
Lesya menatap adiknya itu lekat, "Walaupun lo adik atau kembaran gw, gw bisa pastiin kalo lo sempat ngerendahin harga diri gw, gw gak segan-segan berbuat lebih sama lo Ar! "
Letha terdiam membeku lalu mengeluarkan raungan nya, "Keluar! Keluar lo bertiga! " Lesya menghela nafas, "Kalo itu mau lo, okeh gw kabulin. Hope you get well soon! "
Lesya dkk keluar dari ruangan tersebut. Lisa geleng kepala dengan perdebatan di depannya tadi. "Rumit! " gumam Lisa kecil.
Elvan yang melihat mereka sudah keluar, mengernyitkan keningnya heran. Pasalnya hanya 3 menit saja mereka masuk lalu keluar. Secepat itu kah? Pikirnya.
Lesya langsung pergi begitu saja mendahului mereka yang menatapnya bingung. Luna menyusul Lesya namun ditahan oleh Lisa, "Biarin dulu dia butuh waktu! "
Luna terhenti mendengarnya. "Klo gitu gw pamit ke rumah ya" Lisa mengangguk saja. Luna segera meninggalkan ruang tersebut seraya menenteng tas-nya di pundaknya.
Elvan menatap Lisa seolah meminta penjelasan. Lisa menghela nafas, "Tadi tuh Letha gak mau ketemu Lesya jadi di suruh keluar! Malah pake acara ngancem kalo dia bakal ngerusak nama baik Lesya dihadapan tante Mayang sama om Angga!"
Elvan mengangkat satu alisnya. Lisa segera melanjutkan ucapannya, "Karna Lesya gak suka nama baik dia tercoreng sama siapa pun termasuk Letha. Ya ngancem balik lah! "
Elvan berdehem ria saja. Dia bahkan mengabaikan Lisa yang mencibir dirinya karena tak penting menurutnya. "Dasar kutub! " gumamnya.
"Ngancem? " Lisa mengangguk mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Elvan. Walau satu kata saja yang keluar, Lisa mengangguk antusias, "Biasanya sih bakal dikurung jadi kelinci percobaan, pelampiasan amarah, atau bisa juga baku hantam! Kenapa? "
Elvan mengangkat bahunya acuh saja. Lisa mencibir malas saja. "Udah gw mau pulang ke rumah papa! Bye"
Lisa meninggalkan Elvan begitu saja. Kelima penjaga yang menjaga tak sengaja mendengar pembicaraan Lisa dan Elvan menyeringai senang.
Mamang benar bos mereka akan membalas lebih sadis bahkan kejam jika sempat harga diri dan nama baik nya tercoreng sedikit saja. Mereka juga bangga diangkat atau mengikuti jejak bos mereka, Queen Ellion dan Queen Allion.
Mereka yang terbuang kembali bangkit dengan bantuan Lesya dan Luna yang mengambil mereka dari mantan preman, pemulung, anak jalanan bahkan orang yang tak layak.
Nama mereka sudah disanjung tinggi dan mereka bersyukur bertemu manusia seperti Lesya dan Luna. Baik tapi sadis!
Itu sebabnya mereka mengabdikan diri kepada Lesya tanpa berani berkhianat mengingat betapa tingginya mereka di dalam dunia gengster karena ulah bos mereka.
__ADS_1
Elvan yang menyadari kelima penjaga menyeringai, pergi dan menyusul Lesya. "Aneh! Apa data belum lengkap ya? " gumamnya kecil.
Lesya yang duduk di salah satu bangku rumah sakit terperanjat kaget melihat kedatangan Elvan yang menepuk pundaknya, "Gw kira siapa! "
"Balik? " Lesya mengangguk, "Ayok! Gw gak dibutuhin buat apa gw di sini? "
Elvan mengangguk lalu menggandeng tangan Lesya menuju parkiran. Kebetulan saja Elvan membawa mobil ke rumah sakit tadi.
Elvan bukannya membawa Lesya ke rumah namun mampir ke tepi danau yang sudah dia sewa. Lesya mengernyit keningnya bingung, "Ini kan bukan jalan ke rumah Pan? "
Elvan diam tak menanggapi. Setelah tiba di danau tersebut, Elvan membuka seatbelt nya. "Turun! " Lesya menurut saja.
Dia bingung mengapa mereka ke danau malam begini? Elvan yang tak sengaja melihat penjual lampion di sekitar, menghampiri penjual tersebut.
"Pak beli 2 ya" Penjual tersebut mengangguk dan bertanya balik, "Warna apa dek? " Elvan menunjuk kedua warna yang menurutnya bagus.
Lesya yang di depan mobil menatap aneh Elvan, "Ngapain gw ke sini yak? Tuh anak ngapain juga? Samper kagak ya? "
Mereka sudah duduk di satu bangku yang tak jauh dari keberadaan mobil yang mereka tumpangi tadi. Elvan memberikan satu lampion bewarna ungu bermotif bunga dan spidol kepada Lesya.
"Buat apaan nih? " tanyanya tak paham. Elvan memutar bola matanya malas, "Tulis keinginan lo di situ! "
Lesya mangut-mangut mengerti dan menulis keinginannya disertai Elvan yang menulis keinginannya di lampion miliknya.
Setelah selesai, mereka menerbangkan lampion mereka yang sudah mereka isi dengan keinginan mereka. Cahaya dari tengah lampion menyinari lampion mereka.
Senyum Lesya mekar melihat lampion miliknya terbang menjauh dan lebih tinggi dari pada Elvan, "Woah, punya gw lebih tinggi! "
"Lampion-nya doang tinggi! " Lesya menatap Elvan, "Pa maksud?! " Elvan menggedik-kan bahunya acuh, "Badan lebih tinggi gw"
Lesya menatap kesal Elvan yang berada di sampingnya ini. Dia menaiki bangku yang tadi dia tempatin, "Gw lebih tinggi yee! "
__ADS_1
Elvan berdiri dan menaiki bangku yang ditempati dirinya tadi, "Sekarang kagak" Lesya melotot dia berjinjit agar tingginya bisa melebihi Elvan.
Elvan menggendong Lesya agar turun dari bangku. Mereka sudah turun dari bangku yang ada. Karena Elvan menggendong Lesya, kini posisi Lesya jauh lebih tinggi dibandingkan Elvan.
Jelas lebih tinggi karena kaki Lesya melayang di udara. Sontak Lesya sedetik terkejut lalu tersenyum penuh kemenangan, "Gw lebih tinggi noh! "
Elvan menghela nafasnya saja dan berdehem. Mengalah saja jika begini bukan? Sebagai lelaki sejati mengalah dengan perempuan bukan berarti kalah kan?
Hanya saja mengalah dibandingkan berdebat yang tak ada habisnya dengan perempuan. Itulah yang Elvan lakukan saat ini. Dia malas berdebat jika seperti ini.
Lesya tersenyum kemenangan melihat ekspresi wajah Elvan. Padahal, wajah Elvan tak menampilkan ekpresi sedih, masam, kesal, senang, atau yang lainnya. Aneh bukan?
Namun menurut pandangan Lesya, Elvan kesal kepadanya karena dirinya menang. Elvan menurunkan Lesya ke bawah hingga kaki Lesya menapak di tanah.
Elvan kembali berdiri tegap dan mengukur tinggi Lesya yang setinggi bahunya. Lesya melotot, "Heh! Dibilang gw tinggi ya! Di antara kelas gw, gw paling tinggi ke tiga ya! " kesal nya sewot.
Elvan mengangguk saja, "Dan lo lebih pendek dari gw! " Elvan sebenarnya tak ingin berdebat. Namun, melihat wajah kesal Lesya, membuat dirinya ingin memancing emosi gadis di depannya ini.
Lesya melotot tak terima. Dia menaiki bangku dan melipat lengannya bak preman, "Gw geprek juga lo! "
Elvan menahan tawanya. Dia tak menaiki bangku lagi namun, dia menggendong Lesya lagi dan membawanya ke arah mobil mereka terparkir.
Lesya memberontak, "Lepasin Pan! Tolong ada penculik! " teriak Lesya. Elvan geleng kepala, "Gak ada orang di sini selain penjual lampion! "
"Why? Jangan-jangan lo makan ya orangnya? " Elvan menjitak kepala Lesya pelan, "Gw bukan kanibal! "
"Ya trus apa dong? Buaya darat? Atau sejenisnya? Iya! Wah lo buaya darat kan? Yang makannya cewe-cewe yang gamon? Ngaku lo elah! " cerocos Lesya tanpa henti. Sksk, yang nanya dia yang jawab dia juga!
Elvan menggeleng saja mendengarnya. Dia memasukkan Lesya ke dalam mobil di kursi samping kemudi. Setelah itu, dia berjalan dan masuk ke dalam mobil.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1