
Slinggg! Grebbb!
Bak slow motion Lesya terjatuh dan dengan cepat Elvan yang berada di bawah mengumpulkan kayu bakar menangkap Lesya dan menggendongnya ala bridal style. Mata Lesya masih tertutup lalu terbuka lebar karena merasakan tubuhnya yang digendong seseorang. Hah?! Elvan lagi orangnya?! Ini kesekian kalinya bree?!
Sementara Elena yang tadinya terkejut menghela nafasnya lega. Dia melirik ke arah Letha yang sudah tak dapat berkata-kata dengan tangannya yang sudah terkepal kuat meremas gaun mini kuning cerahnya itu. Tentu saja dalam hati Elena dia lega sekaligus ingin sekali berkata-kata pedas kepada Letha yang menyaksikan hal itu. Puas dan lega!
Letha tak tahu harus bagaimana lagi melihat pemandangan yang membuat sesak dadanya. Ditambah dia melihat jarak wajah sang kakak dengan idola pujaannya sangatlah dekat. Hanya tertinggal beberapa centi saja mungkin mereka akan saling kiss satu sama lain.
Nayla memegang tangan Letha dengan lembut yang terkepal kuat. Tentunya saja Letha hanya mengangguk lembut walau hatinya keras menolak hal di depannya. Begitu juga dengan Amel yang memegang sisi lain tangan Letha seolah memberi semangat jika mengatakan itu hanyalah keberuntungan Lesya saja. Begitulah arti tatapan Amel yang dipahami oleh Letha.
Valen hanya mengelus dadanya dan menarik Luna yang menghalangi pemandangan saja ke sebelahnya. Di saat hendak mengomel, dengan cepat Valen menutup mulut Luna dengan jari telunjuknya yang ditempelkan di bibir gadis itu. Farel? Matanya mengarah kepada Letha dan Elvan yang masih diam dan beralih menatap Letha yang sedikit marah dengan kejadian di depannya.
Kembali kepada pasangan ini gays, Lesya merasakan sekeliling atmosfernya tak semenarik wajah yang berada di hadapannya ini. Elvan! Mungkin ini kesekian kalinya Lesya memiliki banyak hutang budi dengan lelaki itu.
"Lo gimana sih?! " Lesya mengerutkan keningnya bingung maksud Elvan. Tangannya masih tergulung di leher lelaki itu. "Y-ya menurut lo gimana? " bingung Lesya sedikit gugup dan bingung membalas ucapan Elvan bagaimana.
__ADS_1
"Kalau gw gak nangkap lo gimana hah?! Kalau bunda tau bisa diamuk gw nanti! " ucap Elvan lalu menurunkan Lesya perlahan dengan hati-hati agar tak mengenai batang kayu yang dia kumpulkan. "Bisa jaga diri gak lo kalau gak ada gw?! Kalau lo lecet dikit gw yang kena imbasnya! " tambah Elvan dengan nada yang sedikit galak. Catatt, hanya SEDIKIT gays. Jangan salah paham dulu!
Lesya dapat melihat kekhawatiran melalui sorot mata Elvan. Dia hanya diam saja menanggapinya. Memang benar apa adanya jika Lesya terdapat luka, Elvan lah yang akan kena imbas dari Mayang ataupun Angga. Itu perjanjiannya eum, lebih tepatnya kedua orang tua Elvan mengajarkan apa artinya tanggung jawab kepada Elvan sebagai seorang kepala keluarga tentunya. Itulah satu alasan jika Elvan harus memang benar-benar menjaga Lesya. Dia tak mau kembali diceramahi oleh Mayang nantinya.
"Ya maaf! Gw kan niatnya cuman mau ambil itu doang! " cicit Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal seraya melihat ke arah atas dimana banyaknya buah jambu tertinggal di atas pohon.
Elvan menyentil kecil kening Lesya pelan. "Sama aja! " ucapnya. Lesya hanya meringis dan mengusap keningnya yang terasa sedikit sakit karena sentilan Elvan. Dia menoleh ke arah Luna yang menghampiri dirinya. "Lesya! Ihh, lepas Alien resek! " berontak Luna menatap tajam Valen. Valen mendesis kecil dan akhirnya melepaskan Luna saja karena dia sendiri sudah tak tahu harus melakukan apa agar Luna ingin diam.
"Aaa.. Lo gak papa kan Sya? " tanya Luna membolak-balikan badan Lesya. Elena pun menghampiri kedua sahabat itu dan mengecek badan Lesya sama seperti Luna. Namun bedanya tangan Luna dia lepas dari pundak Lesya. "Jangan diputerin nanti dia puyeng! " kata Elena.
"Woy Vano, buruan jadi gak nyari kayunya lagi? " tanya Farel melambaikan tangannya. Elvan melirik sekilas dan menatap tajam ketiga gadis di depannya. "Jangan manjat lagi! Terutama lo! " peringat Elvan lalu beralih menatap Lesya.
"Iya-iya bapak negara, bawel amat lo! Gak manjat-manjat lagi nih gw, kalau gak khilaf ahaha.. " ngawur Lesya dengan gurauannya. Elvan hanya berdecak dan tersenyum samar lalu menghampiri kedua temannya untuk melanjutkan mencari kayu bakar. "Jangan macem-macem kalian woe! " tambah Valen memperingati sebelum benar-benar pergi dari sana.
Elena hanya bertepuk tangannya sejenak dan memberikan dua jempol kepada Lesya. "Good job! Ice cubes always melting with you! " ucap Elena tersenyum. Luna dan Lesya hanya terkikik kecil saja.
__ADS_1
"Ciee, ganti julukan nanti gw jadi ‘PAWANGNYA KETOS!’ Ahaha.. Melting gak tuh bapak ketos? " goda Luna mencolek dagu Lesya dan tertawa receh diikuti Elena. "Bagus tuh julukannya! " kata Elena setuju dengan julukan baru yang dibuat oleh Luna untuk Lesya.
Letha perlahan melepaskan pegangan tangan kedua temannya dan datang ke arah sang kakak. "Wah bagus-bagus! Biasanya orang yang gak berjuang sama sekali gak dapat apa yang dia mau! Sementara gw? Udah berjuang tiga tahun tapi hasil gw sia-sia dan semua malah jadi ke elo kak! Lo make sihir apaan nyampe Elvan begitu sama lo? Pelet apaan yang lo pake hah?! " kesal Letha dengan lantang menunjuk tepat di wajah Lesya.
Lesya dengan cepat menepis jari Letha yang menunjuk wajah cantiknya. Sama sekali tak suka jika dia diperlakukan begitu oleh siapapun termasuk adiknya sendiri. Lesya menatap tajam sang adik yang merasa sudah kehilangan kendali. "Tenangin diri lo! Pikirin yang positif! Gw keliling lagi! " pamit Lesya menepuk-nepuk pundak Letha lalu berjalan pergi meninggalkan mereka.
"Lah? Woyy, Sya tunggu! " ucap Luna lalu berlari kecil menyusul sang sahabat. Berbeda dengan Elena yang masih di sana menatap garang Letha. "Lo dibaikin ngelunjak ya?! Mending lo jangan ganggu hubungan adik gw! Lo gak pantes dapet semua ini sebenarnya tapi, hanya karena kehadiran Lesya di keluarga gw buat gw terpaksa nerima lo masuk ke lingkungan gw! " ketus Elena yang tentunya tak dipahami dengan baik oleh Letha.
Elena menepuk-nepuk pundak Letha sekilas dan menatap tajam kembaran dari adik iparnya itu. "Lo ganggu mereka sama aja lo masuk perangkap lo sendiri! Siap-siap bawa tisu buat lo nangis nanti kalau tau apa hubungan mereka! " bisik Elena lalu berjalan pergi dari Letha dkk.
Deg!
Letha merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat saat ini. Ucapan Elena bagaikan petir yang menyambar dirinya saat ini. Entah ada sengatan apa, Letha terdiam membeku tak tahu harus berkata apa lagi menanggapinya. Dia merasakan seperti ada yang janggal di dalam benaknya. Tapi, dia sendiri tak tahu apa kejanggalan itu yang membuat hatinya begitu resah. Apa ini? Apa maksud dari semua ini? Apa ada sebuah rahasia besar yang tak dia ketahui?
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1