Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
335: Diskusi Carnaval


__ADS_3

Seorang lelaki yang sedari tadi mengotak-atik laptopnya kini beralih menatap sekeliling kamarnya. Hari sudah larut malam dan pekerjaannya sebagian sudah selesai. Hanya tersisa sedikit saja dan dia dapat kerjakan bersama kelima temannya nanti. Menutup laptopnya, lelaki itu berjalan ke arah kamar mandi untuk melakukan ritual malamnya. Menggosok gigi dan mencuci mukanya adalah kebiasaannya sebelum tidur.


Menghampiri sang istri kecilnya yang sudah terlelap di ranjang, dengan lembut dia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah sang istri. Dapat dia lihat pipi gadisnya itu basah. Bahkan matanya kembali mengeluarkan cairan bening lagi walau keadaan tertidur.


Pandangannya beralih pada kertas yang masih dipegang gadis itu. Dengan cepat dia mengambil dan membaca perlahan isi kertas itu. Rupanya karena surat dari mendiang Mila yang menyentuh hati?


Sebenarnya dia tahu alasan kedua orang tuanya menjodohkan dirinya dengan Lesya. Karena tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, tentu saja lelaki itu menjalankan tugasnya menjaga Lesya layaknya suami-istri pada umumnya. Dan sekarang dia mungkin terlebih dahulu jatuh hati pada gadis yang dia sebut troublemaker itu. Emm, lebih tepatnya bukan kemungkinan namun sudah terjadi.


"Jangan pergi! " lirih Lesya.


Gadis itu memeluk lengan Elvan. Lelaki tampan itu hanya mengangguk pelan dan menyimpan dengan baik surat itu di laci meja nakas kamarnya. Berbaring dan memeluk gadisnya, dapat dia rasakan jika dada bidangnya basah. Namun saat ini dia tak dapat mempermasalahkan hal itu. Mengelus anak rambut gadisnya dan menghirup aroma shampoo bayi yang digunakan gadis itu saat mandi tadi, akhirnya dia dapat rasakan jika deru nafas gadis itu perlahan mulai tenang.


"Jangan sedih, gw gak suka! " bisik Elvan.


Gadis itu hanya menanggapi dengan mendusel-dusel kepalanya di dada bidang Elvan. Lelaki itu hanya menahan gelinya saja dan mengecup pucuk kepala Lesya dengan lembut walau sedikit lama.


Kedua insan itu tidur dengan berpelukan satu sama lain. Seolah memberi kehangatan satu sama lain, entah sadar atau tidak, mereka nyaman dan justru tertidur lelap walau dalam hitungan detik.


— — —


Pagi yang cerah sudah tiba. Burung sudah berterbangan dengan kicauan nyanyiannya yang merdu. Jalanan juga sudah dipadati oleh banyaknya kendaraan. Bersekolah, bekerja, dan beraktivitas dilakukan pada awal pagi yang indah ini.


Seorang gadis yang hampir telat akhirnya dapat bernafas lega setelah masuk ke dalam kelasnya. Setidaknya jika gerbang hampir di tutup, kelasnya masih belum diisi oleh guru yang mengajar. Tadi dia benar-benar terjebak kemacetan di jalan.


"Hah.. Anj*r macet banget cok di jalan! "


Lesya langsung duduk di bangkunya dan mengibaskan tangannya ke arah wajahnya seolah mengipasi dirinya sendiri. Pandangan matanya mengarah pada Luna sahabatnya yang sedari tadi hanya melamun saja. Biasanya, Luna lah yang paling cerewet di sini.


"Psstt Yon, ngapa? "  tanya Lesya bebisik.


Leon yang berada di depan Lesya menoleh dan menggeleng tak tahu. Wajahnya dia dekatkan dan menunjuk Luna seolah melingkari wajah Luna. "Gak tau, dari tadi, kerjanya melamun mulu! Gw sama Lisa juga biasanya tebar uwu dia protes cumen kali ini enggak, kayaknya ada masalah deh. " bisik Leon membalas.


Lesya hanya mengangguk paham saja. Biasanya memang begitu. Luna selalu gembira dan ceria dan tiba-tiba murung begini? Ahh, sepertinya Leon tau sekarang. Dia bagaikan seorang abang bagi Luna. Tentu saja tahu alasan besar yang biasanya membuat Luna murung begini. Apalagi mama Luna—Henny, menganggapnya bagaikan seorang anak.


"Apa mungkin ya mama sakit jadinya gini? Tapi kan biasa dia gak masuk ya gak sih Sya? " bisik Leon lagi. Lesya mengangguk setuju. Saat hendak angkat suara, tiba-tiba saja guru mereka—pak Feri yang bertugas menggantikan bu bunga.


"Pagi semua! " sapa pak Feri ramah.

__ADS_1


"PAGII PAKK.. " serempak mereka.


"Baik sebelumnya saya mau kasih tau informasi karnaval sekolah. Dan sekolah mengajukan agar setiap kelas saling menjual jenis makanan khas Indonesia dan yang paling laku akan mendapatkan piala sebagai kelas terkompak. Kebetulan ulang tahun sekolah ini untuk ke-17 tahunnya, ketua kelas dan wakil ketua boleh mengajukan ide buat kelas kita! " kata pak Feri disertai dengan senyumnya.


"Wuuu.. Ketlas mana nih? " sorak satu siswa semangat tanpa sadar. Lesya berdecak malas saja. Sebenarnya dia tak ingin menjabat menjadi ketua kelas namun bagaimana lagi? Mungkin teman-teman kelasnya membalaskan dendam mereka padanya dengan cara ini, wkwk.. Entahlah Lesya juga tak tahu.


*ketlas: KETua keLAS


"Apa mangil-mangil?! " ketus Lesya.


Sontak siswa itu tersadar dan menggeleng. Gelak tawa terdengar karena wajah dari siswa itu yang memerah menahan malu. Makanya pak, semangat sih boleh tapi jangan lupa situasi, wkwk..


"Sudah-sudah! Wakil ketua kelas sama ketua kelas mau ajuin makanan apa? Tema karnaval kali ini mengisi perut kosong. Kenapa dibuat begitu? Karena pemilik sekolah akan menyerahkan sekolah ini pada anaknya nanti dan juga akan berkeliling mencicipi satu per satu makanan dari tiap kelas. Jadi saya harap, kalian tetap kompak di saat penyambutannya. " lanjut pak Feri.


Para siswa-siswi dengan kompak mengangguk paham saja. Beberapa dari mereka juga berbisik mendiskusikan makanan apa yang akan mereka buat bersama nanti untuk carnaval. Pak Feri geleng-geleng kepala dan mengetuk tangannya di mejanya seolah kode agar murid-muridnya itu diam.


"Diam, kalian gak perlu terburu-buru begini bahasnya. Saya akan kasih waktu jam pelajaran saya untuk membahas hal ini. Karnaval diadakan sekitar 2 minggu lagi, jadi semua pengurus kelas dimohon kerjasamanya agar membimbing yang lainnya. Kalau begitu saya pamit dan selamat berdiskusi semua.. " pamit pak Feri lalu berjalan melangkah pergi. Sebelum pergi, pandangan pak Feri melirik ke arah Lesya dkk. Revan yang melihat hanya menutup mulutnya saja.


* Wiss, saingan pak boss masih dibawah level! Umur udah kepala dua tapi doyan sama remaja gini. Gak masalah sih kalau cinta sama usia tapi sorry nih pak walas, bu boss sama pak boss udah ada level halalnya, wkwk... Sebelum melangkah maju auto serangan jantung kalau tau label halalnya ini mah! * batin Revan terkikik geli.


Oke lanjut...


Lesya dengan malasnya berjalan dan duduk di kursi guru yang ada. Dia masih bingung dengan maksud dari carnaval hari ini. Sudahlah, jika membawa pemilik sekolah, toh dia bisa bertanya pada ayah Angga nanti. Kalau tidak ayah Angga, Elvan juga jadi kok.


"Ekhem, yang ribut gw coret dari daftar kelas mau? Bentar dulu nih gw lagi mikir enaknya pake apaan. " ketus Lesya yang malas mendengar keributan di kelasnya. Sontak saja mereka terdiam mendengar ancaman Lesya. Mereka tau itu cuman bercanda sih, tapi kan sadis!


"Sya kalau rendang, gimana? " usul Leon.


Lesya memutar bola matanya malas. Sekilas dia berpikir dan mengangguk setuju. Salah satu lembar kertas yang ada dengan segera dia ambil. Pulpen yang dia dapat di meja guru juga ikut dia ambil. Niatnya membuat list lalu nanti dia pikirkan apa yang baiknya.


"Oke, yang lain ada usul? " tanya Lesya.


"Bakso! "


"Soto! "


"Mie ayam! "

__ADS_1


"Nasi goreng! "


"STOPPP! AELAH INI BUKAN KANTIN COK MAIN BAWA-BAWA MIE AYAM, BAKSO SAMA NASGOR! Yang lain gitu makanan daerah? " kata Lesya menolak ketiga jenis makanan yang disebutkan itu.


"Papeda Sya! " usul Luna menyahut.


"Sekalian bika ambon! " usul Amel.


"Gudeg juga Sya! " usul siswi lain.


Lesya mengangguk dan mengisi daftar list ajuan tiga jenis makanan top hitz itu. Melirik kembali ke kelasnya, alisnya terangkat satu karena justru teman-teman di kelasnya membuka ponsel mereka masing-masing. Kesal? Yaiyalah, coba pikirin dia repot sementara yang lain enak-enak. Ogah dia mah!


"Woy kok pada main handphone sih? Jadi gak? " tanya Lesya. Salah satu siswa yang berada di depan Lesya segera meluruskan maksud mereka bermain ponsel. "Kita lagi cari makanannya dulu di google! " jawabnya.


"Owalah, gak kepikiran gw! " lirih Lesya.


Dengan segera dia juga ikut mencari di ponselnya mengenai makanan daerah. Bukan apa-apa sebenarnya namun mereka hanya tau makanan jalanan sekarang. Selain itu mereka juga tak ingin kesalahan teknis nantinya.


"Sate bisa gak sih Sya? " usul yang lain.


Lesya menoleh dan menyimpan ponselnya ke dalam saku. Sedetik dia berpikir dan mengangguk saja. "Boleh lah! Yang lain apa? " tanya Lesya sekaligus menjawab. Tangannya dia gunakan untuk kembali me-list daftar makanan yang dikipas-kipas itu.


"BBQ Sya! " usul Revan.


Lesya memutar bola matanya. "Makanan khas Indo bege! Jangan mentang-mentang ada sate yang dikipasin, lo jawab ada BBQ juga ikutan, yang ada gak nyambung nanti cok! " ujar Lesya. Revan menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal itu.


"Emang beda apa? " linglung Revan.


Rupanya orang kepercayaan sang suami bukan hanya nakal. Tapi juga rada loading otaknya. Ahh, kapasitasnya mungkin hanya memuat 1 MB saja bukan sedaerah. Lesya hanya mengangguk saja menanggapinya dengan malas.


"Beda Rep! Jangan makan doang gampang tapi bedainnya susah! " ledek Lisa dibalas Revan dengan dengusan sebalnya.


"Kerak telor Sya! " kata Letha.


Lesya hanya menulis saja apa yang diucapkan oleh Letha. Sepertinya perkataan Letha tak mengakui jika Lesya adalah kakaknya benar-benar terlaksana. Bahkan Revan, Leon, Lisa, dan Luna mengangkat satu alisnya mendengar itu. Kata-kata SYA dengan mudah begitu tanpa rasa beban. Aahh, mereka paham sekarang, mungkin kedua kembaran itu sedang berselisih hebat!


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2