
Alhasil mereka membawa ke rumah sakit terdekat namun sayang alat-alat yang diperlukan tak ada. Dan mereka mencari kembali ke rumah sakit terdekat yaitu RS LC. lyzya tak lain milik Lesya sendiri.
Kebetulan mereka bertemu dengan Candra dan Sarah saat berada di koridor rumah sakit dan akhirnya mereka membawa ke ruang UGD untuk di operasi. Mereka membagi tugas dengan Sarah yang memeriksa kondisi Luna dan Candra menangani keadaan Lesya.
Cakra, Leon dan Alam yang mendengar berita tersebut dengan segera menghampiri Elvan dan Valen di kursi tunggu. "Gimana keadaan Luna dan Lesya? " tanya Alam saat tiba di sana.
"Tunggu dokter yang nanganin! " jawab Valen. Leon terduduk berusaha tenang di kondisi sekarang. "Gw salah! Harusnya gw sama mereka bang! " lirih Leon dengan wajahnya yang menunduk.
Alam menepuk-nepuk pundak Leon. Dia mengesampingkan urusannya dengan Elena dan datang ke rumah sakit untuk mengetahui dengan jelas kondisi kedua adiknya. "Udah jangan nyalahin diri sendiri! Lo cowok tapi cengeng bener! "
Leon tak menjawab. Kelima lelaki tersebut terdiam dan menunggu hasil setelah lampu tertutup. Setelah lima menit berlalu, terdengar suara dari gelang Elvan yang menandakan jika Lesya dalam bahaya.
Ting! Ting! Ting! Jantung berdetak 66 denyut per menit! Ting!
Semua menoleh ke arah Elvan. "Apa maksudnya 66 denyut? " tanya Leon menoleh. Valen melotot melihat gelang yang Elvan buat beberapa minggu sudah bertengger manis di tangannya. "Itu? Bukannya gelang yang lo buat beberapa minggu yang lalu? Yang satu kehubung ke mana? " Elvan hanya mengangguk.
"Yang satu ada sama Lele! Dan arti 66 denyut, jantungnya berada di posisi rendah! " datar Elvan menjelaskan.
Mereka tersentak mendengarnya. Cakra yang terbawa emosi mencengkram kerah Elvan tajam. "Gak mungkin!! Sasa adek gw orangnya kuat!! Dia gak mungkin begitu!! D-dia.. Arkk!! "
Menghempaskan cengkramannya karena leraian Alam, Cakra mengatur nafasnya yang memburu seraya menatap tajam Elvan yang tak melawan saat dirinya bertindak kasar. "UDAH CAK!! Ini rumah sakit!! Kalau Lesya tau lo buat keributan di rumah sakitnya, habis lo! " peringatnya.
Leon tak berniat ikut campur. Dia masih terdiam mencerna perkataan Elvan dan dengan bodohnya bertanya. "Gelang itu, terhubung sama gelang Lesya? "
Elvan hanya mengangguk saja. "Apa gelang itu bisa tau apa yang Lesya lakuin, kapan, dimana, sama siapa? " Elvan mengangguk. "Dan gw baru mau cek CCTV yang gw taro di situ! " dingin Elvan.
Semua terdiam. "Maksudnya kalau Lesya terjadi sesuatu kayak begini, CCTV yang lo teror di gelang merekam semua kejadian? Dan dengan gampang kita tau siapa pelakunya? " molog Valen. Lagi-lagi Elvan hanya mengangguk.
Mereka bernafas lega. Setidaknya menangkap pelaku dan memberikan hukuman setimpal dengan kelakuan pelaku. Cakra tersenyum sinis. "Ada gunanya juga lo ya jadi suami! "
Uhukkk!
Valen terbatuk salivanya sendiri mendengar perkataan Cakra baru saja. Apa dia salah dengar? Siapa yang menjadi suami? Apa mungkin sahabatnya Elvan? Tak mungkin lah! Sahabatnya itu sangat anti perempuan mana pun! Pikir Valen.
"Kenapa? " tanya Alam tak paham. Valen menatap Elvan dan bertanya. "Mak-sud dari kata 'suami' apaan? Siapa yang nikah? Elvan? " polos Valen tak paham.
Leon tertawa hambar. "Ya Elvan lah! Dia dijodohin dan nutup statusnya sama Lesya yang udah menikah! " jawabnya tanpa minat. Valen mendelik tak percaya. Setelah terdiam beberapa detik, dirinya angkat suara. "Serius? "
Leon menunjuk Elvan dengan dagunya. "Tanya aja! " Elvan melirik sekilas dan mengangguk menatap kosong depannya. "Gw dan Lesya udah nikah! Dan, kita nutupin jati diri kita! " jelas Elvan.
"Gak ada yang tau kecuali kita, Luna, keluarga Grey, Lisa, bang Candra, kak Sarah, pak Rio, bu bunga! Cuman itu yang gw tau! " lanjut Leon. Valen hanya dapat diam saja.
"Gimana keadaan Lesya?! "
Mereka menoleh bersamaan ke arah Mayang yang berlari diikuti Angga dan Elena. Elena mengalihkan pandangannya dari Alam yang menggunakan jaket kebanggaan milik Lion Claws. "Len? "
Elena seolah menulikan pendengarannya mendengar panggilan Alam. Elvan yang menyadari hal itu menebak yakin jika mereka sedang dalam masalah. "Kita masih nunggu dokter keluar tante! " sopan Valen menjawab karena tahu tak ada yang akan menjawab.
Mereka semua duduk dan tiba-tiba menoleh dan terlihatlah wajah Lisa yang sedikit lebam. "Aduuh! Gimana keadaan mereka? " Elena mengeryitkan alisnya bingung. "Muka lo ngapa dek? "
Lisa berdecak malas dan menyerocos menceritakan apa yang terjadi. "Tadikan gw di dalam mobil niatnya mau pulang! Di dalam mobil tuh ada gw, Luna, Lesya! Nah, waktu ditengah jalan, amandel ngalangin kita dan bawa 50 laki-laki badannya gede-gede buat nyerang kita! Mana mereka bawa pisau lagi!! " kesal Lisa menceritakan kejadian.
Sontak mereka memasang wajah serius mendengarkan cerocosan Lisa. Mereka baru tahu jika Lisa juga bersama dengan Luna dan Lesya saat itu. "Terus-terus? "
"Gw lawan Amandel sendirian! Sementara 50 orang suruhan tuh cewek lawan Luna sama Lesya! Gw terlalu fokus sama Amandel nyampe gw gak sadar kalau satu dari suruhan tuh cewek lempar bom ke arah mobil yang kita bawa! Secara gw sama Amandel berantemnya agak jauh, akhirnya gw cuman luka lebam gini! "
Kini mereka paham dengan kronologi kejadian. Lisa melanjutkan bicaranya. "Oh iya!! Lo tau orang yang lempar bom itu siapa?! " tanya Lisa teringat menatap Cakra dan Alam bergantian.
Cakra menoleh dan menggeleng diikuti Alam. "Pemegang sniper ketua devisi satu dari markas lo! " tunjuk Lisa polos ke arah Leon, Alam, dan Cakra. Cakra menggerang emosi. "Yang bener!! "
Lisa mengangguk saja. "Orang gw sempet liat mereka pake jaket yang sama kek lo-lo pada! Bedanya mereka tulisannya ketua! Tanya aja sama queen lo noh! " ketus Lisa.
Ting!
Operasi berjalan dengan lancar dan mereka menoleh ke arah Candra dan Sarah yang keluar dari ruangan mereka masing-masing. Spontan mereka menghampiri kedua dokter tersebut.
"Gimana Can? " tanya Cakra.
"Mereka baik kan Can? Sar? " tanya Alam.
"Bang gimana? Lancar? Gak koma kan? "
Candra memijit kepalanya pusing. "Shutt up pliss!! Gimana gw mau ngomong kalau lo pada nyerocos? " Sarah mengangguk setuju. "Bentar diem dulu gw mau ngomong elah! "
__ADS_1
"Tinggal ngomong! " kompak mereka kecuali Elvan. Elvan bukannya tak peduli keadaan Lesya saat ini namun dia tak seperti yang lain. Menunggu, mendengar penjelasan dan masuk menjenguk Lesya yang akan dia lakukan nanti.
Tiba-tiba mereka menoleh dengan kehadiran mama Luna yang tak lain Henny. "Gimana keadaan Luna? " tanyanya panik. Sarah berusaha menenangkan Henny. "Tan, tenang dulu! Luna baik-baik aja! Hanya saja jangan biarkan dia banyak gerak karena tulang di tangannya sedikit patah! Butuh beberapa hari untuk memulihkannya! " jelas Sarah.
"Lalu? Gimana Lesya? Dia baik-baik aja kan? Apa ada luka parah? " tanya Mayang beruntun.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Hayyiee all! Gak nyangka udah episode segini aja ya? Sama author juga! Di episode kali ini author punya visual yang mudah-mudahan cocok ya buat mereka!
#GirlVisual
Zelyra Aleesya Michella Fyo (Grey)
Aluna Margaretha
Elisa Vellyna Grizi
Nayla Claretta Fleur
Amelia Putri Serrie
Zeyana Elena Grey (Bryson)
#BoyVisual
__ADS_1
Zioner Elvano Gregorius Grey
Valentino Clarence
Farellio Vlorans
Kenneth Dayfino
Frans Aboriza
Leonard Putra I
Cakrawala Andrean
Alam Arando Bryson
Revion Fillybert
Gimana? Puas gak? Maaf ya kalau kurang puas di kalian, semoga kalian suka yah! Jangan lupa jejak🌹
__ADS_1
...(visual ada yang diganti)...