Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
384: Drop


__ADS_3

Seorang gadis tak bergeming. Perasaan takut menyelimuti dirinya. Bukan takut orang yang berinteraksi dengannya adalah orang jahat. Namun dia takut dengan keadaan gelap di mata ditambah rasa bersalah yang menghantui dirinya.


Jujur saja Lesya merasa kecewa karena dia tak dapat menjadi seorang calon ibu yang baik. Menjaga sebuah kecebong berupa gumpalan darah saja tak becus. Apalagi nanti dia menjaga dirinya sendiri? Melihat saja tak bisa. Takdir sungguh mempermainkan dirinya.


Penampilannya sungguh acak-acakan. Rambut panjang yang menutupi wajah dan lututnya. Bahkan lututnya yang masih setia di peluknya sama sekali tak membuatnya berubah posisi. Simbahan darah yang masih menodai seragamnya tak dipedulikan. Rasa sakit yang dia rasakan sama sekali bukanlah apa-apa dibandingkan hatinya yang hancur.


Saat merasakan sebuah tangan perlahan meraba nya, dengan segera dia menepis dan memundurkan dirinya dalam posisi masih memeluk lututnya. Matanya memerah entah menahan marah atau tangis, Mayang sendiri tak tahu apa arti dari manik mata hazelnut itu.


"Sya, ganti baju dulu ya? Kamu masih pake seragam loh, " ujar Mayang lembut seraya memberi pengertian.


Lesya yang mendengar suara sang bunda mertua hanya mengangguk pelan saja. Dengan pasrah dituntun ke kamar mandi, Lesya merasa dirinya sangat rendah hingga berganti baju saja membutuhkan bantuan orang lain. Biasanya dia lah yang membantu pekerjaan berat seseorang.


Sangat canggung sekaligus malu jika bajunya diganti langsung oleh bunda nya. Walaupun memang sama-sama perempuan tetap saja dia tak enak, canggung dan malu. Jujur saja, Lesya semakin merasa jika dirinya tak pantas hidup di dunia jika hanya menyusahkan orang lain. Prinsipnya: 'menjadi seseorang manusia harus berguna bukan justru menambah beban orang!'


Setelah berganti baju, Lesya menutup matanya seolah mengisyaratkan jika dia ingin tidur. Tak ada pembicaraan antara mereka. Mayang dapat mengerti jika Lesya membutuhkan waktu. Akhirnya dengan berat Mayang keluar tanpa sau kata patah pun. Saat merasakan jika Mayang sudah keluar, Lesya membuka matanya dan duduk di brankar rumah sakit yang cukup luas untuknya.


*Maaf bun, Lesya butuh waktu! * batin Lesya merasa bersalah.


Pita suaranya seolah tercekat dan tenggorokannya yang kering sama sekali tak membuatnya gatal. Baju seragam kini sudah berganti menjadi piyama tidur berwarna navy polos dengan sedikit ukiran di lengan panjangnya. Di dalam ruangan putih berbau obat, Lesya kembali menangis tanpa suara.


...〰〰〰〰〰〰〰✍...


Di ruangan dengan beberapa pintu di dalamnya diisi oleh satu orang. Lelaki yang sudah menggantikan bajunya dengan baju yang dibawa sang bunda. Celana jeans hitam pekat dan atasan biru gelap adalah penampilannya sekarang.


Mengambil ponselnya, Elvan mencari nama sang tangan kanannya di ponsel pintarnya. Bukan Valen namun Revan karena Elvan tahu Revan lebih aktif pada dunia gangster dibanding Valen.


You calling Revan...


📞 Halo pak bos? Ada masalah lagi kah?


📞 Pelaku rem blong udah tau?


📞 Oh gw gak bisa terobos keamanan pak boss! Waktu diterobos malah kena virus makanya belum ketemu pelakunya, apalagi kan sistem keamanan Erthan yang pengen di bobol. Tapi lo tenang aja, gw bakal usahain hari ini kekirim ke email lo kok!


📞 Batalin!


📞 Hah? Batalin gimana pak?


📞 Gak usah cari lagi! Fokus ke musuh. Kalau ada yang masih hidup lepasin ke kandang Tiger.

__ADS_1


📞 Tapi pak boss, ada adeknya bu boss di sini. Gimana dah?


📞 Vion, Faris, Ericko, Amanda sama Letha kurung dulu di ruang bawah tanah, jangan lupa selalu awasin jangan sampe lolos kayak Faris tadi!


📞 Oke siap, tapi nih kayaknya cuman adeknya bu boss yang idup.


📞 Tunggu info dari gw!


📞 Oke.


Tuuuttttt!


Elvan menghela nafasnya. Mencuci tangannya di wastafel, tak ada orang di sekitarnya. Itu wajar karena dia sudah memasang peringatan jika toilet sedang rusak. Alhasil tak ada yang masuk selain dia. Percakapannya juga tak kerekam sama sekali. CCTV hanya merekam gerak-gerik bukan suara seseorang.


Melirik sekitarnya, lelaki itu kembali keluar dan membenarkan letak peringatan ke arah yang lebih sepi. Kembali melangkah, alisnya berkerut mendapati seseorang di satu lorong yang dilewatinya. Itu sepupunya, Lisa!


Melangkahkan kakinya dengan tempo sedikit cepat, Elvan menggenggam tangan sepupunya yang bergetar. Dingin! Elvan dapat melihat jika raut wajah sang sepupu sangat panik. Jujur saja dia sengaja memilih jalur sedikit lebih lama ke arah ruangan seharusnya agar dapat menyendiri. Siapa sangka dia akan bertemu Lisa di lorong yang dia lalui.


Melirik Felicia dan Vay yang terduduk di satu kursi dengan menutup wajahnya, dia dapat menebak apa yang terjadi. Menarik Lisa agar ke tempat yang sepi, Elvan mendudukan sepupunya itu di salah satu bangku di sana.


"Lo kenapa? " tanya Elvan.


Lisa terdiam. Matanya memerah dan sepertinya dia sedang menahan tangis. Tiba-tiba saja Lisa memeluk Elvan dan menangis terisak di sana.


"Gara-gara gw Leon ngedrop, huwaaaa... hikss... Gw juga yang dorong anggotanya Vion nyampe Vion lempar tombak ke Leon hiks... Gw gak guna kan jadi pacar Leon? Huwaaa... " tangis Lisa pecah begitu saja. Elvan hanya menepuk-nepuk pundak Lisa tanpa satu kata patah pun. Dia hanya menunggu Lisa menyelesaikan ucapan-ucapannya.


"Pas tadi gw masuk dan ngobrol bentar sama dia, tiba-tiba dia ngedrop lagi! Hikss, padahal gw berharap dia bangun dan kita hiks bareng lagi. Tapi barusan lagi ditanganin dokter trus ada banyak suster yang masuk, hiks... Tadi, pas ditanya ke satu suster katanya pasien drop huwaaa hiks gw takut... " curhat Lisa.


Elvan menaikkan satu alisnya. Kembali menepuk-nepuk sepupunya seolah memberi isyarat agar tenang, justru Lisa malah semakin terisak dan memeluk erat Elvan. Sesekali dia menghentakkan kakinya kuat karena melampiaskan perasaannya walau tak mempan.


"Yang nusuk dia? "


"Vion"


"Yang nyenggol? "


"Anggotanya Vion"


"Kesenggol karena? "

__ADS_1


"Gw dorong anggotanya"


"Yaudah sadar diri, "


"Huwaaaaa... Jahat banget sih lo Van, sepupu lagi sedih, hibur dikit napa sepupu lo ini biar mendingan! " ketus Lisa ngegas balik dan memukul sekali bahu Elvan dengan keras.


"Ingus lo dilap dulu Lis,"


Lisa kembali memukul keras bahu Elvan hingga sang empu sedikit meringis. Padahal Elvan hanya ingin Lisa mengelap ingusnya sebelum kembali menangis. Kan sayang kalau baju yang baru dia ganti kena ingus sepupunya. Tak elite!


Lisa mengambil dasinya dan hendak mengarahkan pada hidungnya. Namun dia kalah cepat dengan Elvan yang lebih dulu menyodorkan sapu tangan kecilnya dari saku. Tentu saja Elvan tanggap dengan apa yang dilakukan Lisa.


"Dasi lo ada darah Lis,"


Lisa hanya berdehem pelan dan mengambil sapu tangan sepupunya. Dia tahu jika sedingin apapun sepupunya, tetaplah sama perhatian dengan cara yang berbeda. Lisa juga dapat melihat jika sepupunya itu sedang memiliki banyak pikiran saat ini walau hanya dilihat melalui helaan nafasnya.


"Makasih, Lesya gimana keadaannya? "


"Gak tau, gw butuh Luna buat jelasin keadaan Lesya! Gimana pun juga dia orang yang dekat sama Lesya, pasti tau gimana cara supaya Lesya kembali normal dalam waktu singkat."


"Lo bener, kita tunggu besok siapa tau Luna punya cara."


Elvan mengangguk pelan. Dia cukup kagum dengan sepupunya ini. Dibandingkan sang kakak, Lisa lebih mampu mengendalikan emosionalnya dan lebih terlihat tomboy. Kecuali saat marah. Catattt ya, kecuali saat marah! Elvan juga menjadikan Lisa sebagai salah satu petinggi Tiger Wong karena rengekan sang empu sendiri.


"Vano, tante May masih di sini kan? "


Elvan hanya berdehem pelan saja dan itu kembali membuat Lisa tiba-tiba menangis. Bingung, Elvan kembali memeluk dan mengusap punggung Lisa lembut. Tadi sudah tenang, mengapa sekarang tambah kencang ya tangisnya? Dasar, cewek memang ribet! Pikir Elvan.


"Lo ngapa sih?! "


"Gw gak mau ketemu Tante masalahnya! Takutnya penampilan gini gw diketawain, secara hiks gw orangnya galak." jujur Lisa. Elvan menghela nafasnya lagi. Alasan macam apa itu?


"Yaudah balik lagi, bilang sama Felicia kalau Vion udah ketemu, besok mau dimakamin atau gimana? " kata Elvan final lalu berjalan lebih dulu meninggalkan sepupu ribetnya.


Lisa yang melihat hanya berdecak kesal lalu kembali sesuai ucapan Elvan. Dia juga sudah bilang pada Felicia mengenai yang disampaikan Elvan tadi. Dokter juga sudah keluar dan memberi ucapan nasehat agar lebih sering mengajak Leon berbicara. Lisa yang mendengar hanya mengangguk dan bernafas lega. Kirain ada apa, pikirnya cemas.


Note: Dokternya beda gays. Kebetulan Andre, Candra dan Sarah tak ada maka dokter lain yang berganti sisi namun sudah dipastikan jika dokter tersebut adalah dokter asli.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


>>><<<


I'm sorry lama update karena urusan keluarga yang gak bisa ditunda, sorry sekali lagi ya gays semoga gak bosen sama ceritaku🙏🏻


__ADS_2