengan cepat Lesya keluar dan mencari oksigen udara.


"Lesya!! " pekik Luna cemas. Luna memeluk Lesya hingga Lesya mementok dada bidang Elvan.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2