
Sayatan pisau dan seragam lelaki? Hum, masuk akal! Dia menutupi luka dengan bajunya! Menarik, sekarang gw tinggal cari tahu siapa Lele sebenarnya —batin Elvan penuh tekad.
Ditengah peperangan Elvan dengan pikirannya, suara lengahan Lesya terdengar. Perlahan dia membuka matanya dan mengumpulkan nyawanya.
Dia melirik dimana dia berada saat ini. Elvan menoleh dan memasang muka datar seolah tak tahu apa-apa.
"Udah sadar lo? " Tiga kata yang terlontar dari mulut Elvan membuat Lesya terkejut.
Dia menoleh ke arah Elvan dan membulatkan matanya. Setelah mencubit tangannya yang sebelah dia sadar dia bukan sedang bermimpi.
"Gw kirain siapa, taunya elo! Ngapain bawa gw ke sini? " tanya Lesya malas.
Elvan melirik tajam Lesya. Lesya bingung maksud dari tatapan tajam Elvan. Sedetik kemudian dia paham jika dia melakukan itu dengan terpaksa.
"Iya, gw tau lo terpaksa kan? Klo gak iklas gak usah ngebantuin" sinis Lesya.
Elvan pergi begitu saja. Dia duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan Lesya. Dia sangat malas sebenarnya untuk menemani Lesya. Namun mau bagaimana lagi?
ddrrrttt....
Elvan mengambil benda pipih yang diletakkan di saku celananya. Ternyata Elenalah yang menghubungi Elvan. Elvan menekan tombol hijau ke samping dan meletakkan benda pipih tersebut di telinganya.
📲 Halo?
📲 Lo dimana hah? Bolos ya?!
📲 Rumah sakit
📲 Lo sakit? Share lock alamatnya sekarang! BUNDA, KITA KE RS SEKARANG! KUTUB SAKIT!
tuuttt...
"Hah! Senyumin aja dah" Elvan mengirim lokasinya kepada Elena dan nama ruangannya.
Tak lama kemudian terlihatlah seorang gadis yang menggandeng lengan wanita paruh baya. Itu Elena dan bunda Mayang! Mereka pikir Elvan sakit dan dirawat di situ.
"Kutub! Katanya lo sakit, mana buktinya? " tanya Elena jengkel.
"Lo asal matiin sambungan telepon" Lima kata tersebut membuat Elena jengkel sejengkel-jengkelnya.
"Lalu siapa yang sakit? Dan kenapa kamu di sini? " tanya Mayang.
__ADS_1
"Masuk aja" Elena memukul lengan Elvan pelan. Sudah ditipu, dicuekin disuruh masuk pula. Elvan sama sekali tak kesakitan dengan perlakuan Elena.
Mayang memasuki ruangan tersebut setelah mengetuk pintu. Elena pun mengikuti Mayang masuk ke dalam. Lesya yang tertidur pun terbangun mendengar suara pintu.
Dia hanya membuka matanya saja. Wajahnya tertutup oleh anak rambutnya sehingga Mayang dan Elena tak mengenal Lesya. Elvan ikut masuk ke dalam dan mendapatkan tatapan tajam dari bundanya.
"Siapa ini? " Elvan terkejut. Jika Mayang menggunakan bahasa dingin itu berarti dia sedang marah.
"Kalian gak kenal? " tanya Elvan bingung. Elena menatap lekat Lesya dan teringat sesuatu.
"Ini bukannya... Oh iya! Ini Lesya, benerkan? " jawab Elena cepat.
Mayang menghampiri Lesya dengan selidik. Disingkapkannya anak rambut Lesya ke belakang telinga Lesya.
"Oh Lesya rupanya toh, kirain siapa. Tapi kenapa dia disini? " tanya Mayang
"Pingsan" jawab Elvan singkat.
"Kenapa bisa pingsan? " tanya Elena penuh selidik.
"Emphh" Lesya berpura-pura sudah bangun supaya tak dicurigai bahwa dia menguping pembicaraan mereka.
"Udah bangun? Apa yang sakit? Butuh apa? " Lesya sedikit terkejut dengan perlakuan lembut Mayang.
Baru kenal dua hari yang lalu aja udah baik banget. Klo dia benar-benar menikah dengan Elvan? Mungkin dia jadi ratu
"Eh, Lesya lo kenapa? Ada yang salah? " tanya Elena mendekat kepada Lesya.
Lesya tersadar. Dia menggelengkan kepalanya pelan bahwa dia tak kenapa-napa. Elvan jengah merasa dirinya dianggap angin, langsung keluar dari ruangan.
"Bunda, ngambek noh anak bontot" Elena tertawa melihat kelakuan Elvan.
Dia tahu jika Elvan pasti malas jika tak dianggap. Bunda Mayang ikut tertawa begitu juga dengan Lesya. Elena menoleh ke arah Lesya begitu juga dengan Mayang.
"Lucu ya? " tanya Elena memastikan.
Lesya menggeleng, " Enggak, cuman ikutan aja" jawab Lesya jujur.
Elena makin tertawa mendengar kejujuran Lesya. Sepertinya dia akan menjadikan Lesya sebagai temannya bukan adik ipar nya. Mayang tersenyum melihat keakraban keduanya.
"Oh iya kenapa bisa pingsan? " tanya Mayang serius.
__ADS_1
Lesya menoleh sementara Elena kembali ke dalam mode serius. Dia mendekat ke arah brankar dan berdiri di samping Mayang. Sementara Mayang berdiri di samping Lesya.
"Tadi di sekolah ketauan manjat pagar jadi dihukum deh. Pas dihukum tiba-tiba aku pusing karena mungkin belum makan" jawab Lesya seadanya.
Mereka mangut-mangut paham akan penjelasan Lesya. Kemudian Mayang teringat dengan perjanjian dia dengan Mila.
"Oh iya, mami kamu kenapa minta dipercepat pernikahannya? " Lesya terkejut mendengar ucapan Mayang.
"Gak tau tan" jawab Lesya seadanya. Memang dia tak tahu soal itu.
"Tapi mami kamu minta lusa segera menikah. Dan itu tanpa adanya mami kamu. Dia nyuruh bunda jadi wali kamu nanti" Lesya tambah terkejut.
Lusa? Lucu sekali, ditambah tanpa hadirnya seorang ibu? Ada apa sebenarnya?
Lesya tersenyum kaku. Mayang mengusap punggung Lesya, "Klo mau ajak temen juga gpp kok"
Lesya tersenyum. Dia akan mengajak Luna ke acaranya. Tanpa adanya keluarga dia tak masalah asal ada seorang sahabat pengganti keluarganya.
...~o0o~...
Lesya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Bukan diperbolehkan lebih tepatnya memaksa pulang. Elvan membiarkannya karena memang keras kepala Lesya sudah mendarah daging. Kedua karena dia malas mengurusi Lesya.
Lesya bertemu Luna di sebuah cafe tongkrongannya. Dia langsung menghampiri Luna yang sudah duduk di satu meja.
"Woy, udah lama lo? " tanya Lesya. Luna menoleh dan mendapati Lesya di sebelahnya.
"Kagak, baru mesen minuman nih buat lo. Btw lo gpp kan? " Lesya menggeleng dan menyeruput minumannya.
"Gak, oh iya gw mau kasih tau soal perjodohan gw"
Luna yang jiwa keponya sudah meronta-ronta langsung menyingkapkan anak rambutnya di belakang telinganya. Lesya jengah akan sikap sahabatnya yang notabenya kang gosip+kepo. Namun, walau dia kepo dan tukang gosip, Luna sangat mudah dipercaya untuk menjaga rahasia orang lain.
"Iya, kenapa? Ditagih? Sama siapa? Ganteng kagak? " Lesya menceritakan perjodohan nya dengan Elvan.
Luna terkejut. Bukankah mereka saling membenci? Jika di sekolah, mereka akan seperti musuh.
"What the hell? Gw diundang gak ke acara lo? " tanya Luna.
Lesya mengangguk "Iya, ganti mami yang masih di RS" Luna mengangguk.
Mereka pun berbincang satu sama lain. Bercanda ria dan mengobrol serius hingga malam. Setelah malam tiba, Lesya dan Luna kembali ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Kali ini Lesya bermalam di kediaman Fyo. Tak ada Gilang di sana jadi dia aman. Setelah beberapa menit Lesya tertidur lelap di kasur empuk nya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗